Searching...
25.12.09

TEKNIK PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH


Pengertian

Karya Tulis Ilmiah adalah tulisan yang sedikitnya memenuhi tiga syarat, yaitu :
1. Isi berada pada lingkup pengetahuan ilmiah.
2. Langkah mengerjakannya dijiwai dan menggunakan metode ilmiah
3. Sosok tampilannya sesuai dan telah memenuhi persyaratan sebagai suatu tulisan keilmuan.
Sedangkan tulisan ilmiah adalah karya tulis yang merupakan ringkasan laporan hasil kegiatan ilmiah, tinjauan atau ulasan ilmiah yang disajikan dengan menggunakan kerangka isi, aturan dan format yang ditentukan. Tulisan ilmiah dapat berwujud artikel, makalah, naskah dan lain-lain.
Adapun metode ilmiah adalah suatu metode / cara perencanaan yang sistematik dan obyektif yang mengikuti tahap-tahap sebagai berikut :
a. Merumuskan masalah
b. Menyusun hipotesis
c. Menyusun rencana penelitian
d. Mengumpulkan data
e. Melakukan analisis data (pengujian hipotesis)
f. Membuat kesimpulan;
Prosedur kerja ilmiah dengan menggunakan metode keilmuan memiliki ciri-ciri sebagai berikuit :
Δ Argumentasi teori yang benar, sahih dan relevan.
Δ Digunakan fakta empirik, dan
Δ nalisis kajian menghuibungkan antara argumentasi teoritik dengan fakta empirik terhadap permasalahan yang dikaji.
Karena itu terdapat 3 macam kegiatan ilmiah dasar yaitu:
◊ Penelitian (research)
◊ Pengembangan (development), dan
◊ Evaluasi (evaluation)

Tata Cara Penulisan

Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah yang perlu diperhatikan adalah teknik-teknik ; penggunaan bahasa, tata cara penulisan, pengetikan format lapoaran, penulisan judul, penyajian gambar dan tabel, pencantuman kutipan, pembuatan catatan kaki, penataan daftar kepustakaan, penyusunan nama pada daftar kepustakaan, perbedaan penulisan catatan kaki dan daftar kepustakaan.

1. Penggunaan Bahasa
Bahasa yang digunakan dalam menyusun karya tulis ilmiah adalah Bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan berpedoman pada kaidah bahasa serta ejaan yang telah disempurnakan.
Menggunakan kalimat efektif dan aktif sehingga padat namun memberi penghertian yang utuh, kait mengait dengan kalimat lain sampai membentuk paragraf. Dan penulis ilmiah yang baik adalah perangkai paragraf demi paragraf dalam setiap bagian atau bab (sistematis).
Paragraf yang baik didahului dengan penataan kalimat yang baik. Sedangkam sebuah kalimat disusun dari deretan kata sesuai aturan dan kaidah bahasa.

2. Tata Cara Penulisan
Penilaian Karya Tulis Ilmiah, selain memperhatikan isi materi yang disajikan, juga pada tampilan atau wujud fisik karya tulis tersebut. Tampilan fisik tersebut meliputi format, kerapian dan kesesuaian penyajian dengan aturan penulisan ilmiah yang berlaku.

Pengetikan Format Laporan
Umunya laporan penelitian karya tulis ilmiah, dituliskan di atas kertas warna putih jenis HVS 80 gram atau 70 gram, ukuran lebar 21,5 cm x panjang 30 cm (A4). Pengetikan dengan jenis huruf tertentu yang dilakukan hanya pada satu sisi kertas, tidak timbal balik.
Pada bagian pengantar tulisan, yang terdiri dari kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan abstrak, diberi nomor halaman dengan angka Romawi kecil (i, ii, iii, ... dst). Selanjutnya mulai dari pendahuluan (bagian pertama atau bab I) sampai halaman terakhir dengan angka arab (1,2,3, .... dst). Nomor halaman dituliskan ditengah bawah atau disudut kanan atas halaman. Pada halaman yang mempunyai judul bab di mana judul babnya dimulai dengan halaman tersendiri berpisah dari uraian bab sebelumnya, nomor halaman diletakkan pada bagian bawah halaman adalah 1,5 cm. Bagi nomor halaman yang diletakkan di kanan atas atau kanan bawah margin teks, nomor diletakkan lurus dengan batas ketikan tepi kanan 1,5 cm.
Batas-batas pengetikan pada kertas ialah: Dari tepi kiri 4 cm; dari tepi kanan 3 cm; dari batas atas 4 cm; sedangkan dari tepi bawah 3 cm. Jarak antara baris teks adalah 1,5 spasi atau 2 spasi, kecuali inti klutipan langsung, judul daftar tabel, daftar gambar, dan daftar kepustakaan menggunakan 1 spasi.


Penulisan Judul

Terdapat keragaman dalam tata cara penulisan judul. Hal terbaik yang dapat dilakukan penulis adalah penyesuaian dengan pedoman penulisan yang telah ditetapkan oleh instansi pemberi tugas (bila ada). Bila tidak modul Diklat ini dapat dipakai sebagai pegangan.
Judul bab ditulis dengan huruf besar (kapital), ditebalkan dan diatur sedemikian rupa hingga letaknya simetris ditengah halaman. Umumnya judul diletakkan pada halaman baru. Jarak antara judul dengan teks diberi jarak 4 spasi. Judul tidak boleh ditempatkan dalam tanda kurung, tanda kutip, garis bawah, dan tidak boleh diakhiri dengan tanda titik.
Semua kata pada kalimat judul sub bab dimulai dengan huruf kapital (huruf besar). Kecuali kata penghubung dan kata depan dan semuanya diberi garis bawah (dengan menggunakan komputer, pemakaian garis bawah digantikan dengan penebalan huruf pada pengetikan). Kalimat sub judul tidak diakhiri tanda titik. Terdapat dua pendapat dalam penempatan sub judul, yakni dituliskan simetris di tengah halaman atau dituliskan rata kiri setelah nomor urut sub judul.
Judul sub-sub bab diketik rata kiri setelah nomor sub kudul. Kalimat dimulai huruf besar (hanya huruf awal kalimat saja yang lainnya huruf kecil), diberi garis bawah atau ditebalkan, serta diakhiri dengan titik. Kalimat pertama setelah judul, sub judul maupun sub-sub judul dimulai dengan alinea baru.

Penyajian Gambar dan Tabel

Tulisan ilmiah umumnya dilengkapi dengan gambar, tabel, rumus-rumus atau persamaan-persamaan yang diletakkan simetris terhadap tepi kiri dan kanan kertas. Setiap tabel dan gambar harus diberi nomor urut bab judul. Nomor urut menggunakan angka dua arab yang dipisahkan oleh tanda titik-titik. Angka pertama menunjukkan pada bab berapa tabel dan gambar itu berada. Sedangkan angka kedua menunjukkan pada nomor urut atau ganbar tersebut di bab yang bersangkutan. Misalnya: Gambar 2.1 artinya gambar pertama pada bab 2; tabel 3.4 artinya tabel ke empat ada di bab 3. Nomor persamaan yang berbentuk matematis, ditulis dengan angka arab di dalam kurung dan diletakkan di batas tepi kanan.
Judul tabel ditulis setelah nomor tabel dengan huruf kecil dan ditempatkan simetris diatas tabel tanpa diakhiri dengan titik. Garis atas tabel dibuat rangkap atau tebal, sedangkan garis bawah hanya satu. Jika tabel itu mempunyai catatan (misalnya menyatakan sumber acuan, menjelaskan singkatan yang tidak umum) dituliskan dibawah tabel, rata kiri. Untuk menghindari kkeliruan catatan tabel ditambahi dengan bintang, asterik, atau huruf. Hanya catatan untuk judul tabel ditempatkan ditepi bawah halaman.
Usahakan tabel jangan dipenggal. Bila hal itu terjadi, lanjutana tabel yang diletakkan pada halaman berikutnya, nomor tabel dan kata ’lanjutan’ atau ’bersambung” ke halaman berikutnya dituliskan. Di halaman tempat sambungan itu dituliskan sambungan tabel sebelumnya (Contoh: Tabel 3.2 lanjutan). Tabel terdiri dari kolom-kolom yang harus diberi nama dan pembatas yang tegas. Kalau jajaran kolom lebih panjang dari lebar kertas, maka bagian atas tabel sebaiknya diletakkan disebelah kiri kertas. Sedangkan tabel yang sangat lebar dan panjang sehingga harus dilipat seyogyanya diletakkan dalam lampiran.
Laporan penelitian juga sering dilengapi dengan sajian gambar: Grafik, peta, foto, daftar alir, skedul dll. Penempatan gambar-gambar diusahakan sedekat mungkin dengan uraian dalam teks yang berkaitan dengan gambar tersebut. Gmabar hendaknya disajikan pada bagian atau pada halaman sesudah uraian teksnya dan jangan sebaliknya.
Setiap gambar harus mempunyai nomor gambar dan diikuti dengan judul gambar yang dibuat sedemikian rupa sehingga simetris terhadap gambar dan diletakkan di bawah gambar (ingatlah: nomor dan judul tabel diletakkan di atas tabel, sedangkan nomor dan judul gambardiletakkan di bawah gambar). Keterangan gambar sebaiknya diletakkan di tempat yang lowong di dalam gambar. Gambar yang bentuknya memanjang sepanjang kertas, bagian atas gambar ditempatkan disebelah kiri kertas.

Pencantuman Kutipan

Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah seringkali dipergunakan kutipan-kutipan untuk memperjelas dan menegaskan isi uraian atau untuk membuktikan apa yang dituliskan. Kutipan merupakan pinjaman kalimat atau pendapat dari orang lain. Cukup banyak hal-hal penting dan yang sudah ditulis dalam buku-buku. Penulis dapat mengutip pendat tersebut, dengan syarat harus menyebutkan dari mana dan di mana pendapat itu diambil.
Terdapat dua macam kutipan, yaitu kutipan lengkap dan kutipan isi. Kutipan lengkap artinya teks asli dikutip secara lengkap kata dan kalimatnya. Sedangkan pada kutipan isi, hanya intisari pendapat yang dikutip. Kutipan lengkap harus dikutip dengan tanda kutip. Kutipan yang terlalu panjang, hendaknya diambil yang benar-benar perlu saja.
Kutipan lengkap yang panjangnya tidak lebih dari empat baris dapat langsung dimasukkan dalam teks dengan diapit tanda kutip. Sedangkan untuk kutipan isi tidak perlu diberi tanda kutip. Pada akhir kutipan diberi nomor untuk penunjukkan (hal ini dilakukan bila penjelasan kutipan menggunakan catatan kaki seperti terurai dibawa). Terdapat cara penunjukkan kutipan yang lain, yakni yang dikenal dengan cara Haarvard. Menggunakan cara ini, pada akhir atau awal kutipan dituliskan nama pengarang dan tahun terbitan serta halaman buku acuan. Seringkali nomor yang dikutip juga dituliskan. Berikut disajikan beberapa contoh: Suhardjono dan Mukidam (1993) menyatakan bahwa ”...................”’ Dan Julius, 1992 (dalam Amiuza, 1991: 12) menulis ”..................” (Mismail, 1984: 119)

Pembuatan Catatan Kaki

Catatan kaki (footnotes) rupakan penjelasan keterangan isi dalam teks karangan yang ditempatkan di kaki halaman. Tujuan penjelasan itu dapat berupa : (1) Sumber asal kutipan (bila cara ini dipakai), (2) Keterangan tambahan lain yang perlu tentang isi keterangan, (3) merujuk bagian lain dari teks.
Catatan kaki dimasukkan untuk memberikan informasi sumber asal kutipan harus mengungkapkan: (1) Nama penulis sebagai sumber (perhatikan cara penulisan nama yang berbeda dengan cara penulisan nama pada daftar kepustakaan), (2) Judul buku/ makalah tulisan sumber, (3) Penerbit, (4) Kota dan tahun terbit, nama penerbit berbeda dengan daftar kepustakaan yang harus menyebut nama penerbit, (5) Halaman letak kutipan pada buku sumber.
Aturan penulisan catatan kaki ini berbeda dengan penulisan daftar pustaka yang tidak mencantumkan halaman. Pembatas antara masing-masing informasi menggunakan tanda koma dan tanda kurung (bedakan dengan daftar pustaka yang menandai tanda titik). Sumber kutipan dapat diperoleh dari buku, majalah, surat kabar, wawancara, peraturan atau mengutip dari kutipan.
Penulisan catatan kaki adalah sebagai berikut: (1) Harus diberikan nomor penunjukkan terhadap teks yang dijelaskan, (2) Diletakkan dibawah garis (sepanjang 15 ketikan) yang berada 3 spasi di bawah teks bagian bawah, (3) Masuk 5 – 7 ketukan/ ketikan dari tepi atau pinggir kiri, (4) Menggunakan 1 spasi, (5) Jarak antara dua catatan kaki, sebanyak 2 spasi.
Catatan kaki umumnya disingkat dengan kata singkatan bahasa latin, seperti : ibid, op. cit dan loc. cit. Ibid singkatan dari ibidem artinya pada tempat yang sama dan halaman yang berbeda serta belum diantarai sumber lain. Singkatan ini dipakai bila catatan kaki yang berikut menunjuk kepada sumber yang telah disebut pada catatan sebelumnya. Op. Cit singkatan dari opera citato berarti pada karya yang telah dikutip dan halamannya berbeda, dipakai bila catatan kaki itu menunjuk padasumber telah disebut lebih dahulu, tetapi telah diselingi oleh catatan kaki yang lain. Sedangkan loc. cit singkatan dari loco citato artinya pada tempat yang telah dikutip di halaman yang sama dan telah diantarai atau tidak diantarai oleh sumber lain.
Pedoman penyajian catatan kaki seringkali berbeda dari satu kepustakaan dengan yang lain. Sangat bijaksana untuk mengikuti pedoman dari pemberi tugas (bila ada). Bila tidak ada yang penting adalah ketaat-asasan (konsistensi) dalam tata cara penulisan. Artinya dalam satu karangan gunakan satu pedoman tata cara penulisan tertentu atau penggabungan yang dapat dipertanggungjawabkan secara aturan dan etika ilmu pengetahuan.

Penulisan Daftar Kepustakaan

Daftar kepustakaan (bibliography) harus dapat memberikan informasi secara lengkap mengenai nama penulis, judul kepustakaan, keterangan penerbit dan waktu penerbitan. Dalam menuliskannya terdapat beberapa cara yang sedikit berbeda antara yang satu dengan lainnya.
Secara umum penulisan daftar kepustakaan adalah sebagai berikut :
Jarak penulisan dalam satu sumber daftar kepustakaan dibuat 1 spasi, sedangkan antara satu sumber kepustakaan dengan yang lainnya diberi jarak 2 spasi.
Huruf pertama rapat tepi atau pinggir kiri, sedang baris berikutnya mundur 5 ketukan dari tepi atau pinggir kiri sehingga ketukan pertama huruf adalah pada ketukan ke-6.
Nama penulis disusun menurut abjad awal nama dan umumnya tidak perlu memberikan nomor urut.
Informasi disajikan sesuai urutan abjad awal nama pengarang, judul kepustakaan, keterangan penerbitan, tempat terbitnya dan waktu terbitan. Antar informasi itu dipisahkan dengan tanda titik.

Penyusunan Nama pada Daftar Kepustakaan

Penyusunan nama pada daftar kepustakaan, seringkali membingungkan. Bila suatu kepustakaan mempunyai dua nama pengarang hendaknya diperhatikan cara penulisan nama pengarang pertama (nama keluarga dituliskan dibelakang).
Penulisan nama di daftar kepustakaan tidak perlu dituliskan gelar kesarjanaan atau pangkatnya. Untuk nama Indonesia yang hanya terdiri dari satu unsur, dituliskan sebagaimana adanya (misalnya: Budiono). Namun banyak nama yang terdiri dari dua unsur atau lebih. Untuk nama yang diikuti dengan nama ayah (Budiono Ismail), nama keluarga (Ahmad Dirja Wiharja), atau marga (Mack Pakpahan), maka nama ayah, nama keluarga, nama marga dituliskan terlebih dahulu dan disusul dengan unsur nama berikutnya setelah tanda koma.
Saat ini makin sering juga dijimpai nama Indonesia yang terdiri dari dua unsur atau lebih yang bukan merupakan gabungan nama ayah, keluarga atau marga misalnya: Rozin Khoriqul Faiz, Filja Rahmatullah. Menuliskannya dilakukan dengan unsur nama terakhir diletakkan di depan, jadi dituliskan sebagai berikut: Faiz, Rozin Khoriqul; Rahmatullah, Filja.
Bila nama diikuti dengan gelar (Raden Ajeng Kartini, Cut Keke) atau nama panggilan (Inneke Sumantri) maka nama diri dituliskan terlebih dahulu dari gelarnya atau panggilannya (Kartini, Raden Ajeng; Keke, Cut; Sumantri, Inneke).
Namun bila nama tersebut merupakan gabungan dari gelar, nama dan nama keluarga dilakukan terlebih dahulu (Nasution, Andi Hakim). Penulisan nama Bali (I Gusti Ngurah Adipa), dimulai dengan nama diri dan baru disusul unsur nama yang lain (Adipa, I Gusti Ngurah). Namun bila masih ada nama keluarga dibelakangnya (I Wayan Wija Pagehgiri) dituliskan dengan menempatkan nama keluarga di depan (Pagehgiri, I Wayan Wija).
Bila kepustakaan yang dirujuk tidak menunjukkan nama penulisnya, dituliskan sebagai pengganti nama kata “anonim”.
Secara umum, cara penulisan informasi tentang judul kepustakaan, keterangan penerbit, dan waktu penerbitan sama dengan aturan pada penulisan catatan kaki. Baik pada catatan kaki maupun daftar kepustakaan, nama judul sumber digarisbawahi atau dimiringkan.

Perbedaan Penulisan Catatan Kaki dan Daftar Kepustakaan

Pada catatan kaki nama diri ditulis terlebih dahulu (contoh: Budiono Ismail; J.E. Sahetapi; Heru Sutanto; dan Steven Pangaila). Sedangkan pada daftar pustaka, nama keluarga, marga, ayah, ditulis terlebih dahulu (Contoh: Ismail, Budiono, Sahetapi. J.E.; Sutanto, Heru dan Pangaila, Steven).
Pada catatan kaki antar informasi dipisahkan oleh tanda koma (contoh: Sri Harto, Hidrologi Terapan, Badan Penerbit UGM, Yogyakarta, 1983, hal. 42). Sedangkan pada daftar kepustakaan dipisahkan oleh tanda titik (contoh: Harto, Sri. Hidrologi terapan. Yogyakarta: Badan Penerbit UGM. 1983).
Pada daftar kepustakaan perlu mencantumkan nama penerbitnya, misalnya: Gramedia; Mc. Graw Hill Company; Badan Penerbit UGM; dll. Sedangkan pada catatan kaki tidak terlalu diperlukan dan kalau dicantumkan juga tidak salah.
Pada daftar kepustakaan tidak perlu menuliskan halaman tempat di mana kutipan pustaka tersebut diambil, sementara pada kutipan dalam teks atau pada catatan kaki itu perlu.
Urutan penulisan daftar kepustakaan mempunyai beberapa variasi, misalnya ada yang menempatkan tahun terbitan setelah nama penerbit, dan beragam variasi lain.

Kerangka Dasar Karya Tulis Ilmiah sebagai berikut :

Halaman Judul
Lembar Pengesahan
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I : Pendahuluan
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian (khusus untuk karya tulis penelitian)
Manfaat Penelitian (khusus untuk karya tulis penelitian)
Bab II : Kajian Teori
Bab III : Metode Penelitian (khusus untuk karya tulis penelitian)
Bab IV : Pembahasan
Bab V : Penutup (kesimpulan dan saran)
Daftar Pustaka
Lampiran-lampiran (jika ada dan diperlukan

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Back to top!