Searching...
28.12.09

PERANAN GURU AGAMA ISLAM DALAM PENDIDIKAN

A. Tugas Guru
Guru memegang peranan yang penting dalam proses belajar mengajar. Di pundaknya terpikul tanggung jawab utama keefektifan seluruh usaha kependidikan persekolahan. Di negara yang sudah maju pendidikannya dengan menggunakan media elektronik yang sangat canggih sebagai alat pengajar sudah dipergunakan dan kemampuannya untuk membawakan bahan pengajaran kepada pelajar sudah dibuktikan. Namun, keberadaan alat bantu tersebut tetap tidak dapat sepenuhnya menggantikan kedudukan guru. Dalam hal ini terdapat sesuatu yang hilang yang selama ini disumbangkan oleh guru dengan adanya interaksi antar manusia, antara guru dan pelajar. Kehilangan yang utama adalah segi keteladanan dan penanaman nilai - nilai yang dikristalisasikan dalam tujuan pengajaran.
Masyarakat telah memahami, dari masyarakat yang terbelakang sampai masyarakat yang paling maju sekalipun, mengakui bahwa guru merupakan satu diantara sekian banyak unsur pembentuk utama calon anggota masyarakat. Walaupun perwujudan dari pengakuan yang berbeda-beda antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Sebagian mengakui bahwa pentingnya peranan seorang guru itu dengan cara yang lebih konkret, sementara ada yang lain masih menyangsikan besarnya tanggung jawab seorang guru, termasuk masyarakat yang sering menggaji guru lebih rendah dari pada yang sepantasnya. Sebagian orang tua kadang-kadang merasa cemas ketika menyaksikan anak-anak mereka berangkat ke sekolah, karena masih ragu akan kemampuan guru mereka.
Namun di pihak lain, setelah beberapa bulan pertama guru mengajar, pada umumnya guru-guru sudah memahami dan menyadari betapa besarnya pengaruh terpendam yang mereka miliki terhadap pembinaan kepribadian pelajar. Kesadaran umum akan besarnya tanggung jawab seorang guru serta berbagai pandangan masyarakat terhadap peranannya. Hal ini akan mendorong para guru bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya dan bertanggung jawab atas peranan yang di embannya.
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasonal ( UUSPN ) Pasal 27 ayat 3 dikemukakan bahwa guru adalah tenaga pendidik yang khusus diangkat dengan tugas utama mengajar. Di samping itu, ia mempunyai tugas lain yang bersifat pendukung, yaitu mernbimbing dan mengelola administrasi sekolah. Tiga tugas ini mewujudkan tiga layanan yang harus diberikan oleh guru kepada pelajar dan tiga peranan yang harus dijalankannya. Tiga layanan tersebut meliputi :
a. Layanan instruksional
b. Layanan bantuan ( bimbingan dan konseling ), serta
c. Layanan admnistrasi.
Sedangkan tiga peranan guru yang harus dijalankan ialah :
a. Sebagai pengajar
b. Sebagai pembimbing, dan
c. Sebagai administrator kelas.

Sebagai pengajar, guru mempunyai tugas menyelenggarakan proses belajar mengajar. Seorang guru dalam menjalankan profesi keguruannya, harus mampu melaksanakan beberapa hal yang meliputi empat pokok yaitu
a. Menguasai bahan pengajaran
b. Merencanakan program belajar mengajar,
c. Melaksanakan, memimpin, dan mengelola proses belajar mengajar, serta
d. Menilai kegiatan belajar mengajar.
Sebagai pembimbing, guru mempunyai tugas memberi bimbingan kepada pelajar dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, sebab proses belajar pelajar sangat berkaitan erat dengan berbagai masalah diluar kelas yang sifatnya non akademis.
Seorang guru juga harus mampu sebagai administrator yang mencakup ketatalaksanaan bidang pengajaran dan ketatalaksanaan pada umumnya, seperti mampu mengelola sekolah, memanfaatkan prosedur dan mekanisme pengelolaan tersebut untuk melancarkan tugasnya, serta bertindak sesuai dengan etika jabatan.
Di samping memiliki tugas-tugas diatas, guru memiliki juga kewajiban yang berhubungan dengan keudukannya sebagai salah satu komponen tenaga kependidikan. Kewajiban tersebut dikemukakan di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Pasal 31 sebagai berikut :
a. Membina loyalitas pribadi dan peserta didik terhadap ideologi Negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
b. Menjunjung tinggi kebudayaan bangsa.
c. Melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan pengabdian.
d. Meningkatkan kemampuan prifesional sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan bangsa.
e. Menjaga nama baik sesuai dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat, bangsa dan negara.

B. Tanggung Jawab Guru
Bagi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tugas dan kewajiban sebagaimana menjadi pendidik merupakan amanat yang harus diterima oleh guru atas dasar pilihannya untuk memangku jabatan guru. Amanat tersebut wajib dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Allah menjelaskan dalam Al- Qur'an Surat An-Nisa' ayat 58,
•           ••     •      •     
Artinya :
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanut kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. An-Nisa, 4: 58)

Tanggung jawab guru ialah keyakinannya bahwa segala tindakannya dalam melaksanakan tugas dan kewajiban didasarkan atas pertimbangan profesional (profesional judgement) secara tepat. Karena pekerjaan guru menuntut kesungguhan dalam berbagai hal. Oleh sebab itu posisi dan persyaratan para pekerja pendidikan atau orang-orang yang disebut pendidik karena pekerjannya ini, maka patutlah mendapat pertimbangan dan perhatian yang sungguh-sungguh pula. Dengan memperhatikan dan mempertimbangkan hal tersebut dimaksudkan agar usaha pendidikan yang baik tidak akan jatuh ke tangan orang-orang yang bukan ahlinya, sehingga dapat mengakibatkan banyak kerugian.

C. Profesi Keguruan
Kata profesi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan) tertentu. Di dalam profesi dituntut adanya keahlian dan etika khusus serta baku (standar) layanan. Pengertian profesi keguruan ini mengandung implikasi bahwa profesi hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang secara khusus dipersiapkan untuk mendidik. Dengan kata lain, profesi keguruan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak memperoleh pekerjaan lain.
Dari masa ke masa konseptualisasi profesi terus mengalami perkembangan. Di Amerika, pada awal abad 20, profesi ditekankan pada pelatihan dan kualifikasi. Pelatihan dibuktikan dengan adanya surat-surat tanda tamat kependidikan, sementara kualifikasi diterangkan dengan sejumlah karakteristik, termasuk ujian, pengalaman, dan reputasi yang berhubungan dengan keefektifan di dalam pekerjaan. Definisi ini memunculkan beberapa implikasi, antara lain lahirnya suatu masyarakat ekslusif dan terciptanya hubungan yang bersifat vertikal antara seorang profesional dan supervisor atau pihak-pihak lain yang merumuskan norma-norma profesi. Konsep tradisional ini berkembang dalam model administrasi "gaya mesin" yang digunakan untuk mempertahankan sistem politik gaya lama. Ketika reformasi bergulir dan semangat kebebasan berkembang, berbagai tuntutan profesi telah melahirkan definisi alternatif.
Definisi ini di satu pihak mengembangkan otonomi seorang profesional, dan di pihak lain menitiktekankan pada pemecahan masalah dan pemenuhan kebutuhan pihak yang dilayani (klien). Menurut definisi ini, seorang profesional adalah orang yang terlibat secara luas dalam suatu posisi untuk mempengaruhi nasib kliennya. Dengan perkataan lain, seorang profesional menjalin hubungannya secara aktual ataupun potensial dengan kliennya dalam bentuk yang disebut hubungan hidup-mati (life-and-death reationship). Di camping itu, hubungan yang terjalin antara profesional dan klien bersifat horizontal dan ekuivalen. Dalam implikasinya, seorang profesional dituntut tidak hanya untuk memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang hukum-hukum dan aturan-aturan teknis yang diperlukan dalam melaksanakan pekerjaannya, tetapi juga tentang karakteristik dan kondisi kliennya. Seorang yang profesional dituntut memiliki pengetahuan tentang kepribadian, motivasi, dan aspirasi orang-orang yang dilayaninya.
Berdasarkan tuntutan perkembangan zaman, profesi dipandang sebagai suatu pekerjaan yang memiliki atribut (ciri-ciri atau indikator-indikator) tingkat tinggi. Sehingga profesi dapat dipandang sebagai bangunan ideal. Di dalamnya pekerjaan-pekerjaan individu-individu bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan perangkat atribut yang dibutuhkan.
Indikator-indikator profesi pada umumnya berkisar pada pokok-pokok sebagai berikut :
1. keterampilan yang didasarkan atas pengetahuan teoritis;
2. pendidikan dan latihan yang dibutuhkan;
3. test kompetensi (melalui ujian dan sebagainya);
4. vokasional (sumber penghidupan);
5. organisasi (terlibat dalam asosiasi profesional);
6. mengikuti aturan tingkah laku (code of conduct); dan
7. pelayanan altruistis (mementingkan dan membantu orang lain)
Adapun indikator-indikator tersebut dijelaskan dengan aplikasinya pada profesi keguruan yaitu :
a. Kompetensi yang didasarkan atas wawasan teoritis
Suatu profesi sangat memerlukan kompetensi khusus, yaitu kemampuan dasar berupa keterampilan menjalankan rutinitas sesuai dengan petunjuk, aturan, dan prosedur teknis. Guru memerlukan kompetensi khusus yang berkenaan dengan tugasnya. Hal itu karena pendidikan tidak terjadi secara alami, tetapi dengan di sengaja (disadari). Hubungan yang sederhana dan akal sehat (common sense) saja belum cukup untuk melaksanakan pengajaran yang baik.

Kompetensi guru tentu saja harus sinkron dengan bidang-bidang tugasnya, yaitu pengajaran, bimbingan dan administrasi. Secara metodologi pengajaran agama Islam, kompetensi guru meliputi pokok¬pokok sebagai berikut :
a. Menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan kepada pelajar. Penguasaan di sini tidak dimaksudkan sekedar menguasai seluk¬beluknya bahan tersebut, tetapi juga meyakini bahwa apa yang diajarkan oleh guru itu memiliki kebenaran berdasarkan sumber¬sumber yang dipercaya.
b. Memiliki kemampuan menyusun perencanaan program belajar mengajar, dengan mengetahui arti dan tujuan perencanaan, dan prosedur kegiatan belajar-mengajar.
c. Memiliki kreatifitas untuk menciptakan dan menumbuhkan kegiatan pelajar, kemampuan mengubah perencanaan apabila diperlukan, dan kemampuan mengelola kelas.
d. Memiliki kemampuan melakukan penilaian kemajuan belajar dengan memanfaatkan secara kreatif bentuk-bentuk penilaian yang ada.
Secara garis besar keempat kompetensi yang tertulis di atas, dapat disimpulkan menjadi dua kelompok kompetensi, yaitu penguasaan terhadap bahan pelajaran serta penguasaan terhadap teknik dan metode pengajaran.
Kompetensi khusus saja belum cukup untuk membuat suatu pekerjaan menjadi profesi. Di dalam profesi, keterampilan dan kecakapan perlu didasarkan atas wawasan teoritis. Karenanya, banyak pengrajin terampil yang memiliki keterampilan khusus dan luar biasa, tetapi tidak dapat disebut orang yang profesional. Wawasan teoritis diperlukan karena terampil rutin bersifat static dan kaku, tidak memberi laridasan bagi adanya pengembangan dalam kondisi baru dan pengecualian. Seorang mekanik terampil, umpamanya, apabila tidak mempunyai wawasan teoritis, maka pada mulanya tidak dapat memelihara mesin, tidak pula dapat menyiapkan buku petunjuk teknis, apalagi melakukan perbaikan ketika terjadi kerusakan.
Jadi, wawasan teoritis bukan semata-mata untuk kepuasan intelektual dengan memiliki pemahaman yang komprehensif, melainkan untuk melandasi berfungsinya rutinitas. Atas dasar itu, seorang guru belum dapat disebut profesional hanya dengan memiliki kompetensi khusus. Barangkali ada guru yang memiliki tricks of trade yang memungkinkannya untuk mencapai hasil-hasil yang diinginkan yang sangat efektif meskipun tidak memiliki wawasan teoritis tentang bagaimana dan mengapa ia berhasil. Guru semacam ini baru bisa disebut pengrajin ketimbang profesional. Guru yang melulu belajar untuk mengikuti aturan-aturan akan kewalahan manakala menghadapi suatu kasus yang belum ada aturannya atau aturan yang ada membuahkan hasil yang keliru. Wawasan teoritis akan membimbing guru dalam menghadapi kondisi luar biasa dan baru, membukakan jalan untuk melakukan eksperimen, serta memodifi- kasi prosedur lama dan menciptakan prosedur baru, sehingga mampu mengubah keadaan darurat menjadi sebuah kesempatan, bukan kegagalan.
Wawasan teoritis yang perlu dimiliki oleh guru mencakup pemahaman yang luas tentang pokok-pokok sebagai berikut :
a. Hakikat kepribadian manusia,
b. Teori belajar,
c. Nilai-nilai pendidikan,
d. Syarat-syarat komunikasi yang efektif,
e. Pengaruh lingkungan sosial terhadap perkembangan pelajar, serta
f. Ide-ide dasar dan struktur teoritis mata pelajaran yang diasuhnya.

b. Sertifikasi
Setelah memiliki kompetensi yang didasarkan atas wawasan teoritis, seorang guru masih juga belum bisa langsung menjadi profesional. Profesi menuntut proses pengakuan kompetensi. Proses ini disebut dengan sertifikasi. Ada dua badan yang memiliki otoritas untuk memberikan sertifikasi bahwa seseorang inemiliki kompetensi untuk menjalani suatu profesi. Pertama, badan pemerintahan yang menjamin kepentingan umum bahwa orang yang direkrut benar-benar memiliki kompetensi. Dalam hal ini, pemerintah dapat meminta orang yang menekuni profesi untuk menjadi tenaga ahli dalam rekrutmen. Kedua, organisasi profesi itu sendiri. Organisasi ini tentunya akan berhati-hati dan bersikap selektif dalam melakukan rekrutmen. Kesalahan dalam hal ini tidak hanya akan merugikan kepentingan umum, tetapi juga para praktisi itu sendiri akan kehilangan prestise dan kepercayaan publik.
c. Organisasi profesi
Para profesional memerlukan organisasi profesi, sebab aspirasi mereka baik mengenai idealisme maupun kompetensi tugas, seringkali memerlukan perjuangan bersama. Aksi bersama seringkali lebih efektif untuk meningkatkan kekuatan para anggota ketimbang aksi perorangan. Serikat-serikat pekerja telah banyak berhasil menerapkan aksi semacam ini untuk menaikkan upah dan mengembangkan kondisi pekerjaan.
d. Kode etik
Orang yang profesional memiliki kemampuan dan kekuatan unik yang bisa raja digunakan untuk tujuan baik ataupun buruk. Oleh sebab itu, di dalam profesi harus ada kode etik yang dijunjung tinggi oleh para anggotanya. Dengan kata lain, kemampuan dan kekuatan itu membawa serta tanggung jawab moral khusus untuk mengarahkannya kepada tujuan yang baik. Kode etik didasarkan alas dua prinsip. Pertama, keamanan dan integritas profesi itu sendiri. Suatu profesi akan dihargai oleh masyarakat apabila anggota-anggotanya menjalankan pekerjaan sesuai dengan kompetensinya. Makin tinggi kompetensi itu, makin tinggi pula penghargaan masyarakat terhadapnya. Kedua, tentang paham tulus ikhlas dalam memberikan layanan. Menurut paham ini, seorang profesional menjalankan pekerjaannya tidak semata-mata untuk mengejar kepuasan finansial atau penghargaan profesi, tetapi juga didorong oleh cita-cita luhur untuk memberikan layanan secara tulus ikhlas. Prinsip kedua inilah yang dimaksud dengan pelayanan altruistis.
e. Vokasional
Alasan lain yang membuat suatu pekerjaan disebut profesi ialah karena pekerjaan itu merupakan sumber pokok mata pencaharian seseorang. Profesi bukan pekerjaan yang dilakukan oleh orang-orang yang karena tidak mendapat pekerjaan lain. Dengan indikator ini orang yang profesional dibedakan dari amatir. Pekerja amatir mungkin akan melakukan pekerjaannya untuk mencapi kepuasan batin dan rekreasi, tetapi orang yang profesional melakukannya untuk mencapai imbalan materi.
Meskipun demikian, seorang profesional tidak memandang pekerjaannya semata-mata sebagai tugas bayaran. Pekerjaan ini lebih merupakan suatu panggilan, yang membuatnya beridentifikasi dengan pekerjaan dan memenuhi sebagian besar tujuan hidupnya. Selain itu, seorang amatir bekerja hanya dalam waktu-waktu senggang, sementara profesional bekerja secara teratur dan terus-menerus. Demikian pula dalam menjalankan aktivitas di tengah-tengah masyarakat, orang yang profesional akan memandangnya sebagai suatu kewajiban dan tanggung jawab karena aktivitasnya terkait dengan profesinya, sementara seorang amatir tidak mempunyai pandangan seperti itu.
f. Kompetensi kepribadian
Indikator-indikator sebagaimana dikemukakan di atas lebih banyak menitikberatkan pada kompetensi instruksional. Jalannya kegiatan belajar¬ mengajar dan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kompetensi tersebut. Kepribadian guru ikut juga menentukan.
Dalam pendidikan Islam, para ulama telah berusaha merumuskan kompetensi kepribadian guru. Mereka biasa menyebutnya sifat-sifat yang harus dimiliki oleh guru. Di bawah ini dikemukakan sifat-sifat yang telah dirumuskan oleh al-Kanani ( 733 H ), yang pendapatnya banyak memberi inspirasi kepada para ulama kontemporer seperti Muhammad Athiyyah al¬Abrasyi dan Abdurrahman al-Nahlawi.
Dalam bukunya yang berjudul TadzIcirah al-Sami wa al¬Mutakallim fi Adab al-Alim wa al-Muta'allim (Catatan Pendengar dan Pembicara tentang Kode Etik Guru dan Pelajar), al-Kanani mengemukakan persyaratan guru yang berkenaan dirinya, pelajaran, dan pelajaran.
Persyaratan guru yang berkenaan dengan dirinya yaitu :
1. Hendaknya guru senantiasa insyaf akan pengawasan Allah terhadapnya dalam segala perkataan dan perbuatan bahwa is memegang amanat ilmiah yang diberikan Allah kepadanya. Karenanya, is tidak menghianati amanat itu, malah is tunduk dan merendahkan diri kepada Allah.
2. Hendaknya guru memelihara kemuliaan ilmu. Salah satu bentuk pemeliharaannya ialah tidak mengajarkannya kepada orang yang tidak berhak menerimanya, yaitu orang-orang yang mencari ilmu untuk kepentingan dunia semata.
3. Hendaknya guru berzuhud. Artinya, ia mengambil dari rizki dunia hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokok diri dan keluarganya secara sederhana. la hendaknya tidak tamak terhadap kesenangan dunia, sebab sebagai orang yang berilmu ia lebih tahu ketimbang orang awam bahwa kesenangan itu tidak abadi
4. Hendaknya guru tidak berorientasi duniawi dengan menjadikan ilmunya sebagai alat untuk mencapai kedudukan, harta, prestise, atau kebanggaan atas orang lain.
5. Hendaknya guru menjauhi mata pencaharian yang hina dalam pandangan syarak. Hendaknya ia juga menjauhi situasi-situasi yang bisa mendatangkan fitnah dan tidak melakukan sesuatu yang dapat menjatuhkan harga dirinya di mata orang banyak.
6. Hendaknya guru memelihara syiar-syiar Islam, seperti melaksanakan shalat berjamaah di masjid, mengucapkan salam, serta menjalankan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Dalam melakukan semua itu hendaknya ia bersabar dan tegar menghadapi berbagai celaan dan cobaan.
7. Guru hendaknya rajin melakukan hal-hal yang disunatkan oleh agama, baik dengan lisan maupun perbuatan, seperti membaca al-Qur'an, berdzikir, dan shalat tengah malam.
8. Guru hendaknya memelihara akhlak yang mulia dalam pergaulannya dengan orang banyak dan menghindarkan diri dari akhlak yang buruk.
9. Guru hendaknya selalu mengisi waktu-waktu luangnya dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti beribadah, membaca, dan mengarang.
10. Guru hendaknya rajin meneliti, menyusun, dan mengarang dengan memperhatikan keterampilan dan keahlian yang dibutuhkan untuk itu.
11. Guru hendaknya selalu belajar dan tidak merasa malu untuk menerima ilmu dari orang yang lebih rendah daripadanya, baik kedudukan, keturunan, ataupun usianya.
Syarat-syarat guru yang berhubungan dengan pelajaran, yaitu :
1. Sebelum keluar dari rumah untuk mengajar, hendaknya guru bersuci dari hadast dan kotoran serta mengenakan pakaian yang layak dengan maksud mengagungkan ilmu dan syariat.
2. Ketika keluar dari rumah, hendaknya guru berdoa agar tidak menyesatkan atau disesatkan, dan terus berzikir kepada Allah hingga sampai ke majelis pengajaran.
3. Hendaknya guru mengambil tempat pada posisi yang membuatnya dapat terlihat oleh semua murid.
4. Sebelum mulai mengajar, guru hendaknya membaca sebagian dari al-Qur'an agar memperoleh berkah dalam mengajar, kemudian membaca basmalah.
5. Guru hendaknya mengajarkan pelajaran sesuai dengan hirarki kemuliaan dan kepentingannya, yaitu tafsir al-Qur'an, kemudian hadis, pokok-pokok agama, ushul fikih, dan seterusnys.
6. Guru hendaknya mengatur suaranya agar tidak terlalu keras hingga membisingkan ruangan, tidak pula terlalu rendah hingga tidak terdengar oleh pelajar
7. Guru hendaknya menjaga ketertiban kelas dengan mengarahkan pembahasan pada objek tertentu.
8. Guru hendaknya menegur pelajar yang tidak menjaga sopan-santun di dalam kelas, seperti menghina temannnya, tertawa keras, tidur, berbicara dengan teman ketika guru mengajar, atau tidak menerima kebenaran.
9. Guru hendaknya bersikap bijak dalam melakukan pembahasan, menyampaikan pelajaran, dan menjawab pertanyaan. Apabila ia ditanya tentang sesuatu yang ia tidak diketahui, hendaknya ia mengatakan tidak tahu.
10. Terhadap pelajaran baru guru hendaknya bersikap wajar dan menciptakan suasana yang membuatnya merasa telah menjadi bagian dari kesatuan teman-temannya.
11. Guru hendaknya menutup setiap akhir kegiatan belajar-mengajar dengan kata-kata Wallahu Alam (Allah Maha Tahu) yang menunjukkan keikhlasan kepacia Allah.
12. Guru hendaknya tidak mengasuh pelajaran yang tidak dikuasainya.
Syarat-syarat guru di tengah-tengah pengajaran :
1. Guru hendaknya mengajar dengan niat: mengharapkan ridha Allah, menyebarkan ilmu, menghidupkan syarak, menegakkan kebenaran, dan melenyapkan kebatilan serta memelihara kebaikan umat.
2. Guru hendaknya tidak menolak untuk mengajar pelajar yang tidak mempunyai niat tulus dalam belajar. Sebagian ulama memang pernah berkata, "Kami pernah menuntut ilmu dengan tujuan bukan karena Allah, sehingga guru menolak kecuali jika kami menuntut ilmu karena Allah." Kata-kata itu hendaknya diartikan bahwa pada akhirnya niat menuntut ilmu itu hams karena Allah, sebab kalau niat tulus itu disyaratkan pada awal penerimaan pelajar, maka pelajar akan mengalami kesulitan.
3. Guru hendaknya memotivasi pelajar untuk menuntut ilmu seluas mungkin.
4. Guru hendaknya mencintai pelajarnya seperti mencintai dirinya sendiri.
5. Guru hendaknya menyampaikan pelajaran dengan Bahasa yang
mudah dan berusaha agar pelajarnya dapat memahami pelajaran.
6. Guru hendaknya melakukan evaluasi terhadap kegiatan belajar¬mengajar yang dilakukannya.
7. Guru hendaknya bersikap adil terhadap semua pelajarnya.
8. Guru hendaknya berusaha membantu memenuhi kemaslahatan pelajar, baik dengan kedudukan atau hartanya. Apabila pelajar sakit, ia hendaknya menjenguknya; dan apabila kehabisan bekal, ia hendaknya membantunya.
9. Guru hendaknya terus memantau perkembangan pelajar, baik intelektual maupun akhlak. Pelajar yang saleh akan menjadi "tabungan" bagi guru, baik di dunia maupun di akherat


D. Pengertian Pendidikan Islam
Pengertian pendidikan Islam terdapat tiga sudut pandang yaitu pendidikan menurut Islam, pendidikan dalam Islam dan pendidikan agama Islam. Pertama, pendidikan menurut Islam dapat difahami, dianalisis dan dikembangkan dan sumber autentik ajaran Islam yaitu al-Qur'an dan Hadits. Dengan demikian, pendidikan Islam merupakan pengembangan pribadi dalam semua aspek. Dalam pembahasan normatif tentang pendidikan Islam akan mengarah pada terbentuknya konsepsi pendidikan Islam yang bersifat filosofis atau yang disebut dengan filsafai pendidikan Islam.
Dari kajian filosofis tentang pendidikan, selanjutnya diturunkan konsepsi pendidikan Islam yang bersifat teoritis atau apa yang disebut denga ilmu atau tem.' pendidikan Islam,karena fungsi filsafat pendidikan salah satunya adalah memberikan dasar dan arahan dalam penyusunan teori pendidikan. Oleh karena itu, dan segi teoritis pendidikan Islam merupakan konsep berfikir yang bersifat mendalam dan terperinci tentang masalah kependidikan yang bersumber ajaran Islam yang mana rumusan-rumusan tentang konsep dasar, sestem, tujuan, metode dan materi kependidikan Islam disusun menjadi suatu ilmu yang bulat. Dengan demikian, dalam perkembangannya, hubungan antara filsafat pendidikan dan teori pendidikan bersifat dialektis.
Dari uraian di atas, bahwa pendidikan Islam berisikan konsep-konsep filosofis dan teoritis tentang pendidikan menurut Islam yang di dalamnya dijelaskan bagaimana pandangan Islam mengenai hakekat pengetahuan dan cara memperolehkannya, hakekat pendidikan, tujuan pendidikan, manusia sebagai obyek pendidikan.
Istilah pendidikan dalam Islam, merupakan kajian tentang proses, praktek penyelenggaraan dan pemikiran pendidikan yang ada di kalangan umat Islam yang berlangsung sejak lahirnya Islam itu sendiri. Corak kajian ini lebih bersifat historis yang selanjutnya akan melahirkan sub disiplin sejarah pendidikan Islam. Kajian di bidang sejarah pendidikan Islam ini setidaknya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sejarah pendidikan Islam yang bersifat sosiologis dan sejarah pemikiran pendidikan Islam. Yang pertama berisi kajian tentang bagaimana umat Islam melaksanakan kegiatan pendidikannya, bagaimana bentuk lembaga pendidikannya dan hubungannya dengan masyarakat, bagaimana kurikulumnya dan lain sebagainya. Corak kajian seperti ini telah banyak ditulis oleh para sejarawan pendidikan Islam seperti, Ahmad Syalabi, Mohammad Athiyyah al-Abrasyi, al-Tibawi dan Muhammad Munir Mursyi. Sementara itu, sejarah pemikiran pendidikan Islam berupaya untuk menelusuri butir-butir pemikiran pendidikan yang dikemukakan oleh para ilmuwan muslim di masa lalu. Penelusuran sejarah pemikiran pendidikan ini bisa di mulai sejak masa Rasullulah SAW, walaupun kita tahu bahwa pemikiran pendidikan pada masa awal-awal Islam sampai masa pemerintahan Abbasiyyah masih bercampur dengan ilmu-ilmu lain. Dalam artian, butir-butir pemikiran pendidikan pada rentang masa itu masih bertebaran di dalam karya di bidang fiqih, tafsir, hadits, filsafat, tasawwuf dan lain-lain.
Istilah pendidikan agama Islam lebih dipahami sebagai upaya atau cara mendidikkan ajaran-ajaran Islam agar menjadi panutan dan pandangan hidup seseorang. Jadi, istilah pendidikan agama Islam di sini lebih merujuk kepada kegiatan atau aktivitas pendidikan dengan nilai atau ajaran agama Islam sebagai materi kependidikannya. Dengan kata lain, pendidikan agama Islam adalah usaha-usaha sistematis dan pragmatis dalam membantu peserta didik agar mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam.
Sementara itu, Zakiyah Darajat mengartikan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nanti setelah selesai dari pendidikan dapat memahami apa yang terkandung dalam Islam secara keseluruhan, menghayati makna dan maksud serta tujuannya yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan ajaran-ajaran agama Islam sebagai way of life, sehingga dapat mendatangkan keselamatan dunia dan akhirat. Menurut Ahmad Tafsir pendidikan agama Islam adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam, atau lebih singkatnya adalah bimbingan terhadap seseorang agar ia menjadi seorang muslim semaksimal mungkin. Dalam pendapatnya yang lain, Tafsir menyatakan bahwa istilah pendidikan agama Islam sebagai bidang studi atau mata pelajaran sebenarnya kurang tepat, karena bila dihubungkan dengan kalimat " mengajarkan pendidikan agama Islam" akan nampak rancu.
Kalimat tersebut bisa difahami " mengajarkan kegiatan pendidikan agama Islam " padahal maksud kalimat tersebut adalah " mengajar- kan agama Islam ". Namun demikian, apabila penggunaan istilah pendidikan agama Islam lebih tepat dari penggunaan istilah "pengajaran agama karena pengajaran merupakan alat untuk mencapai pendidikan agama.
Dari beberapa uraian di atas, nampaklah bahwa pendidikan agama Islam merupakan bagian dari pendidikan Islam. Seluruh pendidikan Islam di Indonesia saat ini dapat dibagi menjadi empat jenis: pendidikan pondok pesantren, pendidikan umum yang bernafaskan Islam dan pelajaran agama Islam yang diselenggarakan di lembaga pendidikan umum sebagai suatu pelajaran atau mata kuliah saja.

E. Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menegah Umum
Negara Republik Indonesia adalah negara Pancasila, bukan negara sekuler, theokrasi maupun atheis. Dalam pasal 29 ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kercayaannya itu. Berdasarkan pasal ini, pemerintah tidak hanya menjamin kebebasan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu, melainkan juga menjamin, melindungi, membina, mengembangkan serta memberi bimbingan dan pengarahan agar kehidupan beragama lebih berkembang, bergairah, dan bersemarak, serasi dengan kebijaksanaan pemerintah dalam membina kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila.
Sebagai konsekuensi tersebut, pemerintah memberikan perhatian serius terhadap pelaksanaan pendidikan agama. Dengan demikian secara konstitusional ditetapkan bahwa negara Indonesia melindungi dan menghargai kehidupan beragama dari seluruh warga negara Indonesia. Dan sebagai negara yang berdasarkan agama, pendidikan agama tidak dapat diabaikan dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Pendidikan agama tidak dapat dipisahkan dan kehidupan pendidikan di Indonesia. Hal ini karena pembinaan moral bangsa yang dibimbing menurut petunjuk agama akan menjamin keselamatan kemajuan yang telah dicapai dalam bidang materiil.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa diimbangi oleh kemampuan manusia untuk menguasai diri sendiri akan mengancam dan membahayakan diri sendiri dan bangsa. Kemampuan pengendalian diri ini pada dasarnya merupakan salah satu aspek dari tujuan pendidikan agama. Itulah sebabnya, pemerintah Indonesia sejak masa kemerdekaan sampai saat ini, telah mengeluarkan berbagai kebijakan tentang pendidikan agama. Beberapa peraturan perundang-¬undangan yang mengatur tentang pendidikan agama, antara lain pasal 20 Undang-Undang Republik Indonesia No. 4 tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah yang menyebutkan bahwa :
a. Dalam sekolah-sekolah negeri diadakan pelajaran agama, orang tua murid menetapkan apakah anaknya akan mengikuti pelajaran tersebut.
b. Cara menyelenggarakan pendidikan agama di sekolah-sekolah negeri diatur dalam peraturan yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan bersama-sama dengan Menteri Agama.
Sebagai tindak lanjut dan pasal 20 tersebut di atas, dikeluarkanlah Peraturan Bersama Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, dan Menteri Agama Nomor 17678/kab/1951 dan Nomor 1c/1/9180/1951 tentang Peraturan Pendidika Agama di Sekolah-Sekolah Negeri yang ditetapkan pada tanggal 16 Juli 1951.
Kedudukan pendidikan agama semakin kuat setelah dikeluarkannya Tap MPRS Nomor II/MPRS/1960 yang dipertegas lagi oleh Tap MPRS Nomor XXVII/MPRS/1966 . Dalam pasal 2 ayat 3 Tap MPRS tersebut disebutkan "Menetapkan pendidikan agama menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah dasar sampai dengan universitas negeri." Dan pada masa selanjutnya Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) selalu mengamanatkan pentingnya pendidikan agama.
Lahirnya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) merupakan angin segar bagi dunia pendidikan di Indonesia. Secara mendasar, Undang-Undang tersebut sama sekali tidak mengabaikan keberadaan pendidikan agama di pendidikan formal.
Dari uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa eksistensi pendidikan agama di sekolah umum baik sebagai aktifitas maupun sebagai salah satu mata pelajaran mempunyai dasar hukum yang kuat.
Pada bagian berikut akan dipaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan pendidikan agama Islam di Sekolah Menengah Umum :
1. Tujuan
Guru pendidikan agama Islam merupakan salah satu ujung tombak yang menjadi tumpuan harapan dan andalan masyarakat, bangsa dan negara dalam hal pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah. Keberhasilan guru merupakan keberhasilan masyarakat, bangsa dan negara secara keseluruhan, begitu juga. sebaliknya, kegagalan guru adalah kegagalan semua. Hal ini membuktikan bahwa kunci keberhasilan pendidikan agama Islam di sekolah berada di tangan guru pendidikan agama Islam itu sendiri.
Berdasarkan gambaran di atas, maka betapa penting dan sangat mutlak bagi setiap guru pendidikan agama Islam memahami, menghayati dan mengerahkan segala potensi yang dimilikinya untuk merumuskan tujuan dan mencapai tujuan tersebut bersama seluruh siswa yang berada di bawah tanggung jawab dan kewenangannya.
Ada dua tujuan umum yang harus dicapai oleh setiap guru pendidikan agama Islam dalam mengemban tugasnya yaitu: tujuan umum dan tujuan khusus. `tujuan umum adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap guru agama Islam tanpa memandang jenjang jabatan guru dan jenjang sekolah tempat guru yang bersangkutan bertugas. Sedangkan tujuan khusus adalah tujuan yang harus dicapai guru perjenjang pendidikan.
Adapun rumusan tujuan umum yang harus dicapai oleh setiap guru pendidikan agama Islam adalah untuk "meningkatakan kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dan meningkatkan kualitas kepribadian muslim (akhlakul kalimah) peserta didik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, bernegara "Adapun tujuan pendidikan agama Islam di sekolah menengah umum adalah meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan siswa tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, .bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara serta untuk melanjutkan pendidikan pada pendidikan tinggi.
Tujuan Pendidikan Agama Islam di atas menggambarkan beberapa indikator keberhasilan pendidikan agama Islam yaitu :
a. Siswa taat beribadah, berdzikir, berdoa, dan mampu menjadi imam
b. Siswa mampu membaca al-Qur'an dan memahami serta menghayati isi kandungan al-Qur'an
c. Siswa memiliki kepribadian muslim (berakhlak mulia),
d. Siswa memahami, menghayati dan mengambil manfaat dan sejarah Islam
e. Siswa mampu menerapkan prinsip-prinsip pergaulan (muamalah) dan prinsip-prinsip syariah Islam dengan baik dalam kehidupannya.
Beberapa indikator keberhasilan di atas disederhanakan dalam beberapa tema sentral pendidikan agama Islam pada sekolah umum yang harus dicapai secara minimal pada setiap jenjang sekolah. Tema sentral tersebut adalah :
a. Siswa mampu beribadah dengan baik dan tertib
b. Siswa mampu membaca al-Qur'an
c. Siswa membiasakan berakhlak baik
Untuk merealisasikan tujuan pendidikan agama Islam tersebut, maka ruang lingkup pendidikan agama Islam mencakup usaha mewujudkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan sesama manusia, hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungan alamnya.
2. Materi Pokok
Ruang lingkup bahan pengajaran Pendidikan Agama Islam meliputi tujuh unsur pokok, yaitu keimanan, ibadah, al-Qur'an, akhlak, muamalah, syariah, dan tarikh (sejarah Islam). Namun demikian, penekanan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Umum lebih diberikan kepada empat unsur pokok yaitu, keimanan, ibadah, Al Quran, dan akhlak.
Menyadari adanya beberapa kelemahan dalam pelaksanaan kurikulum Pendidikan Agama Islam tahun 1994, maka pada tahun 1999 Departemen Pendidikan Nasional mengeluarkan suplemen Garis-Garis Besar Pokok Pengajaran. Suplemen ini merupakan penyempurnaan GBPP mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kurikulum 1994 yang disusun berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan oleli guru, ahli materi dan ahli pendidikan.
Beberapa permasalahan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam yang telah diperbaiki meliputi :
a. Tujuan tertentu yang terlalu luas
b. Cakupan materi tertentu yang terlalu luas
c. Beberapa. pokok bahasan/sub pokok bahasan yang kurang relevan dengan kebutuhan siswa
d. Pengulangan materi yang tidak diperlukan
e. Tidak seimbang antara kepadatan materi dengan waktu yang tersedia.
Penyempurnaan GBPP ini dilakukan secara konseptual dengan mempertimbangkan aspek lainnya yang terkait agar tidak menimbulkan permasalahan dalam pelaksanaan di lapangan. Oleh karena itu, penyempurnaan kurikulum dilakukan secara bertahap. Pada tahap ini penyempurnaan kurikulum mencakup:
a. Perbaikan dan penyederhanaan beberapa tujuan pembelajaran
b. Perbaikan dan penyempurnaan beberapa pokok bahasan/ sub pokok bahasan
c. Pemindahan beberapa pokok bahasan/ sub pokok bahasan
d. Penggabungan beberapa pokok bahasan/ sub pokok bahasan.
Idealnya, dalam merumuskan materi PAI untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) harus mempertimbangkan aspek tujuan dan aspek psikologi perkembangan anak usia remaja terutama pada perkembangan jiwa keagamaanya. Penekanan tentunya diberikan kepada materi yang mendukung terbentuknya kepribadian anak yang beriman dan bertaqwa kepada Allah dan berbudi pekerti atau berakhlak mulia. Oleh karena itu, pembelajaran PAI di Sekolah Menengah Umum tidak boleh direduksi hanya pada penyampaian pengetahuan agama, menghafal ayat Al-Qur'an atau Hadits, melainkan juga pada upaya memperkuat akidah siswa membentuk kepribadian, percaya diri dan akhlak siswa.
3. Pendekatan dan Metode
Penetapan pendekatan dan metode pengajaran merupakan hal yang paling pokok baik pada strategi maupun pada metodologi pengajaran. Seorang guru dalam melakukan tugas pengajarannya tentunya tidak bisa dilepaskan dari pendekatan yang digunakannya, baik hal tersebut disadari atau tidak. Hal ini karena pendekatan merupakan cara pandang seorang guru terhadap hakikat anak didik, tujuan pengajaran, materi pengajaran dan proses belajar mengajar itu sendiri yang kesemuanya didasarkan pada asumsi, konsep dan teori tertentu.
Seorang guru yang memandang PBM sebagai proses pencarian dan penemuan sendiri oleh siswa tentu akan berbeda dalam mengelola proses belajar mengajarnya dibanding dengan guru yang memandang bahwa PBM tidak lebih dari penyajian informasi. Ada beberapa strategi belajar mengajar yang didasarkan pada pendekatan tertentu seperti
inquiry-discovery approach, mastery learning approach dan humanistic education approach. Masing-masing pendekatan tersebut dibangun di atas teori-teori tentang proses belajar, hakikat keberhasilan proses belajar mengajar dan hakikat proses pendidikan itu sendiri. Di samping pendekatan-pendekatan tersebut di atas, ada pula pendekatan individual, pendekatan kelompok, pendekatan bervariasi, pengalaman, pembiasaan, pendekatan edukatif, pendekatan keagamaan, dan pendekatan campuran. Ke semua pendekatan tersebut bisa diterapkan untuk semua proses belajar mengajar termasuk mata pelajaran pendidikan agama Islam .
Namun demikian, mengingat kekhususan-kekhususan tertentu yang ada dalam pendidikan agama Islam baik yang berkaitan dengan tujuan, fungsi dan ruang lingkup materinya, maka kurikulum pendidikan agama Islam dalam semua tingkat pendidikan menganjurkan digunakannya lima macam pendekatan yaitu; pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, dan pendekatan fungsional.
Pendekatan pengalaman adalah pemeberian pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini, peserta didik diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman keagamaan baik secara individual maupun kelompok. Metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain: metode pemberian tugas (resitasi) dan tanya jawab pengalaman keagamaan siswa.
Pendekatan pembiasaan dilaksanakan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk senantiasa mengamalkan ajaran agama, baik secara individual, maupun kelompok dalam kehidupan sehari¬hari. Metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain; metode latihan (drill), pelaksanaan tugas, demonstrasi dan pengalaman langsung di lapangan.
Pendekatan emosional adalah usaha memberikan peranan kepada rasio dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agama, termasuk mencoba untuk memahami hikmah dan fungsi ajaran agama. Metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain; metode ceramah, tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, latihan dan pemberian tugas.
Pendekatan fungsional adalah usaha menyajikan ajaran agama Islam dengan menekankan pada segi kemanfaatannya bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya. Materi yang dibahas dipilih sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan peserta didik di masyarakatnya. Metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain; metode latihan, pemberian tugas, ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi .
Dalam pelaksanaanya guru pendidikan agama Islam hendaknya tidak terpaku pada satu pendekatan saja, tetapi perlu mengkombinasi kannya dengan satu atau lebih pendekatan lainnya. Namun demikian, pemilihan dan penentuan pendekatan yang akan digunakan juga hams mempertimbangkan tujuan pembelajaran yang telah disusun sebelumnya serta karakteristik siswa dan materi yang akan diajarkan. Oleh karena itu, pada tahap perencanaan seorang guru sudah merencanakan pendekatan dan metode apa yang akan digunakan yang selanjutnya akan dituangkan dalam Program Satuan Pelajaran.
4. Evaluasi dan Prestasi Belajar Siswa
Untuk mengetahui sejarah mana keberhasilan proses pembelajaran sekaligus untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran dan prestasi belajar siswa, maka perlu diadakan penilaian dan evaluasi. Evaluasi berasal dan bahasa Inggris "evaluation" yang berarti penilaian. Whiterington sebagaimana dikutip oleh Ahmad Tafsir memberikan batasan bahwa "an evaluation is a declaration that something has or does not have value".
Sementara itu Anas Sudjono mengartikan bahwa evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Dikaitkan dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, maka evaluasi Pendidikan Agama Islam adalah dapat diartikan sebagai suatu kegiatan untuk melukiskan, menggambarkan, mengumpulkan dan menyediakan informasi yang berguna dalam rangka menilai taraf keberhasilan atau ketercapaian tujuan proses pembelajaran melalui instrumen-instrumen tertentu yang dilaksanakan selama dan sesudah berlangsungnya proses pembelajaran pendidikan agama Islam. Evaluasi merupakan salah satu komponen dalam proses pembelajaran yang sudah harus direncanakan dalam pembuatan program pengajaran. Hasil evaluasi pendidikan agama Islam ini antara lain diwujudkan dalam bentuk nilai hash belajar siswa yang merupakan representasi dari prestasi belajar siswa. Dengan demikian, prestasi belajar pendidikan agama Islam dapat diartikan secara sederhana sebagai nilai akumulatif yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran pendidikan agama Islam yang dikembangkan dalam angka atau huruf.
Sebenarnya dalam petunjuk pelaksanaan kurikulum pendidikan agama Islam tahun 1994 telah diuraikan tentang fungsi, sasaran/aspek yang dinilai, prosedur dan alat penilaian yang digunakan. Mengenai fungsi evaluasi disana dijelaskan bahwa evaluasi yang dilaksanakan adalah untuk menilai proses dan hash belajar siswa. Sedangkan aspek yang dinilai mencakup aspek kongnitif, afektif dan psikomotor. Penilaian terhadap aspek kongnitif mencakup semua materi unsur Pendidikan Agama Islam. Sedangkan aspek afektif lebih ditekan kan pada unsur pokok keimanan dan budi pekerti. Adapun penilaian aspek psikomotor terutama ditekankan pada unsur pokok ibadah terutama " shalat " dan unsur pokok Al-Qur'an terutama kemampuan dalam baca tulis huruf Al-Qur'an.
Adapun prosedur pelaksanaannya dilakukan melalui tes formatif dan tes sumatif. Berkenaan dengan alat/instrumen evaluasinya. Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Pendidikan Agama Islam meningkat kan agar tidak hanya menggunakan tes bentuk essay (uraian), tes perbuatan dan tes sikap. Evaluasi terhadap unsur pokok ibadah dan Al-Quran agar lebih ditekankan pada tes perbuatan, sedangkan unsur akhlak ditekankan pada alat penilaian yang berupa observasi dan pemberian tugas.
Guru pendidikan agama Islam merupakan bagian dan profesi guru pada umumnya. Oleh karena itu, profil guru pendidikan agama Islam juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang lazim bagi seorang guru. Meskipun demikian, karena pendidikan agama Islam memiliki kekhasan sendiri dibandingkan dengan bidang studi yang lain, maka guru pendidikan agama Islam di samping harus memiliki kompetensi keguruan pada umumnya, is juga dituntut memiliki kualiftkasi-kualifikasi tertentu yang melekat pada ciri khas itu sendiri.
F. Peranan Guru Pendidikan Agama Islam
Mengingat semakin berkembangnya kemajuan zaman dan ditunjang makin banyaknya tuntutan kebutuhan manusia, orang tua dalam situasi tertentu tidak dapat memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya. Dengan demikian mereka memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan kepada orang lain. Namun, dengan melimpahkan kewenangan pendidikan anaknya kepada orang lain itu tidak sama sekali mengurangi tanggung jawab sebagai orang tua. Mereka tetap memegang tanggung jawab pertama dan sampai akhir dalam mendidik anak, yakni mempersiapkan agar beriman kepada Allah dan berakhlak mulia, membimbingnya untuk mencapai kematangan berfikir dan keseimbangan psikis, serta mengarahkannya agar membekali diri dengan berbagai ilmu dan keterampilan yang bermanfaat.
Seseorang yang menerima amanat orang tua untuk mendidik anak itu disebut guru, yang meliputi guru madrasah atau sekolah, mulai dari Taman Kanak-Kanak sampai sekolah menengah, dosen di Perguruan Tinggi, kyai untuk di pondok pesantren dan lain sebagainya. Namun demikian seorang guru bukan hanya penerima amanat dari orang tua untuk mendidik anaknya, melainkan dari setiap orang yang memerlukan bantuan untuk mendidiknya. Sebagai pemegang amanat, guru harus bertanggung jawab atas amanat yang diserahkan kepadanya.
Guru dalam perpektif Islam mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pendidikan. Sebab guru yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik baik potensi afektif, kognitif maupun psikomotoriknya. Pengalaman dari paradigma jawa, pendidik diidentikkan istilah guru yang mempunyai makna yakni "digugu " dan " ditiru ". Namun dalam dari paradigma baru, pendidik tidak hanya berfungsi sebagai pengajar tetapi juga sebagai motivator, fasilitator proses belajar mengajar.14 Menurut Indrajati Sidi guru masa depan tidak hanya berperan sebagai pengajar dan pendidik semata¬mata, tetapi harus memerankan diri sebagai pelatih (coach), pembimbing (conselor) dan manager belajar (learning manger).

1. Guru Sebagai Pendidik (educator)
Pengertian dengan istilah pendidik seperti yang dikemukakan Sutari Imam Barnadib adalah semua orang yang sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai kedewasaan. Oleh karena itu, maka tugas guru adalah berupaya memberikan beberapa rangsangan positif agar siswa dapat melakukan serangkaian aktivitas dalam rangka membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan terpendam yang berada didalam dirinya secara laten. Karena peran yang dimainkan guru selalu bergerak dalam kerangka pendidikan maka arah yang akan dituju oleh proses pengawalan ini adalah berorientasi pada kemajuan siswa.
Pengertian pendidik pada dasarnya tidak jauh berbeda dari pengajar, yakni sama-sama sebagai upaya seseorang dalam membangun potensi anak didik. Hanya jika mengajar lebih terbatas pada upaya transferisasi ilmu pengetahuan dari seseorang kepada orang lain. Dalam pengertian pendidik, selain terdapat upaya pemindahan pengetahuan juga terdapat nuansa dan komitmen serta tanggung jawab moral untuk membangun komitmen moral anak didik. Oleh karena itu, maka dalam uraian berikut ini pemngertian guru sebagai pengajar tidak terlalu dipertimbangkan. Pertimbangannya, karena perbincangan mengenai pendidik serta implisit sebenarnya telah membicarakan guru sebagai pengajar-secara umum.
Dalam konteks pendidikan Islam, tampaknya terminologi tentang pendidik ini lebih hams mendominasi dari pada terminologi pengajar (teacher). Idealisme ini penting dikembangkan mengingat dalam beberapa kurun waktu terakhir ini paradigma pendidikan Islam sepertinya semakin kurang menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan nuansa moral. Realitas ini diakui atau tidak sebagai konsekuensi logic dari gencarnya penetrasi konsep pendidikan barat yang dalam batasan tertentu memang terkesan bernuansa materialisme dan prag matisme. Dalam batasan itu, paradigma moral dan spiritual cenderung berada pada posisi yang kurang diperhatikan. Beberapa akibat lanjut dan kenyataan ini adalah semakin banyaknya output pendidikan Islam yang mengalami perpecahan jiwa, yakni di satu sisi mereka mulai akrab dengan akses informasi dan gaya hidup secara global yang langka terhadap nilai-nilai spiritual, sedangkan di sisi lain mereka masih memegang teguh dasar-dasar kelslaman secara normatif.
Yang membuat merosotnya dari fenomena pendidikan Islam ini adalah kurangnya sosialisasi konsep kefilsafatan pandidikan Islam yang berakar dari nilai-nilai Al-Qur'an. Padahal menurut Syeh Ali Ashraf, sebagian besar penyebab kegagalan pelaksanaan pandidikan Islam itu adalah dua hal. Pertama kuatnya penetrasi konsep pendidikan dengan orientasi kefilsafatan materialisme Barat. Dan kedua, karena kurangnya umat Islam mengembangkan sisi terjauh konsep kefilsafatan pendidikan Islam yang berakar dari nilai-nilai qur'ani.
Dengan demikian, semakin jelaslah urgenitas dari pengembangan konsep pendidik sebagai peranan yang harus dimainkan oleh seorang guru. Istilah pendidikan selalu mengacu pada komitmen penegakan nilai-nilai moral dalam din anak didik. Jika mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Danar Johan, sepertinya semakin mudah dipahami mengapa dimensi moralitas dan spiritualitas ini penting dikembangkan dalam din anak didik, di samping dimensi intelektualitas (IQ) .
Dalam konteks perkembangan masa depan agaknya anak didik yang memiliki kecerdasan emotional (emotional intellegence) dan kecerdasan spiritual (spiritual intellegence) akan semakin mampu untuk eksis dalam berbagai pergumulan peradaban sebagai pelengkap dan kecerdasan intelektual (intellectual intellegence). Selanjutnya, kaitannya dengan pendidikan dan peran pendidik adalah keseimbangan muatan yang diberikan oleh pendidik dalam meMbangun kekuatan emosi dan spiritual anak didik. Untuk itu, tentu saja guru tidak- cukup hanya dengan berperan sebagai pengajar, tetapi harus berperan sebagai pendidik (educator). Di sinilah relevansi konsep pendidikan dalam pandangan Islam jika dihadapkan dengan kecenderungan konsep kehidupan masa depan.
2. Guru sebagai Pendorong Perkembangan Siswa (Motivator)
Barangkali masih hangat dalam benak kita dan terasa masih akan relevan pandangan Paulo Freire mengenai konsep pendidikan pembebasannya. Freire sebagai praktisi pendidikan sangat mengecam praktik pendidikan yang dianggapnya menindas, yakni sebuah proses pengajaran yang selalu memposisikan anak didik sebagai sebagai objek yang selalu berada pada posisi yang dan guru sebagai pemenang otoritas keilmuan dan tidak boleh salah (teacher can do no wrong). Akibatnya dalam ruang kelas yang ada hanyalah instruksi yang laku, dan siswa dipaksa berada pada posisi yang tidak dapat diajak berdialog.
Sistem pendidikan gaya bank seperti yang digambarkan di atas, selalu menganggap siswa sebagai botol kosong yang siap diisi. Padahal secara psikologis setiap siswa telah membawa bakat dan minatnya masing¬masing, dan tugas guru adalah membangun potensi itu secara perlahan¬lahan dan mencerahkan, bukan memaksanya.
Dalam kaitan dengan pembahasan point ini, barangkali sangat tepat jika kita membicarakan peran guru sebagai motivator dan pendorong perkembangan dan kematangan kejiwaan dan intelektual anak didik. Sebagai pendorong kematangan psikologis anak didik, guru harus mampu mengidentifikasikan kemampuan dan potensi anak didik sehingga mereka dapat mengembangkannya ke arah yang lebih baik. Dalam pengembangan ini guru seharusnya memberikan dan menciptakan suasana belajar yang kondusif agar anak didik senang dan gembira melakukan kegiatan belajar.
Sebagai motivator, guru diharapkan dapat memberikan kemungkinan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi mereka secara mandiri. Konsep ini sangat tepat dilakukan dalam rangka mengimbangi perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih. Dalam dunia modern siswa dipastikan semakin cepat mengakses informasi dan dunia luar sekolah, yang selanjutnya didiskusikan di ruang kelas. Realitas ini tentu semakin cepat mematangkan kedewasaan intelektual anak didik.
Posisi guru dalam kemajuan modern seperti itu tentu tidak lagi berpola seperti masa lalu yang menganggap hanya guru yang dapat mengakses informasi, sedangkan siswa selalu di posisi yang tidak tahu. Dalam batasan inilah maka pemahaman siswa merupakan mitra bagi guru dapat dimengerti. Guru dalam peranannya sebagai motivator harus mampu merangsang anak didik agar semakin banyak menyerap informasi dan berbagai sumber. Untuk itu tugas-tugas di luar sekolah sedapat mugkin diberikan dalam rangka pengembangan semangat otodidak mereka. Selain itu, penugasan ini dapat melatih semangat kemandirian mereka sebagai bekal untuk hidup di masyarakat. Gaya mendidik sebagai motivator ini agaknya perlu terus dikembangkan sebagai peranan penting yang hams dilakukan oleh guru di sekolah dalam rangka memberikan pendidikan yang mencerahkan dan membebaskan anak didik.
Dalam pada itu Gagne dan Briggs, seperti yang dikutip Muhammad Ali, juga memandang pentingnya proses belajar bagi siswa yang lebih menitikberatkan pada kerja mandiri. Dengan demikian, dalam proses balajar mengajar yang baik itu, bukannya tepletak pada upaya guru dalam menyampaikan pelajaran atau materi ajar, melainkan bagaimana guru mampu membangun minat siswa untuk belajar secara mandiri dalam mencapai tujuan belajar.
3. Guru sebagai Penata Proses Belajar Mengajar (Manager)
Secara administratif, tugas guru memang tidak lepas dari lingkungan sekolah yang secara formal dikelola dengan rapi melalui aturan-aturan administratif tertentu. Dalam hubungan ini, seorang guru yang baik adalah mereka yang mampu menata suasana secara apik sehingga menimbulkan suasana belajar yang sejuk dan tenang bagi anak didik.
Dalam peranannya sebagai pengelola kelas dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek-dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisir. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Pengawasan terhadap lingkungan belajar itu sangat menentukan sejauh mana lingkungan tersebut menjadi lingkungan belajar yang baik. Lingkungan belajar yang baik adalah yang bersifat menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan.
Menurut Mohammad Uzer Usman, kualitas dan kuantitas belajar siswa di dalam kelas bergantung pada banyak faktor antara lain adalah guru, hubungan pribadi antara siswa di dalam kelas, serta kondisi umum dan suasana di dalam kelas. Tujuan umum pengelolaan kelas ialah menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas untuk bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik. Tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil belajar yang baik.
Sebagai manajer, guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing proses-proses intelektual dan sosial di dalam lingkungan kelasnya. Dengan demikian, guru tidak hanya memungkinkan siswa belajar, tetapi juga mengembangkan kebiasaan dan bekerja secara efektif di kalangan siswa.
Tanggung jawab yang lain sebagai manajer yang penting bagi guru adalah membimbing pengalaman-pengalaman siswa sehari-hari ke arah self directe behavior. Salah satu manajemen kelas yang baik adalah menyediakan kesempatan bagi siswa untuk sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungannya pada guru sehingga mereka mampu membimbing kegiatannya sendiri. Siswa hams belajar melakukan self control dan self activity melalui proses bertahap.
Sebagai manajer guru seharusnya mampu memimpin kegiatan belajar yang efektif serta efisien dengan optimal. Sebagai manajer lingkungan belajar di kelas, guru idealnya dapat mempergunakan pengetahuan tentang teori belajar mengajar dan teori perkembangan sehingga kemungkinan untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang menimbulkan kegiatan belajar pada siswa akan mudah dilaksanakan dan sekaligus memudahkan pencapaian tujuan yang diharapkan.
G. Metodologi Pengajaran Agama Islam
1. Pengertian
Metodologi berarti ilmu tentang metode, sementara metode berarti cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Berdasarkan etimologi tersebut, Metodologi Pengajaran Agama Islam adalah ilmu yang membahas cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan pengajaran Agama Islam guna mencapai tujuan yang ditentukan. Dalam pengertian ini Metodologi Pengajaran Agama Islam merupakan suatu cabang ilmu tentang mengajar.
Ilmu tentang mengajar disebut didaktik. Dalam mengajar, guru tidak hanya dituntut untuk menanamkan pengetahuan dan kecakapan kepada pelajar tetapi juga mendorong terjadinya proses belajar. Oleh sebab itu, didaktik adalah ilmu yang membahas tentang kegiatan proses mengajar yang menimbulkan proses belajar.
Didaktik dibedakan menjadi didaktik umum dan didaktik khusus. Didaktik umum membahas prinsip-prinsip umum dalam mengajar dan belajar. Maka persoalan-persoalan yang berkenaan dengan tujuan mengajar, bagaimana terjadinya proses belajar pada pelajar, bagaimana agar murid dapat dengan mudah menerima bahan pelajar, dan lain-lain merupakan topik-topik bahasan di dalam didaktik umum. Sementara itu, didaktik khusus membahas cara-cara guru menyajikan bahan pelajaran kepada pelajar. Pembahasan dimaksudkan untuk mencari cara penyajian yang cepat dan tepat. Didaktik khusus disebut juga dengan metodik.
Cara-cara yang digunakan guru dalam mengajar ada yang dapat diterap kan kepada semua bahan pelajaran, seperti agama dan hahasa. Ilmu yang membahas cara pertama disebut metodik umum, sedangkan yang membahas cara kedua disebut metodik khusus. Dari pembagian terakhir inilah diperoleh Metodik Khusus Pembelajaran Agama Islam atau Metodologi Pengajaran Agama Islam. Persoalan-persoalan yang di bahas di dalamnya terutama meliputi rencana pelajaran (kurikulum), bentuk pengajaran, jalan pelajaran, alat pelajaran, dan evaluasi.
2. Kegunaan Metodologi Pengajaran Agama Islam
Keberhasilan atau kegagalan guru dalam menjalankan proses belajar-mengajar banyak ditentukan oleh kecakapannya dalam memilih dan mengguna- kan metode mengajar. Seringkali dijumpai seorang guru yang berpengetahuan luas tetapi tidak berhasil dalam mengajar hanya karena ia tidak menguasai metode mengajar. Itulah sebabnya, metode mengajar menjadi salah satu objek bahasan yang penting di dalam pendidikan. Metodologi Pengajaran adalah disiplin yang membahas objek tersebut. Karenanya, mempelajari Metodologi Pengajaran menjadi salah satu prasyarat dalam profesi keguruan.
Ada anggapan bahwa untuk menjadi guru tidak perlu mempelajari metode mengajar, karena kegiatan mengajar bersifat praktis dan alami, siapapun dapat mengajar asalkan memiliki pengetahuan tentang apa yang akan diajarkan. Dari pengalamannya, orang kelak akan dapat meningkatkan kualitas pengajarannya. Memang ada orang yang kebetulan dapat mengajar dengan baik tanpa mempelajari metode mengajar, tetapi ada pula yang juga kebetulan tidak dapat mengajar dengan baik karena tidak mempelajarinya.
Pada dasarnya, guru-guru "kebetulan" itu bersandar kepada pengalaman pribadinya di dalam mengajar. Pada dasarnya pula, metodologi pengajaran merupakan hasil pengkajian dan pengujian terhadap pengalaman-pengalaman semacam itu, sehingga menjadi pengalaman yang tidak lagi kebetulan, tetapi pengalaman yang mempunyai kebenaran berdasarkan metode ilmiah. Dengan demikian, metodologi pengajaran jauh memberikan kemudahan kepada guru dalam menjalankan tugas mengajar. Di samping itu, ilmu pengetahuan dan orientasi pendidikan yang baru serta metode-metode mengajar yang sesuai dengan perkembangan baru tersebut.
Keberadaan metodologi pengajaran menunjukkan pentingnya kedudukan metode dalam sistem pengajaran. Tujuan dan isi pengajaran yang baik tanpa di dukung metode penyampaian yang baik dapat melahirkan hasil yang tidak baik. Atas da_sar itu, pendidikan Islam menaruh perhatian yang besar terhadap masalah metode.
Mahmud Syaltut di dalam bukunya Ila al-Qur'an al-Karim,
mengemukakan kandungan pokok al-Qur'an yang secara garis besar terdiri atas tiga petunjuk, yaitu:
a. Petunjuk tentang akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia dan tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan serta kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan.
b. Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupan baik individu maupun kolektif.
c. Petunjuk mengenai syariat dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya.
Dalam menyajikan maksud-maksud tersebut, al-Qur'an menggunakan metode-metode tertentu, yang secara umum mencakup metode sebagai berikut :
a. Mengajak manusia untuk memperhatikan dan mengkaji segala ciptaan Allah sehingga mengetahui rahasia-rahasia-Nya yang terdapat di alam semesta.
b. Menceritakan kisah umat terdahulu, baik individu maupun kelompok, baik orang-orang yang mengerjakan kebaikan maupun orang-orang yang mengadakan kerusakan, sehingga dari kisah itu manusia dapat mengambil pelajaran tentang hukum sosial yang diberlakukan Allah terhadap mereka.
c. Menghidupkan kepekaan batin manusia yang mendorongnya untuk bertanya dan berfikir tentang awal dan materi kejadiannya, kehidupannya, dan kesudahannya, sehingga insyaf akan Tuhan yang menciptakan segala kekuatan.
d. Memberi kabar gembira dan janji serta peringatan dan ancaman. Sebagai contoh, Allah berfirman dalam (QS. Al-Baqarah (2): 256):
      ••                     
Artinya :
Tidak ada paksaan untuk agama ; sesungguhnya telah jelas jalan yang henar daripada jalan yang sesat. Karena flu harang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan heriman kepada Allah, maka sestmgguhnya is telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
(Q.S. Al Baqarah : 256)

Firman Allah tersebut secara eksplisit tengah berbicara mengenai kebebasan beragama. Namun, secara implisit prinsip kebebasan itu juga mengisyaratkan suatu prinsip belajar, yakni prinsip pengubah tingkah laku dan tidak beragama Islam menjadi beragama Islam. Sebagaimana terlihat, prinsip yang hendaknya digunakan bukan pemaksaan, melainkan membuka wawasan untuk menganalisis jalan yang benar dan jalan yang salah, lalu mengadakan perbandingan, sambil memberikan motivasi dengan mengemukakan keuntungan yang akan diperoleh dari menempuh jalan yang benar.
Contoh lain, firman Allah di bawah ini secara langsung mengungkap beberapa metode dan pendekatan yang hendaknya digunakan dalam pengubah tingkah laku beragama, yaitu hikmah (bijaksana), pelajaran yang baik, dan mujadalah (berargumentasi) dengan baik. Semuanya menunjuk kepada suatu pendekatan persuasif yang melibatkan keaktifan domain intelektual dan emosional secara simultan, sehingga perubahan tingkah laku mitra bicara lahir berdasarkan keputusannya sendiri. Allah berfirman dalam : ( QS. An Nahl, 16 : 25)

                 
Artinya :
Menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun. Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu. (QS. An Nahl 25)

Contoh lain berkaitan dengan pengajaran dan hasil belajar. Pengajaran tidak hanya membangun pengetahuan, sikap, dan keterampilan, tetapi juga membangun kemauan pelajar untuk mengamalkan apa yang telah dipelajarinya. Dengan kata lain, hash! belajar harus termanifestasi dalam perbuatan. Itulah sebabnya, dalam kehidupan sehari-hari terdapat semacam tuntutan terhadap penyandang predikat "terpelajar" untuk mensinkronkan perilakunya dengan apa yang telah dipelajarinya. Tuntutan semacam ini terdapat pula di dalam Al Quran . Allah berfirman dalam ( QS. Ali Imran , 3 : 79 )
           ••                 
Artinya :
Tidak wajar hagi seseorang manusia yang Allah berikun kepudanya al-Kitab, hikmah dan kenahian, lalu dia herkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku hukan penyembah Allah." Akan tetapi: "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengujurkan al-Kitab dan disehahkan kumu letup mempelajarinya.(QS. Ali Imraan : 79)

H. Minat Belajar Siswa Terhadap Pendidikan Agama Islam
Minat merupakan kesiapan jiwa seseorang sifatnya aktif untuk dapat menerima informasi dari luar. Misalnya, mahasiswa memusatkan perhatian dan kegiatan-kegiatan dalam belajar demi untuk mencapai cita-cita. Dengan kata lain, minat merupakan aktivitas kejiwaan yang dipusatkan pada suatu objek yang bersangkutan dengan din individu, sehingga individu mampu berbuat sesuatu berdasarkan objek tersebut.
Selanjutnya dapat dikatakan bahwa minat itu timbul dengan sendirinya, berubah-ubah sesuai dengan objek atau lingkungan yang menstimulasi individu, sehingga individu mampu berbuat sesuatu. John G. Nunally mendefinisikan minat sebagai stated preference of activities. Soegarda mendefinisikannya sebagai kesediaan jiwa yang sifatnya aktif untuk menerima sesuatu dari luar. Menurut Slameto, minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.
Jadi, minat pada dasarnya adalah gejala jiwa pembentukannya tidak berdiri sendiri tetapi berinteraksi dengan gejala-gejala jiwa lainnya. Dengan demikian, minat merupakan proses yang terjadi sebagai reaksi terhadap rangsangan yang diterima dan luar. Minat menimbulkan perasaan lebih senang terhadap suatu subjek tertentu dibandingkan dengan objek lainnya.
Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan jika mereka bebas memilih apa yang mereka kehendaki. Jika mereka melihat bahwa sesuatu itu menguntungkan pada dirinya maka akan timbullah minat untuk melakukannya, selanjunya akan memberikan kekuasaan. Jika kepuasan berkurang, minatpun lambat laun akan berkurang pula.
Sebaliknya, kesenangan merupakan minat yang bersifat sementara. la berbeda dengan minat bukan dalam hal kualitas melainkan dalam ketetapan. Selama kesenangan itu ada, mungkin intensitas dan motivasi yang menyertainya sama tingginya dengan minat, namun kesenangan akan mulai berkurang karena kegiatan yang akan ditimbulkannya memberi kepuasan yang bersifat sementara, sementara minat lebih tetap karena minat memuaskan kebutuhan yang penting dalam kehidupan seseorang. Semakin kuat kebutuhan seseorang semakin kuat dan bertahan pada minat tersebut.
Dalam hal minat penulis kemukakan beberapa pendapat para ahli. Whitherington mengatakan : "minat adalah kesadaran seseorang, bahwa suatu objek seseorang, suatu soal atau situasi mengandung sangkut paut dengan dirinya". Sementara Ibrahim Bafaddal memberikan pengertian minat dengan "sifat atau sikap yang memiliki kecenderungan-kecenderungan atau tendensi tertentu ".
Melihat penjelasan tersebut sehubungan dengan minat atau "Interest' dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Minat bukan hasil pembawaan manusia, melainkan dapat di bentuk atau diusahakan, dipelajari, dan dikembangkan.
b. Minat itu dapat dihubungkan untuk maksud-maksud tertentu untuk bertindak.
c. Secara sempit, minat itu diasosiasikan dengan keadaan sosial seseorang dan emosi seseorang.
d. Minat itu biasanya membawa inisiatif dan mengarah kepada kelakuan atau tabiat manusia.
Minat merupakan pernyataan ekspresi seseorang yang menunjukkan kecenderungan kepada suatu objek sehingga aktivitas-aktivitas yang lebih besar porsinya ditunjukkan kepada objek tersebut daripada objek lainnya. Karena itu, minat seseorang kepada sesuatu objek akan menyebabkan ia memberi perhatian yang lebih besar pula kepada objek tersebut.
Menurut Suharsimi Arikunto, minat merupakan kecenderungan seseorang untuk memilih atau menolak suatu kegiatan. Sebetulnya apa yang dicari atau ditolak bukan hanya kegiatan saja, melainkan juga benda, orang ataupun situasi. Suatu objek yang ada kaitannya dengan din seseorang baik berupa kegiatan, benda, orang maupun situasi akan menyebabkan seseorang memusatkan perhatian untuk melanjutkan melakukan aktivitas terhadap objek. Aktivitas yang dilakukan tertuju kepada objek rangsang itu banyak sedikitnya disertai oleh kesadaran. Kesadaran yang menyertai seseorang terhadap suatu aktivitas akan lebih berhasil dan lebih berkualitas dibandingkan dari aktivitas yang tidak disertai oleh kesadaran.
Dalam hubungannya dengan pendidikan agama, minat siswa selain didorong oleh kewajiban mengetahui ajaran-ajaran agama yang diajarkan, terkait dengan kebutuhan hidup sehari-hari, juga karena pelajaran pendidikan agama itu wajib dan merupakan salah satu mata pelajaran inti yang termasuk dipertimbangkan untuk menentukan keberhasilan siswa dalam ujian. Masalah minat terkait dengan keinginan dan kebutuhan. Jika seseorang membutuhkan sesuatu, maka dengan sendirinya keinginannya untuk memperoleh yang dibutuhkan akan muncul dan hal itu dapat mewujudkan aktivitas kerja untuk memperoleh apa yang dibutuhkan, tanpa kebutuhan, keinginan juga tidak ada. Sebaliknya, tanpa keinginan maka kebutuhan tidak akan terpenuhi.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa secara garis besar ada dua faktor yang sangat berpengaruh terhadap terbentuknya minat. Kedua faktor yang dimaksud adalah faktor intern dan faktor ekstern. Kombinasi antara kedua faktor itu mendorong seseorang untuk beraktivitas yang merupakan seleksi dari berbagai aktivitas-aktivitas lainnya untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan menghindari aktivitas lain yang tidak mendukung tercapainya tujuan.
Sampai sekarang ini studi-studi mengenai minat telah banyak dilakukan. Meskipun demikian, sebagian besar di antaranya masih mendasarkan kajiannya pada asumsi-asumsi sebagai berikut :
a. Minat selain merupakan pembawaan juga merupakan hasil keterlibatan individu dalam suatu kegiatan.
b. Minat cenderung bersifat tidak tetap atau berubah-ubah pada anak-anak. Pada usia di atas 20 tahun, minat cenderung menjadi tetap dan hanya mengalami perubahan kecil di atas umur 25 tahun. Namun, minat tidak pernah tetap untuk selamanya.
c. Orang-orang dari golongan pekerjaan yang berbeda-beda mempunyai rasa senang dan tidak senang yang sama terhadap suatu kegiatan.
d. Minat berbeda dalam intensitas pada tiap-tiap orang.
Kajian pada asumsi-asumsi di atas disebabkan karena asumsi-asumsi tersebut masih dianggap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahaun. Di samping belum ditemukannya asumsi-asumsi baru yang serta merta dapat menggantikan asumsi-asumsi yang lama.
Menurut Z. Kasijan minat dapat menunjukkan kemampuan untuk memberi stimulasi yang mendorong kita untuk memperlihatkan seseorang, suatu barang atau kegiatan atau sesuatu yang dapat memberikan pengaruh terhadap pengalaman yang telah distimulasi oleh kegiatan itu sendiri. Dengan demikian, minat sangat erat hubungannya dengan perhatian, sebab memberi perhatian adalah bentuk kegiatan rohani yang dapat diarahkan kepada berbagai objek, misalnya melihat orang lain atau diri kita sendiri yang sedang berpikir.
Berbicara mengenai pusat minat akan dihadapkan kepada pertanyaan: apakah yang menarik minat setiap anak dalam keadaan bagaimanapun juga dan dimanapun ia tinggal. Dalam kehidupan sehari-hari sering tidak dibedakan perkataan minat dan perhatian walaupun .keduanya berbeda. Antara perhatian dan minat memang erat sekali hubungannya. Orang yang mempunyai minat tentang kesenian, dengan sendirinya perhatiannya menuju ke arah kesenian. Minat adalah kecenderungan jiwa yang tetap ke jurusan suatu hal yang berharga bagi orang. Sesuatu yang berharga bagi seseorang adalah yang sesuai dengan kebutuhannya. Seperti yang diungkapkan oleh Decroly, "minat itu pernyataan suatu kebutuhan yang tidak terpenuhi". Kebutuhan itu timbul dari dorongan kehendak memberi kepuasan kepada suatu insting.
Minat anak terhadap benda-benda tertentu dapat timbul dari berbagai sumber, antara lain perkembangan instik dan hasrat, fungsi-fungsi intelektual, pengaruh lingkungan, pengalaman, kebiasaan, pendidikan, dan sebagainya. Di samping itu juga minat dapat diekspresikan sebagai suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut.
Dengan demikian, minat berarti suatu rasa lebih suka dan rasa ketercintaan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara din sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar akan minat. Untuk mengembangkan minat terhadap sesuatu pada dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan untuk dipelajari dan mempengaruhi belajar selanjutnya serta mempengaruhi penerimaan minat-minat baru. Jadi, minat terhadap sesuatu merupakan hal yang hakiki untuk dapat mempelajari hal tersebut, asumsi umum menyatakan bahwa minat akan membantu seseorang mempelajarinya.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Back to top!