Searching...
26.12.09

PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PANDANGAN ISLAM

Bab I
Pendahuluan


Permasalahan lingkungan yang kini dihadapi umat manusia umumnya disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena kejadian alam sebagai peristiwa yang harus terjadi sebagai proses dinamika alam itu sendiri. Kedua, bentuk kejadian di atas mengakibatkan ketidakseimbangan pada ekosistem dan ketidaknyamanan kehidupan makhluk hidup baik manusia, flora maupun fauna. Ketidakseimbangan dan ketidaknyamanan tersebut dapat dikatakan sebagai bencana. Ali Yafie menyebutnya sebagai kerusakan lingkungan hidup, yang bentuk-bentuknya berupa pencemaran air, pencemaran tanah, krisis keanekaragaman hayati (biological diversity), kerusakan hutan, kekeringan dan krisis air bersih, pertambangan dan kerusakan lingkungan, pencemaran udara, banjir lumpur dan sebagainya.
Kerusakan hutan sebagai salah satu bentuk kerusakan lingkungan hidup adalah ketidakseimbangan yang terjadi dalam ekosistem hutan. Ada dua jenis kerusakan kerusakan hutan yang mungkin terjadi, yaitu gangguan alam dan akibat dari perbuatan tangan manusia. Gangguan alam contohnya longsor, hama dan penyakit, dempa bumi, kebakaran, dan gelombang pasang air laut. Adapun gangguan akibat dari perbuatan tangan manusia ialah jenis gangguan yang disebabkan oleh aktivitas manusia, yaitu kebakaran yang disengaja atau karena kelalaian, penebanagan, perladangan, pemukiman, industri, pencemaran dan lain-lain.
Dewasa ini kondisi hutan nasional telah menjadi keprihatinan banyak pihak, baik di dalam negeri maupun masyarakat internasional. Kawasan hutan negara seluas 120,35 juta hektar atau 62,6% dari luas daratan Indonesia saat ini yang telah mengalami kerusakan serius. Pada saat ini hutan yang mengalami degradasi fungsi telah mencapai 59,2 juta hektar. Sungguh fakta yang memprihatinkan. Kerusakan hutan ini disebabkan antara lain oleh pengelolaan hutan yang tidak bijaksana, pembukaan kawasan hutan dalam skala besar untuk berbagai keperluan pembangunan, illegal loging, perambahan hutan dan kebakaran.
Akibat dari kerusakan hutan ini adalah semakin rentannya wilayah Indonesia dari bencana banjir, tanah longsor dan kekeringan. Di samping itu Indonesia juga akan kehilangan keanekaragaman hayati (biological diversity) seperti spesies mamalia, reptil, amfibi, burung, ikan, dan lain-lain. Makhluk hidup di muka bumi akan kekurangan oksigen karena kerusakan hutan yang merupakan paru-paru dunia. Kehidupan dunia akan terganggu karena hutan Indonesia hanya sedikit dapat menyerap karbon yang berbahaya bagi makhluk hidup. Akibat dari kerusakan hutan dirasakan paling berat oleh penduduk yang bermata pencaharian langsung dari hutan yaitu sekitar 6 juta orang dan sebanyak 3,4 juta diantaranya bekerja di sektor swasta kehutanan. Bila diasumsikan bahwa setiap tenaga kerja sektor kehutanan menanggung minimal 3 orang, maka usaha sektor kehutanan telah menjadi gantungan hidup 24 juta orang. Belum termasuk penyerapan tenaga musiman, yang terserap pada program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) yang setiap tahunnya mencapai sekitar 23,9 juta orang.
Dari sekian banyak persoalan kerusakan lingkungan hidup , ternyata peran manusia sangat besar dalam menciptakan kerusakan tersebut dan manusialah yang banyak menanggung akibatnya. Lalu bagaimana Islam memandang peran manusia dalam mengelola lingkungan hidup ini? Inilah yang akan dibahas dalam tulisan makalah ini.

Bab II
Pembahasan


A. Berbagai Upaya Mengatasi Krisis Lingkungan

Sebagai upaya mengatasi kondisi sumber daya hutan yang rusak, agar dapat pulih potensi dan fungsinya, maka Departemen Kehutanan telah menetapkan 5 Kebijakan Prioritas Pembangunan Kehutanan yaitu: (1) Pemberantasan pencurian kayu di hutan negara dan perdagangan kayu ilegal, (2) Revitalisasi sektor kehutanan, khususnya industri kehutanan (3) Rehabilitasi dan konservasi sumber daya hutan, (4) Pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam hutan dan di sekitar kawasan hutan, dan (5) Pemantapan kawasan hutan.
Para pemerhati dan praktisi lingkungan telah lama berupaya mencarikan jalan keluar dari krisis lingkungan yang terjadi. Diantaranya; melaluhi berbagai kerjasama, perjanjian antar bangsa dan konvensi lingkungan untuk mengarahkan manusia agar tidak merusak lingkungan. Beberapa hasil pertemuan dan konvensi itu ialah; Pertemuan Bumi diRio De Jenero pada tahun 1992 yang menghasilkan Deklarasi Bumi tahun 1992, Konvensi Bassel mengatur tentang lalu lintas dan sanksi mengenai limbah beracun dan berbahaya, Konvensi CITES mengatur perdagangan spesies flora dan fauna, Konvensi Keanekaragaman Hayati (The Convention on Biological Diversity), Konvensi PBB untuk Penanggulangan Perubahan Iklim (United Nation Framework Convention on Climate Change).
Pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi memang diperlukan, tetapi itu saja tidak cukup. Masih diperlukan agama untuk terlibat dalam upaya keluar dari krisis lingkungan. Mary Evelyn Tucker, seorang Guru Besar agama dari Bucknel University, mengatakan bahwa agama mempunyai lima resep dasar untuk mengurangi kerusakan hutan dengan cara lunak yaitu melaluhi pendekatan religius, yaitu; Pertama, reference, yaitu keyakinan yang dimiliki para penganut agama yang diperoleh dari teks kitab suci dan kepercayaannya. Kedua, respect, berupa nilai-nilai yang ditanamkan kepada para pemeluknya untuk menghargai sesama makhluk hidup. Ketiga, restrain, agama mengajarkan kepada para pemeluknya untuk mampu mengelola dan mengontrol sesuatu supaya penggunaannya tidak mubadzir. Keempat, redistribution, agama mengajarkan kepada para pemeluknya untuk mengembangkan kesalehan sosial berupa kemampuan untuk menyebarkan kekayaan, kegembiraan dan kebersamaan melalui langkah kedermawanan kepada sesama makhluk Tuhan. Kelima, responsibility , agama mengajarkan bahwa di dunia ini ada tanggungjawab kepada pencipta dan tanggungjawab dalam merawat lingkungannya.

B. Pandangan Islam tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
Dalam pandanagn Islam, manusia ialah makhluk terbaik diantara semua ciptaan Tuhan dan berani memegang tanggungjawab mengelola bumi, maka semua yang ada di bumi diserahkan untuk manusia. Oleh karena itu manusia diangkat menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai makhluk terbaik, manusia diberikan beberapa kelebihan diantara makhluk ciptaan-Nya, yaitu kemuliaan, diberikan fasilitas di daratan dan lautan, mendapat rizki dari yang baik-baik, dan kelebihan yang sempurna atas makhluk lainnya.
Bumi dan semua isi yang berada didalamnya diciptakan Allah untuk manusia, segala yang manusia inginkan berupa apa saja yang ada di langit dan bumi. Daratan dan lautan serta sungai-sungai, matahari dan bulan, malam dan siang, tanaman dan buah-buahan, binatang melata dan binatang ternak.
Sebagai khalifah di bumi, manusia diperintahkan beribadah kepada-Nya dan diperintah berbuat kebajikan dan dilarang berbuat kerusakan. Selain konsep berbuat kebajikan terhadap lingkungan yang disajikan Al-Qur’an seperti dipaparkan di atas, Rasulullah SAW memberikan teladan untuk mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat diperhatikan dari Hadist-Hadist Nabi, seperti Hadist tentang pujian Allah kepada orang yang menyingkirkan duri dari jalan; dan bahkan Allah akan mengampuni dosanya, menyingkirkan gangguan dari jalan ialah sedekah, sebagian dari iman,dan merupakan perbuatan baik.
Di samping itu Rasulullah melarang merusak lingkungan mulai dari perbuatan yang sangat kecil dan remeh seperti melarang membuang kotoran (manusia) di bawah pohon yang sedang berbuah, di aliran sungai, di tengah jalan, atau di tempat orang berteduh. Rasulullah juga sangat peduli terhadap kelestarian satwa, sebagaimana diceritakan dalam Hadist riwayat Abu Dawud. Rasulullah pernah menegur salah seorang sahabatnya yang pada saat perjalanan, mereka mengambil anak burung yang berada di sarangnya. Karena anaknya dibawa oleh salah seorang dari rombongan Rasulullah tersebut, maka sang induk terpaksa mengikuti terus kemana rombongan itu berjalan. Melihat yang demikian, Rasulullah lalu menegur sahabatnya tersebut dengan mengatakan ”siapakah yang telah menyusahkan induk burung ini dan mengambil anaknya? Kembalikan anak burung tersebut kepada induknya!”.

C. Kewajiban Umat Islam dan Upaya Pemerintah dalam Pelestarian Lingkungan Hidup
Dalam berinteraksi dan mengelola alam serta lingkungan hidup itu, manusia mengemban tiga amanat dari Allah. Pertama, al-intifa’. Allah mempersilahkan kepada umat manusia untuk mengambil manfaat dan mendayagunakan hasil alam dengan sebaik-baiknya demi kemakmuran dan kemaslahatan. Kedua, al-i’tibar. Manusia dituntut untuk senantiasa memikirkan dan menggali rahasia di balik ciptaan Allah seraya dapat mengambil pelajaran dari berbagai kejadian dan peristiwa alam. Ketiga, al-islah. Manusia diwajibkan untuk terus menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan itu.
Dengan semangat mengemban dan melaksanakan amanat di atas, yaitu menjaga, memelihara dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di alam semesta ini, termasuk sumber daya hutan, Departemen Kehutanan mencoba dan berusaha merangkul semua pihak untuk berperan secara bersama-sama dalam pembangunan kehutanan. Kegiatan ini dapat berupa social forestry, hutan kemasyarakatan, Pengelolaan Hutan Bresama Rakyat, Hutan rakyat, dan manajemen Kolaboratif di Hutan Konservasi, GERHAN, Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDM), dan lain-lain yang berupaya memberikan peran sebesar-besarnya kepada masyarakat.
Peran serta masyarakat kegiatan penanaman untuk penghijauan dan perbaikan lingkungan hidup searah dengan tujuan Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN). Gerakan ini diharapkan mendapat dukungan dari seluruh lapisan masyarakat, mulai dari kelompok masyarakat yang termuda, hingga orang dewasa serta kaum tua. Untuk menarik minat serta menumbuhkan budaya menanam sejak usia dini, Departemen Kehutanan telah mencanangkan kegiatan , Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDM) dalam rangka mendukung Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) itu. Kegiatan ini akan melibatkan anak-anak usia sekolah dari SD dan Madrasah Ibtidaiyah di seluruh Indonesia dan telah mendapat dukungan dari lembaga-lembaga pendidikan tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Sebagai bagian dari proses pendidikan serta dalam rangka mensukseskan GERHAN dan KMDM itu telah dan akan terus dilakukan penghijauan dengan penanaman pohon di lingkungan Pondok Pesantren, baik di pulau Jawa maupun di daerah lainnya di Indonesia. Departemen Kehutanan berupaya merangkul berbagai pihak untuk terus melakukan rehabilitas dan konservasi hutan dan lahan. Kesepakatan kerjasama penanaman telah dilakukan dengan berbagai lembaga pendidikan , pesantren dan organisasi sosial, diantaranya dengan Pondok Tebu Ireng, Gontor, Pengurus As-Syafi’iyyah, PBNU, PP Muhammadiyah, PERSIS, PSII, BKPRMI, dan organisasi sosial kemasyarakatan lainnya.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin, Jurnal Filsafat dan Teologi: Hak Asasi Manusia Tantangan Bagi Agama, (Yogyakarta: Kanisius, 1998)
Caputo, D. Jhon, Agama Cinta Agama Masa Depan, (Bandung : Mizan, 2003)
DuBois, Brenda dan Karla Krogsrud Miley, Social Work: An Empowering Profession, (Boston: Allyn and Bacon, 1992)
Gellner, Ernest, Muslim Society, (Cambridge University Press, 1981)
Giddens, Anthony, Konsekwensi-Konsekwensi Modernitas, (Yogyakarta:Kreasi Wacana, 2005)
IISEP, CIDA, Islam Dakwah dan Kesejahteraan Sosial, (Yogyakarta:Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fak. Dakwah UIN SUKA, 2005)
Ife, Jim, Community Development: Creating Community Alternatives,Vision, Analysis and Practice, (Longman, Australia, 1995)

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Back to top!