Searching...
26.12.09

TINJAUAN PONDOK PESANTREN DALAM WACANA PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN


Memasuki abad ke 21 ini, umat Islam dihadapkan pada harapan historis sekaligus tantangan yang cukup besar. Apa yang digaungkan sejak dasawarsa belakangan ini, bahwa seluruh bangsa di dunia akan mengalami perubahan, terutama di era reformasi yang dialami oleh bangsa Indonesia, yang banyak mempengaruhi keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh para pemimpin negara.
Untuk umat Islam di belahan manapun juga, saat ini mengalami masa yang sangat penting sekaligus menentukan masa depan, bukan saja karena kondisi standar pendidikan dasar yang wajib diikuti oleh semua komponen bangsa dari masing-masing negara, disamping budaya mereka yang selalu menjadi bangsa bagi negara-negara maju. Namun suatu penentuan nasib, apakah umat Islam yang mayoritas dari bangsa Indonesia telah memiliki kekuatan baru untuk mempengaruhi sistem pendidikan nasional atau bahkan sebaliknya.
Pendidikan merupakan penolong utama bagi manusia untuk menjalani kehidupan ini. Asumsi ini melahirkan suatu teori yang eksterm, bahwa maju mundurnya atau baik buruknya suatu bangsa akan ditentukan oleh keadaan pendidikan yang dijalani bangsa ini.
Menurut asumsi di tersebut, sebagian tanggung jawab bangsa Indonesia terletak di pundak pendidikan Islam yang sekaligus sebagai bagian dari sistem pendidikan Nasional. Secara ideal, pendidikan Islam berusaha mengantarkan manusia mencapai keseimbangan pribadi secara menyeluruh. Untuk membawa masyarakat terutama generasi muda agar mampu berperan sebagaimana diharapkan di atas diperlukan wadah atau tempat berlangsungnya proses pendidikan. Salah satu wadah pendidikan tersebut adalah pondok pesantren.
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional yang tertua di Indonesia dan merupakan salah satu lembaga pendidikan yang diterpakna umat Islam di Indonesia yang tidak hanya identik dengan keislaman tetapi juga keaslian bangsa Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren ikut bertanggung jawab terhadap proses kecerdasan bangsa secara keseluruhan. Sedangkan secara khusus pesantren bertanggung jawab atas tradisi keagamaan (Islam) dalam arti yang seluas-luasnya.
Keberadaan pesantren dalam menatap masa depannya telah mengalami kemajuan yang sangat mengembirakan. Hal ini disebabkan adanya komunitas intensif antara para Kyai penanggung jawab pesantren dengan para pembaharu Islam, pondok pesantren yang pada awalnya digunakan tempat mempelajari ilmu Agama secara tradisional, kini telah berkembang menjadi sarana pendidikan pada umumnya yang bertujuan mendidik para santri agar mereka nantinya menjadi manusia yang berkepribadian muslim sempurna (bertaqwa), berpengetahuan yang luas dan memiliki ketrampilan kerja serta mampu membangun potensi dirinya sendiri dan masyarakat nya. Untuk itu perlu kita tinjau kembali apa sebenarnya pondok pesantren secara komprehensif, agar dapat ditemukan pengertian yang benar dan tuntas.


BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Pondok Pesantren
Pondok pesantren terdiri dari dua kata yang saling melengkapi: yaitu pondok pesantren. Pondok berasal dari bahasa Arab “Funduq” yang artinya “Hotel” tempat bermalam . Menurut kamus bahasa Indonesia berarti Madrasah dan asrama tempat mengaji, belajar agama Islam. Sedangkan istilah pesantren berasal dari kata santri, mendapat awalan “pe” dan akhiran “an” yang berarti tempat tinggal para santri. Istilah santri sendiri menurut robson berasal dari kata ”santri” dalam bahasa tamil berarti orang yang tinggal di sebuah rumah miskin atau bangunan keagamaan secara umum . Menurut Nur Kholis, kata santri berasal dari bahasa sansekerta yaitu “sastri” yang berarti melek huruf sebagai lawan kata buta huruf. Ada juga yang mengatakan kata santri berasal dari bahasa jawa “cantrik”, yang berarti orang yang selalu mengikuti guru kemanapun ia pergi dengan tujuan belajar dari gurunya mengenai suatu keahlian dan bisa juga diartikan sebagai orang yang menumpang hidup. Pendapat lain mengatakan kata santri merupakan gabungan dua kata “sant” yang berarti manusia baik dan “tra” berarti suka menolong .
Kalau kita melihat dua pengertian di atas, keduanya memiliki makna yang sama, yaitu tempat tinggal sekaligus tempat belajar para santri atau tempat para pemuda yang mengikuti pengajaran agama Islam. Pemuda itu dikenal sebagai santri, dan tempat tinggal mereka bersama disebut pesantren atau pondok. Zamakhasyari Dhofir mendeskripsikan pondok pesantren sebagai berikut:
Pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional, dimana para siswanya tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan seorang atau lebih guru yang lebih di kenal dengan sebutan kyai. Asrama untuk para santri tersebut berada dalam lingkungan pondok pesantren dimana kyai bertempat tinggal yang menyediakan sebuah masjid untuk beribadah, ruangan untuk belajar dan kegiatan keagamaan yang lain komplek pesantren ini biasanya dikelilingi tembok agar mengawasi keluar masuknya para santri sesuai dengan peraturan yang berlaku .

Dalam hubungannya dengan usaha pembinaan dan pengembangan yang sedang dilakukan oleh pemerintah (DEPAG), pengertian pondok pesantren yang lazim dipergunakan adalah lembaga pendidikan agama Islam yang pada umumnya melaksanakan pengajaran agama Islam dengan cara non klasikal dimana seorang kyai mengajarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama besar sejak abad pertengahan, sedangkan para santri biasanya tinggal dalam pondok atau asrama dalam pesantren tersebut.

B. Fungsi Pondok Pesantren
Pondok pesantren secara fungsional tidak bisa lepas dari hakekat dasarnya bahwa pondok pesantren tumbuh berawal dari masyarakat sebagai lembaga informal desa dalam bentuk yang sangat sederhana. Oleh karena itu perkembangan masyarakat sekitarnya tentang pemahaman keagamaan (Islam) lebih jauh mengarah kepada nilai-nilai normative, edukatif, progresif.
Pada dasarnya nilai-nilai normative meliputi kemampuan masyarakat dalam mengerti dan memahami ajaran-ajaran Islam dalam artian ibadah mahdah sehingga masyarakat menyadari akan pelaksanaan ajaran agama yang selama ini dipupuknya. Kebanyakan masyarakat cenderung baru memiliki agama (“having religion”) tetapi belum menghayati agama (“being religion”). Artinya secara kualitas banyak jumlah umat Islam tetapi secara kualitas sangat terbatas.
Nilai-nilai edukatif meliputi tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat muslim secara menyeluruh dapat dikategorikan terbatas baik dalam masalah agama maupun ilmu pengetahuan pada umumnya. Sedangkan nilai-nilai progresif yang maksudnya adalah adanya kemampuan masyarakat dalam memahami perubahan masyarakat seiring dengan adanya tingkat perkembangan ilmu dan teknologi. Dalam hal ini masyarakat sangat terbatas dalam mengenal perubahan itu sehubungan dengan arus perkembangan desa ke kota.
Fenomena sosial ini menjadikan pondok pesantren sebagai lembaga milik desa yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat desa itu, cenderung tanggap terhadap lingkungannya, dalam arti kata perubahan lingkungan desa tidak bisa dilepaskan dari perkembangan dari pondok pesantren. Oleh karena itu adanya perubahan dalam pesantren sejalan dengan derap pertumbuhan masyarakatnya, sesuai dengan hakekat pondok pesantren yang cenderung menyatu dengan masyarakat desa. Masalah menyatunya pondok pesantren dengan desa ditandai dengan kehidupan pondok pesantren yang tidak ada pemisahan antara batas desa dengan struktur bangunan fisik pesantren yang tanpa memiliki batas tegas. Tidak jelasnya batas lokasi ini memungkinkan untuk saling berhubungan antara kyai dan santri serta anggota masyarakat.
Dengan melihat kondisi sebagaimana dipaparkan di atas, maka pondok pesantren memiliki fungsi:
1. Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan
2. Pondok Pesantren Sebagai Lembaga Da’wah
3. Pondok Pesantren sebagai Lembaga Sosial

C. Karakteristik Pondok Pesantren.
Pondok pesantren baru dapat disebut sebagai pondok pesantren bila memenuhi lima syarat (komponen), yaitu: kyai, masjid, santri, pondok dan pengajaran kitab klasik . Untuk lebih jelasnya, lima komponen tersebut akan diuraikan sebagai berikut sesuai urutan proses muncul atau lahirnya sebuah pesantren sebagai berikut :
1. Kyai
Kyai adalah satu komponen penting yang terdapat dalam pondok pesantren. Ia laksana jantung bagi kehidupan manusia. Sebutan kyai dimaksudkan untuk para pemimpin dan pendiri pondok pesantren yang berkat kepeloporannya telah membaktikan diri pada Allah SWT. Serta menyebarluaskan, memperdalam ajaran dan pandangan Islam melalui kegiatan pendidikan.
Biasanya kedudukan kyai sebagai seorang haji dan kaji (jawa). Hal ini kiranya dapat menguraikan mengapa proses belajar kepada seorang kyai disebut ngaji. Ngaji merupakan bentuk kata kerja aktif dari kaji, yang berarti mengikuti jejak haji, yaitu belajar agama dan bahasa arab .
Dapat dipahami bahwa kyai merupakan unsur yang sangat penting dalam pondok pesantren. Tanpa ada kyai, tidak mungkin pondok pesantren berdiri dan berkembang, karena kyai merupakan pimpinan sekaligus pengajar .
2. Masjid
Dalam pondok pesantren, masjid berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan dan beribadah, sekaligus merupakan tempat kehidupan komunal (bersama) dan pendidikan. Masjid dianggap sebagai tempat yang tepat untuk menanamkan disiplin para murid dalam melaksanakan kewajiban sholat, memperoleh pengetahuan agama dan sebagainya.
Dengan melihat perkembangan fungsi masjid tersebut, kiranya tepatlah tradisi pesantren yang menjadikan masjid tetap sebagai pusat pendidikan, walaupun tidak secara maksimal.
3. Santri
Santri adalah sebutan bagi para murid yang belajar di pondok pesantren. Tanpa santri tidak mungkin seseorang disebut kyai sebagaimana pengertian mereka yang berada di lingkungan pondok pesantren. Oleh karena itu santri merupakan unsur penting dalam suatu lembaga pondok pesantren.
Para santri biasanya datang dari daerah yang jauh, disamping ada yang berasal dari daerah sekitar pesantren tersebut. Mereka tinggal dalam pondok, di sana mereka belajar tanpa terikat waktu, sebab mereka mengutamakan beribadah dan belajar dianggap sebagai ibadah.
Menurut Dhofier santri dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
1) Santri mukim, yaitu santri yang berasal dari daerah yang jauh dan tinggal menetap di pesantren.
2) Santri kalong, yaitu santri yang berasal dari daerah di sekeliling pesantren yang tidak menetap di pesantren.
4. Asrama atau pondok
Asrama merupakan komponrn dari pondok pesantren yang mutlak harus ada. Asrama dapat berupa kompleks kediaman dan tempat belajar para santri. Kompleks atau tempat para santri biasanya terletak di lingkungan tempat tinggal kyai.
Dalam bentuknya yang paling sederhana, pondok pesantren hanya terdiri atas asrama dengan perlengkapan minimal, dengan ukuran kecil yang sering kali diisi melebihi kapasitas ruangan, sehingga kamar tersebut hanya dipergunakan untuk meletakkan barang-barang pribadi, sedangkan untuk tidur, mereka menempati teras (jerambah) masjid. Itu yang biasanya ada pada pondok pesantren salaf, tetapi tidak tertutup kemungkinan pada zaman yang sudah maju ini banyak memadai, seperti komputer, pesawat telephone, tempat tidur yang nyaman. Hal ini semua dimaksudkan untuk menunjang keberhasilan pondok pesantren dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
5. Pengajian Kitab Klasik
Pesantren khususnya, tidak bisa dilepaskan dari apa yang disebut kitab klasik atau kitab kuning sebagai bahan pengajaran untuk para santri. Kitab merupakan istilah khusus yang digunakan untuk menyebut karya tulis dengan huruf arab. Berbeda dengan karya yang ditulis dengan bahasa selain arab yang disebut dengan buku . Sedangkan kitab kuning merupakan sebutan bagi karya tulis arab yang disusun oleh para sarjana muslim abad pertengahan islam sekitar abad ke 16-18. Kitab-kitab tersebut dikenal dengan istilah kuning karena kertas-kertasnya berwarna kuning karena lapuk dimakan usia. Kitab yang kuning itu selanjutnya menjadi nama jenis literatur dan menjadi karakter fisik sehingga dilestarikan di percetakan .
Pengajaran kitab-kitab Islam klasikal tahu lebih populer disebut kitab kuning merupakan bagian integral yang dari nilai dan faham pesantren yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Sebuah pondok pesantren bila tidak lagi mengajarkan kitab-kitab kuning maka keaslian pesantren itu akan kabur, dan lebih tepat dapat dikatakan sebagai perguruan atau madrasah dengan sistem pondok atau asrama dari pada sebagai pesantren
Dewasa ini, walaupun kebanyakan pesantren telah memasukkan pengajaran pengetahuan umum sebagai suatu bagian penting dalam pondok pesantren, namun pengajaran kitab-kitab kuning tetap diberikan sebagai upaya untuk meneruskan tujuan utama pesantren mendidik calon-calon ulama yang setia kepada Islam tradisional, disamping kitab-kitab populer abad ke-20 juga ditambahkan sebagai wujud fleksibilitas pengajian dipesantren masa kini .

D. Dasar dan Tujuan Pondok Pesantren
Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, tidak terlepas dari dasar dan tujuan untuk dijadikan sebagai landasan berpijak. Sebelum masuk pada pokok bahasan akan dijelaskan dasar dan tujuan dari pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam sebagai berikut:
1. Dasar Pondok Pesantren
Sebagai lembaga pendidikan yang bercorak keislaman pesantren tidak terlepas dari dasar pendidikan Islam itu sendiri. Dasar pendidikan Islam tersebut haruslah merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang dapat mengantarkan pada aktifitas yang dicita-citakan. Nilai yang terkandung harus mencerminkan nilai yang universal yang dapat dikonsumsikan untuk semua aspek kehidupan manusia, serta merupakan standar nilai yang dapat mengevaluasi kegiatan yang selama ini berjalan. Dasar yang demikian ini lazim disebut dasar ideal.
Dasar ideal pondok pesantren yang merupakan lembaga pendidikan Islam, sudah jelas dan tegas yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena Al-Qur’an adalah sumber kebenaran dalam Islam. Dasar ideal pendidikan Islam adalah disamping Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga katakan sahabat, kemaslahatan umat (sosial), nilai-nilai dan adat kebiasaan masyarakat dan hasil pemikiran pemikir Islam.
Adapun dasar pelaksanaan pondok pesantren memiliki status yang cukup kuat. Dasar tersebut dari beberapa segi:
a. Dasar dari segi Yuridis/Hukum
Dasar ini diambil dari peraturan perundang-undangan. Macam dari dasar dari segi Yuridis ini adalah:
1) Falsafah Negara Pancasila, dimana sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, mengandung pengertian bahwa seluruh bangsa Indonesia harus beragam. Untuk merealisasikan sila pertama tersebut, maka perlu adanya penidikan. Dan pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan yang bercorak keislaman turut berpartisipasi aktif dalam merealisasikan sila pertama tersebut;
2) Undang-Undang Dasar 1945 Bab XI pasal 29 ayat 1 dan 2 yang berbunyi: (1) Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa; (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu .
Bunyi undang-undang tersebut mengandung pengertian bahwa bangsa Indonesia harus beragama. Disamping itu negara melindungi umat beragama, untuk menunaikan ajaran agamanya dan beribadah menurut agamanya masing-masing. Untuk itulah pendidikan agama sangat diperlukan agar umat beragama tersebut dapat menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamana.
b. Dasar dari Segi Religius
Dasar ini bersumber dari ajaran agama Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis. Menurut ajaran agama Islam, bahwa melaksanakan pendidikan agama adalah merupakan perintah dari Tuhan dan merupakan ibadah kepadaNya. Dalam kedua sumber tersebut banyak ayat-ayat dan hadist-hadist yang menunjukkan perintah melaksanakannya, antara lain:
1. Dalam surat An Nahl ayat 125, yang berbunyi:
Artinya: “Ajaklah kepada agama Tuhanmu dengan cara yang bijaksana dan dengan nasehat yang baik”. (An-Nahl: 125)
2. Dalam surat Ali Imran ayat 104, yang berbunyi:
Artinya: “Hendaklah ada diantara kamu, segolongan umat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh berbuat baik dan mencegah dari perbuatan yang mungkar dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.(Ali Imran: 104)
3. Dalam surat At Tamrin ayat 6, yang berbunyi:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (At-Tamrin: 6)
4. Dalam hadist Nabi yang diriwayatkan Imam Bukhori dari sahabat Rasullah, Abdullah bin Amr, yang berbunyi:
Artinya: “Sampaikanlah dariku (kepada orang lain) sekalipun hanya satu ayat”. (HR. Bukhori)
Ayat-ayat dan hadist di atas memberikan pengertian bahwa Islam menganggap penting sekalipun memerintahkan kepada umat Islam untuk menyampaikan ajarannya/melaksanakan pendidikan Islam kepada umat manusia sesuai dengan kemampuannya (walupun hanya sedikit). Dengan demikian, seharusnyalah kalau pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam merealisasikan perintah tersebut.
2. Tujuan Pondok pesantren
Dalam adagium ushuliyah dikatakan bahwa “Al Umur bimaqasidiha” yaitu setiap tindakan dan aktifitas harus berorientasi kepada tujuan atau rencana yang telah direncanakan. Hal ini karena berorientasi kepada tujuan setiap kegiatan atau aktifitas akan memiliki standart yang jelas untuk mengakhiri usaha, serta mengarahkan usaha yang dilakukan. Di samping itu, tujuan dapat membatasi usaha agar kegiatan dapat terfokus pada apa yang dicita-citakan dan yang terpenting lagi dapat memberikan penilaian pada usaha-usahanya.
Demikian juga pondok pesantren haruslah memiliki tujuan yang jelas, agar lulusannya berkualitas tinggi di bidang agama Islam. Tujuan pesantren sendiri pada mulanya tidak dirumuskan secara jelas . Hal ini dapat dimaklumi karena pesantren sejak awal berdirinya tidak membutuhkan legalitas secara formal. Dalam bentuk sederhana di luar formulasi formal. Tujuan itu dapat dirumuskan secara garis besarnya yaitu, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang berorientasi untuk menggembleng para santrinya agar tafaqquh fiddin.
Disisi lain tujuan pondok pesantren secara spesifik, disesuaikan dengan pemegang pondok pesantren (kyai) dalam fak-fak ilmu sehingga berpengaruh pada bentuk pengajarannya terutama pada yang diajarnya. Karenanya tidak jarang ada pesantren yang memfokuskan dalam bentuk fak-fak tertentu. Misalnya pondok pesantren Al-Qur’an, pesantren Hadist, Pesantren Fiqh dan sebagainya.
Mengingat pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam bahkan merupakan yang tertua di Indonesia maka tujuannya sudah tentu identik dengan tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Yang mana perumusan tujuan pendidikan Islam harus berorientasi pada hakekat pendidikan yang meliputi beberapa aspek, antara lain: Tujuan dan tugas hidup manusia, memperhatikan sifat-sifat dasar manusia, tuntutan masyarakat dan dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam.
Dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, para ahli pikir Islam berbeda-beda. Menurut Imam Ghazali, tujuan akhir pendidikan Islam adalah membentuk insan kamil yang puncaknya dekat dengan Allah, serta mendapat hidup bahagia di dunia dan akhirat . Sedangkan menurut Ibnu Khaldun, yang berpijak pada QS Al-Qoshos:77, merumuskan tujuan pendidikan Islam terbagi atas dua macam:
1. Tujuan yang berorientasi ukhrawi yaitu seorang hamba agar melakukan kewajiban kepada Allah SWT.
2. Tujuan yang berorientrasi duniawi membentuk manusia agar mampu menghadapi segala bentuk kehidupan.
Menurut Muzayin Arifin, latar belakang ilmiyah serta filosofis para Kyai pendiri pondok pesantren secara individual tidaklah sama, ada yang luas ada pula yang sempit sehingga tujuannya dirumuskan berbeda-beda. Namun tujuan tersebut bisa diasumsikan sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
Membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmu agamanya menjadi mubaliq islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya.
2. Tujuan Khusus
Mempersiapkan para santri untuk menjadi orang yang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh Kyai yang bersangkutan mengamalkannya dalam masyarakat.
Dari beberapa rumusan tujuan pendidikan Islam di atas disimpulkan bahwa tujuan pendidikan islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan diri pribadi manusia muslim secara menyeluruh melalui latihan jiwa akal pikiran, kecerdasan, perasaan dan panca indera, sehingga kepribadian yang utama.
Disamping itu, pondok pesantren juga ikut mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, yaitu dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi:
Pendidikan nasional bertujuan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

E. Sistem Pengajaran di Pondok Pesantren
Pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional memiliki ciri khusus dalam hal pengajaran. Sistem pengajaran di lingkungan pondok pesantren ialah sistem bandongan atau seringkali disebut juga dengan sistem weton. Dalam sistem ini, sekelompok murid (antara 5 sampai 500) mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemah, menerangkan dan seringkali mengulas buku-buku Islam dalam bahasa Arab. Setiap murid memperhatikan bukunya sendiri dan membuat catatan-catatan (baik arti maupun keterangan) tentang kata-kata atau buah pikiran yang sulit. Kelompok kelas dari sistem bandongan ini disebut halaqah yang arti bahasanya lingkungan murid, atau sekelompok siswa yang belajar dibawah bimbingan seorang guru. Dalam pesantren kadang-kadang diberikan juga sistem sorogan tetapi hanya diberikan kepada santri-santri baru yang masih memerlukan bimbingan individual.
Menurut Imron Arifin , metode-metode yang digunakan dalam pengajaran di mayoritas pondok pesantren dari semenjak berdirinya hingga sekarang yang masih dinilai efektif adalah:
a. Metode wetonan
Pelaksanaan metode pengajaran wetonan ini adalah sebagai berikut: kyai membaca suatu kitab dalam waktu tertentu dan santri membawa kitab yang sama, kemudian santri mendengarkan dan menyimak bacaan kyai. Metode pengajaran ini adalah bebas, sebab presensi santri tidak ada. Santri boleh datang, boleh tidak dan tidak ada pula sistem kenaikan kelas. Metode ini disebut wetonan karena pengajian ini atas inisiatif Kyai balk berupa tempat, waktu maupun materinya .
b. Metode sorogan
Metode sorogan (sorong: jawa) dalam pengajian merupakan bagian paling sulit dari keseluruhan metode pendidikan Islam tradisional, sebab metode ini menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan dan disiplin pribadi dari santri. Dan teoritis pendidikan metode sorogan sebenarnya termasuk metode modern karena antara Kyai dan santri dapat saling mengenal; Kyai memperhatikan perkembangan belajar santri, sementara santri belajar aktif dan selalu mempersiapkan diri sebelumnya .
c. Metode Muhawarah
Muhawarah adalah suatu kegiatan berlatih bercakap-cakap dengan bahasa Arab yang diwajibkan oleh pengasuh pondok pesantren kepada para santri selama mereka tinggal di pondok pesantren.
d. Metode Mudzakarah
Mudzakarah merupakan suatu pertemuan ilmiah yang secara spesifik membahas mh diniyah seperti ibadah dan akidah serta masalah agama pada umumnya. Metode ini lebih dikenal dengan musyawarah.
e. Metode majelis taklim
Majelis ta’lim adalah suatu media penyampaian ajaran Islam yang bersifat umum dan terbuka. Pada jama’ah terdiri atas berbagai lapisan yang memiliki latar belakang pengetahuan bermacam-macam dan tidak dibatasi oleh tingkatan usia maupun perbedaan kelamin. Pengajian semacam ini hanya diadakan pada waktu-waktu tertentu saja.
f. Metode hafalan
Santri diharuskan membaca dan menghafal teks-teks berbahasa arab secara individual, biasanya digunakan untuk teks yang berupa nadham seperti amsilatut tashrifiyah (sorof), imrithi, maqsud, al-fiyah (nahwu), aqidat al-awam (aqidah), hidayat al-shibyan (tajwid), dan jawahir almaknun (balaghah) .
Dari beberapa metode di atas, saling berkaitan dan mempunyai hubungan erat antara satu dengan lainnya, serta seluruh metode itu berjalan dengan efektif dan siap pakai.
Adapun sistem pengajaran yang bersifat modern
Di dalam perkembangannya, sistem pengajaran di pondok pesantren tidaklah semata-mata tumbuh atas pola lama yang bersifat tradisional dengan pola-pola pengajaran sebagaimana disebutkan di atas, melainkan terdapat suatu inovasi dalam pengembangan suatu sistem .
Inovasi tercermin dalam dua sistem pengajaran sebagaimana berikut:
a. Sistem Klasikal
Pola penerapan sistem klasikal ini adalah dengan pendirian di sekolah-sekolah baik kelompok yang mengelola pengajaran agama maupun ilmu yang dimasukkan dalam kategori umum dalam arti termasuk di dalam disiplin ilmu-ilmu kauni (“ijtihadi” – hasil perolehan manusia) yang berbeda dengan agama yang sifatnya “tauqifi” (dalam arti kata langsung ditetapkan bentuk dan wujud ajarannya) .
Kedua disiplin ilmu itu dalam sistem persekolahan diajarkan berdasarkan kurikulum yang telah baku dari Departemen Agama dan Departemen Pendidikan. Bentuk-bentuk lembaga yang dikembangkan dalam pondok pesantren terdiri dari dua departemen yang lebih banyak mengelola bidang Pendidikan dan Kebudayaan serta Departemen Agama.
Dari jalur Departemen Pendidikan dan Kebudayaan terdiri dari sekolah-sekolah umum artinya sekolah-sekolah itu lebih banyak mengelola ilmu-ilmu sekuler (kauni) dengan wujud konkrit jenjang pendidikannya adalah sekolah dasar dan menengah, bahkan Universitas seperti di pondok al-syafi’iyah Jakarta.
Sedangkan sekolah-sekolah dari jalur Departemen Agama wujud konkritnya adalah tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) bahkan ada juga pondok pesantren yang mengadakan tingkat pendidikan tinggi dalam wujud sekolah tinggi (ST), seperti di pondok modern Darussalam Gontor Ponorogo, Jawa Timur.
Secara lebih luas terjadi integrasi sistem pendidikan di atas juga dilaksanakan sehingga benar-benar terwujud pondok pesantren komprehensif, seperti pondok pesantren Salafiyaah al-Syafi’iyah Sukorejo Jawa Timur. Kedudukan kyai dalam proses belajar mengajarnya bukan semata-mata sebagai pengajar melainkan juga bertindak sebagai pembimbing yang secara direktif mengasuh pondok pesantren tersebut dalam segala aktifitas.
Dengan kedua pola sistem klasik di atas jelas bahwa kurikulum dipakai disamping oleh kyai juga kurikulum dan Sylabi yang berasal dari kedua departemen tersebut dengan harapan semua santri dapat pula mengikuti ujian yang dilaksanakan oleh sekolah negeri sebagai status persamaan.
b. Sistem Kursus-kursus
Pola pengajaran yang ditempuh melalui kursus (‘takhassus”) ini ditekankan pada pengembangan keterampilan berbahasa Inggris, disamping itu diadakan keterampilan tangan yang menjurus kepada terbinanya kemampuan psikomotoprik seperti kursus menjahit, mengetik, komputer, dan sablon.
Pengajaran sistem kursus ini mengarah kepada terbentuknya santri yang memiliki kemampuan praktis guna terbentuknya santri-santri yang mandiri menopang ilmu-ilmu agama yang mereka tuntut dari kyai melalui pengajaran sorogan dan wetonan. Sebab pada umumnya santri diharapkan tidak tergantung kepada pekerjaan di masa mendatang. Melainkan harus mampu menciptakan pekerjaan sesuai dengan kemampuan mereka.
c. Sistem Pelatihan
Disamping sistem pengajaran klasikal dan kursus-kursus, dilaksanakan juga sistem pelatihan yang menekankan pada pelatihan psikomotorik. Pola pelatihan yang dikembangkan adalah termasuk menumbuhkan kemampuan praktis seperti: pelatihan pertukangan, perkebunan, perikanan, manajemen koperasi dan kerajinan yang mendukung terciptanya kemandirian integratif. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan yang lain yang cenderung melahirkan santri intelek dan ulama yang mumpuni.
Baik sistem pengajaran klasikl/tradisional maupun yang bersifat modern yang dilaksanakan dalam pondok pesantren erat kaitannya dengan tujuan pendidikan yang pada dasarnya hanya semata-mata bertujuan untuk membentuk pribadi muslim yang tangguh dalam mengatasi situasi dan kondisi lingkungannya, artinya sosok yang diharapkan sebagai hasil sistem pendidikan dan pengajaran pondok pesantren adalah figur mandiri.
Atas dasar pembentukan kemandirian itu, maka sistem pendidikan dan pengajaran pondok pesantren adalah sistem terpadu. Kemandirian itu nampak dari keberadaan bangunan sekolah (kelas), pondok dan masjid sebagai wadah pembentukan jati diri. Sekolah adalah wadah pembelajaran, pondok sebagai ajang pelatihan dan praktek sedangkan masjid tempat pembinaan para santri. Dan ketiga wadah pendidikan itu digerakkan oleh seorang kyai, yang merupakan pribadi yang selalu ikhlas dan menjadi teladan santrinya.
Adapun secara umum, tujuan diadakannya pondok pesantren berbeda dengan lembaga pendidikan yang lain, yang pada umumnya menyatakan tujuan pendidikannya secara jelas, misalnya dirumuskan dalam Anggaran Dasar Pondok Pesantren terutama yang tergolong sistem lama atau tradisional pada umumnya tidak dirumuskan secara ekplisit dasar dan tujuannya. Namun demikian tujuan pendidikan pondok pesantren sistem lama ini menurut penulis dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Beribadah karena Allah semata
2. Memenuhi kewajiban menuntut ilmu
3. Untuk Menyebarkan Agama Islam


BAB III
PENUTUP


Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional yang tertua di Indonesia dan merupakan salah satu lembaga pendidikan yang diterpakna umat Islam di Indonesia yang tidak hanya identik dengan keislaman tetapi juga keaslian bangsa Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren ikut bertanggung jawab terhadap proses kecerdasan bangsa secara keseluruhan. Sedangkan secara khusus pesantren bertanggung jawab atas tradisi keagamaan (Islam) dalam arti yang seluas-luasnya
Keberadaan pondok pesantren dengan segala aspek kehidupan dan perjuangannya, ternyata memilki nilai strategis dalam membina insan yang berkualitas iman, ilmu dan amal. Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah bangsa Indonesia, dimana darinya bermunculan para ilmuwan, politikus, dan cendekiawan yang memasuki dalam berbagai kancah percaturan disegala bidang sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki baik dalam lokal, regional maupun nasional bahkan sampai ke taraf internasional.
Keberadaan pesantren dalam menatap masa depannya telah mengalami kemajuan yang sangat mengembirakan. Hal ini disebabkan adanya komunitas intensif antara para Kyai penanggung jawab pesantren dengan para pembaharu Islam, pondok pesantren yang pada awalnya digunakan tempat mempelajari ilmu Agama secara tradisional, kini telah berkembang menjadi sarana pendidikan pada umumnya yang bertujuan mendidik para santri agar mereka nantinya menjadi manusia yang berkepribadian muslim sempurna (bertaqwa), berpengetahuan yang luas dan memiliki ketrampilan kerja serta mampu membangun potensi dirinya sendiri dan masyarakat nya.
Wallahu ‘alamu.


DAFTAR PUSTAKA


Dhofier, Zamakhsyari, 1983, Tradisi Pesantren, “ Studi tentang Pandangan Hidup Kyai ”, t.t.p. Jakarta : LP3ES.

Fadjar, Malik,Ahmad H., 1998, “Visi Pembaharuan Pendidikan Islam”, Editor : Mus
tofa Syarif, Juanda,Abu Bakar, Jakarta : LP3NI.

Ma’arif, Syafi’i,Ahmad.1991, Pendidikan Islam di Indonesia“antara Cita dan Fakta” Yogyakarta : PT. Tiara Wacana Yoga.

Nata,Abuddin H. (ed), 2001. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-
Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta : PT. Grasindo.

Opan, Manfred dan Wrefgang Karcher,1987, Dinamika Pesantren. Jakarta: LP3M.

Saridjo,Marwan dkk. 1980, Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia. Jakarta : Dharma Bhakti.

Rahardjo,M, Dawam.1995. Dunia Pesantren dan Dunia Pembaharuan. (LP3ES).

Robert,K.Yin, 1995, Studi Kasus “Desain dan Metode”, Terjemahan Mudzakir Jauzi,
Bandung : PT. Raja Grafindo Persada.

Syarif, Mustofa dkk. Administrasi Pesantren Juanda, Abu Bakar, Jakarta : PT. Prayu
Barkah.

Ziemik, Manfred.1986, Pesantren Dalam Perubahan Sosial. terjemahan Bucthe B.
Soedjojo, Jakarta : P3M.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Back to top!