Searching...
11.11.10

KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Era globalisasi merupakan era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah menimbulkan persaingan dalam berbagai bidang, yang menuntut masyarakat Indonesia untuk memantabkan diri dalam peningkatan kualitas dan sumber daya manusia yang unggul, mampu berdaya saing, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi serta mempunyai etos kerja yang tinggi.
Perwujudan manusia yang berkualitas tersebut menjadi tanggung jawab pendidikan terutama dalam mempersiapkan peserta didik menjadi subyek yang makin berperan, menampilkan keunggulan yang tangguh, kreatif, mandiri, dan professional dalam bidangnya masing-masing.
Di Indonesia sekolah/madrasah harus dengan kesungguhannya melaksanakan tugas dan fungsinya untuk mewujudkan tujuan nasional sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta penjelasannya Bab II Pasal 3 bahwa:
Pendidikan Naional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Keberhasilan untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut kepala madrasah mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menselaraskan sumber daya pendidikan yang tersedia, kepemimpinan kepala madrasah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong madrasah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran melalui program madrasah yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap.
Dalam persaingan global ini, diakui atau tidak lembaga pendidikan atau sistem persekolahan dituntut untuk mengemuka dengan kinerja kelembagaan yang efektif dan produktif. Kepala madrasah sebagai penanggung jawab pendidikan dan pembelajaran di madrasah hendaknya dapat meyakinkan kepada masyarakat bahwa segala sesuatunya telah berjalan dengan baik, termasuk perencanaan dan implementasi kurikulum, penyediaan dan pemanfaatan sumber daya guru, rekrutmen sumber daya murid, kerjasama madrasah dan orang tua, serta sosok outcome madrasah yang prospektif.
Kepala madrasah merupakan unsur vital bagi efektifitas lembaga pendidikan. Kepala madrasah yang baik akan bersikap dinamis untuk menyiapkan berbagai macam program pendidikan,” keberhasilan madrasah adalah keberhasilan kepala madrasah, kepala madrasah yang berhasil apabila memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks, serta mampu melaksanakan peranan dan tanggung jawab untuk memimpin madrasah”.
Kepemimpinan yang berkaitan dengan masalah kepala madrasah dalam meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan para guru dalam situasi kondusif, perilaku kepala madrasah harus dapat mendorong kinerja para guru dengan menunjukkan rasa bersahabat, dekat dan penuh pertimbangan terhadap para guru, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok.“ Perilaku pemimpin yang positif dapat mendorong kelompok dalam mengarahkan dan memotifasi individu untuk bekerja sama dengan kelompok dalam rangka mewujudkan tujuan lembaga pendidikan”.
Kepala madrasah sebagai pemimpin lembaga pendidikan memiliki andil besar dalam menciptakan suasana kondusif yang ada dalam lingkungan kerjanya. Suasana kondusif tersebut merupakan faktor yang terpenting dalam menciptakan guru yang berprestasi. Guru sebagai pendidik memiliki peran yang sangat penting terhadap kemajuan bangsa Indonesia, guru juga sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan pendidikan.“Tenaga pendidikan terutama guru merupakan jiwa dari madrasah” . Oleh karena itu, peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, pengembangan, evaluasi kinerja, hubungan kerja sampai pada imbal jasa, merupakan garapan penting bagi seorang kepala madrasah.
Guru sangat berperan dalam menentukan kualitas lulusan madrasah. Artinya untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas diperlukan guru dengan kualitas dan prestasi maksimal. Sedangkan guru dengan kualitas dan prestasi maksimal dapat diperoleh bila ditunjang oleh kepemimpinan yang baik.
Prestasi kerja guru yang berkualitas ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya adalah bagaimana atasan dalam memimpin bawahan, yang demikian ini disebut dengan kepemimpinan seorang pemimpin (kepala madrasah). Peran pemimpin sangat penting dalam organisasi, tanpa adanya pemimpin suatu organisasi hanya merupakan pergaulan orang-orang dan mesin. “ Kepemimpinan adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mangajak, mamantau dan kalau perlu memaksa orang lain agar menerima pengaruh itu. Selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu pencapaian suatau maksud dan tujuan tertentu”.
Seorang kepala madrasah mempunyai tugas untuk mengatur dan menggerakkan sejumlah besar orang-orang (guru) yang mempunyai berbagai sikap, tingkah laku dan latar belakang yang berbeda-beda. Untuk mendapatkan guru yang dapat membantu tugas pimpinan secara optimal, maka diperlukan seorang pemimpin yang mampu mengarahkan dan merubah tingkah laku bawahannya kepada tercapainya tujuan organisasi secara maksimal.
Pemimpin yang efektif selalu menyadari bahwa anggota organisasinya merupakan sumber daya manusia yang sangat berharga karena dikaruniai atau memiliki otak dan akal fikiran, sehingga pemimpin selalu berupaya menggali, memanfaatkan dan meningkatkan kreatifitas anggotanya untuk mencapai prestasi yang tinggi.
Prestasi kerja guru yang tinggi merupakan perwujudan dari kualitas guru. Hal ini cukup penting dalam rangka mencapai tujuan madrasah. Dengan prestasi kerja yang tinggi berarti para guru benar-benar dapat berfungsi sebagai pendidik yang tepat guna dan berhasil guna sesuai dengan sasaran-sasaran organisasi yang hendak dicapainya.
Apabila tujuan peningkatan prestasi kerja para guru dapat terpenuhi, maka tujuan pembangunan yang sesuai dengan pancasila, UUD 1945 beserta tujuan Pendidikan Nasional akan segera tercapai, begitu juga dengan menghasilkan lulusan yang berkualitas dan siap menghadapi tuntutan perkembangan zaman.
Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar merupakan lembaga pendidikan yang ikut berjuang mencerdaskan kehidupan bangsa demi mensukseskan tujuan pembangunan nasional Indonesia. Madrasah tersebut merupakan lembaga pendidikan negeri yang berada dibawah naungan Departemen Pendidikan Agama.
Sebelumnya Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan merupakan madrasah swasta dengan nama MI. Al-Qodiriyah dalam naungan yayasan Al-Qodiriyah. Karena dari tahun ketahun mengalami kemajuan, Departemen Pendidikan Agama Kabupaten Blitar merubah status dari Swasta menjadi Negeri. Selain itu Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar juga dijadikan center oleh lembaga-lembaga madrasah ibtidaiyah di Udanawu Blitar. Bahkan sering mendapatkan kejuaraan pada bidang mata pelajaran, olah raga dan seni ditingkat Kecamatan ataupun tingkat Kabupaten. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa para guru telah berhasil dalam usaha mencapai tujuan madrasah. Keberhasilan para guru dalam mencapai tujuan madrasah tersebut merupakan salah satu prestasi kerja yang ditunjukkan oleh guru yang berasal dari kemampuan dan motivasi yang dimilikinya.
Prestasi kerja yang dihasilkan para guru tersebut merupakan hasil dari kepemimpinan kepala madrasah sebagai pemimpin suatu lembaga pendidikan yang selalu menggerakkan, mengarahkan, dan memberikan motivasi kepada para guru untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan bersama.
Atas dasar latar belakang masalah tersebut, maka penelitian ini dilaksanakan dengan tema “Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Prestasi Kerja Guru (Studi Kasus di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar)”.
B. Fokus Masalah
Berkaitan dengan study kepemimpinan Kepala Madrasah dalam meningkatkan kinerga guru pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar maka yang menajdi fokus masalah dalam studi ini adalah bagaimana kepemimpinan Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar yang berpengaruh terhadap peningkatan mutu kinerja guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar. Kemudian fokus masalah tersebut dirumuskan sebagaimana rumusan masalah.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, fokus penelitian dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana kepemimpinan Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam pembinaan guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru ?
2. Bagaimana kepemimpinan Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam memotivasi guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru ?
3. Bagaimana kepemimpinan Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam meningkatkan kesejahteraan guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru ?
D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam pembinaan guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru.
2. Untuk mengetahui kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam memotivasi guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru.
3. Untuk mengetahui kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam meningkatkan kesejahteraan guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru.
E. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai berikut :
1. Secara teoritis
a. Memberikan kontribusi akademis dalam upaya peningkatan dan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang kepemimpinan lembaga pendidikan.
2. Secara praktis
a. Sebagai bahan masukan bagi pengelola lembaga pendidikan khususnya Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar sehingga lembaga tersebut dapat lebih maju dari sebelumya dan tetap eksis serta bisa menjadi lembaga pendidikan alternatif.
b. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi imput bagi para praktisi dan peneliti pendidikan dalam rangka kontribusi kajian ilmiah untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan untuk meningkatkan mutu kependidikan.

F. Metodologi Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian mengenai kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah dalam meningkatkan mutu kependidikan yang peneliti lakukan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar ini menggunakan pendekatan kualitatif sebab jenis penelitian ini tidak bisa berambisi mengumpulan data dari segi kualitasnya tetapi ingin juga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dari data yang hasil direkam. Penulis tidak menemukan sumber datanya atau nara sumber secara kuantitatif menggunakan purvose sampling. Pola tersebut lazim disebut dengan Creation baset sampling artinya bahwa penggunaan sumber data atau nara sumber dianggap cukup mana kala informasi yang diperlukan sudah cukup memadai sehingga sering kali jumlah nara sumber atau sumber data memungkinkan untuk selalu berkembang dan bertambah.
Tesis ini menggunakan rancangan studi kasus penelitian yang berupaya mencari kebenaran ilmiah dengan cara mempelajari secara mendalam perkembangan dari satu individu, kelompok orang. Lembaga dan tidak mustahil perkembangan suatu kejadian khusus.
Studi kasus ini dimaksudkan untuk mencoba mengamati perkembangan dan fonemena yang terjadi pada sebuah organisasi dalam hal ini organisasi yang menjadi obyek penelitian adalah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar
Sifat penelitian ini adalah berupa penelitian deskriptif kualitatif. Oleh sebab itu pendekatan yang dilakukan adalah melalu pendekatan kualitatif dengan memakai bentuk study kasus (case study). Maksudnya adalah dalam penelitian deskriftif kualitatif data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka melainkan data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan dokumen pribadi, catatan memo, dan dokumen resmi lainya sehingga yang menjadi tujuan dalam penelitian deskriftif kualitatif ini adalah ingin menggambarkan dan menginterprestasikan objek sesuai dengan apa adanya.
2. Kehadiran Peneliti.
Insrumen utama dalam penelitian ini adalah manusia . Karena itu untuk menyimpulkan data secara koprehensif maka kehadiran peneliti di lapangan sangat diutamakan karena mengumpulkan data dilakuakn yang sebenarnya tanpa dimanipulasi dibuat dan dipanjang lebarkan
Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrument sekaligus mengumpul data sehingga dapat dikatakan peneliti dalam penelitian ini bertindak sebagai instrumen kunci. Penelitian dalam hal ini akan melakuakn observasi. Wawancara dan mengambil dokumen.
3. Lokasi Penelitian
Peneliti sengaja memilih lokasi penelitian di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dengan pertimbangan Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar adalah madrasah yang favorit dan menjadi central madrasah-madrasah lain. Dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar memiliki guru guru yang variatif dengan latar belakang pendidikan yang beragam Dengan demikian sesuai dengan fokus masalah penelitia yang telah dikemukakan diatas, yang menjadi objek dalam tesis ini adalah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar mengenai kepemimpinan Kepala madrasah dalam meningkatkan prestasi kinerja guru
4. Sumber Data Penelitian
Sumber data adalah “subyek dari mana data diperoleh”. Sumber data diidentifikasikan menjadi 3 yaitu person, place paper.
1. Person yaitu sumber data berupa orang yang bisa memberikan data berupa jawaban lesan melalui wawancara. Dalam penelitian ini personnnya adalah Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar
2. Place yaitu sumber data berupa tempat atau sumber data yang menyajikan tampilan berupa keadaan diam dan bergerak, meliputi fasilitas gedung, kondisi lokasi, kegiatan belajar-mengajar, kinerja, aktifitas dan sebagainya yang ada di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar
3. Paper yaitu data berupa simbol atau sumber data yang menyajikan tanda-tanda berupa huruf, angka, gambar, simbol-simbol dan lain-lain. Dalam penelitian ini papernya adalah berupa benda-benda tertulis seperti buku-buku arsip, catatan-catatan, dokumen yang ada di Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar
5.Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Metode Obsevasi Partisipan
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap obyek penelitian. Suharsimi Arikunto mengatakan bahwa observasi meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera. Jadi observasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap.
Dengan demikian dapat difahami bahwa observasi merupakan suatu teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data dengan memusatkan segenap perhatian terhadap suatu obyek penelitian dengan menggunakan seluruh indera.
Jenis observasi yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini adalah observasi partisipan, menurut Burhan Bungin Observasi partisipan adalah pengumpulan data melalui observasi terhadap obyek pengamatan langsung dengan hidup bersama, merasakan serta berada dalam sirkulasi kehidupan obyek.
Dengan demikian peneliti melibatkan diri atau berinteraksi pada kegiatan yang dilakukan subyek dalam lingkungannya dengan mengumpulkan data secara sistematis dari data yang diperlukan. Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data karena dengan teknik ini akan diperoleh informasi dan data tentang letak geografis, keadaan madrasah, sarana dan prasarana, kondisi organisasi serta segala aspek yang ada dalam lingkup kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah negeri Slemanan Udanawu Blitar . Adapun kisi-kisi atau pedoman observasi terdapat dalam lampiran.
2. Metode Wawancara Mendalam
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Patton sebagaimana dikutip Mantja mengemukakan bahwa tujuan wawancara adalah untuk mendapatkan atau menemukan apa yang terdapat di dalam pikiran orang lain. Wawancara digunakan untuk menemukan sesuatu yang tidak mungkin diperoleh melalui pengamatan secara langsung.
Metode wawancara digunakan dalam penelitian ini karena mempunyai beberapa keunggulan yang mungkin tidak dimiliki oleh metode penelitian lainnya. Keunggulan tersebut sebagaimana diungkap oleh Sukardi berikut ini:
a. Penelitian memperoleh rerata jawaban yang relatif tinggi dari responden.
b. Peneliti dapat membantu menjelasakan lebih, jika ternyata responden mengalami kesulitan menjawab karena ketidak jelasan pertanyaan.
c. Peneliti dapat mengontrol jawaban responden secara lebih teliti dengan mengamati reaksi atau tingkah laku yang diakibatkan oleh pertanyaan dalan proses wawancara.
d. Peneliti dapat memperoleh informasi yang tidak dapat diungkapkan dengan cara kuesioner maupun observasi. Informasi tersebut misalnya, jawaban yang sifatnya pribadi dan bukan pendapat kelompok, atau informasi alternatif dari suatu kejadian penting.

Dalam kaitannya dengan penelitian ini, bentuk wawancara yang digunakan peneliti adalah wawancara mendalam, yaitu dalam melakukan wawancara peneliti tidak menggunakan guide tertentu, dan semua pertanyaan bersifat spontan sesuai dengan apa yang dilihat, didengar, dirasakan pada saat pewawancara bersama responden dalam hal ini kepala madrasah dan guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar.
3. Metode Dokumentasi
Data penelitian kualitatif sebagian besar diperoleh dari manusia dan perilakunya, walaupun data itu lebih banyak diperoleh dari sumber wawancara, tetapi data tersebut juga dapat diperoleh dari sumber data yang bukan manusia dan bersifat non interaktif.
Data non interaktif ini biasanya berupa dokumen/arsip. “Dokumentasi berarti catatan (bahan tertulis ataupun film), surat bukti. Pada penelitian, dokumentasi digunakan sebagai sumber data untuk menguji, menafsirkan serta meramalkan”.
Mantja menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif data dokumen biasanya dianggap sebagai data sekunder, karena data primer adalah data yang diperoleh langsung dari tangan pertama yaitu subyek penelitian, partisipan dan informan.
Pada penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data yang berupa dokumen atau catatan-catatan yang ada di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar Adapun kisi-kisi atau pedoman dokumentasi terdapat dalam lampiran.
6. Analisis Data
Dalam suatu penelitian, setelah data terkumpul maka perlu diadakan pengolahan data atau disebut juga dengan analisis data. Analisis data menurut Patton sebagaimana dikutip Moleong adalah Proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar.
Dengan demikian data yang berhasil dikumpulkan dari lokasi penelitian, maka langkah selanjutnya menganalisa dan kemudian menyajikannya secara tertulis dalam laporan tersebut, yaitu berupa data yang ditemukan dari observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang diperoleh dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar
Adapun langkah-langkah yang diterapkan peneliti dalam menganalisa data yaitu mengikuti alur yang dinyatakan oleh Miles dan Huberman bahwa analisis data terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data, paparan/penyajian data dan penarikan kesimpulan yang dilakukan selama dan sesudah penelitian.
Reduksi data merupakan suatu kegiatan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data mentah yang didapat dari catatan-catatan tertulis di lapangan.
Dengan demikian reduksi data ini akan berlangsung secara terus menerus selama penelitian berlangsung, dimulai pada awal kegiatan sampai dilanjutkan selama kegiatan pengumpulan data dilaksanakan, peneliti membuat ringkasan, mengkode, menelusuri tema, membuat gugus-gugus dan mambuat memo.
Data yang di dapat dalam penelitian ini berupa kalimat, kata-kata yang berhubungan dengan fokus penelitian, sehingga sajian data merupakan sekumpulan informasi yang tersusun secara sistematis yang memberikan kemungkinan untuk ditarik kesimpulan. Dengan kata lain penyajian data ini merupakan proses penyusunan informasi secara sistematis dalam rangka memperoleh kesimpulan sebagai temuan penelitian.
Pada saat kegiatan analisis data yang berlangsung secara terus menerus selesai dikerjakan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan penarikan kesimpulan. Untuk mengarah pada hasil kesimpulan ini didasarkan pada hasil analisis data baik yang berasal dari catatan lapangan, obervasi partisipan, wawancara mendalam, dokumentasi yang didapat saat melakukan kegiatan di lapangan.
G. Sistematika Pembahasan
Untuk dapat melakukan pembahasan secara sistematik, maka diambil langkah-langkah sebagaimana dalam sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bagian awal, meliputi perangkat legalitas tesis, halaman sampul, halaman, judul, persetujuan pembimbing, pengesahan, motto, persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar gambar, dan abstrak.
Bagian utama, terdiri dari enam bab yaitu:
Bab I, pendahuluan. Dalam bab ini dipaparkan latar belakang masalah, fokus penelitian yang dikaji dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan, tujuan dan kegunaan penelitian dirumuskan secara jelas, penegasan istilah, studi pendahuluan dan diakhiri dengan sistematika pembahasan.
Bab II, , Kajian teori. Dalam hal ini membahas tentang pengertian kepemimpinan kepala madrasah, pendekatan-pendekatan dalam kepemimpinan, fungsi dan tipe kepemimpinan, kepemimpinan sebagai kunci keberhasilan kepala madrasah, hakekat prestasi kerja guru, peningkatan prestasi kerja guru, kepala madrasah dalam peningkatan prestasi kerja guru.
Bab III, Metodologi Penelitian, dalam hal ini membahas proses penelitian yang digunakan dalam penelitian.
Bab IV, Paparan data dan temuan hasil penelitian, memuat tentang apa saja yang diperoleh dari penelitian yang meliputi gambaran obyek dan hasil penelitian dari fokus penelitian.
Bab V, Pembahasan hasil Penelitian
Bab VI, Penutup, berisi kesimpulan dari hasil penelitian dan saran-saran.
Bagian akhir, memuat daftar rujukan, lampiran-lampiran dan biodata penulis.


BAB II
KAJIAN TEORI

A. Kepemimpinan Kepala Madrasah
1. Pengertian Kepemimpinan Kepala Madrasah
Definisi tentang kepemimpinan sangat bervariasi sebanyak orang yang mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan, definisi kepemimpinan secara luas meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi kelompok dan budayanya, serta mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan aktifitas-aktifitas untuk mencapai sasaran.
Menurut Suharsimi Arikunto kepemimpinan adalah usaha yang dilakukan untuk mempengaruhi anggota kelompok agar mereka dengan suka rela menyumbangkan kemampuannya secara maksimal demi pencapaian tujuan kelompok yang telah ditetapkan.
Hadari Nawawi berpendapat bahwa kepemimpinan adalah kemampuan menggerakkan, memberikan motivasi dan mempengaruhi orang-orang agar bersedia melakukan tindakan-tindakan yang terarah pada pencapaian tujuan melalui keberanian mengambil keputusan tentang kegiatan yang dilakukan.
Paul Harsey dan Ken Blanchard menyebutkan pengertian lain dari para ahli lainnya mengenai kepemimpinan antara lain:
• Menurut George R. Tery kepemimpinan adalah aktifitas mempengaruhi orang-orang untuk berusaha mencapai tujuan kelompok secara sukarela.
• Robert Tannen Baun, Irving R. Weschler dan fred Mescarik mendefinisikan kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi yang dilakuakn dalam suatu situasi dan diarahkan melalui proses kominikasi pada pencapaian tujuan atau tujuan-tujuan tertentu.
• Harold Konntz dan Cyril O’Donnel mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi orang-orang untuk ikut dalam pencapaian tujuan bersama.
Meskipun masih banyak definisi atau pengertian tentang kepemimpinan yang dikemukakan para ahli lainnya, namun demikian pada dasarnya definisi-definisi tersebut memiliki kesamaan konseptual, bahwa kepemimpinan merupakan suatu tindakan atau aktifitas kegiatan untuk mempengaruhi dan menggerakkan bawahan untuk mencapai tujuan organisasi.
Dengan demikian pengertian kepemimpinan tersebut dapat timbul dari mana saja asalkan unsur-unsur dalam kepemimpinan itu terpenuhi, antara lain: adanya orang yang mempengaruhi, adanya orang yang dipengaruhi, adanya tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, adanya aktifitas, interaksi dan otoritas.
Melihat beberapa unsur tersebut, kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk beraktifitas, memimpin, menggerakkan, atau mempengaruhi bawahan, melakukan koordinasi serta megambil keputusan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Apapun bentuk suatu organisasi, dalam kenyataannya pasti memerlukan seorang dengan atau tanpa dibantu orang lain untuk menduduki posisi pimpinan/pemimpin. Seseorang yang menduduki posisi pimpinan dalam suatu organisasi mengemban tugas melaksanakan kepemimpinan, termasuk dalam hal ini adalah organisasi pendidikan, yang mana pemimpin dalam organisasi ini adalah kepala sekolah/madrasah.
Kepala madrasah adalah seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu madrasah dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran.
Melihat penjelasan mengenai pengertian kepemimpinan dan kepala madrasah tersebut, maka dapat ditarik suatu maksud bahwa kepemimpinan kepala madrasah adalah kemampuan kepala madrasah untuk memimpin, meggerakkan, melakukan koordinasi, atau mempengaruhi para guru dan segala sumber daya yang ada di madrasah sehinga dapat di daya gunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2. Pendekatan-Pendekatan Dalam Kepemimpinan
Pada dasarnya, tinjauan menyeluruh mengenai jenis-jenis pendekatan kepemimpinan sangat bermacam-macam, karena kepemimpinan telah dipelajari melalui berbagai cara yang berbeda-beda tergantung pada konsepsi kepemimpinan dan pilihan metodologi para penelitinya. Sehingga studi kepemimpinan hanya memperlakukan atau dihadapkan pada satu aspek yang sempit seperti pengaruh bawahan atau sifat-sifat pribadi, atau perilaku yang satu sama lain dijadikan sasaran studi tanpa mengaitkan satu sama lain yang sebenarnya merupakan satu rangkaian persoalan di bidang kepemimpinan.
Studi kepemimpinan yang terdiri dari berbagai macam pendekatan, pada hakekatnya merupakan usaha untuk menjawab atau memberikan pemecahan persoalan-persoalan dalam bidang kepemimpinan. Pada dasarnya terdapat tiga pendekatan utama dalam kepemimpinan yaitu: “pendekatan sifat, pendekatan perilaku, dan pendekatan situasional”.
1). Pendekatan sifat
Pendekatan ini menekankan pada kualitas pemimpin, dalam pendekatan sifat mencoba menerangkan sifat-sifat yang membuat seseorang berhasil. Pendekatan ini bertolak dari asumsi bahwa individu merupakan pusat kepemimpinan, kepemimpinan dipandang sebagai sesuatu yang mengandung banyak unsur individu. Penganut pendekatan ini berusaha mengidentifikasikan sifat-sifat kepribadian yang dimiliki oleh pemimpin yang berhasil dan yang tidak berhasil.
Pendekatan sifat berpendapat bahwa keberhasilan atau kegagalan seorang pemimpin dipengaruhi oleh sifat-sifat yang dimiliki oleh pribadi seorang pemimpin, sifat-sifat tersebut ada pada seseorang karena pembawaan atau keturunan. Sehingga seseorang menjadi pemimpin karena sifat-sifatnya yang dibawa sejak lahir bukan dibuat atau dilatih.
Keith Davis seperti yang dikutib Miftah Toha merumuskan empat sifat yang tampaknya mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi antara lain: kecerdasan dan kedewasaan, keluasan hubungan sosial, motifasi dan dorongan berprestasi, sikap-sikap hubungan sosial.
Chester L. Barnad dalam “ The function of the executive” mengemukakan dua sifat pemimpin yaitu sifat-sifat pribadi dan keunggulan subyektif. Sifat-sifat pribadi mencakup kondisi fisik, ketrampilan, penguasaan teknologi, daya tanggap pengetahuan, daya ingat, dan imajinasi. Sedangkan keunggulan subyektif menyangkut keyakinan, ketekunan, daya tahan, kesopanan, dan keberanian.
Orway Tead seperti yang dikutip Purwanto, mengemukakan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin antara lain: 1) berbadan sehat, kuat dan penuh energi, 2) yakin akan maksud dan tujuan organisasi, 3) selalu bergairah, 4) bersifat ramah-tamah, 5) mempunyai keteguhan hati, 6) unggul dalam teknik kerja, 7) sanggup bertindak tegas, 8) memiliki kecerdasan, 9) pandai mengajari bawahan, 10) percaya pada diri sendiri.
Banyak ahli yang telah berusaha meneliti dan mengemukakan pendapatnya mengenai sifat-sifat baik manakah yang diperlukan bagi seorang pemimpin agar dapat dan sukses dalam kepemimpinannya. Meskipun telah banyak penelitian tentang sifat kepemimpinan, sampai kini para peneliti belum berhasil menemukan satu atau sejumlah sifat yang dapat dipakai sebagai ukuran untuk membedakan pemimpin dan bukan pemimpin, hal ini menunjukkan hanya dengan menggunakan pendekatan sifat saja masalah kepemimpinan tidak akan dapat difahami dan dipecahkan dengan baik.
Dengan demikian dari pendekatan sifat ini masih terdapat kelemahan-kelemahan antara lain: pertama, tidak adanya kesesuaian atau pendapat diantara para pakar tentang rincian sifat atau ciri-ciri kepemimpinan. Kedua, terlalu sulit untuk menetapkan sifat-sifat yang harus dimiliki pemimpin karena setiap orang yang menjadi pemimpin memiliki keunikan masing-masing. Ketiga, situasi tertentu dan kondisi tertentu memerlukan kepemimpinan yang memiliki sifat dan ciri tertentu sesuai tuntutan situasi dan kondisi tertentu.
2). Pendekatan Perilaku
Pendekatan perilaku ini merupakan pendekatan yang mendasarkan pada pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin yang bersangkutan. Sikap dan gaya kepemimpinan itu tampak dalam kegiatan sehari-hari, dalam hal bagaimana seorang pemimpin memberi perintah, membagi tugas dan wewenangnya, cara berkomunikasi, cara mendorong semangat kerja bawahan, cara memberi bimbingan, cara mengambil keputusan dan lain sebagainya.
Dengan menggunakan pendekatan perilaku, para ahli mengembangkan teori kepemimpinan kedalam berbagai macam klasifikasi, antara lain:
a. Teori Dua faktor
Berdasarkan teori ini, Harsey dan Blanchard sebagaimana dikutip Sujana menjelaskan bahwa perilaku atau perbuatan seseorang pemimpin cenderung mengarah pada dua hal yaitu konsiderasi dan struktur inisiasi.
Konsiderasi adalah perilaku pemimpin untuk memperhatikan bawahan. Ciri-ciri perilaku konsiderasi adalah ramah-tamah, mendukung dan membela bawahan, mau berkonsultasi, menerima usul bawahan, dan memperlakukan bawahan sebagaimana pemimpin memperlakukan dirinya sendiri. Sedangkan struktur inisiasi adalah perilaku pemimpin cenderung mementingkan tujuan organisasi. Ciri-ciri perilaku struktur inisiasi adalah memberikan kritik terhadap pelaksanaan tugas yang tidak tepat, mementingkan batas waktu pelaksanaan tugas kepada bawahan, selalu memberi petunjuk kepada bawahan tentang cara melaksanakan tugas, menetapkan standar tertentu tentang tugas pekerjaan, dan selalu mengawasi optimasi kemampuan bawahan dalam melaksanakan tugas.
b. Teori Empat Faktor
Dalam usaha meningkatkan kualitas kepemimpinan, teori empat faktor sangat mempunyai peranan yang penting, teori kepemimpinan empat faktor meliputi dimensi-dimensi: stuktural, fasilitatif, suportif, dan partisipatif. Masing-masing dimensi ditandai dengan berbagai ciri sebagai berikut:
1. Kepemimpinan Struktural
- Cepat mengambil tindakan dalam keputusan yang mendesak
- Melaksanakan pendelegasian yang jelas dan menentukan kepada anggota.
- Menekankan kepada hasil dan tujuan organisasi
- Menembangkan suatu pandangan organisasi yang kohesif sebagai dasar penngambilan keputusan
- Memantau penerapan keputusan
- Memperkuat relasi yang positif dengan pemerintah ataupun masyarakat.
2. Kepemimpinan Fasilitatif
- Mengusahakan dan menyediakan sumber-sumber yang diperlukan
- Menetapkan dan memperkuat kembali kebijakan organisasi
- Menekan atau memperkecil kertas kerja yang birokratis
- Memberikan saran atas masalah kerja yang terkait
- Membuat jadwal kegiatan
- Membantu pekerjaan agar dilaksanakan
3. Kepemimpinan Suportif
- Memberikan dorongan dan penghargaan atas usaha orang lain
- Menunjukkan keramahan dan kemampuan untuk melaksanakan pendekatan
- Mempercayai orang lain dengan pendelegasian tanggung jawab
- Meningkatkan moral / semangat staf
- Memberikan ganjaran atas nama perseorangan
4. Kepemimpinan partisipatif dengan tanda-tanda:
- Pendekatan akan berbagai persoalan dengan fikiran terbuka
- Mau dan bersedia memperbaiki posisi-posisi yang telah terbentuk
- Mencari masukan dan nasehat yang menentukan
- Membantu perkembangan kepemimpinan yang posisional dan kepemimpinan yang sedang tumbuh
- Bekerja secara aktif dengan perseorangan atau kelompok
- Melibatkan orang lain secara tepat dalam pengambilan keputusan.
Stogdill juga mengemukakan bahwa untuk menilai perilaku kepemimpinan ada 12 faktor yang perlu diperhatikan, Yaitu:
a. Perwakilan (representation), pemimpin berbicara dan bertindak sebagai wakil kelompok.
b. Tuntutan perdamaian (reconciliation), pemimpin mendamaikan tuntutan konflik dan mengurangi ketidakteraturan dari sistem yang ada.
c. Toleran terhadap ketidakpastian (tolerance of uncertainty), pemimpin mampu memberikan toleransi terhadap ketidakpastian dan penundaan tanpa kekhawatiran atau gangguan.
d. Keyakinan (persuasiveness), pemimpin mampu menggunakan persuasi dan organisasi secara efektif serta memperlihatkan keyakinan yang kuat .
e. Struktur inisiasi (inisiation of structure), pemimpin dengan jelas mendefinisikan peranan kepemimpinan dan memberikan kesempatan bawahan mengetahui apa yang diharapkan dari mereka.
f. Toleransi kebebasan (tolerance of freedom), pemimpin membiarkan bawahan berkesempatan untuk berinisiatif, terlibat dalam keputusan dan berbuat.
g. Asumsi peranan (Role Assumption), pemimpin secara aktif menggunakan peranan kepemimpinannya daripada menyerahkan kepemimpinan kepada yang lain.
h. Konsiderasi (concideration), pemimpin memperhatikan ketenangan, kesejahteraan, dan kontribusi (bantuan) bawahan.
i. Penekanan pada hal-hal yang produktuif (productive emphasis), pemimpin mementingkan atau menekankan kepada hal-hal yang bersifat produktif.
j. Ketepatan yang bersifat prediktif (predictive accuracy), pemimpin memperlihatkan wawasan ke depan dan kecakapan untuk memperkirakan hasil yang akan datang secara akurat.
k. Integrasi (integration), pemimpin memelihara secara akrab jaringan organisasi dan mengatasi konflik antar anggota.
l. Orientasi kepada atasan (superior orientation), pemimpin memelihara hubungan ramah-tamah dengan atasan yang mempunyai pengaruh terhadap pemimpin, dan berjuang untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi.
Kedua belas faktor tersebut sangat membantu dalam menganalisa dan memperbaiki perilaku pemimpin dalam organisasi apapun.
3). Pendekatan situasional
Pendekatan situasional hampir sama dengan pendekatan perilaku, keduanya menyoroti perilaku kepemimpinan dalam situasi tertentu. Dalam hal ini kepemimpinan lebih merupakan fungsi situasi dari pada sebagai kualitas pribadi, dan merupakan kualitas yang timbul karena interaksi orang-orang dalam situasi tertentu.
Menurut pandangan perilaku, dengan mengkaji kepemimpinan dari beberapa variabel yang mempengaruhi perilaku akan memudahkan menentukan gaya kepemimpinan yang paling cocok. Pendekatan ini menitik beratkan pada berbagai gaya kepemimpinan yang paling efektif diterapkan dalam sitiasi tertentu. Terdapat beberapa studi kepemimpinan yang menggunakan pendekatan ini antara lain:
a. Teori kepemimpinan kontingensi
Teori ini dikembangkan oleh Fiedler dan Chemers, berdasarkan hasil penelitianya pada tahun 1950, disimpulkan bahwa seseorang menjadi pemimpin bukan saja karena faktor kepribadian yang dimiliki, tetapi juga berbagai faktor situasi dan saling berhubungan antara situasi dengan kepemimpinan. Keberhasilan pemimpin bergantung baik pada diri pemimpin maupun kepada keadaan organisasi.
Menurut Fiedler tidak ada gaya kepemimpinan yang cocok untuk semua situasi, serta ada 3 faktor yang perlu dipertimbangkan yaitu: hubungan antara pemimpin dan bawahan, struktur tugas, serta kekuasaan yang berasal dari organisasi.
Berdasarkan ketiga dimensi tersebut Fiedler menentukan dua jenis gaya kepemimpinan dan dua tingkat yang menyenangkan. Pertama, gaya kepemimpinan yang mengutamakan tugas, yaitu gaya ketika pemimpin merasa puas jika tugas bisa dilaksanakan. Kedua, gaya kepemimpinan yang mengutamakan hubungan kemanusiaan, hal tersebut menunjukkan bahwa efektifitas kepemimpinan bergantung pada tingkat pembauran antara gaya kepemimpinan dengan tingkat kondisi yang menyenangkan dalam situasi tertentu.
b. Teori kepemimpinan tiga dimensi
Teori ini dikemukakan oleh Reddin guru besar Universitas New Brunswick Canada, menurutnya ada tiga dimensi yang dapat dipakai untuk menentukan gaya kepemimpinan yaitu: perhatian pada produksi atau tugas, perhatian pada orang dan dimensi efektifitas.
Gaya kepemimpinan Reddin sama dengan jaringan manajemen yangn dimiliki empat gaya dasar kepemimpinann, yaitu Integred, related, separated, dan decicated. Reddin menyatakan bahwa keempat gaya tersebut menjadi efektif atau tidak efektif tergantung pada situasi.

c. Teori kepemimpinan situasional
Teori ini merupakan pengembangan dari model kepemimpinan tiga dimensi yang didasarkan pada hubungan antara tiga faktor yaitu perilaku tugas, perilaku hubungan dan kematangan. Perilaku tugas merupakan pemberian petunjuk oleh pimpinan terhadap anak buah melalui penjelasan tertentu, apa yang harus diperbuat, kapan, dan bagaimana mengerjakannya, serta mengawasi mereka secara ketat. Perilaku hubungan merupakan ajakan yang disampaikan oleh pimpinan melalui komunikasi dua arah yang meliputi mendengar dan melibatkan anak buah dalam pemecahan masalah. Adapun kematangan adalah kemampuan dan kemauan anak buah dalam mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas.
Dari ketiga faktor tersebut, tingkat kematangan anak buah merupakan faktor yang paling dominan, karena itu tekanan utama dari teori ini terletak pada perilaku pemimpin dalam hubungannya dengan anak buah. Menurut teori ini gaya kepemimpinan akan efektif jika disesuaikan dengan tingkat kematangan anak buah. Makin matang anak buah, pemimpin harus mengurangi perilaku tugas dan perilaku hubungan. Selanjutnya pada saat anak buah mencapai tingkat kematangan penuh dan sudah dapat mandiri, pemimpin sudah dapat mendelegasikan wewenang kepada anak buah.
Gaya kepemimpinan yang tepat untuk diterapkan dalam keempat tingkat kematangan anak buah dan kombinasi yang tepat antara perilaku tugas dan perilaku hubungan adalah:
1. Gaya mendikte (Telling)
Gaya ini diterapkan jika kematangan anak buah rendah, dan memerlukan petunjuk serta pengawasan yang jelas. Gaya ini disebut mendikte karena pemimpin dituntut untuk mengatakan apa, bagaimana, kapan, dan dimana tugas dilakukan. Gaya ini menekankan pada tugas, sedangkan hubungan hanya dilakukan sekedarnya saja.
2. Gaya Menjual (Selling)
Gaya ini diterapkan apabila kondisi anak buah dalam taraf rendah sampai moderat. Mereka telah memiliki kemauan untuk melakukan tugas, tetapi belum didukung oleh kemampuan yang memadai. Gaya ini disebut menjual karena pemimpin selalu memberikan petunjuk yang banyak. Dalam tingkat kematanga anak buah yang seperti ini, diperlukan tugas serta hubungan yang tinggi agar dapat memelihara dan meningkatkan kemauan yang telah dimiliki.
3. Gaya melibatkan diri
Gaya ini diterapkan apabila tingkat kematangan anak buah berada dalam taraf kematangan moderat sampai tinggi. Mereka mempunyai kemampuan, tetapi kurang memiliki kemauan kerja dan kepercayaan diri. Gaya ini disebut mengikut sertakan karena pemimpin dengan anak buah bersama-sama berperan dalam proses pengambilan keputusan. Dalam kematangan semacam ini, upaya tugas tidak diperlukan, namun upaya hubungan perlu ditingkatkan dengan membuka komunikasi dua arah.

4. Gaya mendelegasikan
Gaya ini diterapkan jika kemampuan dan kemauan anak buah telah tinggi. Gaya ini disebut mendelegasikan karena anak buah dibiarkan melaksanakan kegiatannya sendiri, melalui pengawasan umum. Hal ini dilakukan jika anak buah berada pada tingkat kedewasaan yang tinggi. Dalam tingkat kematangan seperti ini upaya tugas hanya diperlukan sekedarnya saja, demikian upaya hubungan.
Berdasarkan pendekatan dan teori kepemimpinan tersebut, tampak adanya dua konsepsi tentang bagaimana seseorang dapat dikatakan memegang peranan sebagai pemimpin. Berdasarkan pandangan tentang sifat seorang pemimpin, seseorang melaksanakan kepemimpinannya karena memiliki sifat pribadi dan kemampuan sebagai pemimpin. Sedangkan berdasarkan situasinya, maka situasi dan kondisi organisasilah yang mendorong seseorang berperan sebagai pemimpin.
Terlepas dari adanya teori yang seakan-akan kontradiktif tersebut, yang jelas bahwa pemimpin itu harus memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan anggota-anggota biasa lainnya. Sebab dengan kelebihan-kelebihan tersebut, pemimpin bisa berwibawa dan dipatuhi bawahannya.
Dari uraian tersebut diatas, maka seorang pemimpin bukanlah sekedar seorang tukang atau juru, melainkan seseorang dengan sifat-sifat unggulnya harus mampu menempatkan posisinya secara efektif terhadap segala hubungan yang terjadi diantara sesama anggota atau antar kelompok, masalah-masalah yang dihadapi, serta situasi dan kondisi organisasi yang dipimpinnya. Oleh sebab itu, kepemimpinan yang efektif adalah keberhasilan pemimpin dalam memerankan fungsi-fungsi kepemimpinan dengan baik yang sekaligus mampu membawa para bawahan untuk melakukan tugas-tugasnya dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya.

3. Fungsi Kepemimpinan
Dalam kehidupan organisasi, fungsi kepemimpinaan adalah sebagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan. Fungsi artinya jabatan (pekerjaan) yang dilakukan atau kegunaan suatu hal atau kerja suatu bagian tubuh. Sedangkan fungsi kepemimpinan berhubungan langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok/organisasi masing-masing, yang mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada di dalam dan bukan di luar situasi itu.
Proses kepemimpinan pada dasarnya merupakan interaksi antara manusia dengan makhluk sosial. Kepemimpinan tidak dapat dilepaskan hubungannya dengan situasi sosial yang terbentuk dan sedang berlangsung di lingkungan suatu organisasi. Oleh karena situasi itu selalu berkembang dan dapat berubah-ubah, maka proses kepemimpinan tidak mungkin dilakukan sebagai kegiatan rutin yang diulang-ulang. Tidak satupun cara bertindak/berbuat yang dapat digunakan secara persis sama dalam menghadapi dua situasi yang terlihat sama, apalagi berbeda di lingkungan suatu organisasi oleh seorang pemimpin.
Dengan demikian berarti juga suatu cara bertindak yang efektif dari seorang pemimpin tidak dapat ditiru secara tepat dengan mengharapkan hasil yang sama efektifnya oleh pemimpin yang lain. Cara bertindak sama di lingkungan organisasi yang berbeda dengan situasi sosial yang tidak sama, maka hasilnya juga akan berbeda.
Cara bertindak dari seorang pemimpin didasari oleh keputusan yang ditetapkannya, yang sangat dipengaruhi oleh kemampuan menganalisa situasi sosial organisasinya. “Pemimpin yang efektif akan selalu berusaha mengembangkan situasi sosial yang bersifat kebersamaan yang mampu memberikan dukungan positif terhadap keputusan yang ditetapkannya”
Fungsi kepemimpinan merupakan gejala sosial, karena harus diwujudkan dalam interaksi antar individu dalam situasi sosial suatu kelompok/organisasi. Fungsi kepemimpinan tersebut memiliki dua dimensi utama yaitu kemampuan pemimpin dalam mengarahkan (direction) dan tingkat dukungan (support) dari anggota organisasi, yang secara operasional dibedakan menjadi lima pokok fungsi kepemimpinan antara lain:
1) Fungsi Instruktif
Fungsi ini bersifat komunikasi dua arah, pemimpin sebagai komunikator merupakan pihak yang menentukan apa, bagaimana, kapan, dan dimana perintah itu dikerjakan agar keputusan dapat dilaksanakan secara efektif. Kepemimpinan yang efektif memerlukan kemampuan menggerakkan dan memotifasi orang lain agar mau melaksanakan perintah.
2) Fungsi konsultatif
Fungsi ini bersifat komunikasi dua arah. Pada tahap pertama dalam usaha menetapkan keputusan, pemimpin kerapkali memerlukan bahan pertimbangan yang mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya yang dinilai mempunyai berbagai bahan informasi yang diperlukan dalam menetapkan putusan. Tahap berikutnya konsultasi dari pimpinan pada orang-orang yang dipimpin dapat dilakukan setelah keputusan ditetapkan dan sedang dalam pelaksanaan. Konsultasi itu dilaksanakan dengan maksud untuk memperoleh umpan balik untuk memperbaiki dan menyempurnakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan.
3) Fungsi partisipatif
Dalam menjalankan fungsi ini pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam melaksanakannya. Partisipasi tidak berarti bebas berbuat semaunya, tetapi dilaksanakan secara terkendali dan terarah berupa kerja sama dengan tidak mencampuri atau mengambil tugas pokok orang lain. Keikutsertaan pemimpin harus tetap dalam fungsi sebagai pemimpin dan bukan pelaksana.
4) Fungsi delegasi
Fungsi ini dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan wewenang membuat dan menetapkan keputusan, baik melalui persetujuan maupun tanpa persetujuan dari pimpinan. Fungsi delegasi pada dasarnya berarti kepercayaan. Orang-orang penerima delegasi itu harus diyakini merupakan pembantu pimpinan yang memiliki persamaan prinsip, persepsi dan aspirasi.
5) Fungsi pengendalian
Fungsi pengendalian bermaksud bahwa kepemimpinan yang sukses mampu mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Fungsi pengendalaian ini dapat diwujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan.
Berkaitan dengan fungsi kepemimpinan, Gerungan sebagaimana mengutip pendapat Ruch bahwa ada tiga fungsi utama dari pemimpin antara lain:
1. Seorang pemimpin bertugas memberikan struktur yang jelas dari situasi-situasi yang rumit yang dihadapi oleh kelompoknya ( Structuring the situation).
2. Seorang pemimpin bertugas mengawasi dan menyalurkan perilaku kelompok yang dipimpinnya (controlling group behavior). Ini juga berarti bahwa seorang pemimpin bertugas mengendalikan perilaku anggota kelompok dan kelompok itu sendiri.
3. Seorang pemimpin bertugas sebagai juru bicara kelompok yang dipimpinnya (spokesman of the group). Seorang pemimpin harus dapat merasakan dan menerangkan kebutuhan-kebutuhan kelompok yang dipimpinnya ke dunia luar, baik mengenai sikap kelompok, tujuan, harapan-harapan atau hal-hal yang lain.

Krech dan Crutchfield mengemukakan pendapat mengenai fungsi pemimpin, bahwa pemimpin itu sebagai:
1. Seorang eksekutif, yaitu ikut berkiprah dalam mencapai tujuan kelompok, juga bertanggung jawab atas pelaksanaan hal-hal yang telah digariskan dalam kelompok yang dipimpinnya.
2. Seorang perencana, yaitu pemimpin bertugas membuat rencana kegiatan dari yang dipimpinnya. Apa yang semestinya dikerjakan oleh kelompok perlu direncanakan, digariskan oleh pemimpin.
3. Seorang pembuat kebijakan, yaitu pemimpin menentukan kebijakan kelompok yang dipimpinnya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
4. Seorang Ahli, yaitu pemimpin sebagai sumber informasi dari anggota kelompok yang dipimpinnya. Sehingga diharapkan seorang pemimpin adalah seorang yang ahli dalam bidang yang dipimpinnya.
5. Seorang yang mewakili kelompok keluar, yaitu pemimpin mewakili kelompoknya ke dunia luar kelompoknya. Pemimpin sebagai cerminan sifat-sifat atau kepribadian kelompok yang dipimpinnya.
6. Seorang pengontrol perilaku atau hubungan para anggotanya. Karena itu seorang pemimpin harus peka terhadap keadaan atau situasi dalam kelompoknya.
7. Seorang pemberi hadiah atau hukuman. Seorang pemimpin dalam keadaan yang diperlukan perlu memberikan hukuman atau hadiah.
8. Seorang penengah atau pelerai, yaitu seorang pemimpin bertugas sebagai pelerai atau sebagai penengah bila dalam kelompok terdapat perselisihan diantara para anggota, dan pemimpin juga berkewajiban untuk memulihkan kembali hubungan yang kurang baik itu.
9. Seorang panutan, yaitu seorang pemimpin harus mampu menjadi panutan, menjadi teladan baik dalam ucapan maupun dalam perilaku dari yang dipimpinnya.
10. Seorang pengambil alih tanggung jawab, yaitu bahwa seorang pemimpin berkewajiban mengambil alih tangguing jawab atas tindakan anggotanya, disadari atau tidak seorang pemimpin ikut memikul tanggung jawab segala tindakan dari yang dipimpinnya.
11. Seorang simbol dari kelompok, bahwa seorang pemimpin merupakan lambang dari yang dipimpinnya.
12. Seorang idealis, bahwa seorang pemimpin perlu benar-benar memahami ideologi kelompoknya, sehingga dalam kepemimpinannya akan sesuai dengan aspirasi yang ada dalam kelompoknya. Seorang pemimpin harus mempunyai pendirian kuat agar tidak mudah terobang-ambing oleh pengaruh dari luar kelompoknya.
13. Figur seorang ayah, yaitu sebagai tempat identifikasi, pencurahan isi hati dari para anggota kelompoknya.
14. Kambing hitam, yaitu seorang pemimpin harus bersedia menjadi kambing hitam, keadaan ini terutama akan terjadi bila kelompok yang dipimpinnya membuat kesalahan, hal tersebut biasanya akan dilemparkan kepada pemimpin.
Seluruh fungsi tersebut diselenggarakan dalam aktifitas kepemimpinan secara integral. Adapun dalam pelaksanaannya pemimpin berkewajiban menjabarkan program kerja, mampu memberikan petunjuk yamg jelas, berusaha mengembangkan kebebasan berfikir dan mengeluarkan pendapat, mengembangkan kerjasama yang harmonis, mampu memecahkan masalah dan mengambil keputusan sesuai dengan batas tanggung jawab masing-masing, berusaha menumbuh-kembangkan kemampuan memikul tanggung jawab, mendayagunakan pengawasan sebagai alat pengendali.
Fungsi kepemimpinan dalam kehidupan organisasi adalah bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan. Tetapi untuk merumuskan apa yang menjadi fungsi kepemimpinan adalah sulit, sama sulitnya memberikan definisi kepemimpinan itu sendiri. Kesulitan ini terjadi sebab kepemimpinan menarik perhatian para ahli untuk menelitinya, sehingga melahirkan penelitian kepemimpinan yang berbeda-beda, hampir sebanyak para ahli yang melakukan penelitian. Masing-masing penelitian berdiri sendiri tidak saling terkait sesuai dengan latar belakang konsep yang dimiliki oleh pakar.
Dalam proses kepemimpinan selalu terlihat titik berat yang berbeda dalam mewujudkan fungsi-fungsi kepemimpinan, antara pemimpin yang satu dengan yang lainnya. Diantaranya ada yang lebih mengutamakan fungsi instruktif, sedang yang lainnya menerapkan fungsi delegasi, yang berikutnya partipasi dan lain-lain. Disamping itu mungkin pula ada yang melaksanakannya dalam bentuk kombinasi. Perbedaan-perbedaan tersebut mengakibatkan terjadinya berbagai tipe kepemimpinan.
Melihat fungsi-fungsi tersebut tidaklah ringan beban yang diemban oleh seorang pemimpin, sehingga sudah barang tentu untuk menjadi pemimpin dituntut persyaratan-persayaratan tertentu agar dalam melaksanakan kepemimpinannnya dapat berlangsung dengan baik.

4. Tipe Kepemimpinan
Dalam menggerakkan atau memotivasi orang lain agar melakukan tindakan-tindakan yang selalu terarah pada pencapaian tujuan organisasi, seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan atau kecakapan dan keterampilan yang diperlukan dalam melaksanakan kepemimpinannya. Pengetahuan dan keterampilan tersebut diperoleh dari pengalaman belajar secara teori maupun dari pengalamannnya dalam praktek selama menjadi pemimpin. Dalam melaksanakan kepemimpinannnya, berbagai cara ditempuh oleh seorang pemimpin, cara-cara yang digunakan merupakan pencerminan sikap dan pandangan pemimpin terhadap orang yang dipimpinnya, yang memberikan gambaran pula tentang bentuk (tipe) kepemimpinan yang dijalankan.
Secara teoritis tipe kepemimpinan yang pokok dapat dibedakan menjadi tiga yaitu: Otokratis, Laizes faire, Demokratis.
1) Kepemimpinan Otokratis
Tipe kepemimpinan ini otokratis merupakan tipe kepemimpinan yang paling tua dikenal manusia, oleh karena itu tipe ini juga merupakan yang paling banyak dikenal. Dalam kepemimpinan yang otokratis, pemimpin bertindak sebagai diktator terhadap angota-anggotanya. Baginya, memimpin adalah menggerakkan dan memaksa kelompok. Kekuasaan pemimpin yang otokratis hanya dibatasi oleh undang-undang, penafsirannya sebagai pemimpin tidak lain adalah menunjukkan dan memberi perintah. Kewajiban bawahan adalah hanya mengikuti dan menjalankan, tidak boleh membantah ataupun mengajukan saran.
Pemimpin yang otokratis tidak menghendaki musyawarah, rapat hanyalah sebagai sarana untuk menyampaikan instruksi-instruksi. Setiap perbedaan pendapat diantara para anggotanya diartikan sebagai kepicikan, pembangkangan atau pelanggaran disiplin terhadap instruksi yang telah ditetapkan.
Pemimpin tidak dapat diganggu gugat, baik balam tindakan maupun perbuatan. Supervisi bagi pemimpin yang otokratis hanyalah berarti mengontrol, apakah segala perintah yang telah diberikan itu ditaati atau dijalankan dengan baik oleh para anggotanya, hal ini berarti bukan supervisi yang dilakukan akan tetapi sebagai inspeksi, yaitu mencari kesalahan dari para anggotanya. Jika ada angota yang tidak taat akan diberi hukuman dan jika ada yang taat dan patuh akan diberi penghargaan bahkan dianak emaskan.
Kepemimpinan otoriter tersebut mempunyai dampak negatif dalam kehidupan organisasi, antara lain: 1) anggota akan menjadi pengekor yang tidak mampu dan tidak mau berinisiatif, takut mengambil keputusan, dan mematikan kreatifitas, 2) kesediaan anggota dalam melaksanakan tugas didasari oleh perasaan takut dan tertekan, 3) organisasi menjadi statis, karena pimpinan tidak menyukai perubahan, perkembangan biasanya datang dari para anggota.
Kepemimpinan dengan tipe otokratis, banyak ditemui dalam pemerintahan absolut, sehingga ucapan raja berlaku sebagai undang-undang atau ketentuan hukum yang mengikat. Disamping itu kepemimpinan ini sering pula terlihat pada kepemimpinan diktator sebagaimana terjadi di masa Nazi Jerman dengan Hitler sebagai pemimpin yang otoriter.
2) Kepemimpinan Laizes Faire
Sebenarnya pemimpin dalam kepemimpinan Laises faire tidak memberikan pimpinan. Tipe ini diartikan sebagai membiarkan orang-orang berbuat sekehendaknya. Pemimpin yang temasuk tipe ini sama sekali tidak memberikan kontrol dan koreksi terhadap pekerjaan anggotanya. Pemberian tugas dan kerjasama diserahkan kepada anggotanya tanpa ada petujuk atau saran dari pimpinan. Kekuasaan dan tanggung jawab bersimpang-siur, berserakan diantara anggota kelompok, dengan demikian mudah terjadi kekacauan. Tingkat keberhasilan organisasi dengan kepemimpinan laizes faire ini disebabkan karena kesadaran dan dedikasi beberapa anggota kelompok, dan bukan karena pengaruh dari pemimpinnya.
Biasanya, dalam tipe kepemimpinan laizes faire ini struktur organisasinya tidak jelas dan kabur. Segala kegiatan dilakukan tanpa rencana yang terarah dan tanpa pangawasan dari pimpinan.

3) Kepemimpinan Demokratis
Pemimpin yang bertipe demokratis menafsirkan kepemimpinannnya bukan sebagai diktator, melainkan sebagai pemimpin di tengah-tengah anggota kelompoknya. Pemimpin yang demokratis selalu berusaha menstimulasi anggotanya agar bekerja secara kooperatif untuk mencapai tujuan bersama. Dalam tindakan dan usaha-usahanya selalu berpangkal pada kepentingan dan kebutuhan kelompoknya, dan mempertimbangkan kesanggupan serta kemampuan kelompoknya.
Pemimpin demokratis dalam melaksanakan tugasnya mau menerima dan bahkan mengharapkan pendapat dan saran-saran dari kelompoknya. Juga kritik-kritik yang membangun dari para anggota sebagai umpan balik dan dijadikan bahan pertimbangan dalam tindakan-tindakan berikutnya.
Pemimpin demokratis mempunyai kepercayaan diri sendiri dan menaruh perhatian dan kepercayaan pada anggota bahwa mereka mempunyai kesanggupan bekerja dengan baik dan bertanggung jawab. Pemimpin yang demokratis selalu memupuk rasa kekeluargaan dan persatuan, selalu membangun semangat anggota kelompok dalam menjalankan dan mengembangkan daya kerjanya.
Dalam prakteknya, dari beberapa tipe kepemimpinan tersebut dapat saling mengisi, terutama antara kepemimpinan otoriter dan kepemimpinan demokratis. Dengan kata lain dalam kepemimpinan masih diperlukan kepemimpinan otoriter walaupun sifatnya yang lebih lunak. Sifat otoriter tersebut diperlukan sebagai perwujudan kesatuan perintah agar tidak membingungkan. Disamping itu dalam batas-batas tertentu kepemimpinan otoriter masih sangat diperlukan dalam kegiatan mengontrol dan pengawasan.
Dari beberapa tipe kepemimpinan yang utama tersebut, terdapat beberapa tipe kepemimpinan yang sifatnya sebagai pelengkap antara lain: tipe kepemimpinan Karismatik, simbol, pengayom, tipe kepemimpinan ahli, organisatoris dan administrator, serta tipe agiator.
1) Tipe kepemimpinan karismatik
Pemimpin diterima karena kepribadiannya yang berpengaruh, dipercaya, dihormati, disegani, dan dipatuhi secara rela dan ikhlas sehingga diikuti pendapat dan keputusannya.
2) Tipe kepemimpinan simbol
Pemimpin yang secara tradisional ini diakui sebagai simbol kebesaran kelompok/organisasi, walaupun tidak berfungsi dan kepemimpinannnya diselenggarakan oleh orang lain yang menjadi pembantunya.
3) Tipe kepemimpinan pengayom
Pemimpin yang ditempatkan sebagai kehormatan karena pengalaman dan posisinya dalam masyarakat. Tipe ini menunjukkan gejala bahwa seorang pemimpin selalu bersedia melakukan segala sesuatu untuk kepentingan orang banyak, khususnya anggota organisasinya. Pemimpin selalu bertindak sebagai pelopor, sedia berkorban, penuh pengabdian dan kesungguhan dalam menghadapi masalah dalam menjalankan kepemimpinannya.
4) Tipe kepemimpinan ahli
Dalam tipe ini seorang yang mempunyai keterampilan atau keahlian profesional dalam bidang tertentu, menjalankan kepemimpinan di lingkungan organisasi yang bergerak di bidang yang sesuai dengan keahlian tersebut. Misalnya guru diangkat sebagai kepala sekolah, seorang dokter diangkat sebagai kepala rumah sakit.
5) Tipe kepemimpinan organisatoris dan administrator
Tipe kepemimpinan ini berupa kemampuan membina dan mengelola kerjasama yang efektif dalam melaksanakan kegiatannya yang terarah pada tujuan yang jelas. Pemimpin menyenangi hubungan yang harmonis dengan orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin tipe ini bekerja secra terencana, sistematis, dan tertib, dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan memanfaatkan masukan dari orang lain dari dalam dan luar organisasinya.
6) Tipe kepemimpinan agiator
Tipe kepemimpinan agiator ini dilakukan dengan memberikan tekanan-tekanan, mengadu domba, menimbulkan dan mempertajam perselisihan, memecah belah dan menghasut anggota organisasi dengan maksud untuk memperoleh keuntungan bagi pimpinan dengan atau tanpa kelompoknya. Pemimpin seperti ini sering kali mampu memanfaatkan pertentangan yang ditimbulkannya untuk memperoleh dukungan dari kedua belah pihak yang bertentangan. Walaupun masing-masing memiliki alasan yang berbeda, misalnya pemimpin dalam lingkungan partai politik.
Terjadinya perbedaan-perbedaan mengenai tipe kepemimpina tersebut adalah atas dasar hubungan antara pemimpin dan kelompok yang dipimpinnya. Berpijak dari teori dan tipe kepemimpinan tersebut, maka dapatlah disimpulkan bahwa agar seseorang dapat tampil sebagai pemimpin yang baik dan sukses dalam melaksanakan kepemimpinannya, maka semua kualitas kepemimpinan haruslah memenuhi persyaratan dan tuntunan yang diajukan oleh situasi.

5. Kepemimpinan Kunci Keberhasilan Kepala Madrasah
Madrasah adalah lembaga pendidikan yang bersifat kompleks dan unik. Bersifat kompleks karena madrasah sebagai organisasi yang di dalamnya terdapat berbagai dimensi yang satu sama lain saling berkaitan dan saling menentukan. Sedang sifat unik menunjukkan bahwa madrasah sebagai organisasi memiliki ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh organisasi-organisasi lainnya. Ciri-ciri yang menempatkan madrasah memiliki karakteristik tersendiri, dimana terjadi proses belajar-mengajar, tempat terselenggaranya pembudayaan kehidupan umat manuisia. Karena sifatnya yang komplek dan unik, madrasah memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi.
Koordinasi yang baik diantara para anggota organisasi madrasah khususnya kepala madrasah sangat menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan. Keberhasilan madrasah dalam mewujudkan tujuan dapat dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan kepemimpinan kepala madrasah, sebagaimana dinyatakan oleh Wahjosumidjo bahwa “keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah”.
Kepala madrasah yang berhasil apabila mereka memahami keberadaan madrasah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peranan kepala madrasah sebagai seorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin madrasah.
Dalam satuan pendidikan, kepala madrasah menduduki dua jabatan penting untuk bisa menjamin kelangsungan proses pendidikan. Pertama, kepala madrasah adalah pengelola pendidikan secara keseluruhan. Kedua, kepala madrasah sebagai pemimpin formal pendidikan di lingkungannya.
Sebagai pengelola pendidikan, kepala madrasah bertanggung jawab atas keberhasilan penyelenggaraan kegiatan pendidikan dengan cara melaksanakan administrasi madrasah dengan seluruh substansinya. Disamping itu kepala madrasah bertanggung jawab terhadap kualitas sumber daya manusia yang ada, agar mereka mampu menjalankan tugas-tugas pendidikan. Oleh karena itu sebagai pengelola, kepala madrasah memiliki tugas untuk mengembangkan kinerja para personil terutama guru kearah profesionalime yang diharapkan.
Sebagai pemimpin formal, kepala madrasah bertanggung jawab atas tercapainya tujuan pendidikan melalui upaya menggerakkan para bawahan kearah pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini kepala madrasah bertugas melaksankan fungsi-fungsi kepemimpinan, baik fungsi yang berhubungan dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun pencapaian iklim madrasah yang kondusif bagi terlaksananya proses belajar-mengajar secar efektif dan efisien.
Kualitas kepemimpinan kepala madrasah dalam rangka melaksanakan tugas sangatlah penting, oleh karena laju perkembangan kegiatan/program pendidikan yang ada di setiap madrasah ditentukan oleh arahan, bimbingan serta visi dan misi yang ingin dicapai oleh kepala madrasah. Robert C. Bog sebagaimana dikutip Idhochi Anwar mengemukakan empat kemampuan yang harus dimiliki seorang pemimpin pendidikan, antara lain:
a. Kemampuan mengorganisasikan dan memantau staf dalam merumuskan perbaikan pengajaran di sekolah dalam bentuk program yang lengkap.
b. Kemampuan untuk membangkitkan dan memupuk kepercayaan pada diri sendiri dan para guru serta staf sekolah.
c. Kemampuan untuk membina dan memupuk kerja sama dalam mengajukan dan melaksanakan program supervisi.
d. Kemampuan untuk mendorong dan mambimbing para guru serta staf agar dengan penuh kerelaan dan tanggung jawab berpartisipasi secara aktif pada setiap usaha sekolah untuk mencapai tujuan madrasah dengan sebaik-baiknya.
Sebagai pemimpin pendidikan, kepala madrasah perlu memiliki kompetensi dasar yang disyaratkan, yaitu berupa kekuatan-kekuatan kepemimpinan yang sangat mempengaruhi kegiatan persekolahan. Kekuatan-

kekuatan tersebut adalah: kekuatan teknikal, kekuatan manusia, kekuatan pendidikan, kekuatan simbolik, dan kekuatan budaya.
1) Kekuatan teknikal
Kekuatan teknikal ini berasal dari teknik-teknik manajemen dan berhubungan dengan aspek-aspek teknis kepemimpinan. Prinsip kekuatan teknikal ini bisa dikatakan sama dengan prinsip perencanaan dan manajemen. Kekuatan teknikal ini sangat penting karena akan menjamin terselenggaranya pengaturan kegiatan persekolahan yang baik.
2) Kekuatan manusia
Kekuatan manusia ini berasal dari pemanfaatan potensi sosial dan antar pribadi suatu madrasah yaitu unsur manusianya. Prinsip kekuatan manusia ini bisa dianggap merupakan pengaturan manusia meliputi hubungan antar manusia, kecakapan antar pribadi, serta teknik-teknik pemberian motifasi dengan berbagai instrumen. Sedangkan prinsip pengaturan manusia meliputi pemberian dukungan dan kesempatan oleh kepala madrasah kepada para guru dan pegawai lainya.
3) Kekuatan pendidikan
Kekuatan pendidikan merupakan kekuatan kepemimpinan yanng berasal dari pengetahuan mengenai permasalahan pendidikan dan persekolahan. Prinsip-prinsip kekuatan pendidikan ini mengandunng unsur-unsur pengajaran, pengembangan program pendidikan dan supervisi. Prinsip kekuatan pendidikan adalah menemukan masalah pendidikan, memberi penyuluhan pada guru, mengadakan supervisi dan evaluasi serta pengembangan staf dan kurikulum.
4) Kekuatan simbolik
Kekuatan ini berhubungan dengan aspek-aspek simbolik kepemimpinan. Ketika menunjukkan kekuatan ini kepala madrasah memainkan peranan sebagai kepala dan memberikan model bagi tujuan-tujuan dan tingkah laku yang baik, serta memberi tanda pada yang lain mengenai apa yang penting dan berharga bagi kegiatan persekolahan.
5) Kekuatan budaya
Kekuatan budaya merupakan kekuatan kepemimpinan yang berasal dari suatu kebudayaan madrasah yang unik dan berhubungan dengan aspek-aspek kebudayaan suatu madrasah. Ketika menunjukkan kekuatan budaya ini kepala madrasah bertindak sebagai seorang yang mendefinisikan, memperkuat serta mengartikulasikan nilai-nilai, kepercayaan dan segi-segi budaya yang memberikan identitas yang unik pada madrasahnya.
Kepala sekolah/madrasah adalah jabatan pemimpin yang tidak bisa diisi oleh orang-orang tanpa didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan. Siapapun yang diagkat menjadi kepala madrasah harus ditentukan melalui prosedur serta persyaratan-persyaratan tertentu seperti: latar belakang pendidikan, pengalaman, usia, pangkat dan integritas. Persyaratan-persyaratan formal tersebut bukanlah yang dimaksudkan sebagai persyaratan kepemimpinan. Persyaratan itu adalah ketentuan untuk menduduki suatu jabatan tertentu yang mengharuskan seseorang yang mendudukinya menjalakan fungsi kepemimpinan.
M. Ngalim Purwanto menjelaskan bahwa syarat minimal bagi seorang kepala sekolah antara lain:
1. Memiliki ijasah yang sesuai dengan ketentuan/peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
2. Menpunyai pengalaman bekerja yang cukup, terutama di sekolah yang sejenis dengan sekolah yang dipimpinya.
3. Memiliki kepribadian yang baik, terutama sikap dan sifat-sifat kepribadian yang diperlukan bagi kepentingan pendidikan.
4. Mempunyai keahlian dan berpengetahuan luas, terutama mengenai bidang-bidang penngetahuan dan pekerjaan yang diperlukan bagi sekolah yang dipimpinya.
5. Mempunyai ide dan inisiatif yanng baik untuk kemajuan dan pengembangan sekolahnya.

Pihak madrasah dalam menggapai visi dan misi pendidikan perlu ditunjang oleh kemampuan kepala madrasah dalam menjalankan roda kepemimpinanya. Meskipun pengangkatan kepala madrasah tidak dilakukan secara sembarangan, bahkan diangkat dari guru yang sudah berpengalaman atau mungkin sudah lama menjabat sebagai wakil kepala madrasah, namun tidak dengan sendirinya membuat kepala madrasah menjadi profesional dalam melaksanakan tugas. Berbagai kasus menunjukkan masih banyak kepala madrasah yang terpaku dengan urusan-urusan administrasi yang sebenarnya bisa dilimpahkan kepada tenaga administrasi. Dalam pelaksanaanya pekerjaan kepala madrasah merupakan pekerjaan berat yang menuntut kemampuan ekstra.
Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin suatu lembaga pendidikan, kepala sekolah/madrasah sedikitnya harus mampu berfungsi sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, innovator, dan motivator.
a. Kepala madrasah sebagai edukator
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai edukator, kepala madrasah harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan dimadrasahnya. Menciptakan iklim yang konduktif, memberikan nasehat kepada warga madrasah, memberikan dorongan kepada seluruh tenaga kependidikan, serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik.
Dalam peranan sebagai pendidik, kepala madrasah harus berusaha menanamkan, memajukan, dan meningkatkan sedikitnya empat macam nilai yaitu: pembinaan mental, moral, fisik dan artistik bagi para guru dan staf di lingkungan kepemimpinanya.
a) Pembinaan mental yaitu membina para tenaga kependidikan tentang hal-hal yang berkaitan dengan sikap batin dan watak. Dalam hal ini kepala madrasah harus mampu menciptakan iklim yang kondusif agar setiap tenaga kependidikan dapat melaksanakan tugas secara proporsional dan profesional.
b) Pembinaan moral yaitu membina para tenaga kependidikan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ajaran baik-buruk mengenai suatu perbuatan, sikap dan kewajiban sesuai dengan tugas masing-masing tenaga kependidikan. Kepala madrasah harus berusaha memberi nasehat kepada seluruh warga madrasah.
c) Pembinaan fisik yaitu membina para tenaga kependidikan tentang hal-hal yanng berkaitan dengan kondisi jasmani atau badan, kesehatan dan penampilan mereka secara lahiriah. Kepala madrasah profesional harus mampu memberikan dorongan agar para tenaga kependidikan terlibat secara aktif dan kreatif dalam berbagai kegiatan olahraga, baik yang diprogramkan di sekolah maupun yang diselenggarakan oleh masyarakat sekitar.
d) Pembinaan artistik yaitu membina tenaga kependidikan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kepekaan manusia terhadap seni keindahan.
Sebagai edukator, kepala madrasah harus senantiasa berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh para guru. Dalam hal ini faktor pengalaman akan sangat mempengaruhi profesionalisme kepala madrasah, terutama dalam mendukung terbentuknya pemahaman tenaga kependidikan terhadap pelaksanaan tuganya. Pengalaman semasa menjadi guru, menjadi wakil kepala madrasah, atau menjadi anggota organisasi kemasyarakatan sangat mempengaruhi kemampuan kepala madrasah dalam melaksanakan pekerjaanya, demikian halnya pelatihan dan penataran yang pernah diikutinya.


b. Kepala madrasah sebagai manajer
Manajemen pada hakekatnya merupakan suatu proses merencana, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien. Dikatakan suatu proses, karena semua manajer dengan ketangkasan dan keterampilan yang dimilikinya mengusahakan dan mendayagunakan berbagai kegiatan yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan.
Dalam ranngka melakukan peran dan fungsinya sebagai manajer, kepala madrasah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerja sama yang kooperatif, memberi kesempatan kepada para tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya, dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam berbagai kegiatan yang menunjang program madrasah.
Menurut Stoner sebagaimana dikutip Wahjosumidjo, ada delapan macam fungsi seorang manajer yang perlu dilaksanakan dalam organisasi, yaitu:
1. Bekerja dengan dan melalui orang lain
2. Bertanggunng jawab dan mempertanggung jawabkan
3. Dengan waktu dan sumber yang terbatas mampu menghadapi berbagai persoalan
4. berfikir secara realistik dan konseptual
5. Adalah juru penengah
6. Seorang politisi
7. Seorang diplomat
8. Pengambil keputusan.

Sesuai dengan yang ditetapkan dalam penilaian kinerja kepala madrasah, kepala madrasah harus memiliki kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinanya dengan baik, yang diwujudkan dalam kemampuan menyusun program sekolah, organisasi personalia, memberdayakan tenaga kependidikan, dan mendayagunakan sumberdaya madrasah secara optimal.
c. Kepala madrasah sebagai administrator
Kepala madrasah sebagai administrator memiliki hubungan yang sangat erat dengan berbagai aktifitas pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan, penyusunan dan pendokumenan seluruh program pengajaran. Secara spesifik, kepala madrasah harus memiliki kemampuan untuk menngelola kurikulum, mengelola administrasi peserta didik, mengelola administrasi personalia, mengelola administrasi sarana dan prasarana, mengelola administrasi kearsipan, dan mengelola administrasi keuangan.
Adapun fungsi pokok dari administrasi pendidikan seperti diungkap oleh Purwanto adalah perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, komunikasi, supervisi, kepegawaian, pembiayaan dan evaluasi.
d. Kepala madrasah sebagai supervisor
Kegiatan utama pendidikan di madrasah dalam rangka mewujudkan tujuannya adalah kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktifitas organisasi madrasah bermuara pada pencapaian efisiensi dan efektifitas pembelajaran. Oleh karena itu salah satu tugas kepala madrasah adalah sebagai supervisor, yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan.
Sebagaimana kutipan E. Mulyasa dari Carter Good’s Dictionary of education, dikemukakan bahwa supervisi adalah:
Segala usaha pejabat sekolah dalam memimpin guru-guru dan tenaga kependidikan lainya, untuk memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulasi, meyeleksi pertumbuhan dan perkembangan guru-guru, menyeleksi, dan merefisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran dan metode-metode mengajar serta evaluasi pengajaran.

Kepala madrasah dalam menjalankan tugasnya sebagai supervisor harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan. Pengawasan dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikan di madrasah terarah pada tujjuan yang telah ditetapkan. Pengawasan dan pengendalianjuga merupakan tindakan preventif untuk mencegah agar para tenaga kependidikan tidak melakukan penyimpangan dan lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya.
Secara umum kegiatan atau usaha-usaha yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah/madrasah sesuai dengan fungsinya sebagai supervisor antara lain:
1. Membangkitkan dan meranngsang para guru dan pegawai sekolah di dalam menjalankan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya.
2. Berusaha mengadakan dan melengkapi alat-alat perlengkapan sekolah termasuk media insruksional yang diperlukan bagi kelancaran dan keberhasilan proses belajar-mengajar.
3. Bersama para guru berusaha mengembangkan, mencari, dan menggunakan metode-metode mengajar yang lebih sesuai dengan tuntutan kurikulum yang sedang berlaku.
4. Membina kerjasama yang baik dan harmonis diantara para guru dan pegawai sekolah lainya.
5. Berusaha mempertinggi mutu dan pengetahuan para guru dan pegawai sekolah, antara lain dengan mengadakan diskusi-diskusi kelompok, menyediakan perpustakaan sekolah, dan atau menngirim mereka untuk mengikuti penataran-penataran, seminar, sesuai dengan bidangnya masing-masing.
6. Membina hubungan kerja sama anatara sekolah dengan masyarakat dan instansi-instansi lain dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.
Pada prinsipnya setiap tenaga kependidikan harus disupervisi secara periodik dalam melaksanakan tugasnya. Jika jumlah guru cukup banyak, maka kepala madrasah dapat meminta bantuan wakilnya atau guru senior untuk melaksanakan supervisi. Keberhasilan kepala madrasah sebagai supervisor antara lain dapat ditunjukkan oleh: meningkatnya kesadaran tenaga kependidikan untuk meningkatkan kinerjanya dan meningkatnya keterampilan tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugasnya.
e. Kepala madrasah sebagai leader
Kepala madrasah sebagai leader harus mampu memberikan petunjuk, arahan, pengawasan, meningkatkan kemauan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah dan mendelegasikan tugas. Wahjosumidjo mengemukakan bahwa kepala sekolah sebagai leader harus memiliki karakter yang mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman, pengetahuan profesional, serta pengetahuan administrasi dan pengawasan.
Kepemimpinan adalah satu kekuatan penting dalam rangka pengelolaan, oleh sebab itu kemampuan memimpin secara efektif merupakan kunci keberhasilan kepala madrasah. Kepala madrasah sebagai seorang pemimpin harus mampu mendorong timbulnya kemauan yang kuat dengan penuh semangat dan percaya diri para guru, staf dan siswa dalam melaksanakan tugas masing-masing. Selain itu juga harus memberikan bimbingan dan mengarahkan para guru, staf dan siswa serta memberikan dorongan memacu dan berdiri di depan demi kemajuan dan memberikan inspirasi sekolah dalam mencapai tujuan.
f. Kepala madrasah sebagai inovator
Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai inovator, kepala madrasah harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan di madrasah, dan mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif.
Kepala madrasah sebagai inovator akan tercermin dari cara-cara melakukan pekerjaanya secara konstruktif, kreatif, rasional dan obyektif, pragmatis, keteladanan, disiplin, serta adaptabel dan fleksibel, sekaligus mampu mencari, menemukan, dan melaksanakan berbagai pembaharuan di madrasah.
g. Kepala madrasah sebagai motivator
Sebagai motivator, kepala madrasah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi dapat ditumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, pengaturan suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif, dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan pusat sumber belajar.
Mulyasa mengungkapkan beberapa prinsip yang dapat diterapkan kepala madrasah untuk mendorong tenaga kependidikan agar mau dan mampu meningkatkan profesionalismenya. Antara lain;
1. Para tenaga kependidikan akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik, dan menyenangkan.
2. Tujuan kegiatan perlu disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada para tenaga kependidikan dan para tenaga kependidikan dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut.
3. Para tenaga kependidikan harus selalu diberitahu tentang hasil dari setiap pekerjaanya.
4. Pemberian hadiah lebih baik daripada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan.
5. Usahakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kependidikan dengan jalan memperhatikan kondisi fisiknya, memberikan rasa aman, menunjukkan bahwa kepala madrasah memperhatikan mereka, mengatur pengalaman sedemikian rupa sehingga setiap pegawai pernah memperoleh kepuasan dan penghargaan.
Kunci keberhasilan suatu madrasah pada hakekatnya terletak pada efektifitas dan efisiensi penampilan kepala madrasah. Pada saat ini masalah ke-kepala sekolahan merupakan suatu peran yang menuntut persyaratan kualitas kepemimpinan yang kuat. Bahkan telah berkembang menjadi tuntutan yang meluas dari masyarakat, sebagai keberhasilan madrasah diperlukan adanya kepemimpinan kepala madrasah yang profesional.
Dalam usaha melakukan pembinaan kepala madrasah, terdapat cara yang perlu dilaksanakan, yaitu memberikan perhatian secara sistematik dan terus menerus terhadap siklus kegiatan antara lain; rekruitmen, seleksi, pengangkatan, pemempatan, pembinaan, evaluasi terhadap kepala sekolah.
Peningkatan kualitas dan profesionalisme kepala madrasah perlu dilaksanakan secara terus menerus dan terencana dengan melihat permasalahan-permasalahan dan keterbatasan yang ada. Segala bentuk kegiatan sekolah perlu diarahkan kepada peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan agar dapat berkembang dan maju sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan perkembangan zaman.
Peningkatan profesionalisme kepala madrasah harus merupakan proses keseluruhan dalam suatu organisasi madrasah, berjalan dengan nyata, jangka panjang, membudaya baik dari personil maupun bagi peserta didik. Setiap tenaga kependidikan, baik kepala sekolah, para guru, dan pegawai lainya, maupun peserta didik dituntut untuk memiliki kepedulian yang muncul secara integral, bahwa apa yang dilakukan adalah dalam rangka peninngkatan profesionalisme kepala madrasah serta pencapaian mutu dan prestasi belajar.
Upaya peningkatan mutu sekolah dan profesionalisme kepala madrasah tidak terlepas dari peran pengawas sekolah selaku pimpinan pendidikan, yang bersama kepala madrasah memilikki tanggung jawab terhadap perkembangan madrasah. Hal ini penting, karena pengawas sekolah dalam melaksanakan upaya peningkatan profesionalisme cnderung kuranng memperhatikan ide-ide baru yang berkembang di masyarakat.
Usaha-usaha yang dilakukan pengawas sekolah/madrasah dalam mengembangkan profesional kepala madrasah, sebagaimana dikemukakan oleh E. Mulyasa sebagai berikut:
1. Mengadakan kunjungan langsung ke sekolah-sekolah dan memberikan masukan kepada kepala sekolah mengenai penyelenggaraan sekolah.
2. Menciptakan suatu iklim yang kondusif sehingga memungkinkan kepala sekolah berdiskusi dengan kepala sekolah lain untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kaitanya dengan peningkatan kualitas pendidikan.
3. Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para kepala sekolah untuk melanjutkan pendidikanya dalam rangka menunjang karier dan meninngkatkan kemampuanya.
4. Memberikan perhatian dan jalan keluar atas segala permasalahan yang dihadapi oleh kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya.
Kepala madrasah profesional dalam pelaksanaan fungsinya akan memberikan dampak posotif dan perubahan yang cukup mendasar dalam pembaharuan sistem pendidikan di madrasah. Dampak tersebut meliputi efektifitas pendidikan, kepemimpinan madrasah yang kuat, pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif, kerjasama yang kompak, kemauan untuk berubah serta evaluasi dan perbaikan yang berkelanjutan demi sukses dan lancarnya program madrasah sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.

B. Prestasi Kerja Guru
1. Hakekat Prestasi Kerja Guru
Prestasi adalah hasil karya yang telah dicapai seseorang dalam melaksanakan pekerjaanya yang dengan adanya usaha untuk meningkatkan mutu dari pada hasil pekerjaanya. Lebih lanjut S.P. Siagian memberikan definisi prestasi adalah kemampuan memperoleh out put yang sebesar-besarnya dari sarana dan prasarana yang ada dengan menghasilkan luaran (out put) yang optimal.
Prestasi kerja sebagaimana dijelaskan oleh Sudarmayanti, berarti juga kinerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, atau hasil kerja/ unjuk kerja/ penampilan kerja. . sedangkan August W. Smit menyatakan bahwa kinerja adalah “ …out drive from processes, human or otherwise” Maksudnya bahwa kinerja merupakan hasil atau keluaran dari suatu proses. Jadi prestasi kerja/kinerja merupakan hasil dari perbuatan seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya.
Dengan demikian prestasi kerja guru adalah hasil yang telah dicapai guru dalam menjalankan pekerjaannya. Dari pengertian tersebut pada dasarnya terdapat tiga prinsip utama prestasi kerja, yaitu hasil yang lebih baik, kesatuan waktu, dan ukuran waktu. Sehingga prestasi kerja guru lebih merupakan kesanggupan guru dalam melaksanakan tugas pekerjaannya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, bermutu dan tepat sasaran.
Dalam penilaian prestasi kerja, seharusnya dilakukan dengan melihat berbagai segi, sehingga sistem penilaian tersebut akan menjadikan suatu alat untuk lebih meningkatkan prestasi kerja yang dihasilkan, sebab apabila penilaian prestasi kerja tersebut dilakukan dengan baik, tertib, dan bena-benar dapat membantu meningkatkan prestasi kerja sekaligus juga meningkatkan loyalitas organisasi dari para anggota organisasi tersebut. Apabila hal ini dilakukan di sekolah, paling tidak akan memberikan keuntungan bagi sekolah pada umumnya, dan bagi guru khususnya akan mengetahui sampai dimana dan bagaimana prestasi kerjanya dinilai oleh atasan atau tim penilai.
Kelebihan dan kekurangan yang ada dapat merupakan cambuk bagi kemajuan-kemajuan para guru mendatang, penilaian prestasi kerja guru pada dasarnya merupakan penilaian yang sistematik terhadap penampilan guru sendiri dan terhadap taraf potensi guru dalam upayanya mengembangkan diri untuk kepentingan madrasah.
Kinerja sangat terkait dengan produktifitas, karena kinerja merupakan indikator dalam menentukan bagaimana usaha untuk mencapai tingkat produktifitas yang lebih tinggi dalam suatu organisasi. Oleh sebab itu upaya untuk mengadakan penilaian terhadap kinerja/ prestasi kerja suatu lembaga atau organisasi merupakan hal yang sangat penting. Dalam mengadakan penilaian terhadap pekerjaan seseorang perlu ditetapkan standar kinerja atau standar performance.
Sedangkan pokok-pokok atau hal-hal yang diperlukan dalam suatu sistem penilaian prestasi kerja menurut TV Rao adalah sebagai berikut:
1. Karyawan akan bekerja keras apabila mereka merasa diperlukan dalam organisasi.
2. karyawan bekerja lebih baik apabila mereka merasa jelas mengerti apa yang diharapkan dari mereka dan apabila sesekali mereka berwenang mengubah harapan-harapan itu.
3. Karyawan akan bekerja lebih baik apabila mereka mulai mengalami keberhasilan dalam tugas-tugas yang mereka laksanakan.
4. Karyawan akan bekerja lebih baik apabila mereka merasa bahwa organisasi menyediakan peluang bagi prestasi mereka untuk dihargai dan diberi ganjaran.
5. Karyawan akan bekerja lebih baik apabila mereka mengetahui bahwa organisasi mereka berkembang, dan sejauh mungkin mempergunakan kemampuan mereka.
6. Karyawan akan mempunyai taraf kehidupan yang lebih tinggi apabila melihat bahwa organisasi mereka bersedia menginvestasi waktu dan sumber daya yang lain untuk pengembangan-pengembangan orang-orangnya.
7. Karyawan akan bekerja lebih baik apabila mereka dipercaya dan diperlakukan dengan hormat.
Standar kerja perlu dirumuskan sebagai tolok ukur dalam mengadakan perbandingan antara apa yang telah dilakukan dengan yang diharapkan, kaitannnya dengan pekerjaan atau jabatan yang telah dipercayakan kepada seseorang. Standar dapat pula dipandang dan dijadikan ukuran dalam mengadakan pertanggung jawaban terhadap sesuatu yang telah dilakukan.
Mitchell menyatakan bahwa kinrja meliputi beberapa aspek, yaitu quality of work, proptness, initiative, capability, and comunication. Kelima aspek tersebut dapat dijadikan ukuran dalam mengkaji tingkat kerja seseorang. Disamping kelima aspek tersebut, Mitchell juga mengatakan bahwa untuk mengadakan pengukuran terhadap kinerja seseorang dapat berdasarkan formula “Performance = Ability X Motivation”.
Dari pernyataan tersebut jelas bahwa kinerja merupakan hasil interaksi antara motivasi dengan ability (kemampuan), orang yang tinggi abilitynya tetapi rendah motivasinya akan menghasilkan kinerja yang rendah, demikian halnya orang yang bermotivasi tinggi tetapi abilitynya rendah.
Jika dikaitkan dengan tenaga kependidikan, maka prestasi kerja guru merupakan hasil yang telah dicapai guru dengan menunjukkan efektifitas, efisiensi serta kualitas kerja guru. Hasil kerja guru pada gilirannya dipengaruhi oleh kinerja guru, pada penerapannya kinerja guru merupakan hubungan antara kemampuan yang dimiliki guru dengan motivasi yang ada pada guru tersebut.

2. Peningkatan Prestasi Kerja Guru
Peningkatan prestasi kerja guru identik dengan kemampuan melaksanakan tugas guru serta meningkatnya motivasi kerja. Tingginya motivasi kerja guru dipengaruhi oleh persepsi mereka atas kemampuan melaksanakan tugas. Faktor yang berpengaruh terhadap motivasi kerja sebagaimana dikemukakan oleh Herzberg adalah “ sistem kenaikan pangkat berdasarkan angka kredit, karena prestasi kerja guru dihargai dalam bentuk angka kredit, yang nantinya dapat dipergunakan dalam kenaikan pangkat”. Dengan sistem kenaikan pangkat berdasarkan angka kredit, guru juga diberi tanggung jawab atas profesi yang disandangnya. Tanggung jawab tersebut pada gilirannya akan memberikan kepuasan dan merupakan faktor motivasi untuk berprestasi.
Motivasi merupakan salah satu faktor yang turut menentukan prestasi kerja. Callahan and Clark mengemukakan bahwa motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah tujuan tertentu. . Mengacu pada pendapat tersebut bahwa motivasi merupakan suatu bagian yang sangat penting dalam suatu aktifitas.
Para guru akan bekerja dengan sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Apabila guru memiliki motivasi positif maka ia akan memperlihatrkan minat, mempunyai perhatian, dan ingin ikut serta dalam suatu tugas atau kegiatan. Dengan kata lain para guru akan melakukan semua pekerjaannya dengan baik apabila ada faktor pendorong atau motivasi.
Motivasi merupakan unsur penentu yang mempengaruhi perilaku yang terdapat dalam setiap individu. Motivasi adalah daya penggerak yang telah menjadi aktif, yang terjadi pada saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sempat dirasakan atau mendesak. Kebutuhan manusia menurut Mc Celland adalah terpusat pada satu kebutuhan yakni kebutuhan berprestasi. Kebutuhan berprestasi merupakan kebutuhan manusia untuk melakukan sesuatu karya yang berprestasi atau yang lebih baik dari karya orang lain.
Kebutuhan berprestasi adalah salah satu faktor yang menimbulkan motivasi yang merupakan unsur terpenting dalam menentukan prestasi seseorang atau produktifitas kerja. Dengan demikian, para guru akan berprestasi dan melakukan pekerjaannya dengan baik apabila ada motivasi dalam dirinya yang berupa kebutuhan untuk meningkatkan prestasinya.
Dalam proses pembelajaran terkandung beberapa komponen, antara lain tujuan pembelajaran, metode pembelajaran, alat dan media pembelajaran serta evaluasi pembelajaran. Untuk dapat mengembangkan semua komponen tersebut secara baik, seorang guru dituntut untuk mempunyai berbagai kemampuan dan kompetensi profesional.
Kompetensi pada dasarnya menunjuk pada kecakapan atau kemampuan untuk mengerajakan suatu pekerjaan. Pengertian kompetensi guru menurut Moh. Uzer Usman adalah kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh seorang guru melalui pendidikan dan latihan. Dan masih banyak pengertian lain dari kompetensi guru, pengertian-pengertian tersebut mengandung maksud yang sama yaitu merupakan kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesi keguruannya.
Sebagai pendidik profesional, guru bukan saja dituntut melaksanakan tugasnya secara profesional, tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan kemampuan profesional. Dalam diskusi pengembangan model pendidikan profesional tenaga kependidikan, yang diselenggarakan oleh PPs IKIP Bandung tahun 1990, dirumuskan 10 ciri suatu profesi yaitu:
a. Memiliki fungsi dan signifikansi sosial.
b. Memiliki keahlian/keterampilan teretentu.
c. Keahlian/keterampilan diperoleh dengan menggunakan teori dan metode ilmiah.
d. Didasarkan atas disiplin ilmu yang jelas.
e. Diperoleh dengan pendidikan dalam masa tertentu yang cukup lama.
f. Aplikasi dan sosialisasi niai-nilai profesional.
g. Memiliki kode etik.
h. Kebebasan untuk memberikan keputusan dalam memecahkan masalah dalam lingkungan kerjanya.
i. Memiliki tanggung jawab profesional.
j. Ada pengakuan dari masyarakat dan imbalan atas profesinya.

Ciri-ciri tersebut ditunjukkan untuk profesi pada umumnya, maka dengan melihat ciri-ciri tersebut, khusus untuk profesi seorang guru dalam garis besarnya ada tiga yaitu:
a. Seorang guru yang profesional harus menguasai bidang ilmu pengetahuan yang akan diajarkan dengan baik. Ia benar-benar seorang ahli dalam bidang ilmu yang diajarkan.
b. Seorang guru yang profesional harus memiliki kemampuan menyampaikan atau mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada para siswa secar efektif dan efisien, untuk itu seorang guru harus memiliki ilmu keguruan.
c. Seorang guru yang profesional harus berpegang teguh kepada kode etik profesional.
Seluruh operasionalnya, ciri tersebut belum dimiliki secara kokoh (sempurna) oleh para guru, sebab masih ada anggapan masyarakat bahwa setiap orang bisa menjadi pendidik, atau setiap orang bisa mendidik. Memang dalam ini sukar dihindari, walaupun telah ada batas yang jelas antara pendidikan formal dengan pendidikan informal, atau antara pendidikan profesional dengan non profesional, tetapi orang-orang yang tidak memiliki profesi tersebut dalam bidang pendidikan juga melaksanakan tugas-tugas pendidikan formal profesional dan menganggap dirinya telah memiliki profesi tersebut. Pada sisi lain, mengingat banyaknya jenis pendidikan yang harus disediakan bagi berbagai kategori peserta didik, juga tidak bisa dihindari banyaknya tenaga non profesional pendidikan yang melaksanakan tugas-tugas pendidikan.
Berkenaan dengan kemampuan atau kompetensi yang perlu dimiliki oleh seorang guru, Nana Sudjana mengemukakan kompetensi yang harus dimiliki guru antara lain: kompetensi pribadi, kompetensi profesional, kompetensi sosial/ kemasyarakatan.
Secara teoritis ketiga kompetensi tersebut dapat dipisah-pisahkan, akan tetapi secara praktis sesungguhnya ketiga kompetensi tersebut tidak mungkin dapat dipisahkan. Diantara ketiga jenis kompetensi tersebut saling menjalin secara terpadu dalam diri guru, guru yang terampil mengajar harus pula memiliki pribadi yang baik dan mampu melakukan pengembangan dalam masyarakat.
Lebih lanjut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan merinci kemampuan atau kompetensi yang harus dimiliki guru dalam 10 kemampuan yaitu:
1. Penguasaan bahan pelajaran beserta konsep-konsep dasar keilmuannya.
2. Pengelolaan program belajar-mengajar.
3. Pengelolaan kelas.
4. Penggunaan media dan sumber pembelajaran.
5. Penguasaan landasan-landasan kependidikan.
6. Pengelolaan interaksi sumber belajar-mengajar.
7. Penilaian prestasi siswa.
8. Pengenalan fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan.
9. Pengenalan dan penyelenggaraan administrasi sekolah.
10. Pemahaman prinsip-prinsip dan pemanfaatan hasil penelitian pendidikan untuk kepentingan peningkatan mutu pengajaran.

Penerapan kompetensi tersebut menekankan penting adanya kinerja terpadu oleh seorang guru dalam melaksanakan tugasnya. Keterpaduan itu tercermin dari adanya integritas antar penguasaan bahan ajar, proses, fondasi profesional kependidikan, penyesuaian diri tehadap suasana kerja dan kepribadian.
Kompetensi profesional merupakan sesuatu yang sangat penting dalam menunjang fungsi dan peranan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar. Sejalan dengan hal tersebut, kompetensi adalah mutlak dimiliki dan dikuasai oleh setiap guru dalam menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas.
Dengan demikian, maka semakin jelas bahwa faktor kompetensi dan faktor motivasi merupakan hal yang sangat penting dalam menciptakan prestasi kerja guru. Prestasi kerja guru merupakan perkalian antara kemampuan guru dalam mengajar dan motivasi. Jika guru rendah pada salah satu komponen, maka prestasi kerjanya akan rendah pula. Prestasi kerja guru yang rendah merupakan hasil dari kemampuan yang rendah dan motivasi yang rendah. Sehingga dalam peningkatan prestasi guru harus diikuti pula peningkatan dalam kemampuan dan peningkatan motivasi.

C. Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Prestasi Kerja Guru
Kepala madrasah merupakan motor penggerak, penentu arah kebijakan madrasah yang akan menentukan bagaimana tujuan-tujuan madrasah dan pendidikan pada umumnya direalisasikan, sehingga kepala madrasah dituntut untuk mempunyai taktik atau kiat yang tepat dan senantiasa meningkatkan efektifitas kinerjanya. Kepemimpinan kepala madrasah yang efektif dapat dilihat berdasarkan kriteria-kriteria berikut ini:
a. Mampu memberdayakan guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar, dan produktif.
b. Dapat menyelesaikan tugas sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
c. Mempu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif.
d. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lainnya.
e. Bekerja dengan tim manajemen.
f. Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif.
Perilaku kepala madrasah harus dapat mendorong kinerja para guru dengan menunjukkan rasa bersahabat, dekat, dan penuh pertimbangan terhadap para guru, baik sebagai individu maupun kelompok. Perilaku instrumental merupakan tugas-tugas yang diorientasikan dan secara langsung diklarifikasikan dalam peranan dan tugas-tugas para guru, sebagai individu dan sebagai kelompok. Perilaku kepala madrasah yang positif dapat mendorong dan memotivasi guru untuk bekerja sama dan meningkatkan kinerjanya dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan.
Upaya atau kiat-kiat yang dapat dilakukan oleh kepala madrasah dalam meningkatkan prestasi kerja guru antara lain melalui, pembinaan disiplin tenaga kependidikan, pemberian motivasi, penghargaan dan persepsi.

a. Pembinaan disiplin.
Seorang pemimpin harus mampu menumbuhkan displin, terutama disiplin diri. Dalam kaitan ini, kepala madrasah harus mampu membantu para guru mengembangkan pola dan meningkatkan standar perilakunya, serta menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat untuk menegakkan displin. Peningkatan profesionalisme guru perlu dimulai dengan sikap demokratis. Oleh karena itu dalam membina disiplin perlu berpedoman pada sikap tersebut, yakni dari, oleh dan untuk guru. Sedangkan kepala sekolah sebagai pengemban ketertiban, yang patut diteladani, tetapi tidak diharapkan sikap yang otoriter.
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan pada waktu mendisiplinkan seseorang, Paul Harsey mengemukakan bahwa pemimpin dalam mendisiplinkan seseorang hendaknya jangan terlalu emosi, jangan menyerang pribadi, spesifik, tepat waktu, konsisten, jangan mengancam, bersikap adil, dan ingat bahwa pendisiplinan tidak untuk memperkuat perilaku yang jelek.
Wahjosumidjo memberikan beberapa petunjuk yang dapat dilakukan oleh kepala madrasah dalam meningkatkan disiplin antara lain:
1. Memberikan informasi yang lengkap terhadap bawahan tentang peraturan dan hukuman bagi yang melanggar.
2. Mengelola disiplin secara tepat dan konsisten.
3. Memberikan peringatan yang cukup sebelum memberikan hukuman.
4. Mencari bukti sebelum menjatuhkan teguran dan hukuman.
5. Selalu memelihara harga diri kepala sekolah.
6. Menggunakan segala macam hukuman secara tepat.
7. Secara pribadi memberikan peringatan tertentu pada bawahan.

b. Pemberian motivasi
Keberhasilan suatu organisasi atau lembaga dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang datang dari dalam maupun dari lingkungan. Motivasi merupakan salah faktor yang cukup dominan dan dapat mengerakkan faktor-faktor yang lain kearah efektifitas kerja.
Setiap guru memiliki karakteristik khusus, yang satu sama lainnya berbeda, hal tersebut memerlukan perhatian dan pelayanan khusus pula dari pemimpinnya, agar mereka dapat memanfaatkan waktu untuk meningkatkan kinerjanya. Perbedaan guru tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam psykisnya, misalnya motivasi. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kinerja guru perlu diupayakan untuk membangkitkan motivasi para guru dan faktor lain yang mempengaruhinya.
Motivasi merupakan salah satu faktor yang turut menentukan keefektifan kerja. H.D. Sudjana menyatakan bahwa motivasi adalah upaya membangkitkan keinginan seseoran atau kelompok sehingga ia atau mereka berbuat sesuatu sesuai dengan yang dikehendaki untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Mengacu pada pendapat tersebut, dapat dikatakan bahwa motivasi merupakan suatu bagian yang sangat penting dalam suatu lembaga/organisasi. Motivasi dapat merupakan upaya pemimpin untuk memberikan dorongan kepada pihak yang dipimpin atau pelaksana kegiatan supaya pihak yang dipimpin mengarahkan perbuatannya dengan menggunakan potensi yang ada pada dirinya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Para guru akan bekerja dengan sungguh-sungguh apabila mempunyai motivasi tinggi. Apabila para guru mempunyai motivasi yang positif, ia akan memperlihatkan minat, mempunyai perhatian, dan ingin ikut serta dalam suatu tugas atau kegiatan. Dengan kata lain guru akan melakukan pekerjannya dengan baik apabila ada faktor pendorong..
Lebih lanjut Lazaruth mengatakan bahwa faktor utama yang mempengaruhi tinggi rendahnya semangat kerja seseorang dalam organisasi adalah perasaan puas, karena merasa kesejahteraan material dan spiritual terpenuhi. Dengan diperolehnya kepuasaan dalam memenuhi keinginan dan cita-cita hidupnya, para guru akan bekerja dengan efektif dan penuh semangat. Oleh sebab itu, dalam kaitan ini kepala madrasah dituntut untuk berusaha mamahami keinginan-keinginan dan cita-cita para guru atau bawahan serta berusaha memenuhinya.
Dalam usaha mendorong para guru untuk dapat melaksanakan kegiatan atau pekerjannya dengan baik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, kepala madrasah dapat menggunakan langkah-langkah sebagaimana disarankan oleh Douglas Dunn berikut ini:
1. Menjelaskan alasan motivasi.
2. Memberikan pengakuan terhadap kegiatan dan orang yang dimotivasi.
3. Menjelaska dan mengkomunikasikan tujuan motivasi.
4. Menyelenggarakan pertemuan untuk merangsang pihak yang dimotivasi.
5. Memberikan penghargaan melalui komunikasi.
6. Mendengarkan informasi dari yang dimotivasi.
7. Melihat keadaan diri sendiri.
8. Mengatasi suatu konflik.
9. Menghindari resiko.

Langkah-langkah tersebut dilakukan oleh penggerak yaitu kepala madrasah sebagai pemimpin suatu lembaga pendidikan secara bertahap dan berangkai, dimulai dari langkah pertama sampai dengan langkah terakhir.
c. Penghargaan
Penghargaan sangat penting untuk meningkatkan kegiatan yang produktif dan mengurangi kegiatan yang kurang produktif. Dengan penghargaan guru akan terangsang untuk meningkatkan kinerja yang positif dan produktif. Penghargaan ini akan bermakna apabila dikaitkan dengan prestasi guru secara terbuka sehingga setiap guru memiliki peluang untuk meraihnya. Penggunaan penghargaan ini perlu dilakukan secara tepat dan efektif, agar tidak menimbulkan dampak negatif.
d. Persepsi
Persepsi adalah kecakapan untuk cepat melihat dan memahami perasaan-perasaan, sikap-sikap, dan kebutuhan-kebutuhan anggota kelompok. Persepsi yang baik akan menumbuhkan iklim kerja yang kondusif serta sekaligus akan meningkatkan produktifitas kerja. Kepala madrasah perlu menciptakan persepsi yang baik bagi setiap tenaga kependidikan terhadap kepemimpinan dan lingkungan madrasah, agar para guru beserta pegawai lainnya akan meningkatkan kinerjanya.
Kepala madrasah merupakan komponen yang sangat penting dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan, dalam kaitannya dengan peningkatan prestasi kerja guru, kepala madrasah bertanggung jawab mengarahkan apa yang baik untuk anggotanya sedangkan dia sendiri harus berbuat baik. Kepala madrasah harus menjadi contoh, sabar dan penuh pengertian. Fungsi kepala madrasah hendaknya diartikan seperti motto Ki Hajar Dewantara yaitu “ Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani (di depan menjadi teladan, di tengah membina kemauan, di belakang menjadi pendorong)”

BAB III
METODE PENELITIAN

B. Pendekatan Dan Jenis Penelitian.
Penelitian mengenai kepemimpinan kepala Madarasah Ibtidaiyah dalam meningkatkan kinerja guru dan berdasarkan tempat penelitiannya, penelitian ini termasuk kelompok penelitian kancah atau lapangan. Latar penelitian yang dipilih adalah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar. Sedangkan pendekatan yang digunakan menurut jenisnya datanya, penelitian ini termasuk penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Taylor sebagaimana dikutip Moleong adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang dapat diamati.
Selain itu Moleong mengungkapkan karakteristik pokok dari penelitian kualitatif antara lain:
1) penelitian dengan latar alamiah, 2) peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data, 3) menggunakan metode kualitatif, 4) analisis data dilakukan secara induktif, 5) lebih menghendaki arah bimbingan penyusunan teori substantif yang berasal dari data, 6) data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka, 7) lebih mementingkan proses dari pada hasil, 8) adanya batas yang ditentukan oleh fokus, 9) adanya kriteria khusus untuk keabsahan data, 10) desain tidak disusun secara ketat namun disesuaikan di lapangan dan bersifat sementara,, 11) hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama.

Berdasarkan dari taraf pembahasan masalah, penelitian yang dilakukan ini termasuk penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan pada saat penelitian dilakukan, dan memeriksa suatu gejala tertentu.
Adapun studi kasus merupakan kajian dari suatu penelitian yang terdiri dari suatu unit secara mendalam, sehingga hasilnya merupakan gambaran lengkap atau kasus pada unit tersebut. Dalam menggunakan studi kasus ini terdapat manfaat yang dapat diambil yaitu: 1) peneliti dapat melakukan penelitian secara mendalam dengan memperhatikan keadaan sekarang, masa lampau, latar belakang dan lingkungannya. 2) kesempatan untuk memperoleh wawasan mengenai konsep-konsep dasar dan tingkah laku manusia.
Penelitian ini berusaha mengungkap secara mendalam dan menjawab dari fokus penelitian yaitu tentang bagaimana kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam pembinaan guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru?, bagaimana kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiayah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam memotifasi guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru?, bagaimana kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam meningkatkan kesejahteraan guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru?,
Semua karakteristik dari variabel yang diteliti dalam penelitian ini dideskripsikan sebagaimana adanya tanpa ada perlakuan atau pengendalian secara khusus, juga mempertahankan keutuhan dalam rangka mempelajari tentang obyek dan subyek sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi.
C. Kehadiran Peneliti
Untuk memperoleh data sebanyak mungkin dan mendalam selama kegiatan di lapangan, “dalam pendekatan kualitatif, penulis sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama. Sejalan dengan pandangan tersebut, selama pengumpulan data dari subyek penelitian di lapangan peneliti menempatkan diri sebagai instrumen sekaligus pengumpul data.
Peran instrumen sekaligus pengumpul data, peneliti realisasikan dengan meneliti Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar secara langsung. Kehadiran peneliti berlangsung beberapa bulan yang dilaksanakan dua sampai tiga kali dalam seminggu menyesuaikan dengan kesibukan peneliti, dimulai jam 07.00 Wib. sampai selesai dengan mencari celah-celah kesibukan dari subyek yang dikehendaki tanpa menganggu aktivitas formal mereka.
Penulis secara resmi memberikan izin penelitian dari INSURI Ponorogo kepada Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar pada tanggal 4 Mei 2009. Penulis menyerahkan surat izin tersebut kepada Bapak Darmaji S.Ag selaku Kepala madrasah.
Selama dilapangan, peneliti berperan sebagai pengamat partisipasi, senantiasa menghindari segala sesuatu yang dipandang bisa merugikan subyek dan mengganggu lingkungan pembelajaran. Hal ini dilakukan supaya peneliti bisa diterima dengan sepenuh hati dan bisa menyatu dengan subyek yang diteliti.
D. Lokasi Penelitian
Dipilihnya Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar sebagai latar penelitian pada penelitian ini, karena madrasah ini merupakan madrasah negeri yang berada dibawah naungan Departemen Agama Kabupaten Blitar dan bekerja sama dengan Yayasan Al-Qodiriyah, dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar mempunyai prestasi yang membanggakan, diantara prestasi yang dimiliki adalah sudah bertahun tahun para siswa selalu lulus 100 %, pada tahun 2006 dan 2007 Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan dapat meraih juara umum pada PORSENI tingkat kecamatan. Dan tidak sedikit yang dikirim ke tingkat kabupaten bahkan ke tingkat proponsi , dan pada mulai tahun 2008 dipercaya oleh DEPAG dan diberi piagam penghargaan untuk merintis madrasah bersetandar nasional.

E. Sumber Data Penelitian
Sumber data adalah “subyek dari mana data diperoleh”. Sumber data diidentifikasikan menjadi 3 yaitu person, place paper.
4. Person yaitu sumber data berupa orang yang bisa memberikan data berupa jawaban lesan melalui wawancara. Dalam penelitian ini personnnya adalah kepala madrasah, guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar.
5. Place yaitu sumber data berupa tempat atau sumber data yang menyajikan tampilan berupa keadaan diam dan bergerak, meliputi fasilitas gedung, kondisi lokasi, kegiatan belajar-mengajar, kinerja, aktifitas dan sebagainya yang ada di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar
6. Paper yaitu data berupa simbol atau sumber data yang menyajikan tanda-tanda berupa huruf, angka, gambar, simbol-simbol dan lain-lain. Dalam penelitian ini papernya adalah berupa benda-benda tertulis seperti buku-buku arsip, catatan-catatan, dokumen yang ada di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
4. Metode Obsevasi Partisipan
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap obyek penelitian. Suharsimi Arikunto mengatakan bahwa observasi meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera. Jadi observasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap.
Dengan demikian dapat difahami bahwa observasi merupakan suatu teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data dengan memusatkan segenap perhatian terhadap suatu obyek penelitian dengan menggunakan seluruh indera.
Jenis observasi yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini adalah observasi partisipan, menurut Burhan Bungin Observasi partisipan adalah pengumpulan data melalui observasi terhadap obyek pengamatan langsung dengan hidup bersama, merasakan serta berada dalam sirkulasi kehidupan obyek.
Dengan demikian peneliti melibatkan diri atau berinteraksi pada kegiatan yang dilakukan subyek dalam lingkungannya dengan mengumpulkan data secara sistematis dari data yang diperlukan. Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data karena dengan teknik ini akan diperoleh informasi dan data tentang letak geografis, keadaan madrasah, sarana dan prasarana, kondisi organisasi serta segala aspek yang ada dalam lingkup kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar. Adapun kisi-kisi atau pedoman observasi terdapat dalam lampiran.
5. Metode Wawancara Mendalam
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Patton sebagaimana dikutip Mantja mengemukakan bahwa tujuan wawancara adalah untuk mendapatkan atau menemukan apa yang terdapat di dalam pikiran orang lain. Wawancara digunakan untuk menemukan sesuatu yang tidak mungkin diperoleh melalui pengamatan secara langsung.
Metode wawancara digunakan dalam penelitian ini karena mempunyai beberapa keunggulan yang mungkin tidak dimiliki oleh metode penelitian lainnya. Keunggulan tersebut sebagaimana diungkap oleh Sukardi berikut ini:
a. Penelitian memperoleh rerata jawaban yang relatif tinggi dari responden.
b. Peneliti dapat membantu menjelasakan lebih, jika ternyata responden mengalami kesulitan menjawab karena ketidak jelasan pertanyaan.
c. Peneliti dapat mengontrol jawaban responden secara lebih teliti dengan mengamati reaksi atau tingkah laku yang diakibatkan oleh pertanyaan dalan proses wawancara.
d. Peneliti dapat memperoleh informasi yang tidak dapat diungkapkan dengan cara kuesioner maupun observasi. Informasi tersebut misalnya, jawaban yang sifatnya pribadi dan bukan pendapat kelompok, atau informasi alternatif dari suatu kejadian penting.

Dalam kaitannya dengan penelitian ini, bentuk wawancara yang digunakan peneliti adalah wawancara mendalam, yaitu dalam melakukan wawancara peneliti tidak menggunakan guide tertentu, dan semua pertanyaan bersifat spontan sesuai dengan apa yang dilihat, didengar, dirasakan pada saat pewawancara bersama responden dalam hal ini kepala madrasah dan guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar.
6. Metode Dokumentasi
Data penelitian kualitatif sebagian besar diperoleh dari manusia dan perilakunya, walaupun data itu lebih banyak diperoleh dari sumber wawancara, tetapi data tersebut juga dapat diperoleh dari sumber data yang bukan manusia dan bersifat non interaktif.
Data non interaktif ini biasanya berupa dokumen/arsip. “Dokumentasi berarti catatan (bahan tertulis ataupun film), surat bukti. Pada penelitian, dokumentasi digunakan sebagai sumber data untuk menguji, menafsirkan serta meramalkan”.
Mantja menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif data dokumen biasanya dianggap sebagai data sekunder, karena data primer adalah data yang diperoleh langsung dari tangan pertama yaitu subyek penelitian, partisipan dan informan.
Pada penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data yang berupa dokumen atau catatan-catatan yang ada di Madrasah Aliyah Ma’arif Bakung Udanawu Blitar. Adapun kisi-kisi atau pedoman dokumentasi terdapat dalam lampiran.

G. Analisis Data
Dalam suatu penelitian, setelah data terkumpul maka perlu diadakan pengolahan data atau disebut juga dengan analisis data. Analisis data menurut Patton sebagaimana dikutip Moleong adalah Proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar.
Dengan demikian data yang berhasil dikumpulkan dari lokasi penelitian, maka untuk membahas analisa data yang bersifat kualitatif, penulis menggunakan Metode induktif
Metode induktif digunakan untuk mengolah data dengan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan kemudian akhirnya ditarik suatu kesimpulan dan diperoleh suatu kebenaran.
Adapun langkah-langkah yang diterapkan peneliti dalam menganalisa data yaitu mengikuti alur yang dinyatakan oleh Miles dan Huberman bahwa analisis data terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu
Reduksi Data, paparan/penyajian data dan penarikan kesimpulan yang dilakukan selama dan sesudah penelitian.

a.Reduksi data
Reduksi data merupakan suatu kegiatan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data mentah yang didapat dari catatan-catatan tertulis di lapangan.
Mereduksi data dalam konteks penelitian yang dimaksud adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok, mengfokuskan pada hal-hal yang penting, membuat kategori. Dengan demikian data yang telah direduksikan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.
b. Penyajian data
Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data atau menyajikan data kedalam pola yang dilakukan dalam bentuk uraia singkat, bagan, grafik dan matrik. Bila pola-pola yang ditemukan telah didukung oleh data selamaa penelitian berlangsung, maka pola tersebut menjadi pola yang baku yang selanjutnya akan disajikan pada lporan akhir penelitian.

c. Penarikan kesimpulan
Menurut chasan bisri dlam bukunya “ metodologi penelitian” dijelaskan bahwa menarik kesimpulan bahwa menarik kesimpulan penelitian selalu mendasarkan dari atas semua data yang diperoleh dalam kegiatan penelitian.
Hal ini data yang telah dikumpulkan, secepatnya peneliti berusaha mengambil kesimpulan mulai dari awal pengumpulan data, sehingga data yang sanagat banyak dan meragukan dapat diverivikasi. Untuk lebih jelasnya, setelah data dikumpulkan kemudian diolah dan disajikan dengan menggunakan pola sebagai berikut :
a. Informasi diskriptif
Informasi diskriptif adalah penyajian data dengan memberikan keterangan semestinya sesuai data yang terkumpul.

b. Analisis diskriptif
Analisis diskriptif yaitu penyajian data dengan menganalisa data yang diperoleh itu guna mencapai pada suatu maksud. Sehingga penelitian bisa berkembang

GAMBAR I
LANGKAH-LANGKAH ANALISIS DATA












H. Pengecekan Keabsahan Temuan
Untuk memperoleh keabsahan terhadap data-data yang sudah didapat dari lokasi penelitian lapangan, maka cara yang diusahakan oleh peneliti adalah:
a. Perpanjangan kehadiran penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menjadi instrumen utama dalam pengumpulan data. Dalam pengumpulan data kualitatif, kehadiran peneliti dalam lokasi tidak bisa hanya dalam waktu singkat, sebab kehadiran peneliti sangat menentukan keberhasilan dalam pengumpulan data.
Perpanjangan volume dan waktu kehadiran peneliti pada penelitian ini sangat diperlukan agar terjadi peningkatan derajat kepercayaan atas data yang dikumpulkan. Sebagaimana dinyatakan oleh Moleong bahwa maksud dari perpanjangan kehadiran adalah untuk membangun kepercayaan pada subyek terhadap peneliti dan juga kepercayaan diri peneliti sendiri.
Perpanjangan waktu dalam penelitian ini dilakukan dengan pertimbangan situasi dan kondisi di lapangan serta data yang telah terkumpul. Dengan perpanjangan waktu tersebut peneliti dapat mempertajam fokus penelitian dan diperoleh data yang lengkap. Perpanjangan penelitian ini peneliti lakukan dengan memperpanjang waktu penelitian yang pada awalnya penelitian dilakukan hanya sampai tanggal 25 Mei , peneliti memperpanjang penelitian sampai pada awal bulan Juli. Dari pengalaman yang peneliti lakukan, bahwa perpanjangan waktu didalam penelitian amat sangat dibutuhkan guna untuk mendapatkan data-data yang valit dan lengkap.

b. Triangulasi
Triangulasi dilakukan untuk mengecek kebenaran data tertentu dan membandingkannya dengan data yang diperoleh dari sumber lain. Triangulasi menurut Moleong adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dari luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.
Dalam penelitian ini peneliti membandingkan data hasil observasi partisipan dengan data hasil wawancara mendalam, yaitu peneliti membandingkan data hasil observasi partisipan yang dilakukan peneliti dengan data hasil wawancara mendalam yang diperoleh dari kepala madrasah dan guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar. Selain itu peneliti menerapkan triangulasi dengan mengadakan pengecekan derajat kepercayaan beberapa subyek penelitian selaku sumber data yaitu membandingkan data hasil wawancara mendalam dari kepala madrasah dengan data hasil wawancara dengan guru dengan metode yang sama.

c. Pemeriksaan teman sejawat
Teknik ini dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat. Teknik ini mengandung beberapa maksud sebagai salah satu teknik pemeriksaan keabsahan data diantaranya: “ Pertama, untuk membuat peneliti mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran. Kedua, diskusi sejawat ini memberikan suatu kesempatan awal yang baik untuk memulai menjajaki dan menguji hipotesis yang muncul dari pemikiran peneliti”
Dalam penelitian ini, peneliti memanfaatkan kolega yang memiliki pengetahuan dalam bidang kepemimpinan kepala madrasah, metodologi penelitian yang bisa diajak bersama-sama membahas data yang ditemukan peneliti. Dalam pembahasan atau diskusi ini juga dapat dipandang sebagai usaha untuk mengenal persamaan dan perbedaan teman terhadap data yang diperoleh.
BAB IV
PAPARAN DATA DAN TEMUAN HASIL PENELITIAN

Latar Objek Penelitian
Pada mulanya, sebelum menjadi sekolah yang negeri, Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar adalah madrasah swasta yang didirikan sekitar pada tahun1970-an. Setelah sekian lama berjalan, prestasi demi prestasi dapat terlihat. Berawal dari prestasi yang diraih, akhirnya Madrasah Ibtidaiyah Al-Qodiriyah selalu dijadikan rujukan dalam hal-hal yang bersangkutan dengan pendidikan. Bahkan hampir setiap ujian Negara berlangsung selalu diselenggarakan di madrasah tersebut. Itu merupakan bukti kemampuan lembaga dalam hal-hal yang bersangkutan dengan pendidikan. Berawal dari prestasi yang diperoleh, maka madrasah ibtidaiyah Al-Qodiriyah mendapat tawaran untuk dijadikan Madrasah Ibtidaiyah Negeri. Namun, hal itu tidaklah hasil dari keputusan kepala madrasah sendiri, tetapi harus dimusyawarahkan oleh pihak pengurus yayasan, karena pada awalnya Madrasah Ibtidaiyah Al- Qodiriyah milik yayasan. Sehingga pada 17 Maret 1997 Madrasah Al-Qodiriyah atas persetujuan pengurus yayasan secara resmi berubah setatus menjadi negeri. Nama Madarasah Ibtidaiyah Al-Qodiriyah berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar. Hal ini sesuai dengan keputusan Menteri Agma RI yang pada waktu itu dijabat oleh Tarmidzi Taher dengan SK 107.
Mengenai perkembangan-perkembangan madrasah, bapak Darmaji juga menyatakan bahwa:
Dengan adaya perkembangan madrasah di segala aspek baik sarana dan prasarana, jumlah siswa maupun jumlah guru dan karyawan yang sesuai dengan bidangnya, maka mulai tahun 2008, Madrasah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dipercaya oleh Depag Pusat untuk mengadakan Kontrak Prestasi Peningkatan Mutu.

Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar tentunya juga mempunyai visi dan misi dalam melaksanakan proses pendidikannya antara lain: .

A. Visi Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar yaitu : terwujudnya generasi islami serta unggul dalam prestasi
B. Misi Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar adalah :
1. mendidik dan membimbing siswa-siswi untuk selalu beriman bertaqwa kepada Allah SWT.
2. mendidik dan membimbing siswa-siswi untuk berbudi pekerti luhur.
3. mendidik dan membimbing siswa-siswi untuk berprestai dalam pendidikan agama dan umum
4. mendidik dan membimbing siswa-siswi untuk terampil dan berdikari untuk masa depan yang lebih baik.
Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar tepatnya di Jalan Raya Wonorejo. Lokasi Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar kira-kira 700 m sebelah timur dari jalur Jalan Raya Kediri Blitar, Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar jauh dari keramaian, hal ini sangat bermanfaat terhadap proses belajar mengajar siswa. Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar juga berdekatan dengan SDN Slemanan II .
Adapun kegiatan belajar-mengajar yang dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar terbagi menjadi dua, yaitu kegiatan kurikuler dan ekstra kurikuler. Kegiatan kurikuler sebagaimana yang dilaksanakan di dalam kelas setiap hari oleh bapak dan ibu guru, akan tetapi sebagaimana pengamatan peneliti dalam lapangan, ditemukan bermacam-macam pelajaran yang mana mata pelajaran tersebut jarang diajarkan pada madrasah-madrasah ibtidaiyah pada umumnya. antaralain :
1. Pelajaran tentang ketrampilan menjahit.
2. Baca Tulis Al-Qur’an,
3. Komputer,
4. Tilawatil Qur’an.
5. Pembiasaan do’a sehari-hari
6. Hafalan Juz ‘Amma. Ayat-ayat pilih
Sedangkan kegiatan ekstra kurikuler sebagaimana dokumentasi yang penulis peroleh dari bapak Samsuri selaku kepala Tata Usaha Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar, dan dapat di peroleh data tentang kegiatan ekstra kurikuler antara lain:
1. Drumband
2. Pramuka.
3. Olah Raga prestasi yang dilombakan dalam porseni yang antara lain:
Tennis Meja
Catur
Bulu tangkis
Volli
4. Khitobah yang dilombakan dalam porseni yang antara lain:
Khitobah Bahasa Arab
Khitobah Bahasa Inggris
Khitobah Bahasa Indonesia
Lebih lanjut bapak Samsuri menjelaskan bahwa semua kegiatan ektra kurikuler dilaksanakan pada Jum’at sore dan Minggu pagi, dikarnakan selain hari dan waktu itu anak-anak sekolah TPA. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan ekstra kurikuler tidak mengganggu aktivitas pokok siswa yaitu kegiatan kurikuler karena semua kegiatan ektra kurikuler berada di luar jam pelajaran.
Guru merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam mencapai keberhasilan pendidikan dan bertanggung jawab pula dalam pembentukan kepribadian siswa. Sebagai pelaksana program mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar jumlah tenaga pengajar sebanyak 16 orang dan 1 satpam 2 tenaga kebersihan.
Dalam menjalankan tugas sehari-hari, guru juga harus mematuhi tata tertib guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar, antara lain:
1. Harus mengutamakan mengajar dari pada kepentingan lainya sehingga harus masuk sesuai dengan jadwal pelajaran, kecuali sangat terpaksa.
2. Apabila terpaksa tidak dapat melaksanakan tugas mengajar, harus dinyatakan dengan suat izin, dan harus mengirimkan tugas atau pekerjaan untuk mengisi jam kosong yang ditinggalkan.
3. Harus hadir di madrasah 5 menit sebelum waktu dijadwalkan.
4. Keluar masuk kelas tepat waktu sesuai dengan jadwal pelajarannya.
5. Yang masuk jam pertama memerintahkan kepada siswa untuk membaca do’a sebelum pelajaran dimulai.
6. Memulai dan mengalkiri kegiatan di kelas selalu dengan ucapan salam “Assalamu‘alaikum Wr. Wb.”
7. Tidak diperkenankan memulangkan siswa sebelum waktunya kecuali ada perintah dari pimpinan atau petugas piket apabila pimpinan tidak ada.
8. Harus bersikap baik, baik di luar maupun di dalam kelas, antara lain:
• Tidak merokok di dalam kelas atau waktu mengajar.
• Tidak duduk di atas bangku.
• Tidak mengeluarkan kata-kata kotor.
• Tidak emosional dalam menangani persoalan dengan siswa.
9. Harus berpakaian sesuai dengan ketentuan madrasah.
10. Dalam berpenampilan harus memperhatikan etika dan estetika, antara lain: teratur, rapi dan bersih.
11. Tidak diperkenankan mengenakan pungutan apapun kepada siswa kecuali telah mendapat persetujuan dari pimpinan madrasah.
12. Selain mengajar, diharapkan ikut aktif memantau dan membimbing ketertiban, kedisiplinan dan tingkah laku siswa, serta mengkonsultasikan atau melaporkan kepada pimpinan madrasah atau petugas piket apabila mendapatkan kejanggalan.
Mengenai jumlah siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar sebagaimana data yang duberikan bapak Thoat fauzi pada kami selaku kesiswaan, jumlah siswa selalu mengalami perubahan dari tahun ke tahun sehingga pada tahun ajaran 2008/2009 jumlah siswa mencapai 125 siswa. Untuk mengetahui keadaan siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini :
TABEL I
KEADAAN SISWA
MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI SLEMANAN
UDANAWU BLITAR TAHUN AJARAN 2008/2009

No Asal murid Murid baru Murid mengulang Murid pindahan Jumlah murid
Kelas Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk/Pr
1 I 10 10 3 - - - 13 10 23
2 II 9 12 1 1 - - 10 13 23

Lanjutan tabel I
3 III 11 11 1 - - - 12 11 23
4 IV 10 14 - - - - 10 14 24
5 V 9 10 - - - - 9 10 19
6 VI 5 6 - - - - 5 6 11
7 Jumlah 54 63 5 1 - - 59 64 123

Untuk menunjang tercapainya tujuan pengajaran, Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar mempunyai sarana dan prasarana sebagaimana yang dapat penulis sajikan dalam tabel berikut :
TABEL II
SARANA DAN PRASARANA
MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI SLEMANAN
UDANAWU BLITAR

No Jenis sarana prasarana Jumlah Keterangan
1. Ruang Kelas 6 Baik
2. Ruang Kantor 1 Baik
3. Ruang Kepala Sekolah 1 Baik
4. Ruang tamu 1 Baik
5. Ruang perpustakaan 1 Baik
6. Ruang tata usaha 1 Baik
7. Sanggar Pramuka 1 Baik
8. Ruang UKS 1 Baik
9. Ruang koperasi Menjadi satun dengan UKS.
10. Komputer 3 unit Baik
11. laptop 2 unit Baik
12. Masjid Menggabung dengan yayasan
13. Alat marching band 1 set Baik
14. Lapangan Voli 3 Baik
Lanjutan table II
15. Gudang I Baik
16. Dapur - Jadi satu dengan gudang

Organisasi sekolah merupakan bagian yang sangat berperan dalam pelancaran proses pendidikan. Susunan kepengurusan Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar adalah sebagai berikut:
GAMBAR II
STRUKTUR ORGANISASI
MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI SLEMANAN UDANAWU BLITAR






















Ket:
___________ : Garis Komando
---------------- : Garis Koordinasi
Paparan Data Hasil Penelitian
1. Kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam pembinaan guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru
Kepala madrasah merupakan pucuk pimpinan yang ada di madrasah, kepala madrasah harus memiliki kiat-kiat yang tepat untuk meningkatkan prestasi kerja tenaga kependidikan dimadrasahnya, dengan maksud untuk mensukseskan dan mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan bersama. Peningkatan prestasi kerja guru dilakukan dengan menggunakan pembinaan-pembinaan terhadap para guru.
Untuk memperoleh data tentang kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam pembinaan guru, pada hari Senin tanggal 11 Mei 2009 peneliti datang ke Ruang kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar bermaksud untuk menemui bapak kepala madrasah, , kemudian peneliti menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya, selanjutnya peneliti menanyakan tentang Kepemimpinan kepala madrasah dalam pembinaan guru, beliau menyatakan bahwa:
Sebagai kepala madrasah, pembinaan-pembinaan terhadap guru yang telah saya lakukan yang pertama kali adalah pembinaan disiplin, artinya untuk melakukan kegiatan pendidikan secara efektif dan efisien, maka segenap tenaga kependidikan harus mempunyai disiplin yang tinggi dalam segala bidang. Langkah selanjutnya adalah melakukan pembinaan-pembinaan yang berkaitan dengan kompetensi profesional dan kemampuan yang dimiliki guru.

Peneliti juga menanyakan tentang langkah-langkah yang di tempuh Kepala Madrasah dalam membina dan meningkatkan disiplin guru, beliau menyebutkan bahwa:
Dalam setiap kali rapat/pertemuan, saya selalu mengingatkan akan pentingnya disiplin guru dan pentingnya mentaati tata tertib guru yang telah dibuat bersama, dalam kegiatan sehari-hari sebagai kepala madrasah saya berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan disiplin diri dengan harapan dapat dicontoh dan diteladani oleh para guru. Dalam rangka melakukan pengawasan terhadap disiplin guru saya juga membentuk staf khusus bidang kedisiplinan guru, adapun koordinatornya saya percayakan kepada bapak Supriadi.

Peneliti juga menanyakan tentang sejauh mana pentingnya disiplin guru dalam peningkatan prestasi kerja, Kepala Madrasah menjelaskan bahwa:
Disiplin guru dalam berbagai bidang adalah suatu hal yang sangat penting karena disiplin guru merupakan salah satu faktor yang menentukan efektitas kelancaran pembelajaran di madrasah. Apabila guru telah benar-benar disiplin dalam segala hal, maka segala program yang direncanakan akan berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan dan waktu yang ditetapkan, selain itu sesuai dengan ungkapan Jawa bahwa “guru harus digugu dan ditiru”, maka guru harus bisa menjadi teladan bagi para siswa, sehingga apabila guru telah benar-benar disiplin diharapkan para siswa juga akan meniru kedisiplinan yang telah diterapkan para guru, begitu juga sebaliknya apabila guru tidak disiplin, maka program pembelajaran yang direncanakan akan tidak berjalan sesuai dengan harapan dan yang lebih dikhawatirkan para siswa juga akan tidak disiplin.

Selanjutnya peneliti menanyakan tentang bagaimana bentuk nyata dari keteladanan yang telah dilakukan dan diberikan oleh kepala madrasah terhadap kedisiplinan para guru, kepala madrasah menjelaskan bahwa:
Dalam kegiatan sehari-hari di madrasah, saya berusaha untuk selalu tepat waktu, artiya dalam melaksanakan program yang ditetapkan saya selalu berusaha untuk menepati waktu yang telah dijadwalkan, misalnya setiap hari saya selalu berusaha untuk datang di madrasah sebelum pukul 06.20, karna madrasah MIN Slemanan jam pembelajaran dimulai pukul 06.30 pada hari tertentu saya punya jam mengajar. Apabila saya punya jam mengajar pukul 10.00, maka pada jam itu pula pelajaran saya harus sudah dimulai. Kesemuanya itu saya lakukan dengan harapan agar para guru dengan sendirinya akan meningkatkan kedisiplinan.

Pada kesempatan yang sama peneliti juga menanyakan tentang tujuan dibentuknya staf khusus bidang kedisiplinan guru, beliau menjelaskan bahwa:
Tujuan dibentuknya staf khusus bidang kedisiplinan guru ini adalah untuk membantu dalam mengamati dan mengawasi kedisiplinan guru, yang diharapkan supaya para guru selalu disiplin dan tepat waktu dalam melaksanakan tugasnya.

Selain menanyakan tentang pembinaan disiplin guru peneliti juga menanyakan tentang bagaimana Kepemimpinan Kepala MIN Slemanan dalam pembinaan profesionalisme guru yang dilakukan oleh kepala madrasah, beliau mengatakan bahwa:
Dalam melakukan pembinaan profesionalisme guru, saya mengirim para guru untuk mengikuti seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan, mendatangkan para ahli, memberikan kesempatan kepada para guru untuk melanjutkan pendidikannya, menempatkan guru pada proporsi yang sesuai dengan bidangnya. Dan mengadakan rapat guru setiap satu semester yang dimaksudkan untuk mengevaluasi kinerja guru sekaligus memberikan pengarahan-pengarahan terhadap kekurangan-kekurangan. Berusaha mengadakan dan melengkapi alat-alat perlengkapan madrasah yang diperlukan bagi kelancaran dan keberhasilan proses belajar-mengajar

Selanjutnya peneliti menanyakan tentang bagaimana bentuk kerjasama dengan lembaga pendidikan lain yang dilakukan oleh kepala madrasah, beliau mengatakan bahwa:
Kerjasama dengan lembaga pendidikan sekitar antara lain dengan MI Roudlotun Nasi’in Slemanan, MI Roudlotut Tholibin Ringin Anom, MI. Wahid Hasyim Bakung dengan saling mengadakan studi banding mengenai konsep, strategi dalam pembelajaran, pengembangan guru dan pengembangan mutu madrasah,.

Dalam kesempatan lain, yaitu pada hari Selasa 15 Mei 2009 peneliti berusaha untuk mengamati tentang kedisiplinan yang benar-benar diterapkan oleh kepala sekolah, peneliti hadir di Madrasah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar pada pagi hari bersamaan dengan siswa berangkat ke madrasah. Ketika sampai di madrasah sekitar pukul 06.50 Wib, ternyata peneliti mendapati bahwa kepala madrasah juga sudah datang dan Sambil meneliti pembelajaran di madrasah.
Untuk memperoleh data lebih mendalam mengenai pembinaan guru, pada hari sabtu 16 Mei 2009 peneliti berusaha untuk mewawancarai bapak Supriadi sebagai koordinator bidang kedisiplinan guru. Waktu itu, peneliti datang ke Madrasah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar pada siang hari sekitar pukul 09.30 Wib, peneliti diterima oleh bapak Supriadi yang kebetulan pada hari itu bertugas sebagai guru piket, kemudian peneliti dipersilahkan masuk ke ruang tamu, kemudian peneliti menanyakan tentang tugas-tugas staf khusus bidang kedisiplinan guru, beliau mengatakan:
“Staf khusus bidang kedisiplinan guru dibentuk dengan maksud untuk meningkatkan disiplin guru, diantara tugas pokok yang dilaksanakan adalah mengkondisikan jam masuk guru ke kelas sesuai dengan jadwal, menghubungi guru yang tidak disiplin. Jika ada guru yang tidak disiplin maka saya akan berkoordinasi dan melaporkan kepada kepala madrasah. Yang selanjutnya merupakan wewenang kepala madrasah untuk mengatasinya.

Berkaitan dengan pembinaan kemampuan profesionalisme guru yang dilakukan oleh kepala madrasah, peneliti juga berusaha mewawancarai lebih detail kepada beliau bapak Supriadi. Peneliti menanyakan tentang pembinaan yang telah dilakukan kepala madrasah kepada para guru dalam meningkatkan prestasi kerja guru, beliau mengatakan bahwa:
“Pembinaan kemampuan profesionalisme guru selalu dilakukan oleh kepala madrasah secara terus menerus dan berkesinambungan, diantaranya pada tahun kemarin saya dan beberapa guru dikirim untuk mengikuti pelatihan tentang pengelolaan pembelajaran di MAN tlogo Kab. Blitar dan seminar kompetensi keguruan yang diadakan di MIN Pojok Kab Blitar. Mengadakan seminar dengan mendatangkan seorang pakar dari DEPAG Blitar. Pada tanggal 5 maret 2008 mengirim beberapa guru untuk mengikuti Workshop KTSP di MAN Tlogo Blitar.

Pada saat peneliti mengadakan wawancara dengan bapak Supriadi, karena waktu menagajar beliau sudah tiba, beliau meminta izin untuk mengajar dahulu, kemudian peneliti ditemani oleh bapak Tho’at Fauzi, setelah itu peneliti juga bertanya kepada bapak Thoat Fauzi mengenai pembinaan yang telah dilakukan kapala madrasah tehadap para guru, beliau mengatakan bahwa:
Dalam melakukan pembinaan-pembinaan terhadap guru bapak kepala madrasah menyuruh guru untuk mengikuti MGMP (musyawarah guru mata pelajaran), dan memberikan kesempatan kepada guru untuk saling mengadakan supervisi KBM dari tiap-tiap guru, sehingga setiap guru dapat saling memberi masukan dan saling menyempurnakan terhadap kekurangan dan kelemahan guru dalam menjalankan tugasnya”.

Berdasarkan dari beberapa data diatas, menunjukkan bahwa pembinaan terhadap guru sangat penting dilakukan oleh kepala madrasah dengan maksud untuk membantu mengembangkan kemampuan dan kompetensi yang dimiliki guru dalam rangka meningkatkan prestasi kerja demi tercapai kelancaran proses pembelajaran dan tercapainya tujuan pendidikan.

2. Kepemimpinan kepala Madrasah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam memotivasi guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru
Sebagai motivator, kepala madrasah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Adapun untuk memperoleh data tentang kepemimpinan Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam memotivasi guru, pada hari kamis 18 Mei 2009 peneliti berusaha untuk menemui bapak kepala madrasah, peneliti datang ke madrasah pada jam 09.00 Wib, pada saat itu bapak kepala madrasah sedang membaca sebuah dokumen. Waktu itu merupakan jam istirahat yang. Kemudian bapak kepala madrasah mengajak peneliti untuk masuk ke ruang kepala madrasah, selanjutnya peneliti mengadakan wawancara dengan mengajukan pertanyaan tentang bagaimana upaya dalam kepemimpinan kepala madrasah dalam memotivasi guru, beliau menjelaskan bahwa
Upaya yang saya lakukan dalam memotivasi guru adalah dengan menciptakan situasi dan kerjasama yang harmonis antar guru, berusaha memenuhi perlengkapan yang diperlukan guru dalam melaksanakan tugasnya, memberikan penghargaan dan hukuman .

Selanjutnya peneliti menanyakan tentang bagaimana langkah-langkah menciptakan situasi dan hubungan yang harmonis antar guru, bapak Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar menyatakan bahwa:
Situasi dan hubungan kerjasama yang harmonis di suatu madrasah memang sangat penting, dalam penerapannya saya menciptakan suasana terbuka maksudnya setiap guru diberi hak untuk menyatakan pendapat dan keinginan-keinginan terhadap perkembangan madrasah dan apabila ada masalah maka akan dipecahkan bersama, dan juga melibatkan guru untuk berbagai kegiatan. Selain itu juga memberikan penjelasan tentang tujuan yang harus dicapai madrasah.

Kemudian peneliti juga menanyakan sejauh mana pentingnya pemberian pemahaman terhadap guru tentang tujuan madrasah dalam rangka peningkatan motivasi, kepala madrasah menjelaskan bahwa:
Penjelasan tentang tujuan-tujuan dan target yang harus dicapai madrasah kepada para guru sangat penting dilakukan, karena pencapaian tujuan tersebut merupakan tanggung jawab bersama. Sehingga dengan penjelasan tersebut para guru merasa memiliki dan bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan-perkembangan madrasah ini, yang selanjutnya diharapkan dengan pemahaman tentang tujuan dan target yang harus dicapai dapat menumbuhkan motivasi dalam diri para guru sendiri untuk berusaha semaksimal mungkin melakukan pengembangan-pengembangan madrasah dan meningkatkatkan kerjanya.

Dalam kaitannya dengan pemberian penghargaan, peneliti juga bertanya tentang bagaimana langkah-langkah dan bentuk penghargaan yang diberikan kepada guru, bapak Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar menyatakan bahwa:
Penghargaan diberikan kepada para guru yang telah berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik, bentuk penghargaan yang saya berikan bukan berupa materi akan tetapi berupa dukungan mental untuk terus mengembangkan potensi yang dimilikinya, berupa pujian dan kesempatan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi.

Peneliti juga menanyakan mengapa bentuk penghargaan yang diberikan kepada para guru tidak berupa materi, kepala madrasah menjelaskan bahwa:
Saya tidak memberikan penghargaan dengan bentuk materi dengan harapan para guru dalam melaksanakan tugasnya benar-benar tulus dari dalam hatinya bukan semata-mata hanya untuk memperoleh dan mengejar penghargaan, dan yang dikhawatirkan dengan penghargaan bentuk materi, apabila nanti tidak ada lagi penghargaan yang berupa materi para guru akan bekerja semaunya sendiri dan tidak mau untuk melakukan peningkatan-peningkatan.
Kemudian peneliti menanyakan tentang bagaimana langkah-langkah dan bentuk hukuman yang diterapkan kepala madrasah terhadap para guru, beliau mengatakan bahwa:
Hukuman berlaku bagi para guru yang tidak disiplin dan tidak mentaati tata tertip guru, adapun langkah yang saya terapkan adalah memberi peringatan, dan apabila diperingatkan tidak bisa maka langkah selanjutnya adalah memberi hukuman dengan mengurangi jam mengajar, dan langkah yang paling akhir adalah mengeluarkan guru tersebut.

Pada hari yang sama peneliti juga mengamati Kepala Madrasah dalam memotivasi guru, pada saat itu kepala madrasah memotivasi guru dengan memberikan penghargaan berupa pujian terhadap guru yaitu kepada bapak Supriadi selaku wali kelas VI sekaligus sebagai ketua UASBN Kecamatan Udanawu. Dikarnakan anak didiknya berhasil memperoleh nilai rata-rata terbaik.
Untuk mempertajam data penelitian mengenai motivasi yang diberikan kepala madrasah kepada guru, pada hari Sabtu tanggal 30 Mei 2009 peneliti juga berusaha memperoleh keterangan dari guru, pada saat itu peneliti berhasil menemui ibu Akrim hidayati, ketika itu beliau sedang berada diruang guru, kemudian peneliti menanyakan bentuk motivasi yang diberikan kepala madrasah kepada guru, beliau menyatakan bahwa:
Kepala madrasah dalam memberikan motivasi kepada guru dengan cara memberikan kebebasan kepada guru mengeluarkan pendapat untuk perkembangan madrasah, sehingga apabila guru mempunyai keinginan-keinginan diharapkan supaya diungkapkan, dan yang paling berkesan bagi saya dalam setiap kesempatan atau pertemuan beliau selalu memperhatikan dan menanyakan tentang kelengkapan kebutuhan guru dalam mengajar, apabila ada yang kurang beliau berusaha untuk memenuhinya. Begitu juga beliau selalu memberikan penghargaan.

Pada kesempatan yang sama peneliti juga berusaha memperoleh keterangan dari bapak Samsuri mengenai kepala madrasah dalam memotivasi guru, beliau menyatakan bahwa:
Apabila ada guru yang tidak bersemangat dan tidak bergairah dalam melaksanakan tugasnya, kepala madrasah menanyai guru tersebut ada masalah apa sehingga ia tidak bersemangat dan tidak bergairah, beliau meminta apabila ada masalah supaya diungkapkan baik mengenai masalah pribadi atau yang berkaitan dengan madrasah, saya juga pernah mengalami hal tersebut, pada waktu itu saya sedang banyak problem pribadi, lalu beliau meminta kepada saya untuk mengungkapkan problem tersebut, alhamdulillah setelah curhat bersama beliau, beliau menemukan jalan keluar bagi saya sehingga problem saya dapat teratasi dan saya kembali semangat dalam mengajar dan beliau menyatakan dan berpesan bahwa sebenarnya sekenario kehidupan kita berada didalam lingkaran taqdir Alla. Itulah yang membuat saya sadar dan semangat bahwa semua problem itu tidak lain hanyalah suatu cobaan.

Dari beberapa data tersebut diatas, motivasi sangat penting diberikan kepala madrasah kepada para guru untuk meningkatkan kerjanya, dan yang paling utama adalah dengan adanya motivasi para guru akan mempunyai kesadaran diri dan bertanggung jawab untuk meningkatkan kerjanya.

3. Kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam meningkatkan kesejahteraan guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru
Dalam upaya meningkatkan prestasi kerja, kesejahteraan guru juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhinya. Untuk memperoleh data tentang kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kesejahteraan guru, pada hari Senin tanggal 1 Juni 2009 peneliti peneliti mengadakan penelitian lagi kelapangan sekitar pukul 09.30 Wib untuk menemui bapak kepala madrasah. Pada saat itu kepala madrasah sedang berada di ruang kerjanya, kemudian peneliti mengadakan wawancara dengan mengajukan pertanyaan bagaimana kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kesejahteraan guru, beliau mengatakan bahwa:
Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan guru, saya lebih menekankan pada kesejahteraan mental, yaitu berupa penciptaan iklim madrasah yang aman, damai, menerapkan prinsip kekeluargaan dan komunikasi dengan didasari niat ibadah, pengabdian dan ikhlas dan memperlakukan guru sebagai partner yang harus diakui keberadaannya dan segala kemampuan yang dimilikinya. Memberikan gaji kepada guru pada setiap awal bulan yang dihitung dari jumlah jam mengajar guru.

Kemudian peneliti menanyakan mengapa peningkatan kesejahteraan guru lebih difokuskan pada kesejahteraan mental, beliau mengatakan bahwa:
Kegiatan mengajar di madrasah ini intinya adalah pengabdian, kegiatan ibadah dan keikhlasan, karena apabila dilihat dari gaji yang diterima guru tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. sehingga kepada para guru perasaan untuk memiliki madrasah inilah yang saya tingkatkan, yang kemudian di kembangkan menjadi doktrin pilar guru yaitu pengabdian, dedikasi, pengorbanan, loyalitas dan tanggung jawab

Peneliti juga menanyakan mengapa kepala madrasah tidak menaikkan gaji guru, beliau mengatakan bahwa:
Karena dalam honorarium untuk guru sudah diatur oleh DEPAG, sehingga tidak mungkin menaikkan gaji guru kalau honorarium dari DEPAG tidak naik, kalau hal ini dipaksakan maka madrasah akan mengalami defisit keuangan karena harus mengambil jalur alternatif lain sehingga terjadi pengalihan dana.

Peneliti juga menanyakan bentuk nyata upaya peningkatan kesejahteraan guru yang telah dilakukan kepala madrasah, beliau mengatakan bahwa:
Meskipun bentuk kesejahteraan yang saya tekankan lebih pada kesejahteraan mental, akan tetapi saya juga selalu berusaha untuk mengadakan peningkatan kesejahteraan dari segi materi, hal ini bisa dilihat bahwa kalau dahulu gaji yang diberikan kepada guru hanya berupa gaji dari mengajar, akan tetapi pada saat sekarang dengan melihat kebutuhan ekonomi dan harga barang-barang yang semakin meningkat, maka saya berusaha mengusulkan kepada bendahara madrasah untuk memberikan uang transportasi kepada guru dan alhamdulillah disetujui dan uang transportasi tersebut diberikan bersamaan pada saat pemberian gaji guru. Sehingga setiap awal bulan guru menerima gaji yang dihitung dari jumlah jam mengajar ditambah dengan uang transportasi. Dan alhamdulillah sekarang ini semua guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar sudah mendapatkan bantuan dari program pemerintah yaitu Insetif dari DIKNAS dan Fungsional dari DEPAG.

Dalam kesempatan lain, pada hari yang sama, peneliti juga mewawancarai bapak Nanang imam syafi’i yang sudah 13 tahun menjadi guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar , pada saat itu beliau sedang berada di kantor guru, kemudian kepada beliau peneliti menanyakan tentang kesejahteraan para guru, beliau mengatakan bahwa:
Mengenai kesejahteraan terutama gaji yang saya terima, saya tidak terlalu memikirkan, sehingga berapa jumlah gaji yang diberikan, saya terima dengan senang hati, karena menjadi guru di madrasah ini adalah pengabdian, akan tetapi bagi saya kebahagiaan dan kesejahteraan selama menjadi guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar yang utama adalah jika semua kebutuhan-kebutuhan, sarana-prasarana atau perlengkapan madrasah dan semua perlengkapan guru dalam mengajar telah terpenuhi serta tercapainya tujuan-tujuan madrasah.


Peneliti juga berusaha mengamati tentang kepala madrasah dalam meningkatkan kesejahteraan guru, hal ini dilakukan peneliti pada hari Kamis tanggal 4 Juni 2009 tepatnya pada pukul 09.20 Wib yang merupakan jam istirahat pertama, pada saat itu kepala madrasah menyuruh semua guru berkumpul di ruang guru, dengan suasana santai dan penuh kekeluargaan pada saat itu para guru diberi gaji atas pekerjaan yang telah dilakukan selama bulan Juni 2009, kepala madrasah juga menyampaikan pesan kepada guru bahwa meskipun gaji yang diterima sangat kecil, para guru diharapkan untuk tetap menjaga kekompakan dalam menjalankan tugasnya dan selalu berusaha meningkatkan kinerjanya demi peningkatan dan pengembangan mutu madrasah.
Dengan demikian, dari data tersebut diatas menunjukkan bahwa dalam rangka meningkatkan kesejahteraan guru tidak harus bersifat materi, akan tetapi bisa dilakukan dengan peningkatan kesejahteraan psykologis antara lain penciptaan suasana madrasah yang aman, damai sejahtera, melakukan komunikasi yang baik dan memperlakukan guru sebagai partner yang harus diakui keberadaannya dan segala kemampuan yang dimilikinya.

Temuan Hasil Penelitian.
1. Berkaitan dengan fokus pertama.
Pembinaan terhadap guru merupakan tanggung jawab penting bagi kepala madrasah. Kepala madrasah harus mencurahkan segala energi dan waktunya untuk meningkatkan prestasi kerja para guru secara maksimal di madrasahnya. Prestasi guru merupakan cermin prestasi kepala madrasah. Adapun upaya yang dilakukan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam pembinaan guru untuk meningkatkan prestasi kerja antara lain difokuskan pada pembinaan disiplin guru dan pembinaan kemampuan profesional guru.
Dalam melakukan pembinaan disiplin guru, kepala madrasah berusaha untuk memberikan pengarahan tentang arti dan pentingnya disiplin guru, menjadi contoh atau teladan dengan menerapkan disiplin pada diri kepala madrasah sendiri, dengan menerapkan disiplin diri diharapkan para guru akan mengikuti sebagaimana disiplin yang diterapkan kepala madrasah dengan penuh kesadaran diri dan tanpa adanya paksanaan. Selain itu, dalam pembinaan disiplin kepala madrasah juga membentuk tim khusus bidang kedisiplinan guru, tim khusus ini bertugas sebagai pemantau terhadap kedisiplinan guru dalam menjalankan tugasnya. Apabila kedisiplinan guru sudah tercapai maka kelancaran proses pengajaran akan berjalan dengan baik dan lancar juga prestasi kerja yang dihasilkan akan sesuai dengan yang diharapkan.
Guru merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan program pengajaran dan tujuan madrasah, sehingga para guru dituntut untuk mempunyai kemampuan profesional dalam menjalankan tugasnya dan selalu meningkatkan prestasi kerjanya. Untuk meningkatkan prestasi kerja guru, kepala madrasah harus berupaya untuk mengadakan pembinaan terhadap kemampuan profesional guru.
Adapun upaya yang dilakukan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam melakukan pembinaan kemampuan profesional guru antara lain: Mengadakan dan menyuruh guru untuk mengikuti seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan, dan mengadakan kerja sama dengan sekolah-sekolah lain, mendatangkan para ahli, memberikan kesempatan kepada para guru untuk melanjutkan pendidikannya, menempatkan guru pada proporsi yang sesuai dengan bidangnya, mengevaluasi kerja guru dan memberi pengarahan-pengarahan, memberikan kesempatan kepada guru untuk saling mengadakan supervisi, menyediakan, mengoptimalkan sarana dan perlengkapan pendidikan.

GAMBAR III
SKEMA TEMUAN KEPEMIMPINAN
KEPALA MADRASAH DALAM PEMBINAAN GURU

























2. Berkaitan dengan fokus kedua,
Motivasi merupakan faktor pendorong untuk melakukan sesuatu, agar para guru dapat menjalankan dan meningkatkan prestasi kerjanya, maka kepala madrasah harus berupaya memotivasi guru. Adapun kepemimpinan yang kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam memotivasi guru yaitu menekankan pada motivasi instrinsik dan ekstrinsik dengan cara: Menciptakan situasi dan kerjasama yang harmonis antar guru, memberikan penghargaan, melibatkan guru dalam setiap kegiatan madrasah, memberi hak kepada guru untuk mengeluarkan pendapat untuk perkembangan-perkembangan madrasah, berusaha untuk memenuhi keinginan-keinginan guru dan melengkapi segala kebutuhan yang diperlukan dalam menjalankan tugasnya.
GAMBAR IV
SKEMA TEMUAN KEPEMIMPINAN
KEPALA MADRASAH DALAM MEMOTIVASI GURU

















3. Berkaitan dengan fokus ketiga
Kesejahteraan merupakan salah satu faktor penentu produktifitas atau prestasi kerja. Dalam menjalankan tugasnya guru memerlukan kesejahteraan secara psikologis dan materi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Apabila kesejahteraan guru terpenuhi maka para akan dapat melaksanakan dan meningkatkan kinerjanya dengan baik sesuai dengan fungsi dan tugasnya.
Adapun kiat-kiat kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam meningkatkan kesejahteraan guru yaitu berusaha meningkatkan kesejahteraan mental dan materi dengan cara: menciptakan iklim madrasah yang aman, damai, menerapkan prinsip kekeluargaan dan komunikasi dengan didasari niat ibadah, pengabdian dan ikhlas, memperlakukan guru sebagai partner dan mengakui keberadaannya dan segala kemampuan yang dimilikinya, memberikan gaji kepada guru pada setiap awal bulan yang terdiri dari gaji mengajar dihitung dari jumlah jam dalam mengajar ditambah uang transportasi.
GAMBAR V
SKEMA TEMUAN KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH
DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN GURU













Berdasarkan skema temuan-temuan hasil penelitian tersebut diatas, maka skema temuan akhir kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan dalam meningkatkan prestasi kerja guru sebagai berikut:

GAMBAR VI
SKEMA TEMUAN AKHIR KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH DALAM MENINGKATKAN PRESTASI KERJA GURU












BAB V
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

A. Pembahasan Berkaitan Dengan Fokus Pertama.
Berdasarkan paparan data penelitian pada bab empat, diketahui bahwa kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar pada dalam melakukan pembinaan guru ditekankan pada pembinaan kedisiplinan guru dan pembinaan kompetensi profesionalisme guru. pembinaan disiplin dengan cara: memberi pengarahan tentang arti dan pentingnya disiplin guru, menjadi teladan, dan membentuk tim khusus bidang kedisiplinan guru.
Sedangkan pembinaan kemampuan profesional guru antara lain: Mengadakan dan menyuruh guru untuk mengikuti seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan, mengadakan kerja sama dengan sekolah-sekolah lain, , mendatangkan para ahli, memberikan kesempatan kepada para guru untuk melanjutkan pendidikannya, menempatkan guru pada proporsi yang sesuai dengan bidangnya, mengevaluasi kerja guru dan memberi pengarahan-pengarahan, memberikan kesempatan kepada guru untuk saling mengadakan supervisi, menyediakan dan mengoptimalkan sarana dan perlengkapan pendidikan.
Kepala madrasah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, kepala madrasah bertanggung jawab atas keberhasilan penyelenggaraan kegiatan pendidikan dengan cara melaksanakan upaya peningkatan kinerja para anggotanya. Disamping itu kepala madrasah bertanggung jawab terhadap kualitas sumber daya manusia yang ada terutama guru kearah profesionalime yang diharapkan, agar mereka mampu menjalankan tugas-tugas pendidikan dengan baik. Dalam hal ini kepala madrasah bertugas melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan, baik fungsi yang berhubungan dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun pencapaian iklim madrasah yang kondusif bagi terlaksananya proses belajar-mengajar secara efektif dan efisien.
Kepala madrasah merupakan pucuk pimpinan yang ada di madrasah, kepala madrasah harus memiliki kemampuan untuk meningkatkan prestasi kerja tenaga kependidikan dimadrasahnya. Peningkatan prestasi kerja guru dilakukan dengan menggunakan pembinaan-pembinaan terhadap para guru yang juga merupakan bagian integral dari keberadaan sumber daya manusia yang mempunyai peranan strategis dalam kehidupan suatu madrasah.
Dalam rangka melaksanakan pembinaan-pembinaan terhadap guru, Wahjosumidjo menyatakan bahwa setidaknya terdapat empat macam nilai yang harus diperhatikan yaitu: pembinaan mental, pembinaan moral, pembinaan fisik, dan pembinaan artistik.
Pembinaan moral yaitu membina para guru tentang hal-hal yang berakaitan dengan sikap batin dan watak, sehingga kepala madrasah harus mampu menciptakan iklim yang kondusif agar para dapat melaksanakan tugasnya secara proporsional dan profesional. Untuk itu, kepala madrasah harus berusaha melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan bagi para guru dalam menjalankan tugasnya.
Pembinaan moral yaitu membina para guru tentang ajaran baik dan buruk terhadap suatu perbuatan, sikap dan kewajiban sesuai dengan tugasnya masing-masing, sehingga kepala madrasah harus berusaha memberi nasehat, dan menjadi contoh teladan bagi para guru.
Pembinaan fisik yaitu membina para guru tentang hal-hal yang berkaitan dengan jasmani, kesehatan, dan penampilan mereka secara lahiriah. Kepala madrasah harus dapat mendorong para guru untuk aktif dan kreatif dalam berbagai kegiatan olah raga.
Pembinaan artistik yaitu membina para guru tentang hal-hal yang berkaitan dengan kepekaan manusia terhadap seni dan keindahan, sehingga kepala madrasah harus berusaha menjadikan lingkungan madrasah yang rapi, indah sejuk dan menyenangkan.
E. Mulyasa juga menyatakan bahwa upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh kepala madrasah dalam melaksanakan pembinaan guru dalam rangka meningkatkan prestasi kerja antara lain: mengikutsertakan para guru dalam penataran dan pelatihan-pelatihan, menggerakkan tim evaluasi, mendorong guru untuk menggunakan waktu pembelajaran secara efektif dan efisien.
Lebih lanjut Nur kholis menyatakan bahwa program pelatihan apapun harus tidak hanya sebatas pada pelatihan, habis pelatihan urusan selesai. Tetapi pelatihan itu hendaknya diikuti dengan aktifitas-aktifitas lanjutan, misalnya senantiasa memperhatikan bagaimana guru menerapkan cara-cara baru yang diperoleh dalam pelatihan.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, upaya yang telah diterapkan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam pembinaan guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru adalah sebagai usaha dalam menjalankan fungsi dan peranannya sebagai pemimpin sebuah lembaga pendidikan untuk meningkatkan prestasi kerja guru dan meraih keberhasilan madrasah dalam mewujudkan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan bersama.
Dengan demikian, dengan melihat apa yang telah dilakukan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar, dapat difahami bahwa kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar telah mempunyai usaha yang kuat dalam melakukan pembinaan guru untuk meningkatkan prestasinya, dan terkandung makna bahwa upaya yang telah dilakukan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar telah mencakup pembinaan sumber daya manusia, sarana dan hubungan kerja sama yang baik dan seimbang.

B. Pembahasan Berkaitan Dengan Fokus kedua.
Berdasarkan paparan data penelitian pada bab empat, diketahui bahwa kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam memotivasi guru di fokuskan pada motivasi instrinsik dan ekstrinsik, dengan cara: Menciptakan situasi dan kerjasama yang harmonis antar guru, melibatkan guru dalam setiap kegiatan madrasah, memberi hak kepada guru untuk mengeluarkan pendapat untuk perkembangan-perkembangan madrasah, berusaha untuk memenuhi keinginan-keinginan guru dan melengkapi segala kebutuhan yang diperlukan dalam menjalankan tugasnya, memberikan penghargaan dan hukuman.
Dalam melakukan suatu pekerjaan atau perbuatan seseorang selalu didorong oleh motif tertentu, baik yang obyektif maupun yang subyektif. Motif atau dorongan dalam melakukan sesuatu pekerjaan sangat besar pengaruhnya terhadap kinerja. Davis dan Newtron sebagaimana dikutip Sulistiyorini menyatakan bahwa, hampir semua perilaku sadar mempunyai motivasi. Untuk mencapai tujuan organisasi, prestasi dan semangat kerja dibutuhkan motivasi, maka tugas manajer adalah mengidentifikasi dan menggerakkan motivasi pegawai agar bersemangat dan berprestasi baik dalam melaksanakan tugasnya.
Seseorang bersedia melakukan sesuatu pekerjaan apabila motif yang mendorongnya cukup kuat yang pada dasarnya tidak mendapat saingan atau tantangan dari motif lain yang berlawanan. Demikian pula sebaliknya orang lain yang tidak didorong oleh motif yang kuat akan meninggalkan atau sekurang-kurangnya tidak bergairah dalam melakukan sesuatu pekerjaan.
Setiap guru memiliki karakteristik khusus, yang satu sama lainnya berbeda, hal tersebut memerlukan perhatian dan pelayanan khusus pula dari pemimpinnya, agar mereka dapat memanfaatkan waktu untuk meningkatkan kinerjanya. Perbedaan guru tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam psykisnya, misalnya motivasi. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kinerja guru perlu diupayakan untuk membangkitkan motivasi para guru dan faktor lain yang mempengaruhinya.
Dalam melaksanakan tugasnya sebagai motivator, kepala madrasah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para guru dalam melaksanakan berbagai tugas dan fungsinya.. Mulyasa mengungkapkan bahwa: “motivasi dapat ditumbuh-kembangkan oleh kepala madrasah melalui: pengaturan lingkungan fisik (ruang kerja dan ruang belajar yang kondusif serta mengatur lingkungan madrasah yang nyaman dan menyenangkan), pengaturan suasana kerja (hubungan kerja yang harmonis), disiplin, dorongan, penghargaan yang efektif, dan penyediaan sumber pembelajaran”.
Sudjana menyatakan bahwa motivasi terdiri atas motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik timbul dari setiap individu seperti kebutuhan, bakat, kemauan, minat dan harapan pada diri sendiri. Sedangkan motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang timbul dari luar diri seseorang, timbul karena ada rangsangan dari luar lingkungannnya misalnya karena ada hadiah, dapat meningkatkan nama baik.
Lebih lanjut Palmer mengatakan bahwa orang-orang yang menginginkan atau bermotivasi tinggi untuk memperoleh pengembangan adalah orang-orang yang belum mencapai kepuasan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, atau belum merasa puas bagi kebutuhan untuk tingkat diatasnya.
Motivasi merupakan suatu bagian yang sangat penting dalam suatu lembaga atau organisasi untuk meningkatkan kinerja anggotanya. Para guru akan bekerja dengan sungguh-sungguh apabila mempunyai motivasi tinggi. “Sutermeister sebagaimana dikutip Sulistiyorini menyatakan bahwa prestasi kerja untuk 80-90 % bergantung pada motivasinya untuk bekerja, dan 10-20 % bergantung pada kemampuannya.
Apabila para guru mempunyai motivasi yang positif, ia akan memperlihatkan minat, mempunyai perhatian, dan ingin ikut serta dalam suatu tugas atau kegiatan. Dengan kata lain guru akan melakukan pekerjannya dengan baik apabila ada faktor pendorong (motivasi).
Dengan demikian kepala madrasah dituntut untuk memiliki kemampuan dan strategi untuk memotivasi para guru dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan guru, harapan dan cita-cita serta insentif yang dibutuhkan guru agar para guru mempunyai semangat kerja yang tinggi dan pada akhirnya mereka mau dan mampu meningkatkan kinerjanya.
Sejalan dengan pendapat-pendapat tersebut diatas dan dengan melihat apa yang telah dilakukan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam memotivasi guru dapat difamahi bahwa kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar telah mempunyai usaha yang kuat dalam meningkatkan motivasi guru untuk meningkatkan prestasi kerjanya, hal ini terbukti kepala madrasah telah berupaya untuk selalu memotivasi para guru baik motivasi intrinsik maupun ekstrinsik.

C. Pembahasan Berkaitan Dengan Fokus Ketiga
Berdasarkan paparan data penelitian pada bab empat, diketahui bahwa kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam meningkatkan kesejahteraan guru ditekankan pada peningkatan kesejahteraan mental dam materi, dengan cara: Menciptakan iklim madrasah yang aman, damai, menerapkan prinsip kekeluargaan dan komunikasi dengan didasari niat ibadah, pengabdian dan ikhlas, memperlakukan guru sebagai partner dan mengakui keberadaannya dan segala kemampuan yang dimilikinya, memberikan gaji kepada guru pada setiap awal bulan yang terdiri dari gaji mengajar dihitung dari jumlah jam dalam mengajar ditambah uang transportasi.
Dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia memiliki berbagai kebutuhan baik fisik, maupun psikologis yang secara langsung berpengaruh pada prestasi kerjanya. Guru merupakan pemeran utama proses pendidikan, dalam menjalankan tugasnya guru memerlukan rasa aman, tentram dan sejahtera secara psykologis melalui kepastian karier dan insentif sebagai imbalan atas pekerjaannnya. Upah atau gaji yang layak sehinga dapat memenuhi kebutuhan seperti sandang, perumahaan, kesehatan, keamanan, merupakan faktor yang tidak boleh ditinggalkan dalam peningkatan prestasi kerja.
Dalam peningkatan prestasi kerja, Finch menyatakan bahwa berhasil tidaknya peningkatan prestasi kerja apabila orang-orang yang terlibat di dalam peningkatan prestasi kerja juga diberi kompensasi atau sekedar insentif. Wujud insentif bisa berupa kenaikan pangkat, kesempatan memperoleh liburan, dan sebagainya sejalan dengan insentif yang diberikan.
Kompensasi merupakan imbal jasa yang diberikan yang dapat dinilai dengan uang dan mempunyai kecenderungan diberikan secara tetap. Pemberian kompensasi selain dalam bentuk gaji, dapat juga berupa tunjangan-tunjangan, fasilitas perumahan, kendaraan dan lain-lain. Masalah kompensasi adalah salah satu bentuk imbalan yang harus dipenuhi karena imbalan oleh pekerja tidak lagi dipandang sebagai alat pemuas kebutuhan materialnya, akan tetapi sudah dikaitkan dengan harkat dan martabat manusia.
Peningkatan prestasi guru dapat dilakukan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan guru, Lazaruth menyatakan bahwa kesejahteraan material dan spiritual merupakan faktor utama yang mempengaruhi tinggi rendahnya semangat kerja, dengan terpenuhinya kesejahteraan material dan spiritual, maka seseorang akan bekerja dengan efektif dan penuh semangat.
Mulyasa juga menyatakan bahwa dalam peningkatan kesejahteraan guru perlu diupayakan: gaji guru senantiasa disesuaikan agar mencapai standar yang wajar bagi kehidupan guru dan keluarganya, memenuhi kebutuhan guru dengan sistem imbalan yang lebih baik dan menarik.
Dengan demikian, dalam upaya meningkatkan kesejahteraan guru kepala madrasah harus memperhatikan kesejahteraan mental dan spiritual guru serta harus mempunyai strategi untuk memberikan penghargaan dan imbalan jasa kepada guru dengan memperhatikan standar kebutuhan guru dan berupaya memberikan sistem kompensasi yang lebih baik dan menarik.
Sejalan dengan pendapat-pendapat tersebut, dan dengan melihat kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar dalam meningkatkan kesejahteraan guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru, dapat difahami bahwa kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan Udanawu Blitar telah mempunyai upaya yang kuat dalam meningkatkan kesejahteraan guru, hal ini terbukti bahwa selain melakukan peningkatan kesejahteraan mental guru, kepala madrasah juga berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan materi, meskipun dalam memenuhi kesejahteraan materi belum maksimal dan belum memenuhi standar kebutuhan para guru, hal ini disebabkan karena disesuaikan dengan kemampuan madrasah dalam memberi gaji kepada guru.

BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Kepemimpinan kepala madrasah dalam pembinaan guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru yang dilakukan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan difokuskan pada dua macam pembinaan yaitu: Pertama, pembinaan disiplin dengan cara: memberi pengarahan, menjadi teladan, dan membentuk tim khusus bidang kedisiplinan guru. Kedua, pembinaan kemampuan profesionalisme guru yaitu dengan cara: mengadakan dan menyuruh guru untuk mengikuti seminar dan pelatihan, bekerja sama dengan lembaga pendidikan lain, mendatangkan para ahli, memberi kesempatan kepada para guru untuk melanjutkan pendidikan, menempatkan guru pada proporsi yang tepat, mengevaluasi kerja guru, memberi kesempatan kepada guru untuk saling mengadakan supervisi, menyediakan dan mengoptimalkan sarana dan perlengkapan pendidikan.

2. Kepemimpinan kepala madrasah dalam memotivasi guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru yang dilakukan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan untuk meningkatkan prestasi kerja guru difokuskan pada peningkatan motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Pertama, Peningkatan motivasi instrinsik dengan cara: menciptakan situasi dan kerjasama yang harmonis antar guru, melibatkan guru dalam setiap kegiatan madrasah, memberi hak kepada guru untuk mengeluarkan pendapat untuk perkembangan-perkembangan madrasah, berusaha untuk memenuhi keinginan-keinginan guru dan melengkapi segala kebutuhan yang diperlukan dalam menjalankan tugasnya. Kedua, peningkatan motivasi ekstinsik dengan cara: memberikan penghargaan
3. Kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kesejahteraan guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru yang dilakukan kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan untuk meningkatkan prestasi kerja guru difokuskan pada: Pertama peningkatan kesejahteraan mental dengan cara: menciptakan iklim madrasah yang aman, damai, menerapkan prinsip kekeluargaan dan komunikasi dengan didasari niat ibadah, pengabdian dan ikhlas, memperlakukan guru sebagai partner dan mengakui keberadaannya dan segala kemampuan yang dimilikinya. Kedua, peningkatan kesejahteraan yang berupa materi dengan cara: mengatur pemberian gaji guru pada setiap awal bulan yang terdiri dari gaji ditambah uang transportasi serta bantuan tunjangan fungsional dan insentif dari pemerintah.

B. Saran-saran
1. Kepada kepala madrasah
Dalam upaya meningkatkan prestasi kerja guru, kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Slemanan disarankan untuk benar-benar memahami sekaligus menerapkan fungsi dan peranannya. Kepala madrasah disarankan untuk selalu berusaha untuk meningkatkan strategi dalam membina, memotivasi, dan meningkatkan kesejahteraan guru, mengetahui kelemahan atau hambatan yang ada serta berusaha mengatasi hambatan yang ada.

2. Kepada para guru
Dalam rangka meningkatkan prestasi kerja, guru disarankan untuk selalu berusaha meningkatkan kompetensi profesionalnya dengan cara: mengikuti pembinaan-pembinaan, pelatihan-pelatihan, seminar-seminar baik yang diadakan di madrasah maupun di luar madrasah, dan berusaha untuk membangkitkan motivasi terutama motivasi yang berasal dari diri guru sendiri.

3. Kepada peneliti yang akan datang
Kepada peneliti yang akan datang diharapkan penelitian mengenai kepemimpinan kepala madrasah pada umumnya dan upaya kepala madrasah dalam meningkatkan prestasi kerja guru pada khusunya, untuk dikaji lebih mendalam dengan berbagai metode penelitian yang lain agar diperoleh penemuan-penemuan baru sehingga dapat dimanfaatkan oleh pihak lembaga pendidikan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Back to top!