Searching...
14.5.10

PERBANDINGAN PEMIKIRAN ASY-SYAFI’IYYAH DAN HANAFIYYAH ( Studi Perbandingan Asy-Syafi’iyyah dan Hanafiyah dalam Ushul Fiqih dengan Pendekatan Ad-Dalalah/ Ijtihad Bayani/ Linguistik )

BAB I
PENDAHULUAN

Diantara tonggak penegang ajaran Islam di muka bumi adalah muncul beberapa mazhab raksasa di tengah ratusan madzhab kecil lainnya. Keempat madzhab itu adalah Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanbaliyah. Sebenarnya jumlah madzhab besar tidak hanya terbatas hanya empat saja, namun keempat madzhab itu memang diakui eksistensi dan jati dirinya oleh umat selama 15 abad ini. Keempatnya masih utuh tegak berdiri dan dijalankan serta dikembangkan oleh mayoritas muslimin di muka bumi. Masing-masing punya basis kekuatan syariah serta masih mampu melahirkan para ulama besar di masa sekarang ini.
Fenomena yang terjadi adalah banyak dikalangan masyarakat saling menyalahkan antara satu dengan yang lainnya yang merupakan berlainan dalam mengikuti madzhab yang empat tersebut, dan malah yang sangat memprihatinkan adalah mereka saling bermusuhan hanya karena berlainan mazhab. Ini sering kita temukan di beberapa desa maupun di perkotaan, hal ini adalah salah dan tidak boleh karena rasul pernah bersabda “perbedaan pendapat dikalangan ummatku adalah rahmat bagi seluruh alam”. Sekarang ini kita tidak akan membahas kenapa saling bermusuhan dan menganggap madzhabnyalah yang paling benar, padahal para imam yang empat tersebut telah jelas-jelas mengatakan “ambil yang benar dari mazhabku dan jangan kamu ambil yang salah”.
Dalam meneliti ataupun melakukan; Mukhoronatul Madzahib” lazim kita gunakan untuk membandingkan madzhab satu dengan madzhab yang lain supaya kita tahu madzhab mana yang harus kita pegang dan kita ikuti untuk diamalkan nantinya sebagai ibadah tapi dengan catatan kita bukan melakukan ibadah dengan sesuatu hal karena kita telah melakukan perbandingan ini, dan ini hanya pengantar bagi kita ummat Nabi Muhammad SAW yang sesungguhnya adalah kita semuanya bermadzhab kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW sebagai pembawa risalah dan membawa Hukum Islam ditengah-tengah kehidupan kita yaitu Al-Qur’an dan Hadits, seperti Sabda Rasul “Berpegang teguhlah kamu kepada dua hal niscaya kamu akan selamat di dunia dan akhirat yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah”.
Perbedaan sesuatu dengan lainnya, terutama dalam hal pendapat dua paham, tidak selamanya menunjukkan adanya pertentangan serta mengakibatkan timbulnya pertikaian dan permusuhan. Sebab tidak sedikit perbedaan yang disebabkan perbedaan zaman dan keadaan menyebabkan perbedaannya tindak dan pendapat atau berbedanya tanggapan. Hal itu terjadi disebabkan keputusan yang dibuat pada setiap tempat dan setiap zaman berbeda – esensi dan urgensinya. Keputusan pada suatu tempat dan suatu saat dianggap tepat dan kuat pada tempat dan saat termaksud. Berdasarkan asumsi tersebut, maka penulis perlu melakukan studi tentang pemikiran antara madzhab Syafii dan Hanafi dalam mengambil fatwa dalam kajian ushul fiqih dengan pendekatan dalalah-nya sebagai bahan kajian kita dalam mengahdapi perbedaan pemikiran dalam khazanah dunia Islam.






BAB II
PEMBAHASAN

A. Sekilas tentang Urgensi Madzhab
1. Pengertian Madzhab
Madzhab berasal dari kata “dzahaba” (isim) artinya “pergi”. Madzhab menurut bahasa yaitu “jalan”, “pergi” dan lain sebagainya.
Sedangkan menurut istilah madzhab adalah pendapat dari para imam mujtahid tentang suatu peristiwa berdasarkan al-Qur’an dan Hadits. Metode penetapan hukumnya adalah berdasarkan al-Qur’an dan Hadits, dan ruang lingkup pembahasannya adalah yang disebut dengan “khilafiyah”.
Perbandingan mazhab menurut bahasa adalah menghimpun dan mempertentangkan, sedangkan menurut istilah perbandingan mazhab adalah menghimpun pendapat-pendapat imam mujtahid beserta dengan dalil-dalilnya tentang suatu permasalahan yang masih di-ikftilafkan dan memperbandingkan dalil sebahagian mereka dengan yang lain supaya jelas setelah adanya perbandingan dalil maka pendapat yang paling kuat berdasarkan dalil yang paling kuat.
Dari definisi-definisi yang termaktub di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bawa yang dimaksud dengan madzhab itu meliputi dua pengertian sebagai berikut :
a. Madzhab dalam arti; jalan pikiran/ metode ijtihad yang ditempuh seorang imam mujtahid dalam menetapkan hokum sesuatu peristiwa atau sesuatu hal berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadits.
b. Madzhab dalam arti; fatwa-fatwa atau pendapat-pendapat seseorang imam mujtahid tentang hokum sesuatu masalah/ peristiwa yang diambil dari Al Qur’an dan Al Hadits.
Perbandingan madzhab dikalangan masyarakat adalah hal yang biasa dan merupakan pengembangan ilmu Islam itu sendiri, para ulama terdahulupun sudah mempunyai madzhabnya tersendiri, walaupun mereka berbeda pendapat tetapi tidak saling menyalahkan antara satu dengan yang lainnya. Bahkan ada ulama yang menyatakan “ambillah yang benar dari madzhabku dan jangan ambil yang salah”, ini merupakan satu perkataan yang sangat toleran dan moderat satu sisi mempunyai ilmu pengetahuan yang luas tetapi bisa menerima pendapat di luar pribadinya.
Dewasa ini dikalangan masyarakat berkembang pengikut beberapa mazhab yang diantaranya adalah : Imam Hanafi, Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanbali.

2. Penyebab Perkembangan Madzhab
Adapun penyebab perkembangan pemikiran dalam bermadzhab sebagaimana hasil temuan pakar sejarah Islam, antara lain :
a. Dengan meluasnya Daulah Islamiyah sehingga timbul masalah para mujtahid membahasnya maka berkembanglah madzhab itu.
b. Tidak ada keterikatan pemerintah dengan Imam Mujtahid dan bebas berkarya maka berkembanglah madzhab tersebut.
c. Madzhab ini berkembang dari pengikutnya dan mengembangkan pendapat tersebut kepada masyarakat sehingga berkembanglah madzhab tersebut.
3. Tujuan dan Kewajiban dalam Mengikuti Madzhab
Secara umum tujuan dalam bermadzhab adalah :
a. Dapat memahami pendapat-pendapat Imam Madzhab tentang masalah yang diikhtilafkan diantara mereka dan mengetahui tempat sandaran pendapat tersebut
b. Dapat mengetahui dasar-dasar dan kaedah-kaedah yang dipergunakan oleh setiap Imam Madzhab dalam menetapkan hukum melalui dalil supaya mengetahui pendapat yang paling kuat berdasarkan dalil yang paling kuat.
c. Dapat mengetahui bahwa dalil yang dipergunakan oleh para Imam Madzhab adakalanya al-Qur’an atau Hadits dan adapula yang mempergunakan Qiyas atau kaedah-kaedah yang bersifat umum dan khusus dengan madzhab tertentu tetapi tidak dipergunakan madzhab yang lain.
d. Yang paling diharapkan adalah supaya mengamalkan hukum yang diyakini kuat dalilnya dan tidak boleh berpaling daripadanya.
Adapun kewajiban orang yang hendak melakukan perbandingan madzhab adalah :
a) Supaya benar-benar memindahkan/ mengambil pendapat dari setiap Imam Madzhab melalui kitab-kitab mereka masing-masing dan mengambil pendapat yang paling kuat dari setiap Imam Madzhab supaya tidak mudah tertolak.
b) Supaya memilih dalil-dalil yang kuat dari dalil yang dikemukakan para Imam Madzhab yang berhubungan dengan permasalahan tersebut dan tidak mengambil dalil yang dhoif supaya tidak tertolak.
c) Benar-benar mengetahui kaidah-kaidah yang digunakan oleh setiap Imam Madzhab dalam menetapkan (istimbat) hukum supaya diketahui dasar pikiran mereka dalam mengambil kesimpulan hukum dari dalilnya.
d) Mengadakan perbandingan disertai dengan dalilnya dari pendapat Imam Madzhab setelah mengetahui cara penetapan hukum yang dipergunakan oleh setiap Imam Madzhab.
e) Menguatkan salah satu pendapat dari Imam Madzhab setelah diadakan perbandingan dalil berdasarkan dalil yang paling kuat (yang dikuatkan adalah pendapat dalil yang paling kuat).

4. Sebab-sebab Terjadinya Perbedaan Pendapat Fuqoha’ Menetapkan Hukum melalui Dalil
a) Perbedaan yang berpangkal pada lafadz
Lafadz al-Qur’an atau Hadits datang dengan lafadz mufrod (satu arti) tetapi diartikan dengan mustarakh (banyak mengandung arti), contoh : “iddah furu’” maka furu’ diartikan mustarakh walaupun dia mufrod, maka Imam Hanafi mengatakan haid dan Imam Syafi’i mengatakan maknanya adalah suci.
b) Perbedaan yang berpangkal pada riwayat
Maksudnya adalah Hadits Rasul boleh jadi pada ulama tertentu dan tidak sampai kepada ulama yang lain, bagi ulama yang sampai padanya hadits itu dia jadikan sebagai dalil dan yang tidak sampai maka dia menjadikan dalil yang lainnya, seperti Hadits Rasul yang artinya “….sehingga suami merasakan madunya istri dan istri merasakan madunya suami”.
c) Perbedaan yang berpangkal padat ta’arud (berlawanan, bertentangan)
Ta’arud menurut bahasa “belawanan”, “bertentangan”
Ta’arud menurut istilah bertentangan dua dalil untuk menafi’kan (memindahkan) yang lainnya. Seperti satu dalil menyatakan haramnya sesuatu, dalil yang lain membolehkannya. Maksudnya adalah ada dua dalil yang sama tingkatannya yang saling bertentangan seperti Hadits Rasul tentang larangan memanfaatkan sesuatu dari bangkai dan hadits yang lain boleh memanfaatkannya setelah terlebih dahulu disamak dan cara penyelesaian dari dalil yang ta’arud ini ada dua macam: menurut Hanafiyah dengan jalan menguatkan dan menurut Fuqoha’ dengan cara mengumpulkan
d) Perbedaan yang berpangkal pada ‘uruf (adat)
Para imam mujtahid tidak bertempat tinggal di satu tempat saja, mereka berbeda tempat tingggal seperti Imam Abu Hanifah tinggal di Irak, Imam Maliki di Hidas dan Imam Syafi’i tinggal di Hidas pernah juga di Irak dan Mesir. Dan setiap tempat pasti berbeda kebiasaannya. Mereka akan menjadikan ‘uruf (adat) menjadi dalil sekalipun berbeda dengan ‘uruf (adat) di tempat lain, bila tidak ada dijumpai di nash al-Qur’an, contoh: pertama, dilarang mengambil imbalan dari mengajarkan Al-Qur’an, dan kedua, dibolehkan mengambil upah dari mengajarkan Al-Qur’an
e) Perbedaan yang berpangkal pada dalil-dalil yang masih diperselisihkan.
Maksudnya, dalil-dalil hukum yang tidak semuanya oleh imam mujtahid sebagai dalil, seperti “maf’um mukholafah”. Umpamanya diamalkan jumhur fuqoha dan tidak diamalkan Abu Hanifah.
“maf’um mukholafah” (pemahaman yang berselisih).

B. Riwayat dan Pemikiran Imam Syafi’i
1. Sejarah Singkat
a. Nama dan Nasab
Beliau bernama Muhammad dengan kun-yah Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi‘ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau, yaitu Hasyim bin al-Muththalib.
Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di ‘Asqalan (kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana. Syafi‘, kakek dari kakek beliau, -yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau (Syafi‘i)- menurut sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar (yunior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi‘, sendiri termasuk sahabat kibar (senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah SAW. Dia termasuk dalam barisan tokoh musyrikin Quraisy dalam Perang Badar. Ketika itu dia tertawan lalu menebus sendiri dirinya dan menyatakan masuk Islam.
Para ahli sejarah dan ulama nasab serta ahli hadits bersepakat bahwa Imam Syafi‘i berasal dari keturunan Arab murni. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka akan kevalidan nasabnya tersebut dan ketersambungannya dengan nasab Nabi, kemudian mereka membantah pendapat-pendapat sekelompok orang dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah yang menyatakan bahwa Imam Syafi‘i bukanlah asli keturunan Quraisy secara nasab, tetapi hanya keturunan secara wala’ saja.
Adapun ibu beliau, terdapat perbedaan pendapat tentang jati dirinya. Beberapa pendapat mengatakan dia masih keturunan al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari kabilah Azadiyah yang memiliki kun-yah Ummu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ibu Imam Syafi‘i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan istinbath.

b. Waktu dan Tempat Kelahiran
Beliau dilahirkan pada tahun 150 H. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh al-Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah dalam bidang yang ditekuninya.
Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Akan tetapi yang termasyhur dan disepakati oleh ahli sejarah adalah kota Ghazzah (sebuah kota yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir). Tepatnya di sebelah selatan Palestina. Jaraknya dengan kota Asqalan sekitar dua farsakh. Tempat lain yang disebut-sebut adalah kota Asqalan dan Yaman.
Ibnu Hajar memberikan penjelasan bahwa riwayat-riwayat tersebut dapat digabungkan dan dikatakan bahwa beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di wilayah Asqalan. Ketika berumur dua tahun, beliau dibawa ibunya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang keturunan Yaman karena sang ibu berasal dari kabilah Azdiyah (dari Yaman). Lalu ketika berumur 10 tahun, beliau dibawa ke Mekkah, karena sang ibu khawatir nasabnya yang mulia lenyap dan terlupakan.

c. Pertumbuhan dan Pengembaraan Mencari Ilmu
Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Di sana, sang ibu mengirimnya belajar kepada seorang guru. Sebenarnya ibunya tidak mampu untuk membiayainya, tetapi sang guru ternyata rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Imam Syafi‘i bercerita, “Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Al-Quran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Al Quran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia diktekan, dia berkata kepadaku, “Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.” Dan ternyata kemudian dengan segera guru itu mengangkatnya sebagai penggantinya (mengawasi murid-murid lain) jika dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, beliau telah berubah menjadi seorang guru.
Setelah rampung menghafal Al-Qur’an di al-Kuttab, beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majelis-majelis ilmu di sana. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tidak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta untuk dipakai menulis. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi. Dan itu terjadi pada saat beliau belum lagi berusia baligh. Sampai dikatakan bahwa beliau telah menghafal Al-Qur’an pada saat berusia 7 tahun, lalu membaca dan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia 12 tahun sebelum beliau berjumpa langsung dengan Imam Malik di Madinah.
Beliau juga tertarik mempelajari ilmu bahasa Arab dan syair-syairnya. Beliau memutuskan untuk tinggal di daerah pedalaman bersama suku Hudzail yang telah terkenal kefasihan dan kemurnian bahasanya, serta syair-syair mereka. Hasilnya, sekembalinya dari sana beliau telah berhasil menguasai kefasihan mereka dan menghafal seluruh syair mereka, serta mengetahui nasab orang-orang Arab, suatu hal yang kemudian banyak dipuji oleh ahli-ahli bahasa Arab yang pernah berjumpa dengannya dan yang hidup sesudahnya. Namun, takdir Allah telah menentukan jalan lain baginya. Setelah mendapatkan nasehat dari dua orang ulama, yaitu Muslim bin Khalid az-Zanji -mufti kota Mekkah-, dan al-Husain bin ‘Ali bin Yazid agar mendalami ilmu fiqih, maka beliau pun tersentuh untuk mendalaminya dan mulailah beliau melakukan pengembaraannya mencari ilmu.
Beliau mengawalinya dengan menimbanya dari ulama-ulama kotanya, Mekkah, seperti Muslim bin Khalid, Dawud bin Abdurrahman al-‘Athar, Muhammad bin Ali bin Syafi’ –yang masih terhitung paman jauhnya-, Sufyan bin ‘Uyainah –ahli hadits Mekkah-, Abdurrahman bin Abu Bakar al-Maliki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin ‘Iyadh, dan lain-lain. Di Mekkah ini, beliau mempelajari ilmu fiqih, hadits, lughoh, dan Muwaththa’ Imam Malik. Di samping itu beliau juga mempelajari keterampilan memanah dan menunggang kuda sampai menjadi mahir sebagai realisasi pemahamannya terhadap ayat 60 surat Al-Anfal. Bahkan dikatakan bahwa dari 10 panah yang dilepasnya, 9 diantaranya pasti mengenai sasaran.
Setelah mendapat izin dari para syaikh-nya untuk berfatwa, timbul keinginannya untuk mengembara ke Madinah, Dar as-Sunnah, untuk mengambil ilmu dari para ulamanya. Terlebih lagi di sana ada Imam Malik bin Anas, penyusun al-Muwaththa’. Maka berangkatlah beliau ke sana menemui sang Imam. Di hadapan Imam Malik, beliau membaca al-Muwaththa’ yang telah dihafalnya di Mekkah, dan hafalannya itu membuat Imam Malik kagum kepadanya. Beliau menjalani mulazamah kepada Imam Malik demi mengambil ilmu darinya sampai sang Imam wafat pada tahun 179 H. Di samping Imam Malik, beliau juga mengambil ilmu dari ulama Madinah lainnya seperti Ibrahim bin Abu Yahya, ‘Abdul ‘Aziz ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Isma‘il bin Ja‘far, Ibrahim bin Sa‘d dan masih banyak lagi.
Setelah kembali ke Mekkah, beliau kemudian melanjutkan mencari ilmu ke Yaman. Di sana beliau mengambil ilmu dari Mutharrif bin Mazin dan Hisyam bin Yusuf al-Qadhi, serta yang lain. Namun, berawal dari Yaman inilah beliau mendapat cobaan –satu hal yang selalu dihadapi oleh para ulama, sebelum maupun sesudah beliau-. Di Yaman, nama beliau menjadi tenar karena sejumlah kegiatan dan kegigihannya menegakkan keadilan, dan ketenarannya itu sampai juga ke telinga penduduk Mekkah. Lalu, orang-orang yang tidak senang kepadanya akibat kegiatannya tadi mengadukannya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, mereka menuduhnya hendak mengobarkan pemberontakan bersama orang-orang dari kalangan ‘Alawiyah.
Sebagaimana dalam sejarah, Imam Syafi‘i hidup pada masa-masa awal pemerintahan Bani ‘Abbasiyah yang berhasil merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Pada masa itu, setiap khalifah dari Bani ‘Abbasiyah hampir selalu menghadapi pemberontakan orang-orang dari kalangan ‘Alawiyah. Kenyataan ini membuat mereka bersikap sangat kejam dalam memadamkan pemberontakan orang-orang ‘Alawiyah yang sebenarnya masih saudara mereka sebagai sesama Bani Hasyim. Dan hal itu menggoreskan rasa sedih yang mendalam pada kaum muslimin secara umum dan pada diri Imam Syafi‘i secara khusus. Dia melihat orang-orang dari Ahlu Bait Nabi menghadapi musibah yang mengenaskan dari penguasa. Maka berbeda dengan sikap ahli fiqih selainnya, beliaupun menampakkan secara terang-terangan rasa cintanya kepada mereka tanpa rasa takut sedikitpun, suatu sikap yang saat itu akan membuat pemiliknya merasakan kehidupan yang sangat sulit.
Sikapnya itu membuatnya dituduh sebagai orang yang bersikap tasyayyu‘, padahal sikapnya sama sekali berbeda dengan tasyasyu’ model orang-orang Syi‘ah. Bahkan Imam Syafi‘i menolak keras sikap tasyasyu’ model mereka itu yang meyakini ketidakabsahan keimaman Abu Bakar, Umar, serta ‘Utsman , dan hanya meyakini keimaman Ali, serta meyakini kemaksuman para imam mereka. Sedangkan kecintaan beliau kepada Ahlu Bait adalah kecintaan yang didasari oleh perintah-perintah yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun Hadits-hadits shahih. Dan kecintaan beliau itu ternyata tidaklah lantas membuatnya dianggap oleh orang-orang Syiah sebagai ahli fiqih madzhab mereka.
Tuduhan dusta yang diarahkan kepadanya bahwa dia hendak mengobarkan pemberontakan, membuatnya ditangkap, lalu digelandang ke Baghdad dalam keadaan dibelenggu dengan rantai bersama sejumlah orang-orang ‘Alawiyah. Beliau bersama orang-orang ‘Alawiyah itu dihadapkan ke hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid. Khalifah menyuruh bawahannya menyiapkan pedang dan hamparan kulit. Setelah memeriksa mereka seorang demi seorang, ia menyuruh pegawainya memenggal kepala mereka. Ketika sampai pada gilirannya, Imam Syafi‘i berusaha memberikan penjelasan kepada Khalifah. Dengan kecerdasan dan ketenangannya serta pembelaan dari Muhammad bin al-Hasan -ahli fiqih Irak-, beliau berhasil meyakinkan Khalifah tentang ketidakbenaran apa yang dituduhkan kepadanya. Akhirnya beliau meninggalkan majelis Harun ar-Rasyid dalam keadaan bersih dari tuduhan bersekongkol dengan ‘Alawiyah dan mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Baghdad.
Di Baghdad, beliau kembali pada kegiatan asalnya, mencari ilmu. Beliau meneliti dan mendalami madzhab Ahlu Ra’yu. Untuk itu beliau berguru dengan mulazamah kepada Muhammad bin al-Hassan. Selain itu, kepada Isma‘il bin ‘Ulayyah dan Abdul Wahhab ats-Tsaqafiy dan lain-lain. Setelah meraih ilmu dari para ulama Irak itu, beliau kembali ke Mekkah pada saat namanya mulai dikenal. Maka mulailah ia mengajar di tempat dahulu ia belajar. Ketika musim haji tiba, ribuan jamaah haji berdatangan ke Mekkah. Mereka yang telah mendengar nama beliau dan ilmunya yang mengagumkan, bersemangat mengikuti pengajarannya sampai akhirnya nama beliau makin dikenal luas. Salah satu di antara mereka adalah Imam Ahmad bin Hanbal.
Ketika kamasyhurannya sampai ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada Imam Syafi‘i memintanya untuk menulis sebuah kitab yang berisi khabar-khabar yang maqbul, penjelasan tentang nasikh dan mansukh dari ayat-ayat Al-Qur’an dan lain-lain. Maka beliau pun menulis kitabnya yang terkenal, Ar-Risalah.
Setelah lebih dari 9 tahun mengajar di Mekkah, beliau kembali melakukan perjalanan ke Irak untuk kedua kalinya dalam rangka menolong madzhab Ash-Habul Hadits di sana. Beliau mendapat sambutan meriah di Baghdad karena para ulama besar di sana telah menyebut-nyebut namanya. Dengan kedatangannya, kelompok Ash-Habul Hadits merasa mendapat angin segar karena sebelumnya mereka merasa didominasi oleh Ahlu Ra’yi. Sampai-sampai dikatakan bahwa ketika beliau datang ke Baghdad, di Masjid Jami ‘ al-Gharbi terdapat sekitar 20 halaqah Ahlu Ra ‘yu. Tetapi ketika hari Jumat tiba, yang tersisa hanya 2 atau 3 halaqah saja.
Beliau menetap di Irak selama dua tahun, kemudian pada tahun 197 H beliau balik ke Mekkah. Di sana beliau mulai menyebar madzhabnya sendiri. Maka datanglah para penuntut ilmu kepadanya meneguk dari lautan ilmunya. Tetapi beliau hanya berada setahun di Mekkah.
Tahun 198 H, beliau berangkat lagi ke Irak. Namun, beliau hanya beberapa bulan saja di sana karena telah terjadi perubahan politik. Khalifah al-Makmun telah dikuasai oleh para ulama ahli kalam, dan terjebak dalam pembahasan-pembahasan tentang ilmu kalam. Sementara Imam Syafi‘i adalah orang yang paham betul tentang ilmu kalam. Beliau tahu bagaimana pertentangan ilmu ini dengan manhaj as-salaf ash-shaleh –yang selama ini dipegangnya- di dalam memahami masalah-masalah syariat. Hal itu karena orang-orang ahli kalam menjadikan akal sebagai patokan utama dalam menghadapi setiap masalah, menjadikannya rujukan dalam memahami syariat padahal mereka tahu bahwa akal juga memiliki keterbatasan-keterbatasan. Beliau tahu betul kebencian meraka kepada ulama ahlu hadits. Karena itulah beliau menolak madzhab mereka.
Dan begitulah kenyataannya. Provokasi mereka membuat Khalifah mendatangkan banyak musibah kepada para ulama ahlu hadits. Salah satunya adalah yang dikenal sebagai Yaumul Mihnah, ketika dia mengumpulkan para ulama untuk menguji dan memaksa mereka menerima paham Al-Qur’an itu makhluk. Akibatnya, banyak ulama yang masuk penjara, bila tidak dibunuh. Salah satu di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Karena perubahan itulah, Imam Syafi‘i kemudian memutuskan pergi ke Mesir. Sebenarnya hati kecilnya menolak pergi ke sana, tetapi akhirnya ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah. Di Mesir, beliau mendapat sambutan masyarakatnya. Di sana beliau berdakwah, menebar ilmunya, dan menulis sejumlah kitab, termasuk merevisi kitabnya ar-Risalah, sampai akhirnya beliau menemui akhir kehidupannya di sana.

d. Keteguhannya Membela Sunnah
Sebagai seorang yang mengikuti manhaj Ash-Habul Hadits, beliau dalam menetapkan suatu masalah terutama masalah aqidah selalu menjadikan Al Qur’an dan Sunnah Nabi sebagai landasan dan sumber hukumnya. Beliau selalu menyebutkan dalil-dalil dari keduanya dan menjadikannya hujjah dalam menghadapi penentangnya, terutama dari kalangan ahli kalam. Beliau berkata, “Jika kalian telah mendapatkan Sunnah Nabi, maka ikutilah dan janganlah kalian berpaling mengambil pendapat yang lain.” Karena komitmennya mengikuti sunnah dan membelanya itu, beliau mendapat gelar Nashir as-Sunnah wa al-Hadits.
Terdapat banyak atsar tentang ketidaksukaan beliau kepada Ahli Ilmu Kalam, mengingat perbedaan manhaj beliau dengan mereka. Beliau berkata, “Setiap orang yang berbicara (mutakallim) dengan bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah, maka ucapannya adalah benar, tetapi jika dari selain keduanya, maka ucapannya hanyalah igauan belaka.” Imam Ahmad berkata, “Bagi Syafi‘i jika telah yakin dengan keshahihan sebuah hadits, maka dia akan menyampaikannya. Dan perilaku yang terbaik adalah dia tidak tertarik sama sekali dengan ilmu kalam, dan lebih tertarik kepada fiqih.” Imam Syafi ‘i berkata, “Tidak ada yang lebih aku benci daripada ilmu kalam dan ahlinya” Al-Mazani berkata, “Merupakan madzhab Imam Syafi‘i membenci kesibukan dalam ilmu kalam. Beliau melarang kami sibuk dalam ilmu kalam.”
Ketidaksukaan beliau sampai pada tingkat memberi fatwa bahwa hukum bagi ahli ilmu kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, lalu dinaikkan ke atas punggung unta dan digiring berkeliling diantara kabilah-kabilah dengan mengumumkan bahwa itu adalah hukuman bagi orang yang meninggalkan Al Qur’an dan Sunnah dan memilih ilmu kalam.

e. Wafat
Karena kesibukannya berdakwah dan menebar ilmu, beliau menderita penyakit bawasir yang selalu mengeluarkan darah. Makin lama penyakitnya itu bertambah parah hingga akhirnya beliau wafat karenanya. Beliau wafat pada malam Jumat setelah shalat Isya’ hari terakhir bulan Rajab permulaan tahun 204 H dalam usia 54 tahun. Semoga Allah memberikan kepadanya rahmat-Nya yang luas.
Ar-Rabi menyampaikan bahwa dia bermimpi melihat Imam Syafi‘i, sesudah wafatnya. Dia berkata kepada beliau, “Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu, wahai Abu Abdillah ?” Beliau menjawab, “Allah mendudukkan aku di atas sebuah kursi emas dan menaburkan pada diriku mutiara-mutiara yang halus”

f. Karangan & Peninggalan
Sekalipun beliau hanya hidup selama setengah abad dan kesibukannya melakukan perjalanan jauh untuk mencari ilmu, hal itu tidaklah menghalanginya untuk menulis banyak kitab. Jumlahnya menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 bagian, sedangkan menurut al-Marwaziy mencapai 113 kitab tentang tafsir, fiqih, adab dan lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam al-Fahrasat.
Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah al-‘Umm, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah, dan ar-Risalah al-Jadidah (yang telah direvisinya) mengenai Al Qur’an dan As-Sunnah serta kedudukannya dalam syariat.
Imam Syafi'i terkenal sebagai perumus pertama metodologi hukum Islam. Ushul fiqh (atau metodologi hukum Islam), yang tidak dikenal pada masa Nabi dan sahabat, baru lahir setelah Imam Syafi'i menulis Ar-Risalah. Madzhab Syafi'i umumnya dianggap sebagai mazhab yang paling konservatif diantara madzhab-madzhab fiqh Sunni lainnya. Dari madzhab ini berbagai ilmu ke-Islam-an telah bersemi berkat dorongan metodologi hukum Islam yang dikembangkan para pendukungnya.
Karena metodologinya yang sistematis dan tingginya tingkat ketelitian yang dituntut oleh Madzhab Syafi'i, terdapat banyak sekali ulama dan penguasa di dunia Islam yang menjadi pendukung setia madzhab ini. Diantara mereka bahkan ada pula yang menjadi pakar terhadap keseluruhan madzhab-madzhab Sunni di bidang mereka masing-masing. Saat ini, Madzhab Syafi'i diperkirakan diikuti oleh 28% umat Islam sedunia, dan merupakan madzhab terbesar kedua dalam hal jumlah pengikut setelah Madzhab Hanafi.
Penyebarluasan pemikiran Madzhab Syafi'i berbeda dengan Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki, yang banyak dipengaruhi oleh kekuasaan kekhalifahan. Pokok pikiran dan prinsip dasar Madzhab Syafi'i terutama disebar-luaskan dan dikembangkan oleh para muridnya. Murid-murid utama Imam Syafi'i di Mesir, yang menyebar-luaskan dan mengembangkan Madzhab Syafi'i pada awalnya adalah Yusuf bin Yahya al-Buwaiti (w. 846), Abi Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani (w. 878), Ar-Rabi bin Sulaiman al-Marawi (w. 884).
Imam Ahmad bin Hanbal yang terkenal sebagai ulama hadits terkemuka dan pendiri fiqh Madzhab Hambali, juga pernah belajar kepada Imam Syafi'i. Selain itu, masih banyak ulama-ulama yang terkemudian yang mengikuti dan turut menyebarkan Madzhab Syafi'i, antara lain: Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasa'i, Imam Baihaqi, Imam Turmudzi, Imam Ibnu Majah, Imam Tabari, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Abu Daud, Imam Nawawi, Imam as-Suyuti, Imam Ibnu Katsir, Imam adz-Dzahabi, Imam al-Hakim.

2. Pemikiran dalam Ushul Fiqih
Pemikiran fiqh madzhab ini diawali oleh Imam Syafi'i, yang hidup di zaman pertentangan antara aliran Ahlul Hadits (cenderung berpegang pada teks hadist) dan Ahlur Ra'yi (cenderung berpegang pada akal pikiran atau ijtihad). Imam Syafi'i belajar kepada Imam Malik sebagai tokoh Ahlul Hadits, dan Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani sebagai tokoh Ahlur Ra'yi yang juga murid Imam Abu Hanifah. Imam Syafi'i kemudian merumuskan aliran atau madzhabnya sendiri, yang dapat dikatakan berada diantara kedua kelompok tersebut. Imam Syafi'i menolak istihsan dari Imam Abu Hanifah maupun mashalih mursalah dari Imam Malik. Namun demikian Madzhab Syafi'i menerima penggunaan qiyas secara lebih luas ketimbang Imam Malik. Meskipun berbeda dari kedua aliran utama tersebut, keunggulan Imam Syafi'i sebagai ulama fiqh, ushul fiqh, dan hadits di zamannya membuat madzhabnya memperoleh banyak pengikut; dan kealimannya diakui oleh berbagai ulama yang hidup sezaman dengannya.
Salah satu karangannya adalah “Ar-Risalah” buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al-Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Beliau mampu memadukan fiqh ahli ra’yi dan fiqh ahli hadits .
Dasar madzhabnya adalah Al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Beliau tidak mengambil perkataan sahabat karena dianggap sebagai ijtihad yang bisa salah. Beliau juga tidak mengambil istihsan sebagai dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah dan perbuatan penduduk Madinah. Imam Syafi’i mengatakan, ”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat.” Penduduk Baghdad mengatakan,”Imam Syafi’i adalah nashirussunnah.”
Kitab “Al-Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al-Karabisyi dari Imam Syafi’i. Sementara kitab “Al-Umm” sebagai madzhab yang baru yang diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al-Muzani, Al-Buwaithi, Ar-Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya,”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka ia adalah madzhabku, dan buanglah perkataanku di belakang tembok.”
Dalam memandang hukum Imam Syafi’i menentukan patokan-patokan sebagai berikut :
a) Kitabullah
b) Sunnah mutawatir
c) Ijma’
d) Sunnah shokhihah (khabar ahad)
e) Qiyas
f) Istisjhab (berpegang keadaan hukum semula)

Menurut Kitabullah dan Sunnah yang mutawatir, maka Imam Syafi’i memandang bahwa ijma’ lebih utama daripada khabar ahad dan dzahir hadits. Imam Syafi’i didalam menerima sunnah hanya sunnah yang sanadnya muttashil (tidak terputus) dan shoheh. Oleh karena itu Imam Syafi’i ini menolak hadits mursal. Imam Syafi’i mendahulukan khabar ahad atau qiyas. Beliau memandang bahwa qiyas itu hujjah, tetapi dengan syarat-syarat yang berat. Diatas pandangan Imam Syafi’i ini kiranya tidaklah ganjil jika beliau menolak istikhsan dan mashalikhul mursalah sebagaimana beliau memandang bahwa Qaul Shahaby (fatwa salah seorang sahabat) dan amal perbuatan penduduk Madinah tidak dapat dijadikan hujjah.
Imam Syafi’i menjadi masyhur karena didukung oleh Ulama’ Hadits yang menamakan Nashirus Sunnah yakni pembela sunnah Rasul. Untuk lebih jelasnya baik saya nukilkan disini ucapan Imam Syafi’i sendiri berkenaan dengan sistem ijtihad yang dipergunakan sebagai tersebut di dalam kitab Al-‘Um :
“Dalil adalah Al Qur’an dan Sunnah. Jika tidak terdapat di dalam Al Qur’an dan Sunnah, maka yang dijadikan dalil ialah mengqiyaskan Al Qur’an dan As Sunnah. Kalau silsilah hadits sampai kepada Nabi dengan tidak terputuskan dan sanadnya shoheh, maka itulah batas yang dituju. Ijma’ selaku dalil lebih kuat daripada khabar ahad dan dzohir hadits. Kalau sesuatu hadits mengandung banyak arti, maka arti yang lebih mirip kepada dzohir hadits itulah arti yang lebih aula dengan hadits itu. Kalau hadits-hadits itu sejajar tingkatannya, maka yang paling shohih sanadnya, itulah yang lebih aula. Hadits munqothi’ (putus sanadnya) tidak dapat dijadikan dalil kecuali diriwayatkan oleh Ibnu Musayyab. Sesuatu pokok tidak dapat diqiyaskan kepada pokok yang lain dan terhadap pokok tidak dapat dikatakan; mengapa dan bagaimana? ; tetapi hanyalah dapat dikatakan terhadap cabang; mengapa ? ; dan jika benar mengqiyaskan cabang kepada pokok, maka menjadi shahlah qiyas itu dan dipandang Hujjah.”

Dasar-dasar Mazhab Syafi'i dapat dilihat dalam kitab ushul fiqh Ar-Risalah dan kitab fiqh al-‘Umm. Di dalam buku-buku tersebut Imam Syafi'i menjelaskan kerangka dan prinsip mazhabnya serta beberapa contoh merumuskan hukum far'iyyah (yang bersifat cabang). Dasar-dasar mazhab yang pokok ialah berpegang pada hal-hal berikut :
a) Al-Quran, tafsir secara lahiriah, selama tidak ada yang menegaskan bahwa yang dimaksud bukan arti lahiriahnya. Imam Syafi'i pertama sekali selalu mencari alasannya dari Al-Qur'an dalam menetapkan hukum Islam.
b) Sunnah dari Rasulullah SAW kemudian digunakan jika tidak ditemukan rujukan dari Al-Quran. Imam Syafi'i sangat kuat pembelaannya terhadap sunnah sehingga dijuluki Nashir As-Sunnah (pembela Sunnah Nabi).
c) Ijma' atau kesepakatan para Sahabat Nabi, yang tidak terdapat perbedaan pendapat dalam suatu masalah. Ijma' yang diterima Imam Syafi'i sebagai landasan hukum adalah ijma' para sahabat, bukan kesepakatan seluruh mujtahid pada masa tertentu terhadap suatu hukum; karena menurutnya hal seperti ini tidak mungkin terjadi.
d) Qiyas yang dalam Ar-Risalah disebut sebagai ijtihad, apabila dalam ijma' tidak juga ditemukan hukumnya. Akan tetapi Imam Syafi'i menolak dasar istihsan dan istislah sebagai salah satu cara menetapkan hukum Islam.
Di sisi lain sifat kemoderatannya tercermin dalam term Qaul Qadim dan Qaul Jadid. Dimana dikemukakan bahwa Imam Syafi'i pada awalnya pernah tinggal menetap di Baghdad. Selama tinggal di sana ia mengeluarkan ijtihad-ijtihadnya, yang biasa disebut dengan istilah Qaul Qadim (pendapat yang lama). Ketika kemudian pindah ke Mesir karena munculnya aliran Mu’tazilah yang telah berhasil mempengaruhi kekhalifahan, ia melihat kenyataan dan masalah yang berbeda dengan yang sebelumnya ditemui di Baghdad. Ia kemudian mengeluarkan ijtihad-ijtihad baru yang berbeda, yang biasa disebut dengan istilah Qaul Jadid (pendapat yang baru).
Imam Syafi'i berpendapat bahwa tidak semua qaul jadid menghapus qaul qadim. Jika tidak ditegaskan penggantiannya dan terdapat kondisi yang cocok, baik dengan qaul qadim ataupun dengan qaul jadid, maka dapat digunakan salah satunya. Dengan demikian terdapat beberapa keadaan yang memungkinkan kedua qaul tersebut dapat digunakan, dan keduanya tetap dianggap berlaku oleh para pemegang Madzhab Syafi'i. Dari kilasan ini selanjutnya secara umum Madzhab Syafi’i terdiri dari dua macam; hal ini berdasarkan atas masa dan tempat beliau mukim. Yang pertama ialah qaul qadim, yaitu madzhab yang dibentuk sewaktu hidup di Irak. Dan kedua qaul jadid, yakni madzhab yang dibentuk beliau hidup di Mesir pindah dari Irak.
Keistimewaan beliau dibanding dengan Imam Mujtahidin lainnya adalah bahwa beliau merupakan peletak batu pertama ilmu ushul fiqih dengan kitab Ar Risalah. Dalam hal ini, Al Fakhru Raazi berkata :
“Nisbat Imam Syafi’i kepada ilmu ushul fiqih seperti nisbat Aristoteles atas ilmu mantiq (filsafat) dan seperti nisbatnya Al Khaliil bin Ahmad atas ilmu “Arudl. Demikianlah keadaan manusia sebelum Imam Syafi’i mereka banyak membicarakan ushul fiqih dan mereka beristidlal dan mengi’tiradl tanpa peraturan (patokan) yang mengetahui dalil-dalil syariat.”
Berdasarkan uraian di atas penulis memberikan suatu simpulan bahwa pola pemikiran Imam Syafi’i antara lain menyangkut aspek, pertama, pembatasan hukum dibatasi pada urusan yang benar-benar terjadi dan kedua, terdapat perbedaan antara pendapat Syafi’i sendiri yaitu Qoul Qodim (Irak) dan Qoul Jadid (Mesir). Perbedaan inilah yang membuat fiqh Syafi’i menjadi hidup berkembang.

C. Riwayat dan Pemikiran Imam Hanafi
1. Sejarah Singkat
a. Nama dan Nasab
Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit al-Kufiy merupakan orang yang faqih di negeri Irak, salah satu imam dari kaum muslimin, pemimpin orang-orang alim, salah seorang yang mulia dari kalangan ulama dan salah satu imam dari empat imam yang memiliki madzhab. Dalam dunia Islam, beliau dikenal dengan nama Imam Hanafi.
Beliau adalah Abu Hanifah An-Nu’man Taimillah bin Tsa’labah. Beliau berasal dari keturunan bangsa Persi. Beliau dilahirkan pada tahun 80 H pada masa shigharus shahabah dan para ulama berselisih pendapat tentang tempat kelahiran Abu Hanifah. Menurut penuturan anaknya Hamad bin Abu Hadifah bahwa Zuthi berasal dari kota Kabul dan dia terlahir dalam keadaan Islam. Adapula yang mengatakan dari Anbar, yang lainnya mengatakan dari Turmudz dan yang lainnya lagi mengatakan dari Babilonia.

b. Perkembangan
Ismail bin Hamad bin Abu Hanifah cucunya menuturkan bahwa dahulu Tsabit ayah Abu Hanifah pergi mengunjungi Ali Bin Abi Thalib, lantas Ali mendoakan keberkahan kepadanya pada dirinya dan keluarganya, sedangkan dia pada waktu itu masih kecil, dan kami berharap Allah SWT mengabulkan doa Ali tersebut untuk kami. Dan Abu Hanifah At-Taimi biasa ikut rombongan pedagang minyak dan kain sutera, bahkan dia punya toko untuk berdagang kain yang berada di rumah Amr bin Harits.
Abu Hanifah itu tinggi badannya sedang, memiliki postur tubuh yang bagus, jelas dalam berbicara, suaranya bagus dan enak didengar, bagus wajahnya, bagus pakaiannya dan selalu memakai minyak wangi, bagus dalam bermajelis, sangat kasih sayang, bagus dalam pergaulan bersama rekan-rekannya, disegani dan tidak membicarakan hal-hal yang tidak berguna.
Beliau disibukkan dengan mencari atsar/ hadits dan juga melakukan rihlah untuk mencari hal itu. Dan beliau ahli dalam bidang fiqih, mempunyai kecermatan dalam berpendapat, dan dalam permasalahan-permasalahan yang samar/ sulit maka kepada beliau akhir penyelesaiannya.
Beliau sempat bertemu dengan Anas bin Malik tatkala datang ke Kufah dan belajar kepadanya, beliau juga belajar dan meriwayat dari ulama lain seperti Atha’ bin Abi Rabbah yang merupakan syaikh besarnya, Asy-Sya’bi, Adi bin Tsabit, Abdurrahman bin Hurmuj al-A’raj, Amru bin Dinar, Thalhah bin Nafi’, Nafi’ Maula Ibnu Umar, Qotadah bin Di’amah, Qois bin Muslim, Abdullah bin Dinar, Hamad bin Abi Sulaiman guru fiqihnya, Abu Ja’far Al-Baqir, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Muhammad bin Munkandar, dan masih banyak lagi. Dan ada yang meriwayatkan bahwa beliau sempat bertemu dengan 7 sahabat.
Beliau pernah bercerita, tatkala pergi ke kota Bashrah, saya optimis kalau ada orang yang bertanya kepadaku tentang sesuatu apapun saya akan menjawabnya, maka tatkala diantara mereka ada yang bertanya kepadaku tentang suatu masalah lantas saya tidak mempunyai jawabannya, maka aku memutuskan untuk tidak berpisah dengan Hamad sampai dia meninggal, maka saya bersamanya selama 10 tahun.
Pada masa pemerintahan Marwan salah seorang raja dari Bani Umayyah di Kufah, beliau didatangi Hubairoh salah satu anak buah raja Marwan meminta Abu Hanifah agar menjadi Qodhi (hakim) di Kufah akan tetapi beliau menolak permintaan tersebut, maka beliau dihukum cambuk sebanyak 110 kali (setiap harinya dicambuk 10 kali), tatkala dia mengetahui keteguhan Abu Hanifah maka dia melepaskannya.
Adapun orang-orang yang belajar kepadanya dan meriwayatkan darinya diantaranya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Abul Hajaj di dalam Tahdzibnya berdasarkan abjad diantaranya Ibrahim bin Thahman seorang alim dari Khurasan, Abyadh bin Al-Aghar bin Ash-Shabah, Ishaq al-Azroq, Asar bin Amru Al-Bajali, Ismail bin Yahya Al-Sirafi, Al-Harits bin Nahban, Al-Hasan bin Ziyad, Hafsh binn Abdurrahman al-Qadhi, Hamad bin Abu Hanifah, Hamzah temannya penjual minyak wangi, Dawud Ath-Thai, Sulaiman bin Amr An-Nakhai, Su’aib bin Ishaq, Abdullah ibnul Mubarok, Abdul Aziz bin Khalid at-Turmudzi, Abdul karim bin Muhammad al-Jurjani, Abdullah bin Zubair al-Qurasy, Ali bin Zhibyan al-Qodhi, Ali bin Ashim, Isa bin Yunus, Abu Nu’aim, Al-Fadhl bin Musa, Muhammad bin Bisyr, Muhammad bin Hasan Assaibani, Muhammad bin Abdullah al-Anshari, Muhammad bin Qoshim al-Asadi, Nu’man bin Abdus Salam al-Asbahani, Waki’ bin Al-Jarah, Yahya bin Ayub Al-Mishri, Yazid bin Harun, Abu Syihab Al-Hanath Assamaqondi, Al-Qodhi Abu Yusuf, dan lain-lain.
c. Penilaian Ulama terhadap Imam Hanafi
Berikut ini beberapa penilaian para ulama tentang Abu Hanifah, diantaranya :
1) Yahya bin Ma’in berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang tsiqoh, dia tidak membicarakan hadits kecuali yang dia hafal dan tidak membicarakan apa-apa yang tidak hafal”. Dan dalam waktu yang lain beliau berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang tsiqoh di dalam hadits”. Dan dia juga berkata, “Abu Hanifah laa ba’sa bih, dia tidak berdusta, orang yang jujur, tidak tertuduh dengan berdusta”.
2) Abdullah ibnul Mubarok berkata, “Kalaulah Allah SWT tidak menolong saya melalui Abu Hanifah dan Sufyan Ats-Tsauri maka saya hanya akan seperti orang biasa”. Dan beliau juga berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang paling faqih”. Dan beliau juga pernah berkata, “Aku berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri, ‘Wahai Abu Abdillah, orang yang paling jauh dari perbuatan ghibah adalah Abu Hanifah, saya tidak pernah mendengar beliau berbuat ghibah meskipun kepada musuhnya’ kemudian beliau menimpali ‘Demi Allah, dia adalah orang yang paling berakal, dia tidak menghilangkan kebaikannya dengan perbuatan ghibah’.” Beliau juga berkata, “Aku datang ke kota Kufah, aku bertanya siapakah orang yang paling wara’ di kota Kufah? Maka mereka penduduk Kufah menjawab Abu Hanifah”. Beliau juga berkata, “Apabila atsar telah diketahui, dan masih membutuhkan pendapat, kemudian imam Malik berpendapat, Sufyan berpendapat dan Abu Hanifah berpendapat maka yang paling bagus pendapatnya adalah Abu Hanifah … dan dia orang yang paling faqih dari ketiganya”.
3) Al-Qodhi Abu Yusuf berkata, “Abu Hanifah berkata, tidak selayaknya bagi seseorang berbicara tentang hadits kecuali apa-apa yang dia hafal sebagaimana dia mendengarnya”. Beliau juga berkata, “Saya tidak melihat seseorang yang lebih tahu tentang tafsir hadits dan tempat-tempat pengambilan fiqih hadits dari Abu Hanifah”.
4) Imam Syafii berkata, “Barangsiapa ingin mutabahir (memiliki ilmu seluas lautan) dalam masalah fiqih hendaklah dia belajar kepada Abu Hanifah”
5) Fudhail bin Iyadh berkata, “Abu Hanifah adalah seorang yang faqih, terkenal dengan wara’-nya, termasuk salah seorang hartawan, sabar dalam belajar dan mengajarkan ilmu, sedikit bicara, menunjukkan kebenaran dengan cara yang baik, menghindari dari harta penguasa”. Qois bin Rabi’ juga mengatakan hal serupa dengan perkataan Fudhail bin Iyadh.
6) Yahya bin Sa’id al-Qothan berkata, “Kami tidak mendustakan Allah SWT, tidaklah kami mendengar pendapat yang lebih baik dari pendapat Abu Hanifah, dan sungguh banyak mengambil pendapatnya”.
7) Hafsh bin Ghiyats berkata, “Pendapat Abu Hanifah di dalam masalah fiqih lebih mendalam dari pada syair, dan tidaklah mencelanya melainkan dia itu orang yang jahil tentangnya”.
8) Al-Khuroibi berkata, “Tidaklah orang itu mencela Abu Hanifah melainkan dia itu orang yang pendengki atau orang yang jahil”.
9) Sufyan bin Uyainah berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Hanifah karena dia adalah termasuk orang yang menjaga shalatnya (banyak melakukan shalat)”.
d. Beberapa Nasehat
Beliau adalah termasuk imam yang pertama-tama berpendapat wajibnya mengikuti Sunnah dan meninggalkan pendapat-pendapatnya yang menyelisihi sunnah. Dan sungguh telah diriwayatkan dari Abu Hanifah oleh para sahabatnya pendapat-pendapat yang jitu dan dengan ibarat yang berbeda-beda, yang semuanya itu menunjukkan pada sesuatu yang satu, yaitu wajibnya mengambil hadits dan meninggalkan taqlid terhadap pendapat para imam yang menyelisihi hadits. Diantara nasehat-nasehat beliau adalah:
1) Apabila telah shahih sebuah hadits maka hadits tersebut menjadi madzhabku.
Berkata Syaikh Nashirudin Al-Albani, “Ini merupakan kesempurnaan ilmu dan ketaqwaan para imam. Dan para imam telah memberi isyarat bahwa mereka tidak mampu untuk menguasai, meliput sunnah/ hadits secara keseluruhan”. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syafii, “maka terkadang diantara para imam ada yang menyelisihi sunnah yang belum atau tidak sampai kepada mereka, maka mereka memerintahkan kepada kita untuk berpegang teguh dengan sunnah dan menjadikan sunah tersebut termasuk madzhab mereka semuanya”.
2) Tidak halal bagi seseorang untuk mengambil/ memakai pendapat kami selama dia tidak mengetahui dari dalil mana kami mengambil pendapat tersebut. Dalam riwayat lain, haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku, dia berfatwa dengan pendapatku. Dan dalam riawyat lain, sesungguhnya kami adalah manusia biasa, kami berpendapat pada hari ini, dan kami ruju’ (membatalkan) pendapat tersebut pada pagi harinya. Dan dalam riwayat lain, Celaka engkau wahai Ya’qub (Abu Yusuf), janganlah engkau catat semua apa-apa yang kamu dengar dariku, maka sesungguhnya aku berpendapat pada hari ini dengan suatu pendapat dan aku tinggalkan pendapat itu besok, besok aku berpendapat dengan suatu pendapat dan aku tinggalkan pendapat tersebut hari berikutnya.
Syaikh Al-Albani berkata, “Maka apabila demikian perkataan para imam terhadap orang yang tidak mengetahui dalil mereka. maka ketahuilah! Apakah perkataan mereka terhadap orang yang mengetahui dalil yang menyelisihi pendapat mereka, kemudian dia berfatwa dengan pendapat yang menyelisishi dalil tersebut? maka camkanlah kalimat ini! Dan perkataan ini saja cukup untuk memusnahkan taqlid buta, untuk itulah sebaigan orang dari para masyayikh yang diikuti mengingkari penisbahan kepada Abu Hanifah tatkala mereka mengingkari fatwanya dengan berkata “Abu Hanifah tidak tahu dalil”!.
Berkata Asy-Sya’roni dalam kitabnya Al-Mizan 1/62 yang ringkasnya sebagai berikut, “Keyakinan kami dan keyakinan setiap orang yang pertengahan (tidak memihak) terhadap Abu Hanifah, bahwa seandainya dia hidup sampai dengan dituliskannya ilmu Syariat, setelah para penghafal hadits mengumpulkan hadits-haditsnya dari seluruh pelosok penjuru dunia maka Abu Hanifah akan mengambil hadits-hadits tersebut dan meninggalkan semua pendapatnya dengan cara qiyas, itupun hanya sedikit dalam madzhabnya sebagaimana hal itu juga sedikit pada madzhab-madzhab lainnya dengan penisbahan kepadanya. Akan tetapi dalil-dalil syari terpisah-pesah pada zamannya dan juga pada zaman tabi’in dan atbaut tabiin masih terpencar-pencar disana-sini. Maka banyak terjadi qiyas pada madzhabnya secara darurat kalau dibanding dengan para ulama lainnya, karena tidak ada nash dalam permasalahan-permasalahan yang diqiyaskan tersebut. berbeda dengan para imam yang lainnya, …”. Kemudian syaikh Al-Albani mengomentari pernyataan tersebut dengan perkataannya, “Maka apabila demikian halnya, hal itu merupakan udzur bagi Abu Hanifah tatkala dia menyelisihi hadits-hadits yang shahih tanpa dia sengaja – dan ini merupakan udzur yang diterima, karena Allah tidak membebani manusia yang tidak dimampuinya -, maka tidak boleh mencela padanya sebagaimana yang dilakukan sebagian orang jahil, bahkan wajib beradab dengannya karena dia merupakan salah satu imam dari imam-imam kaum muslimin yang dengan mereka terjaga agama ini.”
3) Apabila saya mengatakan sebuah pendapat yang menyelisihi kitab Allah dan hadits Rasulullah yang shahih, maka tinggalkan perkataanku.


e. Wafat
Pada zaman kerajaan Bani Abbasiyah tepatnya pada masa pemerintahan Abu Ja’far Al-Manshur yaitu raja yang ke-2, Abu Hanifah dipanggil kehadapannya untuk diminta menjadi qodhi (hakim), akan tetapi beliau menolak permintaan raja tersebut – karena Abu Hanifah hendak menjauhi harta dan kedudukan dari sultan (raja) – maka dia ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara dan wafat dalam penjara.
Dan beliau wafat pada bulan Rajab pada tahun 150 H dengan usia 70 tahun, dan dia dishalatkan banyak orang bahkan ada yang meriwayatkan dishalatkan sampai 6 kloter.

2. Pemikiran dalam Ushul Fiqih
Madzhab Hanafi ialah salah satu madzhab fiqh dalam Islam Sunni. Madzhab ini didirikan oleh Imam Hanafi, dan terkenal sebagai madzhab yang paling terbuka kepada idea modern. Madzhab ini diamalkan terutama sekali di kalangan orang Islam Sunni Mesir, Turki, anak-benua India, Tiongkok dan sebagian Afrika Barat, walaupun pelajar Islam seluruh dunia belajar dan melihat pendapatnya mengenai amalan Islam. Madzhab Hanafi merupakan mazhab terbesar dengan 30% pengikut. Kehadiran madzhab-madzhab ini mungkin tidak bisa dilihat sebagai perbedaan mutlak seperti dalam agama Kristen (Protestan dan Katolik) dan beberapa agama lain. Sebaliknya ini merupakan perbedaan melalui pendapat logika dan ide dalam memahami Islam. Perkara pokok seperti akidah atau tauhid masih sama dan tidak berubah.
Madzhab Al-Hanafiyah sebagaimana dipatok oleh pendirinya, sangat dikenal sebagai terdepan dalam masalah pemanfaatan akal/ logika dalam mengupas masalah fiqih. Oleh para pengamat dianalisa bahwa diantara latar belakangnya adalah :
1. Karena beliau sangat berhati-hati dalam menerima sebuah hadits. Bila beliau tidak terlalu yakin atas keshahihah suatu hadits, maka beliau lebih memilih untuk tidak menggunakannya. Dan sebagai gantinya, beliau menemukan begitu banyak formula seperti mengqiyaskan suatu masalah dengan masalah lain yang punya dalil nash syar’i.
2. Kurang tersedianya hadits yang sudah diseleksi keshahihannya di tempat di mana beliau tinggal. Sebaliknya, begitu banyak hadits palsu, lemah dan bermasalah yang beredar di masa beliau. Perlu diketahui bahwa beliau hidup di masa 100 tahun pertama semenjak wafat nabi SAW, jauh sebelum era imam Al-Bukhari dan Imam Muslim yang terkenal sebagai ahli peneliti hadits.
Di kemudian hari, metodologi yang beliau perkenalkan memang sangat berguna buat umat Islam sedunia. Apalagi mengingat Islam mengalami perluasan yang sangat jauh ke seluruh penjuru dunia. Memasuki wilayah yang jauh dari pusat sumber syariah Islam. Metodologi madzhab ini menjadi sangat menentukan dalam dunia fiqih di berbagai negeri.
Dalil hukum Islam menurut Hanafi :
a) Qiraat Syazzah (bacaan Qur’an yang tidak mutawatir), adalah hujjah yakni dapat dijadikan dalil
b) Dalalah lafadz umum statusnya qath’i selama belum ditaksiskan
c) Larangan tidak mengakibatkan batalnya pekerjaan yang dilarang
d) Mafhum mukhalafah tidak dipandang sebagai hujjah
e) Mutlak dan muqayyad yang berbeda sebab hukumnya maing-masing mempunyai dalalah tersediri
Demikianlah yang berhubungan dengan lafadz ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Dan Sunnah dianggap hujjah manakala :
a) Diriwayatkan oleh Jama’ah dari Jama’ah (mutawatir)
b) Telah diamalkan oleh ahli fiqih yang kenamaan
c) Atau telah diriwayatkan oleh salah seorang sahabat di hadapan segolongan dari sahabat, sedangkan tidak seorangpun dari kalangan mereka yang menyanggahnya, hal mana berarti pembenaran/ pengakuan mereka yang seolah-olah turut meriwayatkan hadits tersebut
d) Khabar ahad yang dirawikan oleh seorang dapat dipandang sebagai hujjah, jika rawinya seorang ahli fiqih
e) Membuka pintu qiyas seluas-luasnya
f) Memandang istikhsan salah satu dalil yang mu’tabar sesudah Kitabullah, Sunnah Rasul, Ijma’ dan Qiyas. Oleh karena itu Abu Hanifah membuat syarat-syarat yang berat tentang menerima riwayat hadits sebagaimana kalangan madzhab ra’yi, maka itulah sebabnya beliau membuka pintu qiyas secara luas dan memandang istikhsan sebagai dalil untuk mengeluarkan hukum syar’i
Adapun pola pemikiran Imam Hanafi sebagaimana diungkap para ahli adalah :
a) Fatwa-fatwanya hampir seluruhnya berlandaskan hadits, atsar, pendapat tabi’in atau pendapat fuqoha dahulu yang terkenal dalam ilmu hadits.
b) Hadits sunnah atsar disebut mutarodi
c) Mutarodi (banyak kata satu arti).
d) Keterikatan beliau kepada hadits, atsar, tidak berarti fiqh beliau sangat sempit atau tidak dapat disesuaikan dengan masyarakat.
e) Menjauhi masalah-masalah fardiyah (hal-hal yang belum terjadi), beliau tidak suka berfatwa kecuali pada perkara-perkara yang telah terjadi nyata.
f) Orientasi pada maslahat dijadikan pengembangan fatwa-fatwa hukum.
Sedangkan pendapat lain mengatkan pola pemilihan Imam Hanafi dalam mengambil fatwa suatu permaslahan hokum adalah:
a) Kelapangan atau kemudahan dalam pengamatan ibadah terutama dalam pengamalan ibadah muamalah.
Contah : boleh mengeluarkan zakat harta dengan uang.
b) Dalam keputusan fatwanya lebih memperhatikan kepentingan orang-orang miskin dan golongan yang lemah.
c) Menghormati hak kebebasan sebagai seorang manusia.
d) Diwarnai dengan masalah-masalah fardiyah (hal-hal yang belum terjadi).
Berdasarkan beberapa kajian dari sejawaran Islam dapat penulis simpulkan bahwa faktor pemikiran Imam Hanafi dipengaruhi oleh factor, pertama beliau menyaksikan langsung pengalihan kekuasaan dari Bani Umayyah ke Bani Abbasiyah, dan kedua beliau giat ikut serta diskusi ulama kebanyakan membahas ilmu alam dan qooho serta keimanan.
Dalam pendapat lain disebutkan bahwa dalam menetapkan hukum suatu peristiwa, Abu Hanifah berpegang teguh kepada Al Kitab, As Sunnah, Al Ijma’, Al Qiyas dan Al Istihsan. Dan dalam satu riwayat dikatakan bahwa beliau memakai juga fatwa sahabat dan urf. Hal ini sesuai dengan penuturan Hanafi M.A sebagai berikut : “… jadi madzhab Hanafi memakai Quran, Hadits, Fatwa sahabat”. Berdasarkan riwayat lain, ia memakai juga ijma’, qiyas, istihsan, (maslahat mursalah) dan urf, seperti yang dapat kita lihat dalam pembicaraan-pembicaraan hukum dalam madzhab Hanafi. Dalam menjelaskan dasar-dasar madzhabnya Abu Hanifah berkata sebagai berikut :
“Aku berpegang dengan Kitabullah. Jika tidak aku dapatkan (dalam Kitabullah) maka aku berpegang kepada Sunnah Rasul SAW. Dan jika aku tidak mendapatkannya dalam Kiatabullah dan Sunnah Rasul, maka aku berpegang kepada perkataan para sahabatnya. Maka jikalau perkara itu sudah sampai kepada Ibrahim An Nakha’i, Asy Sya’bi, Ibnu Sirin, Al Hasan, Atha dan Sa;id bin Musyayyab…. Mereka kesemuanya berijtihad, maka akupun berijtihadlah sebagaimana mereka berijtihad.”
Dalam menjabarkan kata-kata Abu Hanifah tersebut, Muhammad Abu Zahrah dalam kitabnya Tarikh al Mazzahibil Islaamiyyah selanjutnya memperinci dasar-dasar madzhab Hanafi ini, bahwa jalan yang ditempuh beliau dalam menetapkan hokum fiqih terdiri dari tujuh pokok, yaitu Al Kitab, As-Sunnah, perkataaan para sahabat, Al Qiyas, AL Istihsan, Ijma’ dan ‘Uruf.






BAB III
PENUTUP


Demikian sekilas tentang riwayat dan pemikiran yang berkembang antara madzhab Syafi’i dan Hanafi. Berdasarkan pola-pola dan model-model pemikiran yang berbeda madzhab tersebut dapat kita peroleh beberapa hikmah perbedaan madzhab, yakni menghargai perbedaan pendapat pada kalangan masyarakat, perbedaan pendapat itu adalah rahmat bagi umat Muhammad SAW sebagai Hadits Rasul dan menambah ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam.
Dalam menghadapi masalah fiqhiyah, penulis berpendapat bahwa untuk masa sekarang ini, sudah saatnya para ulama mengadakan penataan kembali hokum (fiqih) Islam, yakni perlu diadakan penyaringan terhadap hokum-hukum fiqih yang sudah tersusun dalam kitab-kitab yang memuat pendapat-pendapat para mujtahid empat atau lainnya. Para ulama mujtahid telah berijtihad mengenai sesuatu masalah dengan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi mereka dewasa itu, yang waktu itu keadaannya belum sekompleks sekarang ini. Masa terus berjalan menuju ke arah yang lebih sempurna, situasi dan kondisipun berubah terus. Fiqih Islam sudah tentu tidak seluruhnya cocok dengan situasi dan kondisi dewasa ini. Terutama yang menyangkut kehidupan social yang selalu berubah dari masa ke masa.
Wallahu ‘alam.





DAFTAR PUSTAKA

Abu Zahrah, Muhammad. 2005. Imam Syafi'i: Biografi dan Pemikirannya dalam Masalah Akidah, Politik & Fiqih. Penerjamah: Abdul Syukur dan Ahmad Rivai Uthman, Penyunting: Ahmad Hamid Alatas, Cet.2. Jakarta : Lentera.
Al Imam Al Bukhari. tanpa tahun. Terjemah Hadits Shahih Bukhari. Penerjemah: Umairul Ahbab Baiquni dan Ahmad Sunarto. Bandung: Penerbit Husaini Bandung.
Al-Qaththan, Syaikh Manna'. 2006. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur'an. Penerjemah: H. Aunur Rafiq El-Mazni, Lc., MA., Penyunting: Abduh Zulfidar Akaha, Lc., Cet.1. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar.
Bahri, Malik. 1996. Pengantar Perbandingan Madzhab. Surabaya : Pustaka Hidayah.
Hasan, Subari. 1991. Perbandingan Madzhab. Tulungagung : Unit Penerbitan Fakultas Tarbiyas Tulungagung IAIN Sunan Ampel Press.
Imam Muslim. 2002. Terjemah Hadits Shahih Muslim. Penerjemah: Ahmad Sunarto. Bandung: Penerbit "Husaini" Bandung.
Mudjib, Abdul. 1991. Masail Fiqhiyah. Tulungagung : Unit Penerbitan Fakultas Tarbiyas Tulungagung IAIN Sunan Ampel Press.
Syaikh Nashirudin Al-Albani. tanpa tahun. Shifatu Shalatin Nabi. Riyadh : Maktabah Al-Ma’arif.
Syaltout, Syaikh Mahmoud dkk. 1973. Perbandingan Madzhab dalam Masalah Fiqih. Jakarta : Bulan Bintang.
Syukur, Asywadie. 1990. Pengantar Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih. Surabaya : Bina Ilmu.
www.muslim.or.id. /kolom artikel tokoh update : 05-05-2010 time 12:11:03
Yatim, Badri. 2001. Sejarah Peradaban Islam. Ed.1, Cet.12. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Zuhdi, Masjfuk. 1987. Masail Fiqhiyah (Kapita Selekta Hukum Islam). Jakarta : Toko Gunung Agung.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Back to top!