Searching...
26.12.09

REORIENTASI SISTEM PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

Pada era reformasi ini, masyarakat Indonesia ingin mewujudkan perubahan dalam semua aspek kehidupan. Masa transformasi ingin mewujudkan perubahan dalam semua aspek kehidupan termasuk dalam wilayah pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Di tengah euphoria demokrasi ini lahirlah berbagai pendapat, pandangan, konsep, mengenai bentuk masyarakat dan bangsa Indonesia yang dicita-citakan di masa depan, termasuk gambaran pendidikan mendatang. Sehingga perlu dipertegas konsep secara filosofis dan teoritis sekaligus tentang bagaimana memaknai dan mengaplikasikan pendidikan untuk beberpa generasi mendatang.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Reorientasi Kerangka dasar Filosofis dan Teoritis.
Perumusan filosofi dan teori yang lengkap diperlukan untuk menyeimbangkan antara pendidikan di satu sisi dan dinamika perubahan masyarakat di sisi lain. Suatu proses pembaharuan pendidikan hanya terarah dengan baik dan mantab apabila didasarka pada kerangka dasar filsafat dan teori pendidikan yang mantab. Filsafat pendidikan yang mantab hanya dapat dikembangkan di atas dasar-dasar asumsi-asumsi dasar yang kokoh dan jelas tentang manusia, yaitu hakikat kejadiannya, potensi-potensi bawaannya, tujuan hidup dan misinya di dunia ini baik sebagai individu maupun sebagai anggota msyarakat, hubungannya dengan lingkungan dan alam semesta, dan akhirnya hubungannya dengan Maha Pencipta. Teori pendidikan yang mantab hanya dapat dikembangkan atas dasar pertemuan antara pendekatan filosofis dan pendekatan empiris. Dapat dikatakan bahwa kerangka dasar pertama pembaruan pendidikan Islam adalah konsepsi filosofis dan teoritis pendidikan yang didasarkan pada asumsi-asumsi dasar tentang manusia dan hubungannya dengan masyarakat, lingkungannya menurut ajaran Islam.
Dalam konteks kacamata Islam, perlu dikaji ulang bahwa proses pendidikan Islam dan pandangan Islam terhadap manusia sebagai makhluk yang dididik dan mendidik sebagai berikut :
Pertama, sesuai dengan maksud pendidikan Islam adalah kegiatan untuk mengarahkan dengan sengaja perkembangan seseorang sejalan dengan nilai-nilai Islami tentang manusia yaitu hakikat manusia dan potensi-potensi bawaannya, tujuan hidup dan misinya di dunia ini dan di akhirat nanti, hak dan kewajibannya sebagai individu dan anggota msyarakat. Tugas dan fungsi pendidikan adalah mengarahkan dengan sengaja segala potensi yang ada pada manusia seoptimal mungkin, sehingga dapat berkembang menjadi manusia muslim yang baik atau insan kamil. Artinya segala potensi manusia yang dibawa dari lahir bukan hanya dapat dikembangkan dalam lingkunagn (empirik) semata-mata, tetapi juga dapat dikembangkan secara terarah dengan bantuan orang lain atau pendidik.
Kedua, pembahasan tentang ”hakikat manusia”, para filosof umumnya mengidentifikasikan manusia dengan hewan yang memilki kekhususan serta kelebihan tertentu, anatara lain manuia adalah hewan yang berakal, berbicara, berfikir dan berbudaya. Para ahli pendidik memeberikan batasan manusia adalah binatang mendidik dan dididik (animal educandum).
Secara umum, dari beberapa pandangan para pakar dapat diakatakan bahwa sebenarnya pendidikan Islam merupakan pendidikan yang berwawasan semesta, berwawasan kehidupan yang utuh dan multidimensional, yang meliputi wawasan tentang Tuhan, manusia dan alam secara integratif.
Selain itu pendidikan Islam juga menyandang misi keseluruhan aspek kebutuhan hidup manusia serta perubahan-perubahan yang terjadi. Implikasinya pendidikan Islam senantiasa mengundang pemikiran dan kajian, baik secara konseptual maupun operasional dan diperolah relevansi dan kemampuan untuk menjawab tantangan serta memecahkan masalah-masalah yang dihadapi umat manusia.
2. Misi dan Visi Pendidikan Islam
Misi dapat dirumuskan sebagai suatu usaha untuk menyusun peta perjalanan mewujudkan visi, sedangkan visi merupaka suatu pikiran yang melampaui realitas sekarang, sesuatu yang kita ciptakan yang belum pernah ada sebelumnya, suatu keadaan yang akan kita wujudkan yang belim pernah kita alami sebelumnya.
Dari pandangan inilah dapat dikatakan bahwa visi dan misi sekolah-sekolah Islam merupakan penjabaran atau spesifikasi dari visi dan misi pendidikan Islam itu sendiri, yaitu membentuk insan kamil yang berfungsi mewujudkan rahmatan lil alamiin. Dalam merumuskannya harus didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam serta nilai-nilai budaya, serta pada core beliefs dan core values. Sedangkan untuk mencapai visi dan misi tersebut harus dilaksanakan dengan penyusunan kebijakan dan strategi secara operasional.
Realita sekarang ini, tuntutan reformasi pendidikan menuju masyarakat madani tampaknya mengharuskan perumusan misi dan visi pendidikan baik di tingkat makro maupun pada tingkat mikro. Serentetan langkah perlu dioptimalkan untuk melakukan perubahan baik di bidang manajemen, perencanaan sampai pada praksis pendidikan di tingkat mikro. Diantaranya adalah :
a) pendidikan nasional (termasuk pendidikan Islam) memupnyai misi dan visi yang berorientasi pada demokrasi bangsa sehingga memungkinkan terjadinya proses pemberdayaan masyarakat secara demokratis pula.
b) Pendidikan hendaknya memilki misi dan visi agar tercapai partisipasi masyarakat secara menyeluruh sehingga secara mayoritas seluruh komponen bangsa yang ada menjadi terdidik.
c) Misi pendidikan harus berorientasi pada perwujudan sistem dan iklim pendidikan nasional dan pendidika Islam yang demokratis dan bermutu guna memperteguh akhlak mulia, kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, sehat, berdisiplin dan bertanggungjawab, berketrampilan serta menguasai IPTEK dalam rangka mengembangkan kualitas manusia Indonesia.
Berdasarkan pandangan ini, maka lembaga-lembaga pendidikan Islam mau tidak mau dituntut untuk menyusun misi dan visi, baik pada tingkat makro maupun tingkat mikro serta kebijakan dan stretegi pengelolaan pendidikannya. Apabila mencoba merumuskan misi pendidikan Islam, adalah bagaimana pendidikan Islam dapat : a) mengembangkan potensi peserta didik secara optimal melalui pendidikan dan pengajaran bermutu berdasar nilai-nilai Islam. b) mendorong pembaruan pemikiran Islam menuju masyarakat madani. c) mengintegrasikan ilmu agama Islam dengan ilmu pengetahuan umum. d) menghasilkan individu dan masyarakat yang religius (iman dan takwa), akhlak mulia, cerdas dan siap menghadapi orientasi dunia global.
3. Strategi Pendidikan Islam
Pembangunan pendidikan dan pendidikan Islam di Indonesia sekurang-kurangnya menggunakan empat strategi dasar, yakni pertama, pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Kedua, relevansi pendidikan, ketiga, peningkatan kualitas pendidikan, dan keempat, efesiensi pendidikan.
Strategi pendidikan merupakan target pencapaian, baik bersifat jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang dalam merealisasikan terlaksananya penyelenggaraan pendidikan menuju masyarakat madani Indonesia. Karenanya dalam menetapkan sasaran pencapaian stategi pendidikan harus memiliki nilai khusus (specific), dapat terukur dan terhitung (measurable), dapat tercapai (achievable), realis dan wajar (realistic), dan berjangka waktu (time frame). Berdasarkan time frame tersebut, perlu disusun langkah-langkah atau strategi untuk mencapai visi pendidikan sebagai berikut :
Pertama, stategi jangka panjang. Upaya untuk membangun lembaga pendidikan Islam yang memadai secara akademik dan finansial melalui kebijakan restrukturisasi dan rekapitulasi yang berkesinambungan. Mencakup antara lain: menciptakan sistem perencanaan yang berbasis kepentingan lokal, menerapkan sistem menejemen mutu secara menyeluruh, melakukan review kurikulum secara periodik, melakukan perekayasaan proses dan menjaga konsistensi dan kontinuitas internalisasi nilai-nilai sekolah dan masyarakat.
Kedua, strategi jangka menengah. Upaya untuk memantapkan infrastruktur melalui kebijakan rekapitulasi terhadap komponen penunjang dalam sistem pendidikan. Strategi ini mecakup dengan demokratisasi pendidikan, relevansi pendidikan, akuntabilitas pendidikan, profesionalisme, meningkatkan efesiensi pendidikan, mengakomodasi kemajemukan, dan desentralisasi.
Ketiga, strategi jangka pendek., yakni perlunya membangun perangkat infrastruktur sistem pendidikan yang memihak kepada pemberdayaan masyarakat melalui kebijakan restrukturisasi dalam sistem pendidikan Islam. yang urgen sekali adalah pendidikan Islam menyusun strategi untuk meningkatkan relevansi pendidikan, meningkatkan akuntabilitas proses pendidikan, meningkatkan profesionalisme pendidikan dan mengurangi uniformitas.
4. Reorientasi Tujuan Pendidikan Islam
Para pakar dan pengamat pendidikan Islam, menyatakan bahwa rumusan tujuan pendidikan Islam lebih pada upaya kebahagiaan di dunia dan akhirat, menghamba diri kepada Allah, memperkuat keislaman, melayani kepentingan masyarakat Islam, dan akhlak mulia. Tampaknya dalam merumuskan tujuan pendidikan ini, sebagian umat Islam atau sebagian para ahli pendidikan Islam mengalami kesulitan dalam membedakan syariat Islam sebagai ilmu yang disusun ulama sebagai tafsir atas wahyu serta syariat Islam sebagai ajaran Tuhan dalam wahyu yang termaktub dalam al-Quran.
Tujuan pendidikan Islam yang ada sekarang ini, dirasakan tidaklah benar-benar diarahkan kepada tujuan positif, tetapitujuan pendidikan Islam hanya diorientasikan kepada kehidupan akhirat semata dan cenderung bersifat defensif, yaitu upaya menyelematkan kaum muslimin dari pencemaran dan pengrusakan yang ditimbulkan oleh dampak gagasan Barat yang datang melalui disiplin ilmu, terutama gagasan-gagasan yang mengancam akan meledakkan standar-standar moralitas tradisional Islam.
Berdasar hal itu, maka kemudian ditarik beberapa dimensi yang hendak diupayakan untuk ditingkatkan dan dicapai oleh kegiatan proses pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu : dimensi keimanan peserta didik, dimensi pemahaman atau penalaran intelektual, dimensi penghayatan dan pengalaman batin serta dimensi pengamalannya dalam berbagai praktik kehidupan nyata.
Ke depan rumusan tujuan pendidikan Islam diharapkan lebih bersifat problematis, strategis, antisipatif, menyentuh aspek aplikasi serta dapat menyentuh kebutuhan masyarakat atau penggunan lulusan. Artinya, pendidikan Islam berupaya membangun manusia dan masyarakat secara utuh dan menyeluruh (insan kamil) dalam semua aspek kehidupan yang berbudaya dan berperadaban yang tercermin dalam kehidupan manusia bertakwa dan beriman, berdemokrasi dan merdeka, berpengetahuan, berketrampilan, beretos kerja dan profesional, beramal saleh, berkepribadian, bermoral anggun dan berakhlakul karimah, berkemampuan inovasi dan mengakses perubahan serta berkemampuan kompetitif dan kooperatif dalam era global dan berpikir lokal dalam memeproleh kesejahteraan dunia dan akhirat.
5. Reorientasi Kurikulum Pendidikan Islam
Materi pendidikan dan pendidikan Islam tergambar dalam kurikulum yang disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikannya. Materi pendidikan yang terakomodasi dalam kurikulum menggambarkan standar kemampuan dasar yang wajib dimiliki peserta didik pada masing-masing jenjang pendidikan. Untuk itu dalam kurikulum terdapat kelompok mata pelajaran yang berorientasi pada pembentukan sikap dan nilai pribadi yang integral sebagai warga masyarakat dan warga negara. Kelompok mata pelajaran yang berorientasi pada kemampuan akademik serta kelompok pelajaran yang berorientasi pada ketrampilan.
Pemerintah telah berupa maksimal untuk menanggulangi berbagai permasalahan yang muncul dalam dunia pendidikan di Indonesia, termasuk kurikulum. Bahkan pemerintah telah mengundangkan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 2 Tahun 1989 beserta peraturan-peraturan pemerintah (PP) sebagai penunjang UU No. 27, 28, 29 dan 30 Tahun 1990. hal ini membuktikan bahwa sebenarnya pemerintah telah beruaha serius dlam menangani persoalan pendidikan.
Dengan demikian, persoalan masa kini dan masa depan yang dihadapi pendidikan Islam adalah bagaiman mendesain kurikulum yang diorientasikan pada :
Pertama, tantangan kurikulum di era globalisasi, yakni antara nilai lokal dan global, antara budaya individual dan universal, antara tradisi dan modernitas, antara kebutuhan jangka panjang dan pendek, anatar kebutuhan spiritual dan material.
Kedua, tantangan kurikulum di era desentralisasi dan otonomi daerah.
Ketiga, arah perubahan kurikulum pendidikan Islam harus selalu mengikuti irama perubahan dan pendidikan yang selalu tumbuh serta berkembang dari prediksi skenario masa depan yang dicita-citakan.
6. Reorientasi Manajemen dan Sumber Daya Pendidikan Islam
Manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerjasama sistematik, dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan. Juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Dari kerangka inilah tumbuh kesadaran untuk melkukan upaya perbaikan dan peningkatan kualitas menejemen pendidikan, baik yang dilakukan pemerintah maupun lembaga pendidikan.
Pemerintah telah berusaha keras untuk menanggulangii berbagai permasalahan yang muncul dalam dunia pendidikan, baik pada aspek organisasi, manajemen maupun peningkatan mutu pendidikan Islam. berbagai peraturan pemerintah dari tahun 1951 sampai tahun 1989 sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan, organisasi dan manjemen pendidikan.


BAB III
PENUTUP

Demikian beberapa cara pandang dan paradigma tawaran yang kiranya perlu dikaji dalam dunia pendidikan kita. Secara umum dapat kita ambil kesimpulan dan benag merah bahwa dalam upaya membangun masyarakat madani, pendidikan Islam harus berupaya mengembangkan konsep pendidikan integralistik, konsep pendidikan humanistik, konsep pendidikan prgamatis dan konsep pendidikan yang berakar pada budaya.
Tawaran pendidikan masyarakat Indonesia adalah pendidikan yang berorientasi pada kompetensi nilai-nilai ilahiyah, knowledge, skill, ability, sosio kultural dan harus berfungsi untuk memberikan kaitan secara operassional antara peserta didik dengan masyarakatnya, lingkungan sosio kultural dan selalu menerima adanya term perubahan yang terus berpacu.
Sehingga wajah pendidikan Islam mendatang lebih nampak dalam kehidupan umat.
Wallahu alamu


DAFTAR BACAAN
Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam : Tradisi dan Modernitas Menuju Millenium Baru, Logos, Jakarta, 2000.
Budiono dan Mc Mahon Ww, Studi Biaya Pendidikan, Badan Litbang Diknas, Jakarta, 2000.
Bantock, GH., Freedom & Autority in Education, Faber Limited, London, 1970.
Molle, Philip Joe, SH., Himpunan Peraturan Perundang-undangan Tahun 1989-2000, CV. Novindo Pustaka Mandiri, Jakarta, 2001.
Rae, Hamish Mc, Dunia di Tahun 2020, Kekuasaan, Budaya dan kemakmuran: Wawasan tentang Masa Depan, alih bahasa: Anton Adiwijoyo, Bina Aksara, Jakarta, 1995.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Back to top!