Searching...
24.12.09

KARYA TULIS ILMIAH UNTUK PENGAWAS BERUPA LAPORAN PENELITIAN



A. PENGANTAR

Salah satu bentuk dari bukti pengembangan profesional jabatan pengawas adalah apa yang disebut Karya Tulis Ilmiah atau yang lebih banyak dikenal dengan singkatan KTI. Selama ini yang tersebar dalam berita di kalangan guru, kepala sekolah, dan pengawas adalah bahwa untuk dapat naik pangkat dari IV/a ke IV/b, dan seterusnya, harus melakukan penelitian. Sebagian dari mereka, terutama yang belum pernah kuliah di perguruan tinggi dan mengakhiri studinya dengan menulis skripsi atau tesis, mungkin hal itu dapat dimaklumi. Hal yang terlebih dulu perlu difahami oleh pengawas adalah proses penelitian yang berlaku bagi semua jenis penelitian.
Alur pemikiran penelitian, apa pun jenis penelitiannya selalu dimulai dari adanya permasalahan atau ganjalan, yang merupakan suatu kesenjangan yang dirasakan oleh peneliti. Kesenjangan tersebut terjadi karena adanya perbedaan kondisi antara konisi nyata dengan kondisi harapan. Dengan adanya kesenjangan ini peneliti mencari teori yang tepat untuk mengatasi permasalahan melalui penelitian, yaitu mencari tahu tentang kemungkinan penyebab kondisi yang menjadi permasalahan itu. Hasil dari penelitiannya akan digunakan untuk mengatasi permasalahan yang dirasakan. Dalam bidang pendidikan di sekolah, pengawas mempunyai peran penting untuk menjaga kestabilan dan meningkatkan kualitas sekolah. Jika pengawas sudah menguasai teknik-teknik penelitian yang tepat untuk guru, kepala sekolah dan pengawas sendiri, selaras dengan tugas pengawas sebagai pembimbing guru dan kepala sekolah. Alur penalaran untuk berbagai jenis penelitian sebetulnya sama, yaitu seperti tergambar dalam bagan berikut.


B. JENIS-JENIS PENELITIAN

Ada beberapa macam kegiatan yang dapat dilakukan oleh pengawas sehubungan dengan pengembangan profesinya, antara lain melakukan penelitian. Bagi pengawas yang berpangkat IV/b dengan jabatan Pembina sangat disarankan untuk mampu melakukan penelitian, karena kegiatan tersebut merupakan upaya yang tepat untuk dapat meningkatkan mutu kinerjanya. Dengan melakukan penelitian, pengawas dapat mengetahui hasil dari kegiatannya, yang mungkin terbukti lebih tepat untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Jika pengawas sudah mengetahui dengan pasti penelitian apa saja yang dapat dilakukan, keuntungannya ganda, yaitu pertama, dia sendiri dapat melakukan penelitian, dan kedua, dapat membimbing guru dan kepala sekolah yang ingin melakukan penelitian.
Ada beberapa jenis penelitian yang dapat dilakukan oleh pengawas, namun mungkin lebih tepat adalah (1) penelitian deskriptif, (2) penelitian eksperimen, (3) penelitian tindakan, dan (4) penelitian evaluatif. Berikut akan disampaikan setiap jenis penelitian secara lebih rinci.


C. PENELITIAN DESKRIPTIF

Istilah ’deskriptif’ berasal dari bahasa Inggris to describe, yang berarti memaparkan atau menggambarkan sesuatu hal, misalnya keadaan, kejadian, peristiwa, kegiatan, dan lain-lain. Dengan demikian yang dimaksud dengan penelitian deskriptif adalah sebuah penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kejadian, atau peristiwa tertentu, dan setelah selesai lalu memaparkan hasilnya dalam bentu laporan penelitian.
Ada beberapa bentuk penelitian deskriptif, antara lain (a) penelitian korelasi, (b) penelitian komparasi, dan (c) penelitian eksperimen berbentuk ex post facto. Pada umumnya penelitian-penelitian seperti ini dapat dikatakan tidak ada manfaatnya, dan kalau pun ada, nilai kemanfaatannya sangat sedikit karena hanya untuk tahu saja. Hasil penelitian dikatakan ada manfaatnya kalau sesudah hasil diperoleh, peneliti dapat melakukan sesuatu upaya untuk peningkatan keadaan atau kejadian yang diteliti.
Sudah banyak di antara KTI dalam bentuk laporan penelitian yang dibuat dan diusulkan oleh guru, kepala sekolah maupun pengawas tetapi tidak tepat. Sebagai alasan mengapa penelitian seperti itu tidak dapat dinilai adalah karena dalam penelitian-penelitian tersebut peneliti tidak melakukan apa-apa selain hanya membuat angket untuk mengumpulkan data, kemudian hasilnya dikorelasikan dengan nilai yang sudah ada, yaitu nilai rapor atau ulangan. Adapun contoh-contohnya adalah sebagai berikut.

1. Contoh Penelitian Deskripsi Korelasi (tidak cocok untuk pembinaan)
Dari hasil pengamatan guru peneliti menyimpulkan bahwa siswa yang tekun belajar nilainya tinggi. Guru ini ingin membuktikan apakah memang ada hubungan atau korelasi antara ketekunan belajar dengan tingginya nilai. Guru tersebut lalu membuat angket, untuk menanyakan kepada siswa tentang ketekunan belajar mereka. Setelah hasil angket diperoleh, lalu dikorelasikan dengan nilai rapor yang sudah ada. Penelitian seperti ini tidak dapat dinilai karena sebetulnya peneliti tidak melakukan apa-apa kecuali hanya dua hal, yaitu membuat angket untuk mengetahui ketekunan belajar siswa dengan nilai yang sudah ada. Dalam penelitian ini tidak terlihat adanya upaya guru untuk meningkatkan profesinya, misalnya mencoba melakukan sesuatu dalam pembelajaran agar siswa senang, kemudian prestasinya naik. Selain ditolak karena guru tidak melakukan apa-apa, penelitian ini juga tidak dapat dinilai karena hasilnya sudah jelas. Dengan cepat dapat ditebak, siapa yang tekun belajar pasti nilainya tinggi.
Penelitian dengan subjek siswa seperti yang baru saja dibicarakan, tidak dapat dilakukan oleh pengawas karena siswa bukanlah subjek pembinaan pengawas karena tidak langsung terkait dengan tugasnya. Sasaran objek pembinaan adalah guru. Jika pengawas mengamati bahwa guru yang pandai menyusun rencana pembelajaran (RPP), pada umumnya penampilan guru dalam mengajar juga baik. Sebagaimana aturan yang diperuntukkan bagi guru, penelitian deskriptif korelasional untuk guru tersebut juga tidak boleh dilakukan. Alasannya, dalam penelitian tersebut pengawas tidak melakukan apa-apa kecuali hanya menyusun angket. Selain itu hasilnya sudah jelas dan tidak perlu diteliti lagi.

2. Contoh Penelitian Deskripsi Komparasi atau Perbandingan (tidak baik)
Guru peneliti yang mengajar di sebuah SMP merasakan adanya perbedaan prestasi belajar siswa SMP yang berasal dari MI dan SD meskipun tidak seluruhnya begitu. Guru tersebut ini ingin membuktikan pendapatnya. Dari buku induk didaftar siswa mana yang berasal dari MI dan siswa mana yang berasal dari SD. Setelah itu, diterapkanlah nilai rapor pada siswa-siswa tersebut, kemudian dengan dicari perbedaannya menggunakan rumus t-test. Hasilnya ditulis dalam bentuk laporan penelitian. Laporan hasil penelitian ini juga tidak dapat dinilai. Alasannya seperti tadi, bahwa peneliti tidak melakukan apa-apa kecuali hanya mengutip nilai-nilai siswa yang berasal dari MIN dan SD, lalu dibandingkan. Apabila dicermati dan dibandingkan dengan penelitian korelasi pada contoh penelitian deskriptif korelasi, guru yang melakukan penelitian komparasi lebih enak karena tidak membuat angket. Dalam hal ini guru tersebut tidak melakukan kegiatan berupa peningkatan profesi yang terkait dengan eningkatan pembelajaran yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar.
Gambaran tentang guru peneliti yang melakukan penelitian deskriptif komparasi tersebut juga berlaku untuk pengawas. Bukan rahasia lagi bahwa saat ini masih banyak guru yang diberi tugas mengajar sesuatu mata pelajaran yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya (mismatch). Seorang pengawas ingin membuktikan apakah kenyataan yang terjadi di lapangan dapat memang seperti dugaan semula. Pengawas tadi lalu mencermati guru-guru yang mengajar di sekolah-sekolah binaan di wilayahnya. Guru mismatch dikelompokkan menjadi satu – sebagai kelompok 1--, demikian juga guru yang mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikannya (match sebagai kelompok 2. Nilai penampilan mereka dalam mengajar, diketahui dari hasil penilaian ketika pengawas datang melakukan supervisi. Rata-rata nilai kelompok 1 dan 2 dibandingkan dengan rumus t-test.
Laporan penelitian yang dilakukan oleh pengawas seperti ini tidak dapat dinilai karena pengawas tidak melakukan kegiatan apa-apa, tetapi hanya memanfatkan data yang sudah ada. Selain itu, laporan penelitian ini tidak dapat dinilai karena hasilnya sudah jelas, dan tidak perlu diteliti lagi. Guru yang memiliki latar belakang pendidikan sesuai dengan tugas mata pelajaran yang diberikan oleh kepala sekolah, pasti dapat mengajar dengan cara yang lebih baik dibandingkan dengan guru yang tidak memiliki pendukung berupa latar belakang pendidikan.

3. Contoh penelitian ex post facto
Istilah ’ex post facto’ terdiri dari tiga kata, ex diartikan dengan observasi atau pengamatan, post artinya sesudah, dan facto adalah fakta atau kejadian. Arti keseluruahnnya, pengamatan dilakukan setelah kejadian lewat. Guru merasakan setelah kurikulum dikembangkan dengan KTSP, siswa tampak lebih bergairah belajar, kemudian prestasi belajarnya meningkat. Di sekolah ini KTSP sudah dimulai semester yang lalu. Dengan kejadian ini guru ingin meneliti apakah ada pengaruh penggunaan KTSP dibanding dengan kurikulum lama. Ketika sudah dimiliki nilai dari semester tersebut guru membuka nilai siswa pada semester 1 yang lalu. Dengan rumus t-test, kedua nilai tersebut dihitung untuk diketahui ada perbedaan secara nignifikan atau tidak. Sama dengan contoh penelitian pada nomor 1 dan 2, dalam penelitian ini guru tidak melakukan sesuatu peningkatan kualitas pembelajaran, tetapi hanya mengkorelasikan nilai yang ada. Berlakunya KTSP bukan merupakan upaya guru tersebut tetapi karena kebijakan dari pemerintah, dan guru hanya mencermati dampak dari adanya kebijakan tersebut. Dalam hal ini sebaiknya pengawas memberi enjelasan bahwa enelitian seprti itu tidak tepat, karena guru hanya mengkorelasikan nilai=nilai yang sudah ada, tidak melakukan suatu kegiatan nyata yang terkait dengan profesinya sebagai pengajar.
Tiga jenis penelitian yang sudah dibicarakan tadi adalah jenis penelitian yang tidak dapat dilakukan oleh guru yang laporannya diajukan sebagai karya tulis ilmiah. Alasannya sudah jelas, yaitu karena dalam penelitian ini guru tidak melakukan sesuatu upaya untuk meningkatkan mutu atau kualitas pembelajaran seperti sudah dikemukakan, juga berlaku bagi pengawas, tidak disarankan untuk melakukan penelitian korelasi, komparasi dan ex post facto karena peneliti tidak melakukan suatu tindakan kecuali hanya membuat angket, karena data penelitiannya dapat dilakukan dengan mengabil data nilai yang sudah ada.


D. PENELITIAN EKSPERIMEN

Bagi para guru yang tugas profesionalnya mengajar, dan mungkin juga kepala sekolah yang masih mempunyai tugas mengajar, peningkatan mutu profesionalitasnya tidak boleh sembarangan, tetapi harus dicoba bagaimana kefektifannya. Mencobakan suatu perlakuan, misalnya menggunakan metode tertentu yang diperkirakan akan berdampak pada peningkatan prestasi siswa. Mencobakan mmetode tersebut dilakukan melalui penelitian eksperimen. Ketika eksperimen dilakukan, penelitian mencermati proses eksperimennya, kemudian juga mencermati bagaimana dampak perlakuan tersebut bagi peningkatan prestasi belajar siswa.
Pilihan jenis peningkatan tersebut hanya dapat ditentukan hanya apabila sudah dilakukan melalui percobaan, yang dalam bahasa ilmiahnya adalah eksperimen. Penelitian eksperimen mencobakan perlakuan (treatment) yaitu metode yang diperkirakan berdampak pada peningkatan prestasi belajar siswa. Sebetulnya enelitian ex post facto yang sudah diberikan contohnya di atas, sudah merupakan penelitian eksperimen, tetapi pengunpulan data hanya dilakukan sesudah perlakuan selesai atau sudah lewat waktu. Dalam contoh yang sudah dijelaskan, yang dipandang sebagai perlakuan adalah penggunaan KTSP.
Ada beberapa jenis penelitian eksperimen yang dapat dilakukan oleh pengawas urut sesuai kualitas kegiatannya, yaitu (1) eksperimen ”satu kali tembak” (one shot case study), (2) eksperimen perbandingan perlakuan tanpa ada pretest, (3) eksperimen perbandingan sempurna, dengan model pretest, pemberian perlakuan berbeda, kemudian bar posttest.

1. Ekeperimen satu kali tembak (one shot case study
Dengan model eksperimen ini pengawas dapat mencoba menerapkan supervisi klinis terstruktur. Yang dimaksud dengan terstruktur adalah demikian. Saat ini guru-guru sudah mengenal supervisi klinis, yaitu aktif mendatangi pengawas untuk minta bimbingan untuk keterampilan tertentu misalnya membuat LKS yang efektif. Untuk perlakuan ini mungkin pengawas menganjurkan beberapa orang guru, setiap dua minggu sekali guru mendatangi pengawas, penunjukkan LKS yang telah dibuat. Pengawas mengajak diskusi, membimbing guru bagaimana LKS yang efektif. Ketika guru mengajar menggunakan LKS itu, pengawas menunggui. Setelah beberapa bulan, pengawas memberikan test kepada guru-guru yang mengajukan usul bimbingan untuk diberi semacam test. Test dimaksud tidak perlu formal tertulis, tetapi dapat dilakukan secara lisan mengenai teori LKS yang baik dan efektif.
Model eksperimen ”satu kali tembak” adalah sebagai berikut.

Dalam hal ini X adalah perlakuan setiap dua minggu sekali guru berdiskusi untuk membuat LKS, kemudian O adalah pemberian tes yang dilakukan oleh pengawas dengan cara memberikan pertanyaan mengenai teori LKS yang efektif. Nilai dari pemberian pertanyaan ini merupakan nilai hasil eksperimen. Dalam laporan penelitian eksperimen, pengawas melaporkan apa yang dilakukan, kemudian dilaporkan bagaimana nilai dari hasil tes. Jika laporannya lengak dan runtut, disertai dengan lampiran berupa contoh LKS dari waktu ke waktu dan petunjuk yang diberikan kepada guru tentang teori LKS yang baik, KTI ini nilainya 4,0.

2. Eksperimen perbandingan perlakuan tanpa pretest
Untuk penelitian eksperimen model kedua ini pengawas dapat melakukan hal yang sama, tetapi membandingkan dua kelompok guru. Kelompok I melalui supervisi klinis sebagai kelompok eksperimen, yaitu guru-guru yang mengajukan bimbingan seperti contoh pertama, sedang kelompok II adalah guru-guru yang tidak disarankan untuk supervisi klinis.
Model eksperimennya adalah sebagai berikut.

Guru-guru yang termasuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diminta mengumpulkan LKS yang dibuat, atau tanpa meminta, pengawas memeriksa atau mencermati LKS mereka, kemudian hasilnya dicatat. Setelah beberapa bulan sesuai kesepakatan dengan guru kelompok I, nilai-nilai hasil pengamatan tersebut dianalisis dengan rumus t-test, yaitu membandingkan nilai rata-rata.
3. Eksperimen perbandingan sempurna
Melalui eksperimen sempurna ini pengawas dapat mengetahui secara murni hasil dari perlakuan, karena sebelum diberi perlakuan kualitas LKS kedua kelompok terlebih dahulu diteliti, sehingga diketahui bagaimana posisi awal dari keduanya. Dalam hal ini yang dibandingkan adalah perolehan sebagai akibat dari adanya perlakuan ya g berbeda. Jika misalnya dari hasil tes awal rata-rata kelompok I adalah 5,4 dan rata-rata kelompok II 4,7 sebetulnya tidak masalah. Setelah masing-masing kelompok diberi perlakuan, yang dilihat adalah peningkatannya. Jika kelompok I menjadi 6,1 dan kelompok II menjadi 5,9, maka perlakuan kedua itulah yang lebih baik, karena peningkatan kelompok I hanya 0,7 sedangkan peningkatan kelompok II adalah 1,2. Apabila dibandingkan posisi awal dan posisi akhir dua kelompok tersebut adalah sebagai berikut.

Posisi Kelompok I Kelompok II
Sebelum perlakuan 5,7 4,7
Sesudah perlakuan 6,1 5,9
Dampak perlakuan 0,4 1,2
Model eksperimennya adalah sebagai berikut.

Dibandingkan dengan eksperimen model 2, yaitu eksperimen perbandingan tanpa prestest, perbedaannya hanya pada penilaian LKS sebelumnya, baik pada kelompok I maupun kelompok II. Langkah-langkah perlakuannya dapat sama dengan eksperimen model 2.
Mungkin ada pertanyaan, dapatkah seorang pengawas melakukan 3 jenis penelitian eksperimen sekaligus menggunakan ketiga model-model tersebut? Jawabnya, secara teoretis memang dapat, tetapi ditinjau dari segi etika, kurang pas. Kiranya alau pengawas menghendaki atau ingin melakukan tiga penelitian, subjek gurunya berbeda, perlakuannya juga sebaiknya berbeda, supaya peningkatan profesi pengawas lebih mempunyai makna.
Kalau menghendaki perolehan pengalaman yang banyak, pengawas dapat juga melakukan penelitian dengan subjek kepala sekolah. Sasaran penelitian yang dipilih dapat bervariasi, misalnya meningkatkan efektivitas koperasi, laboratorium, perpustakaan, kegiatan ekstra kurikuler, dan lain-lain. Untuk keperluan ini pengawas perlu membuat pedoman-pedoman. Jika pedoman sudah jadi, dapat diberikan kepada kepala sekolah dulu untuk mendapatkan kritik dan saran, sampai pedoman dianggap mantap untuk digunakan. Ada manfaat apabila eksperimen menggunakan pedoman tertulis, karena guru atau kepala sekolah dapat mengulang-ulang membaca, dan dalam satu waktu pengawas dapat memberi bimbingan ke beberapa sekolah Sesudah ada kesepakatam antara pengawas dengan guru atau kepala sekolah, pengawas menyusun rencana penelitian. Rencana penelitian ini tidak perlu lengkap sekali seperti untuk mengajukan usul tawaran untuk meneriman blockgrant,
tetapi cukup rencana sederhana mengenai subjek yang dikenai perlakuan, yaitu menyusun langkah-langkah penelitiannya secara rinci, kemudian menyusun instrumen pengumpulan data, dan merancang bagaimana data yang terkumpul akan dianalisis, dan akan menggunakan rumus apa.


E. PENELITIAN TINDAKAN

Jika dalam lingkup guru dan kepala sekolah ramai dibicarakan tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) karena mereka mempunyai tugas mengajar di kelas, bagi pengawas nama penelitiannya bukan PTK tetapi Penelitian Tindakan saja, disingkat PT. Kancah dari penelitian tindakan yang dapat dilakukan oleh pengawas justru lebih luas yaitu sekolah secara keseluruhan. Apabila bagi guru penelitian yang paling tepat dilakukan meningkatkan mutu pembelajarannya adalah PTK, maka bagi pengawas, cara yang tepat untuk meningkatkan mutu kinerjanya juga mencoba-coba. Bedanya, tempat mencoba-coba ini tidak di kelas. Meskipun demikian, pengawas juga harus memahami PTK untuk guru dan kepala sekolah, karena pengawas bertugas membina mereka. Bagi diri pengawas yang sudah menguasai PTK, akan tidak sulit melaksanakan PT untuk dirinya. Untuk lebih jelasnya, karena PTK sudah menjadi nama yang populer, kegiatannya dapat dilakukan tetapi tidak harus di kelas.
Nama sebuah kegiatan tidak selalu harus dimaknai persis dengan kata-kata yang membentuk nama yang bersangkutan. Istilah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bukan harus dimaknai seperti itu. Kata ”penelitian” menunjuk pada sebuah kegiatan mencermati suatu proses tertentu dengan menggunakan prinsip-prinsip dan teori yang sudah ditentukan. Dari tiga kata yang membentuk konsep PTK, yang paling penting maknanya adalah yang kedua, yaitu ”TINDAKAN”. Dengan begitu penelitian tindakan mempunyai arti pencermatan, tertuju pada objek penting yaitu tindakan.
Kata ketiga yaitu ”Kelas” yang menunjukkan keterangan di mana tindakan dilaksanakan, tidak mempunyai makna mengikat. Penelitian model ini dapat dilaksanakan bukan hanya terbatas di kelas saja, tetapi dapat di sekolah, di lapangan, di bengkel, di laboratorium, atau di tempat-tempat lain. Bagi guru sudah jelas, penelitiannya dilakukan di kelas, tetapi mungkin juga di luar kelas, misalnya di lapangan atau di tempat lain ketika guru mengantar siswa dalam tugas pengamatan di museum, pabrik, dan lain-lain. Bagi kepala sekolah, karena masih mempunyai tugas mengajar, dapat melakukan penelitian tindakan di kelas atau tempat lain seperti guru. Selain itu kepala sekolah masih boleh juga melakukan tindakan dalam ruang lingkup sekolah.
Seorang pengawas, tidak boleh melakukan tindakan di kelas (kecuali dalam memberi contoh mengajar kepada guru-guru dalam rangka pembinaan. Pengawas tidak lagi mempunyai tugas mengajar di kelas. Tugas profesional pengawas adalah membina guru melalui supervisi. Tindakan yang dilakukan dan diteliti dengan sendirinya juga harus disesuaikan dengan profesinya, yaitu memberikan pembinaan terhadap sekolah secara keseluruhan, namun utamanya pembinaan kepada guru. Tindakan yang dapat dilakukan oleh pengawas dapat diarahkan kepada guru dan kepala sekolah dalam rangka membina, tetapi juga dapat untuk kepentingan dirinya sendiri.
Dengan pemaknaan seperti itu maka istilah Penelitian Tindakan Kelas dapat diartikan sebagai Penelitian Tindakan saja, disingkat PT. Namun karena nama PTK sudah terlanjur populer, jadi tidak apalah kalau untuk pengawas tetap menggunakan istilah PTK, supaya inti pengertiannya sama dengan yang dipahami oleh guru dan kepala sekolah. Kegiatan PTK ini memang petamakali muncul dengan maksud untuk memperbaiki situasi pembelajaran di kelas, yang merupakan inti dari kegiatan pendidikan. Oleh karena yang sudah dikenal istilah itu, maka akan lebih mudah disebut demikian, dan kita menyesuaikan dengan sebutan tersebut, yaitu PTK saja. Penyebutan nama yang sama ini juga menguntungkan pengawas, karena dalam melaksanakan tugas membina guru dan kepala sekolah, seorang pengawas harus memahami dengan baik makna PTK untuk guru dan kepala sekolah, dan seluk beluk tentang pelaksanaannya. PTK adalah sebuah penelitian yang mempunyai ciri khas, dan diakui sebagai penelitian yang paling tepat dan ampuh untuk meningkatkan mutu kinerja.
Jika mau menggunakan istilah yang lebih tepat, penelitian tindakan untuk guru disebut PTK – (K adalah Kelas), penelitian tindakan untuk kepala sekolah adalah PTS – (S adalah sekolah), dan penelitian tindakan untuk pengawas adalah PTSW (W adalah wilayah). Penelitan tindakan yang terbatas pada ruang lingkup sekolah biar dikerjakan oleh kepala sekolah, sedangkan penelitian tindakan untuk pengawas meliputi ruang lingkup sekolah dalam ruang lingkup sekolah-sekolah binaan se-wilayah. Jadi PTK yang tepat untuk pengawas adalah PTSW. Perbedaan sebutan tersebut hanya menunjukkan luas ruang lingkup saja tetapi ciri-ciri dan langkah-langkahnya sama. Oleh karena pengawas bertugas membina guru dan kepala sekolah , maka perlu sekali memahami ciri-ciri PTK, dan dapat diberlakukan untuk semua jenis penelitian tindakan.


F. CIRI-CIRI PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Untuk memahami penelitian tindakan untuk pengawas, perlu kiranya terlebih dahulu memahami PTK untuk guru karena setelah memahami PTK, pengawas dapat membuat analogi, karena yang berbeda hanya kancah dan subjek penelitiannya. Sebetulnya saat ini tidak sedikit guru yang dalam kegiatannya sehari-hari sudah melakukan upaya untuk meningkatkan mutu pembelajarannya, tetapi mungkin sifatnya coba-coba, insidental, tidak dengan sengaja dirancang sejak awal dan mungkin juga belum diamati prosesnya secara sistematis. Beberapa persyaratan kegiatan guru, kepala sekolah, dan pengawas, atau siapa saja, supaya dapat dikategorikan sebagai penelitian tindakan harus memenuhi hal-hal sebagai berikut.
1. Harus terlihat adanya upaya untuk meningkatkan mutu profesional guru. Profesi guru adalah mendidik dan mengajar peserta didik, serta hal-hal lain yang disebutkan dalam unsur-unsur kompetensi guru. Dengan kata lain, upaya guru tersebut tidak boleh ada di luar tugas profesional guru. Bagi pengawas, upaya yang dilakukan melalui PT haruslah kepala sekolah atau guru. Demikian juga upaya pengawas tidak boleh di luar tugas sebagai pembina, agar sesuai dengan tugas profesionalnya, yaitu membina guru, kepala sekolah, dan sekolah secara keseluruhan.
2. Kegiatan yang dilakukan melalui PTK, harus tertuju pada peningkatan mutu kinerja. Bagi guru, PTK tertuju pada siswa, kepala sekolah tertuju pada siswa, guru, atau staf sekolah yang lain, sedangkan untuk pengawas tertuju pada guru dan kepala sekolah. Jadi sasarannya, kalau kegiatan itu menyangkut pembelajaran, harus siswa, tetapi kalau sekolah, bisa pada guru dan staf sekolah yang lain. Bagi pengawas, tambah pada kepala sekolah. Subjek-subjek yang menjadi sasaran tindakan tersebut disebut subjek tindakan. Rencana tindakan yang dibuat oleh peneliti harus tampak jelas tujuannya, subjek tindakan mau diapakan, tindakan tersebut berupa apa, kemudian subjek harus melakukan apa. Semua harus jelas. Sebagai contoh, pengawas akan melakukan pembinaan kepada guru, maka harus jelas siapa guru yang dibina, apa objek pembinaannya, di mana dan kapan dilakukan, serta bagaimana langkah-langkah pelaksanaannya.
3. Tindakan tersebut harus dapat dilihat dalam unjuk kerja subjek tindakan secara kongkrit yang dapat diamati oleh peneliti. Dengan kata lain, subjek harus melakukan sesuatu, mungkin menyangkut fisik dan mental, karena yang dapat diamati dari luar adalah kegiatan fisik, yang tentu saja dilandasi oleh kegiatan mental. Dengan pengertian ini, tindakan peneeliti tidak boleh hanya ”Menyadarkan subjek tindakan”, ”Membiasakan diri subjek untuk dapat melakukan sesuatu”, ”Mengingatkan subjek agar ....” dan sebagainya, karena tindakan seperti itu sudah biasa dilakukan tetapi dalam kenyataan tidak ada dampaknya. Sebagai misal, setelah guru memberi peringatan berkali-kali, tidak dapat dengan jelas mengetahui dampak dari arahannya, tetapi kalau guru menyuruh siswa melakukan sesuatu, dampaknya dapat dilihat langsung, siswa melakukan atau tidak. Demikian juga dengan pengawas. Ketika pengawas memberikan anjuran kepada guru atau kepala sekolah untuk datang ke sekolah tepat waktu, belum tentu anjurannya diikuti,tetapi kalau pengawas menyuruh guru datang pada hari tertentu dengan membawa tertentu yang perlu atau harus diselesaikan selama sekian hari, tentu guru tersebut akan datang pada waktu yang disepakati.
4. Subjek tindakan bukan perseorangan atau sekelompok subjek dalam jumlah kecil atau sebagian dari kelas, tetapi seluruh kelompok, sehingga tidak ada subjek dalam kelompok yang terbebas dari tindakan. Jika guru mempunyai masalah hanya pada beberapa siswa saja, penanganannya harus menyeluruh, tidak tertuju pada siswa-siswa kasus yang dianggap bermasalah Jika guru hanya menyelesaikan masalah satu dua orang atau beberapa orang siswa yang suka mencuri, penyesaiannya tidak perlu dengan PTK tetapi siswa yang bersangkutan cukup hanya diberi nasehat atau bentuk pendidikan yang lain. Demikian juga bagi pengawas, jika yang bermasalah hanya beberapa orang guru, penyelesaiannya individual, bukan melalui tindakan yang tepat.
5. Pemberian tindakan harus dilakukan sendiri oleh peneliti sendiri, yaitu yang bersangkutan, tidak boleh minta bantuan orang lain, misalnya orangtua, kepala sekolah, atau yang lain. Dalam hal guru ingin agar siswa menertibkan sarana belajar yaitu dengan membiasakan menyiapkan buku dan alat-alat tulisnya sejak dari rumah, guru tidak boleh minta tolong orangtua membantu anak-anaknya melakukan persiapan di rumah, tetapi biar anak sendiri yang bilang kepada orangtuanya untuk dibangunkan lebih pagi untuk menyiapkan alat-alat tulisnya, atau karena dia ingin mengikuti pembelajaran yang menarik dari guru. Bagi penelitian tindakan pengawas, bukan menghendaki guru mau tunduk hanya karena kehadiran pengawas, tetapi harus dapat mengubah sikap karena kesadaran sendiri.
6. Penelitian tindakan berlangsung dalam siklus atau putaran empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Oleh karena itu penelitian tindakan dapat disebut sebagai jenis penelitian eksperimen berkesinambungan, karena prosesnya diulang-ulang, tidak ada pergantian model. Jika ada yang mempermasalahkan penelitian tindakan termasuk penelitian kualitatif atau kuantitatif, maka jawabnya adalah kualitatif. Yang diutamakan dalam penelitian tindakan adalah proses, sedangkan hasil adalah konsekuensi logis dari keterlaksanaan proses.
7. Penelitian tindakan BUKAN menjelaskan tentang materi, tetapi tentang CARA, PROSEDUR, atau METODE. Oleh karena itu topik permasalahan tidak boleh terlalu sempit, agar dapat tampak pengulangannya dalam siklus. Untuk KTI bagi jabatan profesional guru, kepala sekolah, dan pengawas ini, peneleitian tindakan boleh hanya dua siklus saja, meskipun tidak dibatasi apabila belumpuas, dan menghendaki lebih dari dua siklus. Jika mencobakan cara, prosedur, atau metode tersebut harus berulang kali, dapat disamakan dengan mencoba sepeda motor baru berkali-kali sampai ditemukan kelancaran dan keenakan mengendarai sepeda motor yang sempurna. Jika mencoba sepeda motor disebut reiyen, maka penelitian tindakan dapat dikatakan juga sebagai reiyen rcara, reiyen prosedur, atau reiyen metode untuk mendapatkan kelancaran pelaksanaan sampai betul-betul dirasakan enak maksimal.
8. Tindakan yang diberikan oleh peneliti kepada subjek tindakan harus baru, artinya berbeda dari biasanya. Dengan kata lain, tindakan yang dilakukan oleh subjek yang diteliti, bukan hanya tindakan hari-hari yang sudah biasa dilakukan. Andaikata tindakan itu sudah pernah dilakukan, harus ada yang berbeda dari biasanya, mungkin merupakan modifikasi atau penyempurnaan dari yang sudah pernah dilakukan.
9. Tindakan yang diberikan oleh peneliti bukan bersifat teoretik dan umum, tetapi berpijak dari kondisi nyata tempat peneliti bekerja. Oleh karena itu sebuah rencana tindakan dapat dikatakan meyakinkan apabila ada uraian tentang kondisi riil tempat tindakan dilakukan. Dengan kata lain adalah bahwa tindakan yang dilakukan oleh subjek, merupakan tindakan nyata, karena diarahkan oleh peneliti.
10. Tindakan yang diberikan oleh peneliti kepada subjek tidak boleh diterima sebagai paksaan, tetapi sudah merupakan kesepakatan bersama antara peneliti sebagai pemberi tindakan dan subjek sebagai pelaksana tindakan. Pemberian tindakan tidak bersifat otoriter tetapi dapat diterima dengan sukarela dan terbuka. Untuk itulah maka sebelum tindakan dilaksanakan, perlu ada pembicaraan bersama antara pemberi tindakan dan pelaku tindakan. Dengan demikian akan sangat baik, atau merupakan keharusan bahwa dalam menyusun perencanaan tindakan ini peneliti membuat sebuah panduan tertulis yang difahami dan disepakati bersama antara peneliti dengan subjek, sehingga pelaksanaannya tidak keliru. Ketika tindakan berlangsung harus terlihat adanya unjuk kerja yang dilakukan oleh subjek tindakan sesuai pedoman tertulis yang diberikan oleh peneliti dan sudah merupakan kesepakatan bersama.
11. Ketika tindakan berlangsung, ada pengamatan secara sistematis yang dilakukan oleh peneliti sendiri atau pihak lain yang dimintai bantuan. Oleh karena penelitian tindakan ini mengutamakan proses, maka harus ada penelusuran terhadap proses yang terjadi, untuk dicocokkan dengan perencanaan. Pengamatan dilakukan dengan pedoman pengamatan.
12. Jika peneliti menginginkan adanya peningkatan hasil sebagai dampak dari adanya tindakan, maka perlu ada evaluasi terhadap hasil seba gai konsekuensi dari proses yang dicobakan, dengan menggunakan instrumen yang relevan. Dalam mengolah data angka, peneliti boleh menggunakan rumus-rumus statistik yang dipandang sesuai.
13.Keberhasilan tindakan dibahas dalam kegiatan refleksi sebagai tahap keempat atau terakhir dari sebuah siklus. Dalam tahap refleksi ini, semua melakukan suatu perenungan bersama tentang pelaksanaan tindakan yang sudah dilaksanakan. Oleh karena itu agar dalam perenungan diperoleh data yang lengkap, maka semua pihak yang terkait dengan tindakan sebaiknya diikut sertakan. Hasil dari refleksi, yaitu semua masukan berupa data apa pun, kritik dan saran, dikumpulkan oleh peneliti, dan digunakan sebagai bahan penyempurnaan untuk menyusun rencana tindakan siklus berikutnya. Dalam langkah refleksi, pengawas dengan cermat mengumpulkan pendapat guru atau kepala sekolah – atau staf TU, an yang penting mengumpulkan saran untuk perbaikan tindakan.


G. PRINSIP TINDAKAN

Untuk mempermudah penerapan prinsip-prinsip tindakan, sebelum mulai melaksanakan tindakan peneliti perlu menyusun rencana tindakan. Dalam menyusun rencana tersebut, sebaiknya peneliti menerapkan prinsip yang tepat untuk perencanaan yang sudah banyak dikenal dengan singkatan SMART, sebuah kata bahasa Inggris yang artinya cerdas. SMART ini berupa sebuah singkatan dari singkatan berikut.
- S, kata depan dari specific, artinya khusus, tertentu
- M, kata depan dari managable, artinya dapat dilaksanakan, tidak rumit
- A, kata depan dari acceptable, dapat diterima oleh pihak pelaku tindakan
atau achievable, dapat dicapai
- R, kata depan dari realistic, kegiatan nyata, terdukung sumber daya
- T, kata depan dari time-bound, dilaksanakan dalam batas waktu tertentu

Selanjutnya karena penelitian tindakan merupakan salah satu dari kegiatan ilmiah yang harus dilaporkan dalam bentuk karya tulis ilmiah berbentuk laporan penelitian tindakan kelas, maka alur pemikirannya harus mengikuti alur penalaran yang runtut dan benar. Sebagai ciri keilmiahan, KTI yang berupa laporan PTK harus didukung dengan teori-teori yang relevan, kemudian ide atau gagasan yang asli dari penulisnya, digambarkan secara jelas, karena bagian itulah yang merupakan ’sesuatu’ yang harus ditonjolkan. Adapun skema alur pemikiran dimaksud adalah sebagai berikut.

PERMASALAHAN TUJUAN


TEORI PEMBAHASAN


IDE / GAGASAN ASLI


KESIMPULAN

 tidak dilaksanakan dilaksanakan
Makalah ”tinjauan” Laporan PTK

Penjelasan penting dalam alur penalaran :
1. Permasalahan:
Dalam penulisan karya ilmiah, permasalahan merupakan bagian yang berisi penjelasan tentang alasan penulis untuk menyampaikan ide atau gagasan. Agar pembaca memperoleh kejelasan optimal, sebaiknya ada bukti data / fakta yang memuat kejadian-kejadian yang meyakinkan pembaca bahwa permasalahan yang diangkat menjadi tulisan memang benar-benar penting untuk dicarikan penyelesaian. Penyajian bukti ini akan lebih jelas apabila dilengkapi tabel atau bagan.

2. Tujuan:
Tujuan penulisan dalam alur penalaran mengemukakan tentang target secara spesifik yang ingin dicapai oleh penulis melalui penyampaian ide atau gagasan ini. Agar pembaca memahami maksud penulis sebaiknya tujuan ini dirumuskan dalam kalimat dengan kata-kata yang spesifik dan dapat diamati, dalam arti dicermati dalam kesimpulan yang ditarik dari alur ide atau gagasan peneliti yang telah diramu berdasarkan teori yang dikemukakan. Banyak sekali tulisan, atau bahkan sebagian besar tulisan, tidak menunjukkan saling kaitan antara masalah dengan teori yang ditulis, yang kemudian juga dengan ide atau gagsan yang disampaikan. Setiap bagian dijelaskan secara tersendiri, tidak terlihat adanya kesinambungan pemikiran yang mengkaitkan bagian yang satu dengan yang lain.

3. Kajian teori:
Sudah dikemukakan dalam awal tulisan ini bahwa karya tulis ilmiah adalah sebuah tulisan yang berisi pemikiran ilmiah, ditulis dengan cara dan proses yang mengikuti kaidah-kaidah keilmiahan, yaitu mengikuti sistematika yang ditentukan. Sebagai pertanggungjawaban penulis bahwa tulisannya ilmiah, diperlukan dukungan teori yang relevan serta diakui kebenarannya dan sudah diterima oleh masyarakat ilmiah.
Dalam karya tulis ilmiah, teori-teori ini disajikan dalam bab II, di bawah judul “Kajian Pustaka”. Sebagian orang memasalahkan penggunaan istilah itu dengan membedakan antara kajian teori dan kajian pustaka. Dalam hal ini kajian pustaka lebih luas daripada kajian teori karena kajian teori berada di dalam kajian pustaka. Selain kajian teori, di dalam kajian pustaka terdapat hasil-hasil penelitian serta pendapat-pendapat lain yang mungkin diperoleh dari internet dan lain-lain dengan persyaratan: (1) sekurang-kurangnya 5 (lima) sumber; (2) bukan hanya dari pedoman atau SK yang terkait dengan tindakan; (3) sebaiknya dipilih yang mutakhir; (4) bukan deretan kutipan dari kamus atau mengutip pengertian, tetapi yang menunjukkan sebab-akibat; (6) jika mengambil dari buku tulisan orang Indonesia, nama penulis tidak perlu dibalik.
Pada umumnya yang disajikan penulis hanya kutipan definisi, konsep- konsep yang menyangkut judul atau permasalahan saja, tidak ada yang mendasari gagasannya. Sebagai contoh kongkrit, jika peneliti ingin mencoba meningkatkan minat belajar siswa menggunakan pendekatan kunjungan, harus ada teori yang menjelaskan bahwa ‘kunjungan dapat meningkatkan minat’.
Contoh teori yang lain: menggunakan teori ilmu jiwa bahwa sifat asli setiap siswa adalah aktif. Jika pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan kesempatan siswa untuk aktif, diharapkan hasilnya akan baik. Dalam hal ini ada hubungan dua hal, yaitu antara keaktifan siswa dengan prestasinya. Demikian juga KTI yang dibuat oleh pengawas. Jika pengawas ingin melakukan pembinaan terhadap guru, perlu adanya teori yang berkenaan dengan kejiwaan subjek dengan usia tertentu. Guru dan kepala sekolah sebagai orang dewasa, tentu tidak suka kalau pengawas hanya memberikan perintah. Menurut teori, setiap orang akan merasa senang kalau dihormati dan harga dirinya diakui. Dalam hal ini pengawas dapat mengambil teori Abraham Maslow tentang kebutuhan dasar manusia untuk mendukung ide atau gagasan untuk memberikan tindakan kepada mereka. Guru atau kepala sekolah dijajaki keinginannya dan diajak berdiskusi, ditanya apa keinginan dan apa saja usul yang di kemukakan.

4. Pembahasan: adalah menghubungkan antara teori dengan masalah ---- yaitu menerapkan teori yang sudah dipilih untuk memecahkan masalah. Dalam pembahasan awal ini penulis belum langsung mengenakan teori pada data yang dikumpulkan untuk masalah yang akan dipecahkan, tetapi baru menghubungkan ide atau gagasan dengan teori yang telah dipilih. Pembahasan ini dikemukakan dalam bahasa asli penulis.

5. Ide atau gagasan asli penulis
Yang dimaksud dengan ide atau gagasan penulis adalah pemikiran penulis yang baru dan cemerlang sebagai HASIL PENALARAN DARI PENULIS SENDIRI, yang merupakan hasil pemikiran mendalam yang sudah disesuaikan dengan kondisi kelas dan sekolahnya. Pengajuan ide atau gagasan ini akan dengan cepat dinilai benar dan tepat apabila terlebih dahulu sudah dijelaskan oleh penulis tentang kesulitan yang dihadapi dalam praktek sehari-hari yang disertai dengan data autentik, sebagaimana sudah dijelaskan pada pengajuan masalah.
Penting diperhatikan:
o Ide dimaksud bukan hanya kutipan dari teori dalam arti bahwa penulis hanya ingin melaksanakan ide orang lain.
o Ide yang disampaikan tidak terlalu umum artinya sudah banyak dikenal dalam praktek. Sebagai contoh, tindakan hanya berupa peringatan dan himbauan kepada siswa, sesudah itu akan dilakukan pemantauan secara cermat.
o Ide atau gagasan yang diajukan harus cemerlang dan khusus memang ide dari penulis sendiri, bukan ide yang sudah biasa dilakukan tetapi tidak tampak hasilnya. Untuk meyakinkan bahwa ide tersebut baik, sebaiknya penulis memberikan gambaran tentang kondisi dan situasi kelas yang masalahnya akan dipecahkan.
Misalnya pengawas ingin memberikan tindakan berupa peningkatan prestasi kerja guru melalui metode diskusi kelompok terbimbing. Dalam hal ini pengawas membuat panduan berisi cara-cara meningkatkan prestasi. Tugas setiap guru adalah mengerjakan tugas yang diberikan, kemudian harus melaporkan hasil bagian topik tertentu, pengawas perlu menjelaskan keadaan guru dalam satu kelompok yang dibimbing, situasi kelompok itu seperti apa, proses diskusi dilakukan di mana dan kondisinya bagaimana, dan lain-lain.
Penyajian ide atau gagasan yang ditulis dengan runtut dan mengikuti alur berpikir ilmiah sebagaimana dijelaskan, sudah dapat diserahkan kepada tim penilai untuk dinilai. Tulisan seperti ini termasuk kategori karya ilmiah dalam bentuk makalah tinjaun, nilainya 3,5. Apabila guru menginginkan nilai yang lebih tinggi, yaitu 4.0, guru harus mencobakan ide atau gagasan tersebut dalam tindakan nyata. Jadi dengan singkat dapat disimpulkan:

Ringkasan:
1. Jika ide atau gagasan hanya ditulis dalam bentuk makalah TIDAK DILAKSANAKAN, hasilnya adalah karya tulis tinjauan - nilainya 3,5
2. Jika ide atau gagasan dilaksanakan dalam bentuk tindakan nyata yang sesuai dengan profesi guru, maka hasilnya menjadi laporan penelitian tindakan - nilainya 4,0

Ada beberapa model penelitian tindakan, namun prinsip dasarnya sama, yaitu adanya empat tahap, mulai dari perencanaan sampai dengan siklus. Berikut ini adalah salah satu bentuk model PTK.

Siklus – artinya putaran.
Satu siklus terdiri dari empat langkah, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Untuk KTI ini, PTK dilaksanakan paling sedikit dua siklus. Namun kalau mau dilanjutkan, juga boleh saja.
1. Perencanaan – yaitu langkah yang dilakukan oleh guru ketika akan memulai tindakannya. Kebanyakan guru pengertiannya terpaku pada perencanaan mengajar seperti biasanya, yaitu membuat persipan mengajar, menyiapkan sumber bahan, menyiapkan alat pelajaran dan persiapan lain yang biasa dilakukan oleh guru ketika mengajar. Pengertian seperti itu kurang tepat. Yang dinilai dalam laporan PTK, yang dimaksud dengan perencanaan bukan persiapan tetapi PERENCANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS.
Adapun uraian yang perlu dan harus dikemukakan adalah menyusun sebuah rancangan kegiatan, siswanya akan diapakan. Supaya perencanaan ini lengkap dan difahami oleh semua siswa, guru membuat semacam panduan yang menggambarkan (a) apa yang harus dilakukan oleh siswa, (b) kapan dan berapa lama dilakukan, (c) dimana dilakukan, (d) jika diperlukan peralatan atau sarana, ujudnya apa, (e) jika sudah selesai, apa tindak lanjutnya.
Bagi pengawas, jika akan melakukan PTSW, misalnya dalam rangka membina guru untuk melakukan metode diskusi yang benar, harus menjelaskan berapa orang guru yang akan dilibatkan, siapa saja, apa alasan mengapa guru-guruitu yang dibina, kapan, berapa lama, dan yang penting adalah proses PTK yang akan dilakukan.
2. Pelaksanaan – yaitu implementasi dari perencanaan yang sudah dibuat. Untuk ini peneliti harus memperhatikan hal-hal: (a) apakah ada kesesuaian antara pelaksanaan dengan perencanaan yang sudah disusun, (b) apakah proses tindakan yang dilakukan subjek tindakan cukup lancar, (c) bagaimanakah situasi proses tindakan, (d) apakah subjek tindakan mau melaksanakan dengan bersemangat, (e) bagaimanakah hasil keseluruhan dari tindakan itu.
3. Pengamatan – yaitu proses mencermati jalannya pelaksanaan tindakan. Hal-hal yang diamati adalah hal-hal yang sudah disebutkan dalam pelaksanaan. Antara pelaksanaan dengan pengamatan sebetulnya bukan merupakan urutan karena waktu atau saat terjadinya bersamaan. Dalam PTK, pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan format pengamaan. Keberadaan format pengamatan merupakan hal yang sangat penting dan mutlak harus ada.
Siapakah yang melakukan pengamatan? Dalam hal ini ada dua kemungkinan:
a. Pengamatan dilakukan oleh orang lain, yaitu pengamat yang diminta oleh peneliti untuk mengamati proses pelaksanaan tindakan, yaitu mengamati apa yang dilakukan oleh guru, siswa, maupun peristiwanya.
b. Pengamatan dilakukan oleh guru yang melaksanakan PTK. Dalam hal ini guru tersebut harus sanggup “ngrogoh sukma” – istilah bahasa Jawa – yaitu mencoba mengeluarkan jiwanya dari tubuh untuk mengamati dirinya, apa yang sedang dilakukan, sekaligus mengamati apa yang dilakukan oleh siswa, dan bagaimana proses berlangsung.
Manakah model yang lebih baik, yang pertama atau kedua? Tentu saja model pertama lebih baik, hasil pengamatan akan lebih asli karena pengamatan dapat dilakuka secara objektif. Kesulitannya adalah bahwa peneliti harus mencari teman yang cermat dan dapat mengamati pelaksanaan. Hambatannya adalah waktu, karena harus mengadakan kesepakatan menentukan waktu yang sama.
4. Refleksi – atau dikenal dengan peristiwa perenungan. Dalam perenungan ini, jika tidak ada pengamat luar, peneliti harus membayangkan kembali peristiwa yang sudah lampau, yaitu ketika tindakan berlangsung. Hal yang sangat penting diperhatikan oleh peneliti dalam PTK adalah bahwa seluruh subjek tindakan harus dilibatkan dalam refleksi ini. Mereka diminta untuk mengingat kembali peristiwa yang terjadi ketika pelaksanaan tindakan berlangsung, mengemukakan perasaannya senang atau tidak, mengemukakan pendapat dan usul-usul untuk perbaikan siklus berikutnya. Dalam penilaian laporan PTK, uraian refleksi ini sangat diperhatikan oleh penilai, dicermati bagaimana peneliti melakukannya, dan bagaimana tindak lanjut dari refleksi tersebut. Hal yang sangat diperhatikan oleh penilai KTI adalah, apakah hasil refleksi ini digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki perencanaan untuk siklus berikutnya atau tidak. Hal yang perlu diingat adalah bahwa tindakan ini adalah untuk subjek tindakan, oleh karena itu pendapat mereka sangat penting untuk dijadikan masukan perbaikan bagi perencanaan siklus berikutnya.


H. PTK UNTUK MENCOBAKAN CARA ATAU METODE, BUKAN MATERI

Hal yang paling penting untuk diperhatikan dan selalu diingat oleh peneliti PTK adalah bahwa penelitian tindakan BUKAN untuk mencobakan materi pelajaran, tetapi CARA, METODE, MODEL, PENDEKATAN atau STRATEGI. Oleh karena itu dalam pengajuan tindakan, guru tidak boleh menyebut topik atau pokok bahasan tertentu, kecuali materi yang lingkupnya luas. Sebagai contoh, dalam mata pelajaran geografi tidak boleh mengatakan “Meningkatkan kreativitas siswa dalam membaca peta pulau Jawa”, tetapi sebut “peta” saja, sehingga selengkapnya menjadi “Meningkatkan kreataivitas siswa dalam membaca peta”. Mengapa tidak boleh ruang lingkup sempit? Ya, karena apabila hanya menyampaikan peta pulau Jawa saja, guru tidak dapat melakukan dalam bentuk siklus. Mungkin dua tiga pertemuan saja pelajaran sudah habis.
Bagi pengawas, PTK yang dilakukan bukan laporan ketika melaksanakan supervisi atau pembinaan, tetapi mencobakan CARA atau STRATEGI supervisi atau model pembinaan yang berbeda dari biasanya. Kalau biasanya pengawas mendatangi guru satu demi satu ke sekolah, mungkin kali ini ingin mencoba model supervisi silang, mengajak guru yang sudah ahli untuk menjadi guru model atau contoh, dan guru yang lain mengamati dengan menggunakan lembar supervisi. Kelanjutan dari model ini, kelompok guru yang terlibat diajak mendiskusikan hasil pengamatan. Akan baik sekali apabila pengawas menggunakan video untuk merekam peristiwa ketika guru mengajar. Mungkinkah koordinator pengawas mengusahakan kamera video untuk memfasilitasi usaha ini?


I. KESALAHAN UMUM YANG DILAKUKAN

Selama melakukan penilaian terhadap laporan penelitian yang diajukan oleh guru, penilai menjumpai kesalahan-kesalahan yang sifatnya umum. Agar para guru tidak lagi melakukan kesalahan, dan para penilai perlu waspada dengan model-model yang dibuat salah tersebut. Meskipun dalam sampul laporannya penulis dengan mantap menuliskan MAKALAH PTK atau LAPORAN PTK, tetapi ternyata bukan PTK, dengan alasan sebagai berikut.
1. Yang ditulis hanya laporan pembelajaran biasa. Memang dalam uraian tersebut dijelaskan proses pembelajarannya, tetapi hanya biasa, bukan PTK, karena isinya hanya menceriterakan apa yang dilakukan ketika mengajar, yaitu menggunakan LKS. Guru memberi LKS kepada siswa memang siswanya jadi aktif, tetapi penggunaan LKS dalam pembelajaran, akhir-akhir ini sudah bukan hal yang baru, tetapi sudah biasa karena diharuskan. Idenya bukan dari guru sendiri tetapi Diknas. Oleh karena itu tindakan yang dilakukan oleh guru dan siswa bukan barang baru, bukan merupakan pemecahan masalah. Langkah-langkah yang disebutnya sebagai siklus sebenarnya bukan siklus tetapi hanya langkah-langkah biasa.
Bagi pengawas, kekhawatiran seperti ini juga ada. Pernah terjadi seorang pengawas melaporkan kegiatannya dengan nama Penelitian Tindakan, tetapi sebenarnya isi yang dibicarakan hanya laporan kegiatan rutin yang memang menjadi tugas sehari-hari. Apa yang dilaporkan tidak terlihat ad aupaya peningkatan yang dicobakan melalui tindakan.
Keasalahan umum pengawas, melakukan pembelajaran di kelas. Jelas upaya tersebut salah, karena profesi pengawas bukan mengajar di kelas. Laporan penelitian seperti itu pasti ditolak, tidak mendapatkan nilai.
2. Guru melaporkan proses mengajar IPA dengan menggunakan alat-alat pelajaran. Bagi pelajaran IPA, menggunakan alat pelajaran bukan aneh, tetapi bahkan merupakan keharusan. Jika sebelum itu guru belum menggunakan, justru dipertanyakan mengapa tidak melakukan itu. Jadi melaporkan pembelajaran topik panas menggunakan alat thermometer, bukanlah PTK.
Bagi pengawas, misalnya saja ketika melakukan pembinaan menggunakan tape recorder, selama alat tersebut hanya berfungsi untuk memudahkan pelaksanaan tugas, maka apa yang dilakukan tersebut bukan merupakan tindakan. Cara atau metode yang digunakan sama saja dengan biasanya, yaitu wawancara. Penggunaan tape recorder yang efektif adalah apabila guru memiliki rekamannya, sehingga pembinaan yang diberikan kepada guru dapat didengarkan berulang-ulang, dan dengan runtut pula pengawas dapat menagih tindak lanjut dari pembinaan yang telah diberikan.
3. Istilah portofolio mulai gencar diperkenalkan dalam dunia pendidikan kira-kira mulai tahun 2003. Barangkali beberapa orang guru merasa senang dan tertarik untuk menuliskan dalam bentuk karya tulis ilmiah. Diceriterakanlah apa yang dilakukan oleh guru tersebut secara panjang lebar bagaimana melakukan penilaian portofolio dan dikirimkan untuk dinilai. Tentu saja permasalahan yang dilakukan oleh guru ini bukan pemecahan masalah untuk meningkatkan profesinyanya tetapi merupakan tugas yang biasa dilakukan. Jika melakukan, maka tugas yang menjadi keharusan belum dilaksanakan.
Pengawas dapat mengambil manfaat dari kebingungan guru ini, lalu membuat sebuah pedoman bagaimana guru harus melakukan suatu kegiatan yang terkait dengan portofolio berdasarkan pedoman yang dibuat pengawas. Pedoman lain yang dapat dibuat oleh pengawas cukup banyak, misalnya pedoman penataan taman, pedoman mengoreksi tugas siswa, pedoman melaksanakan kurikulum secara efektif dan efisien, dan lain-lain pedoman, baik yang diperlukan oleh guru maupun kepala sekolah.
4. Pernah ada beberapa orang guru mengirimkan laporan penelitian dan disebut sebagai PTK. Ujud laporannya tebal meyakinkan. Setelah dicermati, ternyata bukan PTK karena hanya merupakan laporan hasil tes dari ulangan umum, yang dianalisis secara cermat, melalui analisis butir dan hasil yang dilaporkan adalah taraf kesukaran, daya beda butir tes, rata-rata nilai, tampilan dalam grafik batang dan sebagainya. Laporan seperti itu bukan PTK tetapi laporan pembelajaran biasa yang merupakan salah satu tugas guru yang dilaporan dalam bukti fisik, yang biasa dikenal oleh guru sebagai berkas DUPAK. Dalam perhitungan angka kredit guru, kegiatan menganalisis hasil ulangan sudah diperhitungkan sebagai salah satu unsur DUPAK, jadi bukan pengembangan profesi.
Demikian juga untuk pengawas mengajukan beberapa laporan PTK, tetapi bukan tugasnya. Seorang pengawas mengajukan tiga laporan pembelajaran, yaitu mengajar IPS, IPA dan Bahasa Indonesia. Jelas, tiga laporan tersebut ditolak, padahal harapannya mendapatkan nilai 12, yaitu 3 x 4, tetapi yang diperoleh adalah 0 (nol).
5. Guru melakukan penelitian dengan mencobakan dua metode, yaitu metode ceramah di kelas IIA dan metode diskusi di kelas IIB. Metode penelitian yang digunakan sudah betul, dengan pengambilan kelas secara random, dan langkah-langkah yang dilakukan juga betul. Laporan penelitian seperti itu betul dan boleh serta dapat diberi nilai 4,0. Penelitian semacam itu bukan merupakan PTK tetapi eksperimen. PTK adalah penelitian tentang metode, yang dicoba berulang-ulang tetapi modelnya tetap sama. Oleh karena itu PTK disebut dengan istilah yang lebih dikenal dan sesuai dengan kegiatan yang berulang, yaitu penelitian eksperimen berkesinambungan. Jika model yang dilakukan berubah-ubah, yaitu tindakan di siklus II berbeda dengan tindakan di siklus I, maka penelitian itu bukan eksperimen berkesinambungan, tetapi eksperimen membandingkan efektivitas dua metode atau dua tindakan. Tindakan siklus II harus merupakan penyempurnaan tindakan siklus I berdasarkan masukannya.


J. GARIS BESAR LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN

Meskipun model laporan penelitian dapat dikatakan beraneka ragam, namun yang disarankan dalam buku pedoman karya tulis ilmiah bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas, model atau sistematika laporan penelitian tindakan kelas, demikian juga PTSW, adalah sebagai berikut.
Bab I PENDAHULUAN
1. Latar belakang masalah
Kekeliruan yang banyak dilakukan oleh guru adalah keinginan untuk mulai dari konsep yang sangat luas, yaitu undang-undang, lalu kebijakan yang juga masih luas, dan seterusnya. Sebaiknya latar belakang tidak bertele-tele, tetapi lekas menukik ke permasalahan. Yang lebih penting adalah menggambarkan adanya kesenjangan yang menarik perhatian untuk diteliti, karena antara hal yang ada dalam kenyataan tidak sama dengan yang seharusnya, atau dengan kata lain, tidak sesuainya antara kondisi nyata dengan kondisi harapan. Dalam hal ini peneliti ingin mengetahui apa sebab-sebab kesenjangan itu melalui penelitian.
Sudah disebutkan dalam bagian terdahulu bahwa untuk meyakinkan penilai bahwa PTK yang dilaporkan oleh guru maupun pengawas betul-betul merupakan hasil karya yang dilaksanakan sendiri, masih perlu kiranya dalam bagian ini dikemukakan pengalaman yang terkait dengan kegagalan menggunakan metode atau cara lama, kemudian mungkin sudah pernah menyaksikan orang lain berhasil meningkatkan prestasi setelah menggunakan metode lain, maka dalam bagian ini guru atau pengawas baru mengemukakan keinginan untuk mencoba melakukan melalui PTK. Alasan mengapa dia melakukan penelitian tindakanharus tergambar dalam penjelasan tentang situasi kelas – kalau pengawas, harus tergambar situasi sekolah-sekolah binaan, supaya dalam laporan tersebut diketahui oleh penilai bahwa KTI itu merupakan laporan kegiatan nyata yang khas untuk tugasnya.
Sebagai contoh kongkrit, guru sudah sering menggunakan metode diskusi untuk mengajarkan IPS. Dalam diskusi tersebut yang aktif hanya siswa tertentu, mulai dari mengajukan pemikiran dalam kelompok, menyimpulkan, maupun melaporkan hasilnya. Kini guru mempunyai pemikiran, kalau dalam diskusi yang terdiri dari 3 orang diberikan 3 topik, dan masing-masing siswa harus bertanggungjawab atas penyelesaian setiap topik, mungkin semua siswa akan menjadi aktif. Model seperti itu juga baik jika pengawas ingin mencobakan pada guru atau kepala sekolah, ketika membahas masalah aktual yang terjadi di sekolah. Pengajuan ide tersebut jika tidak dilaksanakan hanya berupa makalah tinjauan, nilainya 3,5, tetapi jika dicobakan dalam bentuk PTK, hasilnya berupa laporan PTK, nilainya 4,0.
Sebagai realisasi dari ide ini, sebelum PTK dilaksanakan, guru peneliti harus mengemukakan ide tersebut kepada siswa. Jika yang melakukan pengawas, harus mengajukan kepada guru atau kepala sekolah sebagai subjek tindakan. Ketika siswa, guru atau kepala sekolah sebagai subjek tindakan menyetujui, barulah guru atau pengawas sebagai peneliti, menyusun rencana tindakan. Agar pelaksanaannya lancar, peneliti membuat sebuah panduan, yang ditulis dengan rapi dan dibagikan kepada subjek untuk difahami bersama, kemudian barulah tindakan tersebut dapat dilakukan. Dalam melaksanakan diskusiyang berbeda dari biasanya ini, subjek mengikuti panduan yang sudah diberikan oleh peneliti. Apabila peneliti dapat melampirkan panduan yang diberikan kepada subjek seperti yang ditentukan ini, pasti laporan PTKnya akan lengkap, dan penilai akan tergerak untuk langsung memberikan nilai sebagaimana ditentukan, yaitu 4,0.
Bagi pengawas yang ingin melakukan penelitian tindakan terhadap guru secara kelompok untuk melatihkan cara mengajar yang baik, maka latar belakang masalah harus menggambarkan secara riil situasi sekolah-sekolah di wilayah binaannya, gambaran tentang kemampuan guru dalam melaksanakan cara mengajar yang menjadi keprihatinan pengawas. Untuk jelasnya, model mengajar yang akan dibimbingkan, memerlukan alasan yang lengkap dan jelas, dan model tersebut sudah dipertimbangkan masak-masak dengan dukungan teori yang tepat dan relevan.
2. Identifikasi masalah dan batasan masalah
Dalam menuliskan identifikasi masalah ini peneliti mengemukakan hal-hal yang perlu diperhatikan dan mengharapkan hasil. Identifikasi masalah adalah:
a. Merupakan hal-hal spesifik yang berkaitan dengan permasalahan. Meskipun rumusan identifikasi yang ditulis boleh sebanyak-banyaknya, namun jika dapat ditemukan yang sudah spefisik lebih baik. Permasalahannya digali dari kegiatan sehari-hari yang termasuk profesional guru, kepala sekolah, atau juga staf TU. Rumusan masalahnya harus jelas dan tertuju pada proses pembimbingan yang diujudkan dalam bentuk tindakan. Yang diutamakan bukan hasil, tetapi proses yang dirinci lebih operasional dan diamati dengan lembar observasi.
b. Sebaiknya tidak merupakan permasalahan yang masih umum yang kadang-kadang rumusannya sama persis dengan judul penelitian. Jumlahan dari permasalahan yang disebutkan, merupakan permasalahan yang tertera di dalam judul. Namun ada ahli yang berpendapat, permasalahan dalam judul harus disebutkan sebagai masalah yang pertama, baru kemudian dirinci menjadi maalah yang lebih kecil.
c. Identifikasi masalah tidak harus dalam bentuk kalimat pertanyaan, tetapi menyebutkan apa saja yang merupakan rincian masalah atau dengan kata lain unsur-unsur yang merupakan rincian dari permasalahan yang menjadi ganjalan peneliti dan sudah tertera di dalam judul.
d. Batasan masalah. Kesalahan yang banyak dilakukan oleh guru adalah bahwa ketika menuliskan batasan masalah adalah hanya sekedar mengutip apa yang sudah disebutkan di dalam judul. Pembatasan masalah adalah membatasi apa yang sudah disebutkan dalam identifikasi masalah, yaitu mempersempit apa yang sudah disebutkan dalam identifikasi masalah, jadi bukan kembali ke judup penelitian.
2. Rumusan masalah / pertanyaan penelitian
Rumusan masalah seringkali diartikan sama dengan pertanyaan penelitian. Namun demikian ada orang yang membedakan antara keduanya. Rumusan penelitian untuk penelitian kuantitatif, sedangkan pertanyaan penelitian untuk penelitian kualitatif. Oleh karena penelitian kualitatif muncul belakangan dan ada kecenderungan di masyarakat bahwa yang baru biasanya lebih baik dari yang lama, maka ramai-ramailah para peneliti pemula memilih penelitian kualitatif yang tampaknya “lebih ngetren, jadi lebih gaya”.
Tentang jenis atau pendekatan penelitian itu sendiri masih terdapat perbedaan pandangan antara beberapa orang peneliti.
a. Kelompok pertama berpendapat bahwa pendekatan penelitian harus tegas, mau kuantitatif atau kualitatif, sebaiknya murni. Penelitian kualitatif adalah penelitian tanpa angka, sehingga sifatnya menjadi “alergi angka”. Sebaliknya penelitian kuantitatif harus menunjukkan kaitan antara banyak variabel, dan membatasi banyaknya variabel yang diteliti untuk dihubung-hubungkan.
b. Kelompok kedua berpendapat bahwa yang penting dalam penelitian adalah diperolehnya data yang lengkap dan benar, kemudian setelah dianalisis, dapat diperoleh makna yang sebesar-besarnya dari penelitian yang telah dilakukan. Sebagai konsekuensi dari pendapat ini, maka penelitian tidak harus secara tegas memisahkan antara kualitatif dan kuantitatif. Dalam penelitian kualitatif boleh dilengkapi data yang dikumpulkan dengan angka dan rumus, tetapi bukan berarti “sarat rumus”. Analisis data dapat dilakukan hanya dengan menghitung rata-rata, persentase, dan lain-lain. Selanjutnya penelitian kuantitatif boleh melengkapi (bahkan disarankan) melengkapi datanya dengan hal-hal yang sifatnya kualitatif, menggali lebih dalam terkait data yang sudah dikumpulkan dengan maksud memperkuat, memperluas, atau meyakinkan kebenarannya.
Penyebutan pendekatan penelitian ini dilihat dari titik berat penelitiannya ke arah mana, kuantitatif atau kualitatif. Kekeliruan yang banyak terdapat selama ini adalah tidak mantapnya penentuan pendekatan. Sebagai ancar-ancar penentuannya adalah demikian:
• Penelitian kuantitatif:
Sejak awal sudah dapat merancang apa saja data yang akan diperoleh, yang pada umumnya dalam jumlah banyak dan rinci, pengolahannya menggunakan rumus-rumus statistik untuk mengetahui hubungan atau sumbangan.
Jika peneliti ingin menggeneralisasikan hasil penelitiannya, dengan hanya meneliti sampel tetapi hasilnya berlaku untuk populasi.
• Penelitian kualitatif
Jenis dan bentuk data baru diketahui setelah proses pengumpulan, dan sangat tergantung dari proses ketika pengamatan dilakukan. Jadi penelitian kualitatif pasti menunjuk pada proses. Dengan demikian jika yang dikumpulkan bukan merupakan data dari proses, tidak tepat jika menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian kualitatif hanya berlaku bagi subjek yang diteliti, tidak untuk generalisasi.
Dalam kaitan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif ini ada jenis penelitian yang namanya sama tetapi dapat menunjuk pada keduanya. Ada penelitian kasus dalam bentuk kuantitatif, yaitu apabila data yang dikumpulkan berbentuk data kuantitatif dan dianalisis secara kuantitatif tetapi hanya berlaku untuk lingkup yang diteliti. Penelitian kualitatif kasus apabila subjek sudah ditentukan, tanpa sampel, dan berlaku hanya untuk kasus yang bersangkutan.
Dalam perbincangan klasifikasi penelitin ini, dimanakah letak PTK? Dalam pembicaraan yang lalu sudah disebutkan bahwa PTK merupakan penelitian eksperimen berkelanjutan. Dengan demikian penelitian tindakan dapat dikategorikan sebagai penelitian kualitatif, tetapi data yang diperlukan ditambahkan secara rinci melalui penelitian kuantitatif.
Oleh karena yang utama dalam PTK adalah penelitian kualitatif, maka rumusan masalah yang ditulis guru harus berupa rangkaian pertanyaan yang menggali informasi tentang proses tindakan diharapkan terjadi sebagaimana sudah disebutkan dalam latar belakang masalah. Dalam permasalahan yang dicontohkan, rangkaian pertanayaan rumusan masalah antara lain:
• Apakah dengan pembagian topik untuk setiap siswa dalam kelompok ini pembelajaran dapat berlangsung meriah?
• Apakah dengan model diskusi seperti ini motivasi mereka cukup tinggi?
• Apakah tidak ada siswa yang tidak memperhatikan? Dan sebagainya, dan yang terkhir menanyakan apakah prestasi belajar sesudah itu cukup tinggi.
Dengan sedikit uraian tersebut, maka membuat rumusan masalah untuk penelitian tindakan tidak boleh keliru seperti rumusan masalah untuk penelitian eksperimen. Berikut diberikan dua contoh untuk guru dan untuk pengawas.
PTK untuk guru dan kepala sekolah
Judul penelitian:
”Meningkatkan prestasi belajar siswa dengan metode diskusi terprogram”
Rumusan masalah untuk PTK ini dapat dicontohkan seperti ini.
1. Bagaimanakah kelancaran diskusi terprogram ini, meliputi kelancaran pembagian kelompok, pembagian tugas, penyelesaian penggalan per indikator, dan kelancaran diskusi kelas?
2. Seberapa tinggi kesungguhan siswa dalam mengikuti pembelajaran, antara lain kesungguhan ketua kelompok dalam memimpin diskusi, seberapa tinggi anggota kelompok memberikan masukan kepada ketua, seberapa tinggi minat membuat kesimpulan, dan seberapa tinggi minat menyusun laporan?
3. Bagaimanakah situasi pembelajaran dengan metode diskusi terprogram ini jika dibandingkan dengan metode lain? Apakah siswa kelihatan gembira dan tidak ada yang mengantuk? Apakah siswa selalu aktif selama pembelajaran berlangsung?
4. Apakah dengan metode diskusi terprogram ini prestasi belajar siswa dapat tinggi yang dinyatakan dalam rata-rata yang tinggi, banyaknya siswa yang mencapai maksimal cukup banyak?
PTSW untuk pengawas
Judul penelitian:
”Meningkatkan kemampuan guru menggunakan metode diskusi terprogram melalui pembinaan kelompok”
Rumusan masalah untuk penelitian ini dapat seperti ini.
1. Bagaimanakah tanggapan guru-guru terhadap rencana pembinaan oleh pengawas? Bagaimanakah ada reaksi dari guru, dan kalau ada seperti apa reaksi itu?
2. Bagaimanakah kelancaran dalam penjelasan model pembinaan oleh pengawas kepada kelompok guru? Apakah guru-guru yang dibina lekas memahami petunjuk pengawas dan siap melaksanakan di kelas masing-masing?
3. Apakah guru-guru bersemangat menyusun rencana tindakan bersama pengawas” Bagaimanakah kelancaran rencana tindakan disusun, baik oleh pengawas maupun untuk guru?
4. Seberapa tinggi kesungguhan guru-guru dalam mengikuti pembinaan, antara lain kesungguhan melaksanakan tindakan, mencatat hal-hal yang terjadi, dan bagaimana mengamati mkeberlangsungan pembelajaran di masing-masing kelas?
5. Bagaimanakah situasi pembinaan, apakah guru-guru kelihatan senang dan bergairah mengikuti pengarahan pengawas?
6. Bagaimanakah situasi pembelajaran dengan metode diskusi terprogram yang dipimpin guru di kelas masing-masing? Seberapa tinggi pengawas dapat melakukan monitoring, dan bagaimana pencatatan yang dilakukan oleh pengawas untuk proses peningkatan kemampuan guru dalam mengajar menggunakan metode diskusi terprogram?
7. Bagaimanakah suasana kelas – kegiatan siswa – ketika diajar oleh guru yang menggunakan metode tertentu, dan bagaimanakah pengawas mampu mengamati siswa-siswa tersebut sekaligus mengamati gurunya?
3. Tujuan penelitian
Apa yang harus dituliskan dalam tujuan penelitian harus sejajar dengan rumusan masalahnya. Yang banyak dibuat salah oleh guru adalah bahwa tujuan penelitian itu adalah apa yang diharapkan sebagai pemanfaatan hasil.
Contoh salah: tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan prestasi belajar.
Contoh betul: tujuan penelitian adalah untuk mengetahui apakah proses tindakan berjalan lancar, apakah siswa senang, apakah tugas dapat dilaksanakan dengan baik, dan sebagainya menyangkut hal-hal yang disebutkan dalam rumusan masalah.
Contoh untuk pengawas tidak terlalu banyak berbeda dengan contoh untuk guru.
4. Manfaat penelitian
Kekeliruan yang banyak terjadi dalam merumuskan manfaat penelitian antara lain adalah:
a. Menyebutkan manfaat yang terlalu ambisius, untuk pihak atasan ang terlalu banyak, seolah-olah penelitiannya merupakan hal yang sangat penting yang akan dibaca oleh para pejabat.
b. Menyebutkan pihak yang dapat memanfaatkan hasil penelitiannya adalah pihak yang tidak mungkin atau sulit dicapai. Sebagai contoh, mengharapkan masyarakat di daerah terpencil memanfaatkan hasil penelitiannya.

BAB II KAJIAN PUSTAKA
Kekeliruan yang banyak dilakukan oleh guru adalah bahwa kajian pustaka ini merupakan tumpukan teori tentang permasalahan yang diteliti. Jika peneliti ingin meningkatkan prestasi belajar, maka teori yang ditulis hanya tentang prestasi belajar saja tanpa menyinggung subjek yang belajar. Selama kita bekerja dalam bidang pendidikan, kita memerlukan teori tentang manusia. Sebagai contoh, jika kita meneliti siswa SMA / SMK, harus ada penjelasan tentang bagaimana sifat-sifat remaja. Oleh karena remaja itu aktif, pemikirannya dinamis, maka tepatlah jika mereka diberi tugas diskusi.
Untuk anak TK dan SD yang masih senang bermain, perlu dikemukakan bagaimana sifat-sifat anak kecil yang dihadapi. Untuk mereka itu lebih tepat jika diberi pelajaran dengan metode bermain. Begitulah seterusnya, kajian teori bukan hanya untuk metode, tetapi untuk subjek yang belajar, dan kaitannya dengan hasil yang diharapkan. Jadi teori tentang kejiwaan siswa yang dikenai tindakan harus dicantumkan. Teori lain yang dapat mendukung penelitian adalah teori tentang pembelajaran secara umum dan tentang metode diskusi yang bersangkutan.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Dalam bab III ini peneliti dituntut untuk mengemukakan semua hal yang terkait dengan kegiatan tindakan yang dilakukan. Jika dalam proposal penelitian masih digunakan kata-kata “akan”, maka dalam laporan penelitian ini kata-kata “akan” sudah harus dihapus karena penelitiannya sudah dilakukan. Kesalahan umum yang banyak diperbuat oleh guru adalah TIDAK LAGI MENJELASKAN TINDAKAN yang dilakukan karena merasa sudah menjelaskan dalam bab II. Laporan seperti ini tidak benar, karena justru di sinilah penilai mencermati model tindakan yang dilakukan oleh guru, bagaimana guru memberi pengarahan kepada siswa, dan bagaimana siswa melaksanakan arahan tersebut. Yang dikemukakan dalam bab II baru dasar teori yang dipilih, sedangkan dalam bab III adalah penerapan teori tersebut dalam bentuk tindakan riil yang sudah ditentukan untuk dilaksanakan
Hal-hal yang harus dilaporkan dalam bab III metodologi penelitian menyangkut semua hal yang terkait dengan tindakan, yaitu: (1) setting dan subjek tindakan, (2) pengelolaan kelas, yaitu pengaturan siswa, misalnya bagaimana guru mengatur siswa dalam kelompok, (3) tindakan yang dilakukan oleh guru – yaitu ketika guru memberikan pengarahan kepada siswa dan bagaimana siswa melaksanakan arahan tersebut, (4) bagaimana pengamatan telah dilakukan, oleh siapa, berapa lama, yang diamati apa saja, instrument pengamatannya berupa apa dan sebagainya. Jika ada peralatan yang digunakan, atau siswa perlu mengunjungi suatu tempat atau objek, harus dijelaskan dalam bab III ini.
Apabila PTK dilakukan dengan model kolaborasi, yaitu PTK yang dilakukan dalam kelompok 2 (dua) orang, peneliti harus menjelaskan dalam bab III ini bagaimana kolaborasi dilaksanakan. Bagi peneleiti pemula yang mungkin masih merasa canggung, takut atau ragu untuk melaksanakan sendiri, disarankan untuk menggunakan model kolaborasi ini. Dalam hal ini penelitiannya dilakukan oleh dua orang guru sejenis, misalnya guru IPS di kelas III A dan kelas IIIB. Adapun langkah-langkah PTK kolaborasi adalah sebagai berikut.
1. Dua orang guru yang sudah sepakat melaksanakan PTK kolaborasi menyusun perencanaan bersama, meliputi: (a) model tindakan yang akan digunakan terhadap siswa di kelasnya masing-masing, (b) panduan yang akan diberikan kepada siswa, (c) prosedur dan jadwal pelaksanaannya, (d) model pengamatan yang akan dipilih dan instrument atau lembar pengamatannya, serta (e) bagaimana model refleksi yang akan dilakukan.
2. Guru kelas IIIA masuk kelasnya untuk menjelaskan kepada siswanya bahwa akan dilakukan pembelajaran dengan model tindakan tertentu. Penjelasan ini diikuti dengan Tanya jawab, sehingga siswa-siswa memahami betul apa yang dimaksudkan oleh guru. Pada waktu penjelasan tersebut guru IIIB sebagai kolaboratornya ikut hadir di kelas tersebut untuk mengamati bagaimana cara guru IIIA menjelaskan dan mengamati bagaimana kelancaran informasi di kelas itu. Data hasil keikutasertaan guru IIIB disimpan dan akan dilaporkan kalau PTK sudah selesai. Dalam kesempatan itu juga dibicarakan seluruh proses tindakan sampai semua langkah dalam siklus, dan bagaimana refleksi akan dilakukan. Sesudah selesai acara informasi dan guru IIIA sudah mendapat gambarab tentang penerimaan siswanya, juga mungkin menerima usul-usul dari mereka, maka perencanaan guru IIIA disempurnakan. Panduan untuk siswa juga ikurt didiskusikan dan disempurnakan.
3. Kini bergantian guru kelas IIIB masuk kelasnya untuk memberikan informasi sebagaimana dilakukan oleh guru IIIA di kelasnya. Pada waktu itu guru kelas IIIA ikur hadir dan melakukan pengamatan, bertindak seperti ketika guru kelas IIIB hadir di kelasnya. Sama dengan guru kelas IIIA, setelah ada kesepakatan dengan siswanya, guru kelas IIIB mengadakan revisi terhadap rencana PTK yang akan dilakukan.
4. Setelah tahap perencanaan selesai dan beres, artinya langkah tindakan serta panduan untuk siswa tidak ada masalah, peralatan sarana sudah disiapkan, lembar pengamatan juga sudah siap digunakan, guru IIIA (atau guru IIIB) mana yang jadwalnya dating duluan, melaksanakan tindakannya. Ketika PTK di kelas IIIA berlangsung guru kelas IIIB melakukan pengamatan, demikian juga sebaliknya.
5. Agar diperoleh kesatuan persepsi dan pemahaman antar guru kelas IIIA dan IIIB yang berkolaborasi, sesudah satu pertemuan berlalu, mengadakan diskusi\ membicarakan hasil pengamatannya. Dalam pembicaraan ini tidak berarti hasil proses di IIIB harus sama dengan di kelas IIIA, karena memang keadaan kelasnya berbeda. Demikian selanjutnya, setelah berlangsung 3 atau 4 kali pertemuan dan model tindakan dipandang mantap, kedua guru bersepakat untuk mengakhiri siklus I dengan mengadakan refleksi. Tujuan utama dari refleksi adalah memperoleh informasi dari siswa tentang pelaksanaan tindakan siklus I, dan mengumpulkan bahan terkait dengan apa yang diinginkan oleh siswa dalam tindakan yang sudah mereka laksanakan. Oleh karena situasi di kelas IIIA dan IIIB berbeda, mungkin sekali banyaknya pertemua untuk mengakhiri siklus I juga berbeda. Jika terjadi seperti itu, kedua guru tidak perlu risau. Sebagai konsekuensi, kelanajutan tindakan siklus II di kedua kelas itu juga mungkin tidak sama. Itupun tidak mengapa.
6. Setelah refleksi selesai dilaksanakan, kedua guru membicarakan hasil refleksi masing-masing, mencermati data dari hasil pengamatan dan (mungkin angket dari siswa), untuk kemudia diambil kesimpulan tentang masukan yang diterima untuk menyempurnakan tindakan bagi siklus II. Demikianlah maka siklus II di kelas IIIA dan kelas IIIB dilaksanakan sesuai dengan revisi perencanaan setelah memperhatikan masukan refleksi siklus I.
7. Setelah siklus II berakhir dengan refleksi bersama seperti yang dilakukan pada akhir siklus I, guru IIIA dan guru IIIB menyusu laporan hasil pelaksanan PTK di kelas masing-masing. Jika laporan sudah selesai, sebaiknya dipertukarkan untuk dibaca oleh guru kolaborasinya. Sesudah itu laporan diserahkan kepada kepala sekolah untuk ditandatangani dan diberi cap sekolah, kemudian dapat langsung diserahkan ke LPMP setempat (baik melalui Dinas Pendidikan maupun tidak). Sesudah dilakukan penilaian dan dinyatakan bahwa laporannya baik dan benar, guru IIIA dan IIIB akan memperoleh nilai masing-masing 4,0.
Jika menginginkan, pengawas juga dapat melakukan PTK kolaborasi dengan pengawas lain. Sebagai contoh, pengawas ingin melakukan pembinaan guru dan kepala sekolah secara bersama-sama menggunakan metode diskusi terfokus. Model pembinaan ini disusun bersama-sama oleh dua orang pengawas tetapi dilaksanakan di wilayah pembinaan masing-masing. Ketika diskusi sedang terjadi di wilayah A, pengawas wilayah B yang menjadi pengamat, dan sebaliknya. Demikian juga ketika refleksi dilaksanakan, kedua pengawas harus hadir menyaksikan dan mengamati. Model laporannya sama dengan laporan PTK untuk guru, dan penilaiannya juga sama. Masing-masing laporan mendapat nilai 4.0.
BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam laporan penelitian termasuk PTK, bab IV adalah merupakan bagian inti. Oleh karena itu porsi tulisannya harus yang paling banyak. Hal-hal yang harus masuk dalam bab IV dan urutannya adalah sebagai berikut: (1) gambaran tentang setting penelitian, (2) gambaran umum, yaitu uraian pelaksanaan penelitian secara urut dan runtut, (3) uraian masin-masing siklus, (4) penyajian data dan analisis yang dilakukan oleh peneliti, (5) pembahasan terhadap proses pelaksanaan dan hasil penelitian. Perbedaan antara yang dijelaskan di bab III dengan bab IV adalah bahwa di bab III masih menjelaskan setting dan model tindakan secara selintas menurut perencanaan penelitian, sedangkan apa yang disajikan di bab IV adalah apa yang terjadi dalam kenyataan. Di sinilah letak nilai laporan PTK, karena jika guru tidak melakukan sendiri PTK nya, laporan yang dibuat tidak akan dapat rinci seperti kalau melaksanakan betul.
Sambil menjelaskan proses pelaksanaan tindakan tersebut, sekaligus peneliti menjelaskan bagaimana pengamatan dilakukan. Jika menggunakan format atau instrumen pengamatan, lembar pengamatannya harus dilampirkan. Apabila guru misalnya menggunakan model diskusi dengan topik tertentu untuk masing-masing siswa, peneliti harus menjelaskan objek-objek yang menjadi fokus pengamatan, misalnya topik setiap siswa, kemampuan masing-masing ketika menyusun laporan, bagaimana gaya melaporkan dan sebagainya.
Seperti sudah dikemukakan dalam urutan laporan, penjelasan pelaksanaan PTK harus dimulai dengan gambaran umum, yaitu uraian tentang seluruh proses pelaksanaan, dilanjutkan dengan uraian masing-masing siklus secara rinci. Perlu ditekankan di sini bahwa ketika peneliti mengadakan refleksi, pengamat yang melakukan pengamatan dan seluruh siswa yang diberi tugas dan melakukan tindakan, harus dijelaskan bagaimana melibatkannya. Dengan demikian peneliti mempunyai dua kumpulan data, yaitu yang diperoleh melalui pengamatan dan yang melalui refleksi. Dari kumpulan data ini peneliti menjelaskan bagaimana menarik kesimpulan, dan bagaimana memanfaatkan data yang diperoleh untuk menyempurnakan tindakannya.
Pada akhir bab IV adalah pembahasan. Dalam bagian ini peneliti harus dapat menjelaskan keterkaitan antara peristiwa yang terjadi siklus demi siklus untuk memperoleh kesimpulan dari penelitiannya. Akan sangat baik apabila peneliti dapat mengkaitkan dengan teori yang sudah dipilih untuk mendukung tindakannya kemudian juga dikaitkan dengan masalah awal dan lain-lain, termasuk bagaimana hasil yang diperoleh (dan sebetulnya juga diharapkan) sebagai dampak adanya tindakan. Dengan kata lain, pembahasan yang disusun oleh peneliti harus komprehensif, dalam bentuk kait-kaitan antara praktek dengan teori, antara data dengan teori, dan antara hasil dengan teori.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam bab V ini peneliti menyampaikan kesimpulan dari pelaksanaan PTK yang dilaksanakan. Dalam menuliskan kesimpulan peneliti tidak boleh lepas diri dari rumusan masalah, karena deretan kesimpulan merupakan jawaban terhadap deretan rumusan masalah, serta merupakan gambaran target yang tertuang dalam tujuan di bab I. Jika isi kesimpulan tidak runtut, tidak searah dengan rumusan masalah penelitian dan tidak menggambarkan target yang ada, berarti laporan PTK ini tidak benar, dan tidak akan mendapatkan nilai.
Saran-saran yang dikemukakan dalam bab V juga harus didasarkan mpada kesimpulan yang tertuang dui kesimpulan. Jika rumusan masalah, tujuan penelitian, kesimpulan, dan saran tidak runtut, tidak ada alasan bahwa laporan PTK ini akan ditolak oleh penilai.
PENELITIAN TINDAKAN UNTUK PEMBINAAN
Penelitian tindakan untuk guru disebut PTK, singkatan dari Penelitian Tindkaan Kelas, dengan pengertian bahwa yang dimaksud dengan ”kelas” bukan ruang yang dibatasi oleh empat dinding, tetapi kelompok siswa yaaang sednag belajar di bawah bimbingan seorang guru. Dengan pengertian itu maka PTK bisa terjadi di luar kelas. Penelitian tindakan kepala sekolah disebut Penelitian Tindakan Sekolah, disingkat PTS, karena ruang lingkupnya sekolah. Penelitian tindakan untuk pengawas disebut penelitian tindakan sekolah se-wilayah, disingkat PTSW, karena ruang lingkupnya sekolah-sekolah binaan se wailayah.
Apabila pengawas ingin melakukan PTSW, maka yang dibina bukan guru-guru satu sekolah, tetapi dari beberapa sekolah. Jika pengawas memberi bimbingan guru di beberapa sekolah untuk melaksanakan PTK, maka masing-masing guru atau kepala sekolah mendapat nilai 4, 0 dan pengawas sendiri juga mendapat nilai 4,0. Demikian juga apabila pengawas ingin mengadakan pembinaan terhadap kepala sekolah untuk melakukan PTS. Untuk dapat melaksanakan pembinaan ini pengawas perlu memahami PTK maupun PTS.
Untuk PTK, PTS maupun PTSW, prinsipnya sama, yaitu meningkatkan mutu subjek yang dibimbing dengan cara mengaktifkan mereka, agar prestasi subjek yang mendapat bimbingan tersebut dapat meningkat kinerjanya. Jika tujuan PTK meningkatkan kinerja siswa, maka PTS meningkatkan kinerja guru atau TU atau mutu sekolah secara keseluruhan atau bagian-bagiannya. Para pengawas, melalui forum KKPS perlu berlatih melaksanakan PTSW agar sekaligus meningkatkan mutu sekolah secara keseluruhan. Dengan kesadaran yang tinggi bahwa pengawas adalah kunci keberhasilan sekolah, sangat diharapkan dapat menunjukkan prestasi secara maksimal, maka pemerintah daerah tidak mungkin menganggap bahwa pengawas tidak atau kurang perannya bagi sekolah. Nasib pengawas ditentukan oleh para pengawas sendiri.


K. PENELITIAN EVALUATIF

Kata evaluatif menunjuk pada kata kerja yang menjelaskan sifat suatu kegiatan, dan kata bendanya adalah evaluasi. Penelitian evaluatif menjelaskan adanya kegiatan penelitian yang sifatnya mengevaluasi terhadap sesuatu objek, yang biasanya merupakan pelaksanaan dari suatu rencana. Jadi yang dimaksud dengan penelitian evaluatif adalah penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang apa yang terjadi yang merupakan kondisi nyata mengenai keterlaksanaan rencana yang memerlukan evaluasi. Sampai saat ini tidak sedikit orang yang memandang evaluasi sebagai satu tindakan untuk ‘mengadili’ atau ‘menentukan nasib’. Pandangan seperti itu jelas kurang pada tempatnya, karena justru jika kita melakukan evaluasi berarti kita menunjukkan kehati-hatian karena ingin mengetahui apakah proses tentang apa yang kita rencanakan sudah berjalan dengan benar dan sekaligus memberikan hasil sesuai dengan harapan. Jika belum, bagian mana yang belum benar, dan apa sebabnya.
Pada umumnya penelitian evaluatif dimaksudkan untuk mengetahui akhir dari sebuah program kebijakan, yaitu mengetahui hasil akhir dari adanya kebijakan, dalam rangka menentukan rekomendasi atas kebijakan yang lalu, yang pada tujuan akhirnya adalah untuk menentukan kebijakan selanjutnya. Mengingat betapa pentingnya sebuah rekomendasi kebijakan, maka untuk penelitian evaluatif dituntut adanya persyaratan khusus yang harus diikuti oleh penelitinya. Apabila kita mendengar istilah ‘kebijakan’ biasanya yang terpikir adalah suatu aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, atau dengan kata lain kita berpikir bahwa kata ‘kebijakan’ itu menempel pada lembaga yang sifatnya formal. Yang benar adalah bahwa kebijakan dapat diterapkan juga pada perorangan, yaitu ketika kita mempunyai rencana untuk melakukan suatu kegiatan. Setelah kebijakan yang berupa rencana tersebut kita laksanakan, kita tentu segera ingin tahu apa yang terjadi, bagaimana keterlaksanaan rencana tersebut, dan bagaimana hasilnya.
Bagi pengawas, penelitian evaluatif ini penting kedudukannya. Pengawas yang tugas pokoknya sehari-hari memberikan pembinaan kepada kepala sekolah, guru demi peningkatan mutu sekolah, perlu sekali mengetahui seberapa tinggi pembinan yang diberikan tersebut mencapai keberhasilan yang ditentukan. Dengan kata lain, pengawas ini melakukan program evaluasi terhadap seluruh kegiatan pembinaannya.
Satu pengertian pokok yang terkandung dalam evaluasi adalah adanya standar, tolok ukur atau kriteria. Mengevaluasi adalah melaksanakan upaya untuk mengumpulkan data mengenai kondisi nyata sesuatu hal, yang untuk kemudian dibandingkan dengan kriteria, agar dapat diketahui seberapa jauh atau seberapa tinggi kesenjangan yang ada antara kondisi nyata tersebut dengan kriteria sebagai kondisi yang diharapkan. Penelitian evaluatif bukan sekedar melakukan evaluasi sebagaimana kegiatan evaluasi yang biasa atau yang pada umumnya dilakukan untuk objek apa saja. Penelitian evaluatif merupakan kegiatan evaluasi tetapi mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku bagi sebuah penelitian, yaitu persyaratan keilmiahan, mengikuti sistematika dan metodologis secara benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu teori tentang penelitian evaluatif tidak menyimpang dari teori penelitian pada umumnya.
Dalam bidang manajemen, mengevaluasi tidak dapat dilepaskan dari rangkaian kegiatan yang bermula dari perencanaan dan pelaksanaan suatu program. Oleh karena itu dalam manajemen sebuah organisasi selalu ada sebuah unit yang dikenal dengan ME, singkatan dari monitoring dan evaluasi. Unit tersebut bertugas memonitor dan mengevaluasi tingkat kesesuaian antara proses kegiatan dengan rencana yang dibuat dan seberapa tinggi pencapaian dari proses tersebut. Dalam melakukan monitoring dan evaluasi tersebut petugas selalu menerapkan standar, kriteria, atau tolok ukur.
L. CIRI-CIRI DAN PERSYARATAN PENELITIAN EVALUATIF
Sejalan dengan pengertian yang terkandung di dalamnya, maka penelitian evaluatif yang dapat dikatakan baik memiliki ciri-ciri dan persyaratan sebagai berikut.
1. Proses kegiatan penelitian tidak menyimpang dari kaidah-kaidah yang berlaku bagi penelitian pada umumnya.
2. Dalam melaksanakan evaluasi, peneliti berpikir secara sistemik, yaitu memandang program yang diteliti sebagai sebuah kesatuan yang terdiri dari beberapa komponen atau unsur yang saling berkaitan satu sama lain dalam menunjang keberhasilan kinerja dari objek yang dievaluasi, bagi pengawas adalah keberhasilan program pembinaan.
3. Agar dapat mengetahui secara rinci kondisi dari objek yang dievaluasi, perlu adanya identifikasi komponen yang berkedudukan sebagai faktor penentu bagi keberhasilan program.
4. Menggunakan standar, kriteria, atau tolok ukur sebagai perbandingan dalam menentukan kondisi nyata dari data yang diperoleh dan untuk mengambil kesimpulan.
5. Kesimpulan atau hasil penelitian digunakan sebagai masukan atau rekomendasi bagi sebuah kebijakan atau rencana program yang telah ditentukan. Dengan kata lain, dalam melakukan kegiatan evaluasi program, peneliti harus berkiblat pada tujuan program kegiatan sebagai standar, kriteria, atau tolok ukur.
6. Agar informasi yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi nyata secara rinci untuk mengetahui bagian mana dari program yang belum terlaksana, maka perlu ada identifikasi komponen, yang dilanjutkan dengan identifikasi sub komponen, dan sampai pada indikator dari program yang dievaluasi.
7. Standar, kriteria atau tolok ukur, diterapkan pada indikator, yaitu bagian yang paling kecil dari program agar dapat dengan cermat diketahui letak kelemahan dari proses kegiatan.
8. Dari hasil penelitian harus dapat disusun sebuah rekomendasi secara rinci dan akurat sehingga dapat ditentukan tindak lanjut secara tepat.

M. KOMPONEN, SUB KOMPONEN DAN INDIKATOR
Sudah dijelaskan bahwa dalam penelitian evaluatif penting sekali bagi peneliti untuk dapat berpikir sistemik, yaitu berpandangan bahwa program yang akan dievaluai merupakan kumpulan dari beberapa komponen atau unsur yang bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan program. Oleh karena itu komponen tersebut dapat dipandang sebagai unsur atau bagian, tetapi mempunyai peranan penting sebagai faktor penentu keberhasilan program. Dengan pengertian seperti itu maka peneliti evaluatif harus tahu secara tepat apa yang dimaksud dengan komponen program. Sebelum mulai dengan kegiatannya, peneliti harus mengadakan identifikasi komponen dari program yang dievaluasi.
Yang dimaksud dengan komponen program adalah bagian-bagian yang menunjukkan nafas penting dari keterlaksanaan program. Mungkin orang lebih senang menggunakan istilah “unsur” dan ada pula yang menggunakan istilah “faktor”. Banyaknya komponen untuk masing-masing program tidak sama, sangat tergantung dari tingkat kompleksitas program yang bersangkutan.
Agar penjelasan tentang komponen dan indikator menjadi lebih jelas, berikut disampaikan contoh sebuah program yang berada dalam bidang pendidikan, yaitu program pembelajaran. Kita tahu bahwa keberhasilan program pembelajaran sangat tergantung dari beberapa faktor penting, yaitu: (1) siswa, (2) guru, (3) materi / kurikulum, (4) sarana dan prasarana, (5) pengelolaan, dan (6) lingkungan. Apabila salah satu saja dari enam komponen tersebut kinerjanya kurang baik, pasti keberhasilan program pembelajaran tidak akan maksimal. Masing-masing komponen harus baik kinerjanya. Kegagalan dari program pembelajaran tidak dapat dibebankan pada hanya satu atau dua faktor saja, tetapi harus diteliti komponen atau faktor mana yang kinerjanya kurang baik. Komponen tersebut dapat dirinci lagi menjadi sub komponen kemudian indikator, yang selanjutnya dapat lebih rinci lagi menjadi sub indikator. Secara skematis prosedur identifikasi komponen sampai dengan indikator adalah sebagai berikut.

PROGRAM
|
V
KOMPONEN
|
V
SUB KOMPONEN
|
V
INDIKATOR
Istilah ‘indikator’ berasal dari kata bahasa Inggris to indicate yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘menunjukkan’. Jadi indikator merupakan bukti sesuatu yang dapat menunjukkan kinerja dari sub komponen, dan selanjutnya menunjukkan kinerja komponen. Untuk lebih jelasnya disampaikan sebuah contoh identifikasi dari program sampai dengan indikator. Kita ambil contoh misalnya kita melakukan penelitian evaluatif terhadap program pembelajaran yang sudah dibicarakan di atas. Dalam program pembelajaran terdapat enam komponen utama yang merupakan faktor penentu keterlaksanaan program, yaitu (1) siswa, (2) guru, (3) materi/kurikulum, (4) sarana dan prasarana, (5) manajemen atau pengelolaan, dan (6) lingkungan. Dalam contoh identifikasi komponen menjadi sub komponen sampai dengan indikator ini kita ambil komponen siswa.
Seperti halnya ketika kita menentukan komponen, cara identifikasi sub komponen juga dilakukan dengan cara menentukan faktor-faktor penting karena berperan sebagai penentu keberhasilan kinerja komponen. Untuk komponen siswa, yang menjadi kriteria atau standar adalah prestasi belajar yang tinggi, yang ditentukan oleh beberapa sub komponen antara lain kerajinan, kedisiplinan, semangat belajar, motivasi, minat, dan pengaturan waktu belajar. Hal-hal tersebut dapat dikatakan merupakan sub komponen dari siswa karena mendukung keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi belajar yang diharapkan, atau dengan kata lain, hal-hal tersebut merupakan faktor pendukung terjadinya prestasi belajar yang baik. Selanjutnya untuk memberikan contoh menentukan indikator, kita ambil salah satu saja yaitu ‘kerajinan’. Indikator dari kerajinan adalah hal-hal atau bukti dari kerajinan tersebut. Bukti bahwa siswa memiliki kerajinan yang tinggi antara lain adalah: (1) selalu masuk sekolah, (2) datang ke sekolah tidak terlambat, (3) selalu mengerjakan tugas dan (4) menyerahkan tugas tepat waktu. Keempat indikator itulah yang dijadikan kriteria dan dilihat bagaimana kenyataannya.
Jika data yang terkumpul dari penelitian ternyata dari 4 bukti /indikator hanya terpenuhi 2 saja, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa kerajinan siswa belum memenuhi kriteria, dan nilainya hanya 2/4 saja dari harapan. Dengan cara yang sama, semua komponen dari program pembelajaran itu dirinci menjadi sub-komponen dan indikator, baru kemudian setelah dibandingkan dengan kriteria, dapat ditentukan kesimpulan hasil penelitian. Dengan mengetahui kondisi nyata secara rinci tersebut maka peneliti evaluatif mempunyai alasan yang tepat dan kuat dalam menentukan rekomendasi kepada penentu kebijakan, selanjutnya, penentu kebijakan tidak ragu-ragu menentukan tindak lanjut dari programnya.
Agar lebih mantap dalam identifikasi sub komponen dari sebuah komponen, kita ambil contoh lain, yaitu komponen guru. Seorang guru dapat dikatakan baik apabila memiliki kompetensi profesional yang tinggi, antara lain kemampuan menyusun persiapan mengajar, kemampuan membuka pelajaran secara tepat, menguasai materi pelajaran, kemampuan memilih dan menggunakan metode mengajar, dan kemampuan memilih dan menggunakan media yang sudah dipilihnya. Tentu saja masih beberapa bukti lagi agar seorang guru dapat dikatakan baik, artinya memenuhi persyaratan sebagai guru yang baik, karena sub komponen dari guru juga tidak hanya satu.

N. STANDAR, KRITERIA, ATAU TOLOK UKUR
Sudah dijelaskan di bagian awal dari tulisan ini bahwa syarat penting untuk penelitian evaluatif adalah adanya standar, kriteria, atau tolok ukur. Sebelum mulai meneliti tetapi sesudah melakukan identifikasi terhadap komponen, sub komponen dan indikator, peneliti harus menentukan dahulu standar, kriteria atau tolok ukur yang akan digunakan sebagai patokan dalam menentukan hasil evaluasi. Mengingat betapa pentingnya kedudukan standar, kriteria atau tolok ukur di dalam sebuah penelitian evaluaif, perlu kiranya hal tersebut dijelaskan secara lebih lengkap. Agar uraian dapat lebih ringkas, untuk selanjutnya digunakan satu istilah saja yaitu kriteria, yang lebih banyak digunakan dalam bidang pendidikan. Uraian ini akan meliputi (1) pengertian kriteria, (2) pentingnya kriteria, (3) sumber kriteria, dan (4) jenis kriteria.
1. Pengertian Kriteria
Kriteria adalah sesuatu yang digunakan sebagai patokan atau batas bawah untuk sesuatu yang diukur, atau harapan minimal untuk kualitas sesuatu. Jika hasil pengukuran melebihi, kita syukuri, tetapi jika kurang dari patokan tersebut, artinya masih kurang, masih ada kesenjangan antara kenyataan dengan harapan. Dalam memberikan nilai di sekolah, seperti tertera di dalam rapor, ada kriteria yang ketentuannya seperti ini.
- Nilai 10, artinya Sempurna
- Nilai 9, artinya Baik Sekali
- Nilai 8, artinya Baik, dan seterusnya., dan nilai 5 artinya Kurang. Jika dalam menentukan batas nilai UAN untuk beberapa matapelajaran 5,0, artinya tuntutan atau harapan terhadap nilai siswa kita terlalu rendah. Dari kriteria sempurna, yaitu 10, tuntutan terhadap prestasi belajar siswa masih berjarak 4 nilai lagi, yaitu 6, 7, 8, dan 9. Kita sebagai pendidik perlu merasa prihatin karena Departemen Pendidikan Nasional terpaksa menentukan kriteria yang sebegitu rendah karena mutu pendidikan kita sudah terlanjur merosot begitu rendah, dan kini para pendidik dan tenaga kependidikan harus bekerja keras untuk mengembalikan ke kriteria yang wajar.
2. Pentingnya Kriteria
Mengapa penelitian evaluatif memerlukan kriteria? Apa perbedaan antara penelitian biasa dengan penelitian evaluatif? Kriteria perlu dibuat oleh peneliti evaluatif karena apabila penelitiannya dilakukan oleh beberapa orang, dapat dilakukan kesepakatan melalui diskusi atau musyawarah. Yang disebutkan ini adalah kriteri yang sifatnya teknis. Alasan yang lebih penting dan prinsip akan perlunya kriteria dalam penelitian evaluatif adalah bahwa kriteria mempunyai peran penting, dan oleh karena itu tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Adapun alasan yang lebih rinci dan merupakan prinsip dari adanya kriteria adalah sebagai berikut.
a. Dengan adanya kriteria, peneliti lebih mantap di dalam melakukan langkah penelitiannya karena ada patokan yang jelas untuk diikuti.
b. Kriteria yang telah tersedia dapat digunakan untuk menjawab apabila ada pihak lain yang minta penjelasan mengapa hasilnya demikian.
c. Kriteria digunakan untuk mengekang masuknya kriteria subjektivitas peneliti. Jika ada kriteria, dalam setiap langkahnya peneliti mengikuti butir-butir demi butir, tidak mendasarkan diri pada pikirannya saat itu, yang mungkin sekali ‘dikotori’ oleh selera atau keinginan dirinya.
d. Dengan adanya kriteria, hasil penelitian akan selalu tetap sama meski dilakukan dalam waktu yang berbeda dan orang yang berbeda pula.
e. Kriteria memberikan arahan kepada peneliti yang jumlahnya lebih dari satu orang. Kriteria yang baik akan ditafsirkan secara sama oleh orang yang berbeda. Apabila masih ada keraguan adanya perbedaan tafsiran antara beberapa orang peneliti, maka sebelum mengumpulkan data, perlu adanya penyamaan penafsiran.
Apabila sekelompok peneliti menghendaki adanya penafsiran yang sama maka langkah-langkah yang dilakukan sekurang-kurangnya perlu melalui pentahapan seperti berikut.
1). Dua atau tiga orang yang akan menggunakan kriteria berkumpul untuk
menentukan nilai sebuah sub komponen. Untuk menentukan hasil dari penelitiannya, perlu adanya rundingan dan kesepakatan, yang akhirnya ditentukan nilai bersama.
2). Dua atau tiga orang tadi berpisah, masing-masing menentukan sendiri hasil penilaian, sesudah itu dicocokkan dengan teman pasangannya. Jika ada perbedaan, perlu dibicarakan bersama mengapa berbeda, dan apa sebabnya berbeda. Dalam kesempatan ini mereka berusaha untuk menentukan titik temu.
3). Sesudah berkali-kali mencoba melakukan sendiri kemudian mengecek dan ternyata hasilnya sudah sama atau mendekati sama, barulah masing-masing pengolah data melakukannya sendiri-sendiri.
3. Sumber Kriteria
Dari mana kriteria atau standar diperoleh, atau dengan kata lain, apakah yang digunakan sebagai acuan ketika peneliti mengusun kriteria? Acuan yang dipilih dalam menentukan kriteria tidak boleh sembarangan, tetapi harus mengikuti kaidah-kaidah keilmiahan. Dalam contoh yang sudah disampaikan untuk komponen siswa, sub komponen yang diambil adalah kerajinan. Untuk bukti atau indikator kerajinan ini adalah (a) selalu masuk sekolah, (b) datang ke sekolah tidak terlambat, (c) selalu mengerjakan tugas, dan (d) menyerahkan tugas tepat waktu.
Empat kondisi yang disebutkan tadi merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang siswa yang dikatakan ‘rajin’. Jadi bahwa dia rajin, harus memenuhi empat indikator atau bukti empat hal tersebut. Kita dapat menentukan bukti-bukti tersebut karena dari uji pengalaman yang telah dibakukan menjadi teori, jika anak selalu masuk sekolah, atau jika dia rajin datang, biasanya prestasinya akan tinggi; demikian juga jika dia datang ke sekolah tidak terlambat, nilainya akan tinggi karena mendapat ilmu cukup banyak. Jika siswa menggunakan waktu dengan baik untuk mengerjakan tugas, anak tersebut rajin. Semua hal tersebut ditentukan karena adanya teori.
Dengan pengertian bahwa kriteria adalah ukuran yang menjadi patokan yang harus dicapai sesuatu, maka kriteria tersebut harus “top” kondisinya. Timbul pertanyaan, dari manakah kita tahu seperti apa yang dapat dikatakan “top” itu? Dengan kata lain, dari manakah kita dapat mengambil kondisi yang top, atau apa saja sumber untuk kriteria yang top itu? Oleh karena kriteria itu mempunyai peran yang sangat penting dan menentukan, sebaiknya dipilih dan ditentukan oleh sekelompok orang yang termasuk sebagai peneliti. Akan lebih baik lagi apabila disusun bersama oleh orang-orang yang nantinya akan menggunakan. Adapun sumber kriteria adalah sebagai berikut.
1. Sebagai urutan pertama adalah produk hukum berupa undang-undang, peraturan pemerintah, ketentuan umum, dan sejenisnya. Seorang guru dapat dikatakan “rajin” apabila dapat melaksanakan tugasnya sesuai peraturan yang berlaku, yaitu mengajar 24 jam dalam waktu seminggu. Siswa dapat dikatakan tertib apabila mengenakan pakaian seragam dengan benar, mengikuti upacara bendera secara rutin, meminta ijin ketika akan meninggalkan kelas, dan sebagainya. Apabila yang diteliti merupakan suatu implementasi dari sebuah kebijakan, maka yang dijadikan sebagai kriteria adalah peraturan atau ketentuan yang sudah dikeluarkan dan berkenaan dengan kebijakan yang bersangkutan.
2. Sebagai urutan kedua, apabila tidak ada peraturan atau ketentuan yang merupakan produk hokum yang dapat digunakan sebagai kriteria, maka penyusun menggunakan konsep atau teori-teori yang terdapat dalam buku-buku teori ilmiah. Untuk menentukan apakah siswa memiliki kedisiplinan tinggi, kita mencari teori apa ciri-ciri penting yang menunjukkan kedisiplinan. Dalam buku teori disebutkan bukti adanya kedisiplinan yang tinggi adalah taat tata tertib, mengikuti apa yang sudah dirancang sendiri, dan minta maaf apabila terlambat.
3. Apabila tidak menemukan ketentuan yang mengatur dan tidak ada teori yang dapat diacu, peneliti dapat menggunakan hasil penelitian. Sudah kita ketahui bahwa hasil penelitian ini kedudukannya tidak sekuat teori yang sudah diakui oleh orang banyak sebagai kebenaran. Oleh karena itu dalam menerapkan kriteria yang diacu dari hasil penelitian seperti ini, peneliti harus menyebutkan hasil penelitian siapa dan dilaksanakan di mana, oleh siapa. Semua itu untuk menjaga kemantapan kriteria yang kita gunakan.
4. Sumber lain apabila tidak ada peraturan dan tidak ada teori yang dapat diacu, peneliti dapat minta bantuan ahli, yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah expert judgment. Dalam hal ini mungkin peneliti berpikir bahwa seorang ahli tentunya memiliki keahlian yang tidak dimiliki oleh kelompok peneliti, atau dengan kata lain, ahli tersebut menguasai teori atau pengalaman dalam bidang yang akan dikenai kriteria. Peneliti menjadi mantap karena ada kriteria dari ahlinya.
5. Kalau sumber kriteria yang lain tidak ada, yaitu tidak ada ketentuan, tidak ada teori, tidak ada hasil penelitian, tidak ada ahli yang ditanya, maka peneliti boleh menentukan kriteria sendiri, tetapi harus oleh sekelompok orang. Pemikiran bersama tentu lebih baik disbanding pemikiran satu orang. Istilah dalam penentuan kriteria yang dilakukan seperti ini disebut kriteria dari kesepakatan kelompok.
6. Dalam keadaan terpaksa karena peneliti tidak menemukan ketentuan, teori, hasil penelitian, ahli yang akan ditanya, dan kelompok yang diajak menentukan kriteria, peneliti dapat menentukan sendiri kriteria yang diperlukan. Persyaratan bagi terbentuknya kriteria ini adalah penalaran yang benar, tidak terbantahkan oleh nalar orang lain. Jika ditanya oleh orang lain apa acuan yang digunakan untuk menentukan kriteria, jawab saja: “penalaran sendiri”.
4. Jenis Kriteria
Standar atau kriteria yang digunakan sebagai patokan untuk suatu kondisi harapan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kuantitaif dan kualitatif. Ketika kita menghendaki yang hadir dalam kelas yang kita ajar 40 orang karena di kelas tersebut siswanya memang 40 orang, maka jumlah siswa sudah memenuhi kriteria. Kriteria atau kondisi harapan tersebut ditentukan menurut banyaknya objek yang kita evaluasi. Kondisi tersebut menunjukkan sebuah ukuran kuantitatif. Ketika kita menghadiri sebuah pertunjukan, harapan kita adalah bahwa pertunjukan yang akan kita lihat itu “bagus”. Kondisi untuk sebuah pertunjukan kita ukur dengan kondisi yang sifatnya kualitatif.
Lalu bagaimanakah cara menentukan penilaian terhadap kondisi nyata, artinya bagaimana cara kita untuk menentukan bahwa keadaan siswa yang kita ajar hanya 20 orang, atau 30 orang, bagaimana kita menentukan hasil evaluasinya? Dalam keadaan seperti itu kita tinggal membandingkan keadaan nyata dengan kriterianya. Jika siswa yang hadir hanya 20 orang, maka kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa kondisi kehadiran adalah 20/40 orang atau 50%. Semua yang terkait dengan penelitian tersebut diujudkan dalam bentuk angka.
Kemudian bagaimana cara menentukan hasil penelitian kita untuk pertunjukan yang kita saksikan? Jika kita merasa kurang puas terhadap pertunjukan yang baru saja kita saksikan, lalu ditanya oleh seseorang yang tidak menonton, bagaimanakah alasan jawaban kita? Untuk menjawabnya, agar jawabannya tepat dan tidak dipengaruhi subjektivitas pribadi, apa yan g digunakan untuk menentukan, dan bagaimanakah kita menentukan bahwa pertunjukan tersebut kurang bagus atau tidak bagus? Bagaimana kita mengambil kesimpulan setelah membandingkan antara kondisi nyata dengan kondisi harapan? Marilah kita simak penjelasan tentang kriteria kuantitatif dan kualitatif berikut ini.
a. Kriteria kuantitatif
Dari namanya dapat diketahui bahwa kriteria kuantitatif menunjuk pada sesuatu yang bekerja dengan bilangan. Patokan yang digunakan sebagai kriteria berupa angka. Kriteria kuantitatif dibedakan menjadi dua, yaitu (1) kriteria kuantitatif tanpa pertimbangan dan (2) kriteria kuantitatif dengan pertimbangan.
1). Kriteria Kuantitatif Tanpa Pertimbangan
Kriteria kuantitatif tanpa pertimbangan adalah sebuah kriteria yang disusun secara sederhana, yaitu hanya dengan membagi 0 – 100% menjadi beberapa bagian yang sama besar rentangannya.
Contoh:
Misalnya kita ingin menentukan bagaimana hasil penelitian terhadap banyaknya peserta yang hadir dalam seminar. Kita akan membuat empat klasifikasi, yaitu (a) Sangat banyak, (b) Banyak, (c) Kurang banyak, dan (d) Tidak banyak.
Kita menggunakan rentangan persentase dengan membagi angka yang umum kita gunakan, yaitu 0 – 100% menjadi 4, yaitu:
a). 76 – 100% - dikategorikan sebagai “Sangat banyak”
b). 51 - 75% - dikategorikan sebagai “Banyak”
c). 26 - 50% - dikategorikan sebagai “Kurang banyak”
d). 0 - 25% - dikategorikan sebagai “Tidak banyak”
2). Kriteria Kuantitatif Dengan Pertimbangan
Kriteria kuantitatif dengan pertimbangan digunakan untuk menilai keadaan yang ‘tidak pantas’ dan “tidak masuk akal” jika sampai menggunakan angka yang paling rendah, yaitu dengan rentangan persentase yang sangat rendah.
Contoh:
Misalnya kita akan menentukan kriteria untuk banyaknya buku paket yang ada di sebuah kelas. Tidak mungkin bagi guru untuk membagi buku ke siswa dan digunakan untuk belajar apabila jumlah buku hanya 10 buah padahal siswanya ada 40 orang. Untuk menentukan kriteria penilaian buku, digunakan pertimbangan bahwa sebuah buku paling banyhak digunakan oleh dua orang siswa yang duduk bersisihan. Jika harus digunakan oleh lebih dari dua orang, tenry ‘tidak pantas’ karena siswa tidak dapat membaca dengan jelas isi apa yang dibaca.
Untuk inilah ditentukan persentase paling rendah adalah 20 buah buku atau 50% dari jumlah yang seharusnya. Oleh karena itu rentangan untuk persentase dimulai dari 50% ke 100% dibagi menjadi empat bagian, sehingga penilaian banyaknya buku adalah demikian:
- Terpenuhi 88 - 100% - dikategorikan “Sangat mencukupi”
- Terpenuhi 76 – 87% - dikategorikan “Mencukupi”
- Terpenuhi 63 - 75% - dikategorikan “Kurang mencukupi”
- Terpenuhi 50 – 62% - dikategorikan “Tidak mencukupi”

b. Kriteria kualitatif
Dari namanya dapat diketahui bahwa kriteria kualitatif menunjuk pada sebuah kualitas yang penentuannya juga menggunakan predikat atau keadaan yang sifatnya kualitatif. Patokan yang digunakan sebagai kriteria bukan berupa angka, tetapi kata sifat, misalnya bersih, rapi, rindang, aman. Keempat kata sifat tersebut menunjuk pada suasana atau situasi sebuah sekolah. Dalam menggunakan kriteria kualitatif seperti ini, sebelum menentukan kategorisasi penilaian, terlebih dahulu peneliti harus menentukan kata sifat berupa kondisi-kondisi baik seperti yang dicontohkan untuk situasi sekolah. Seperti halnya ketika kita menentukan kategori untuk data kuantitatif, kriteria kualitatif juga dibedakan menjadi dua, yaitu (1) kriteria kualitatif tanpa pertimbangan dan (2) kriteria kualitatif dengan pertimbangan.
1). Kriteria Kualitatif Tanpa Pertimbangan
Kriteria kualitatif tanpa pertimbangan digunakan oleh peneliti apabila dalam menentukan penilaian, peneliti menganggap semua keadaan yang disebutkan dalam kata keadaan atau kata sifat untuk objek yang dinilai mempunyai peran yang sama.
Contoh:
Peneliti akan menentukan nilai hasil penelitian dari data yang terkumpul. Objek yang diteliti adalah keadaan ruang kelas. Ketentuan untuk sebuah kelas yang baik adalah: (a) bersih, (b) terang, (c) tidak panas, (d) tidak berdesak. Hasil penelitian menghasilkan kategori untuk kualitas ruang kelas, menggunakan 4 kata keadaan tersebut.
* Jika memenuhi (a). (b), (c) dan (d) - dikategorikan “Sangat baik”
* Jika memenuhi 3 dan 4 keadaan - dikategorikan “Baik”
* Jika memenuhi 2 dari 4 keadaan - dikagorikan “Kurang baik”
* Jika memenuhi 1 dari 4 keadaan - dikategorikan “Tidak baik”.
Penentuan kategori hanya didasarkan atas banyaknya kondisi baik yang terpenuhi. Untuk gradasinya, ditentukan dengan urutan untuk berkurangnya keadaan yang memenuhi persyaratan.
2). Kriteria Kualitatif Dengan Pertimbangan
Kriteria kualitatif dengan pertimbangan digunakan oleh peneliti apabila dalam menentukan penilaian, peneliti menganggap keadaan-keadaan yang menjadi ciri kualitas yang baik yang sudah ditentukan lebih dulu, mempunyai peran yang tidak sama pentingnya.
Contoh:
Misalnya kita akan menentukan nilai untuk objek yang sama, yaitu keadaan ruang kelas. Ketentuan untuk sebuah kelas yang baik adalah: (a) bersih, (b) terang, (c) tidak panas, (d) tidak berdesak. Para peneliti mempelajari dari teori bahwa kelas yang dapat dikatakan baik terutama siswa dapat belajar dengan tenang, tidak terganggu oleh gerak teman di sebelahnya. Dengan kata lain, yan g paling penting adalah bahwa siswa dapat duduk tanpa berdesakan.
Jika peneliti menggunakan 4 kategori berdasarkan kata keadaan yang sudah disebutkan, tetapi antara keempat keadaan tersebut tidak sama pentingnya, maka yang didahulukan adalah justru yang disebutkan paling akhir, yaitu ‘tidak bedesakan’. Keadaan yang lain ditentukan urutannya bersama-sama, tetapi juga mengacu pada teori.
Sebagai contoh, dari hasil musyawarah tim peneliti, karena menurut teori yang penting tidak berdesak, maka yang semula urutan (d) diletakkan sebagai urutan nomer 1. Selanjutnya dari hasil penelaahan teori, keadaan terang juga penting. Bagaimana siswa dapat mencermati tulisan jika tulisannya tidak terlihat? Selain tidak berdesakan dan penerangan mencukupi, supaya siswa dapat belajar dengan dalam situasi nyaman, diperlukan kesejukan atau tidak panas. Meskipun kebersihan itu penting, tetapi tidak sama pentingnya denganpenerangan dan kesejukan.
Dari semua pembicaraan tentang pertimbangan-pertimbangan tersebut dapat disimpulkan bahwa kriteria untuk sebuah ruang kelas adalah:
* Urutan no. 1 adalah ‘tidak berdesakan’
* Urutan no. 2 (b) terang
* Urutan no.3 (c ) tidak panas
* Urutan No 4 (a) bersih
Berdasarkan urutan kata keadaan yang dipersyaratkan, maka cara menentukan hasil penelitian adalah:
* Jika memenuhi (a), (b), (c) dan (d)
- dikategorikan “Sangat baik”
* Jika memenuhi (d), (b) dan (c)
- dikategorikan “Baik”
* Jika memenuhi (d) dan (b) saja,
- dikagorikan “Kurang baik”
* Jika tidak memenuhi (d),
- dikategorikan “Tidak baik”.
Prosedur dan cara yang digunakan untuk menentukan urutan keadaan mana yang penting, harus dibicarakan bersama antar peneliti, sehingga penyusunan kriteria yang akan digunakan sudah merupakan kesepakatan kelompok.


O. LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN EVALUATIF

Seperti halnya penelitian-penelitian yang lain, sebagai langkah awal untuk melakukan penelitian evaluatif, terlebih dahulu peneliti harus menyusun proposal. Perbedaan antara proposal penelitian evaluatif dengan penelitian yang lain adalah demikian.
1. Jika penelitian yang lain bermula dari adanya masalah yang dirasakan oleh peneliti untuk dicari solusinya melalui data yang dikumpulkan lewat penelitian, untuk penelitian evaluatif, peneliti sudah mengetahui arahnya, yaitu ingin mengetahui bagaimana keterlaksanaan program yang sudah dirancang sebelumnya.
2. Jika rumusan masalah penelitian lain / non evaluatif menanyakan tentang bagaimana atau seberapa tinggi kondisi variabel-variabel yang diteliti, penelitian evaluatif membuat pertanyaan tentang bagaimana keterlaksanaan program, sekaligus bagaimana kinerja atau peran masing-masing faktor dalam mendukung keterlaksanaan program.
3. Jika pijakan penelitian yang lain adalah keingintahuan kondisi setiap variabel yang diteliti, peneliti yang melakukan penelitian evaluatif ingin tahu sejauh mana atau seberapa tinggi keefektifan setiap faktor, unsur, atau komponen dalam mendukung pelaksanaan program untuk mencapai tujuan program.
4. Jika penelitian lain setelah latar belakang masalah langsung membuat rumusan masalah, peneliti yang melakukan penelitian evaluatif harus menyebutkan dahulu tujuan program, karena tujuan itulah yang menjadi sasaran akan dilihat seberapa tinggi tingkat pencapaiannya.
5. Jika pada penelitian lain peneliti menuliskan tujuan penelitian sejalan dengan rumusan masalah langsung rumusan tujuannya, dalam penelitian evaluatif peneliti harus menyebutkan dua tujuan, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus, karena ingin mengetahui letak dari keberhasilan dan ketidakberhasilan pencapaian tujuan secara lebih rinci. Rincian tujuan khusus didasarkan pada komponen, sub komponen dan indikatornya, yang sudah dituntun oleh tujuan program, tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan dalam program.
Ada sementara ahli yang mengatakan, mungkin untuk penelitian kualitatif lebih mengutamakan tujuan dahulu baru dari harapan yang disebut dengan tujuan itu, baik tujuan umum maupun tujuan khusus, dijadikan patokan untuk menentukan rumusan masalah. Dengan kata lain, jikia dalam penelitian lain peneliti membuat rumusan masalah dahulu baru tujuan penelitian, pelitian evaluatif, peneliti boleh menuliskan tujuan penelitian dahulu – yang mengacu pada tujuan program --- baru membuat rumusan masalah.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini disampaikan contoh penyusunan proposal penelitian evaluatif, dengan sasaran inti ingin mengetahui keterlaksanaan program pembelajaran IPA di kelas IV
BAGIAN I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah –
Dalam bagian ini peneliti menjelaskan harapan pembelajaran IPA yang ideal sebagaimana tertera dalam buku Pedoman Pembelajaran IPA, dan menjelaskan perlunya ada penelitian untuk mengetahui bagaimana keterlaksanaan pembelajaran yang terjadi di sekolah. Yang menjadi tujuan akhir pembelajaran IPA adalah penguasaan materi IPA oleh siswa secara maksimal, melalui proses pembelajaran seperti yang tertera dalam Buku Pedoman Pembelajaran IPA. Jika ternyata tingkat penguasaannya belum sebagaimana diharapkan, perlu diteliti berapa kesenjangannya dan juga dimana letak penyebab ketidaktercapaian tingkat penguasaan tersebut.
B. Tujuan Program
Dalam bagian ini peneliti mengutip pedoman pelajaran IPA, yaitu tujuan pembelajaran IPA yang ideal, sebagaimana diharapkan dalam kurikulum IPA. Tujuan ini diharapkan dapat tercapai apabila semua komponen pendukung yang mewrupakan faktor penentu pencapaian tujuan sudah bekerja secara efektif. Adapun faktor-faktor dimaksud adalah: (1) siswa, (2) guru, (3) materi yang dipelajari siswa, (4) sarana belajar, (5) peneglolaan, dan (6) lingkungan.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan penelitian ingin mengetahui seberapa efektif program pembelajaran IPA sudah dilaksanakan.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian adalah ingin mengetahui seberapa tinggi kinerja masing-masing komponen sebagai faktor penting yang pendukung kelancaran proses dan pencapaian tujuan. Untuk penelitian masing-masing komponen tujuannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui apakah dalam pembelajaran IPA ini siswa sudah belajar secara efektif tertuju pada pencapaian prestasi belajar yang maksimal.
b. Untuk mengumpulkan informasi tentang kinerja guru dalam pembelajaran IPA ini, apakah guru sudah berperan aktif sebagai pengarah, pengajar, motivator dan pembimbing siswa secara maksimal.
c. Untuk mengetahui melalui pencermatan terhadap materi yang disampaikan dalam pembalajaram IPA ini, apakah sudah mengacu pada kurikulum, dan dipilih sedemikian rupa sehingga merupakan objek yang tepat dipelajari oleh siswa.
d. Untuk memperoleh informasi secara rinci mengenai hal-hal yang ada dalam pelaksanaan pembelajaran IPA sudah didukung oleh sarana penun jang yang tepat, mencukupi, dan tersedia ketika akan digunakan.
e. Untuk mengetahui melalui merasakan sendiri apakah dalam pembelajaran IPA ini guru sudah melakukan pengelolaan kelas secara benar, baik penataan fisik maupun pengaturan tempat duduk siswa, sehingga dimungkinkan adanya situasi pembelajaran yang kondusif dan interaksi yang efektif?
f. Untuk mengumpulkan informasi tentang lingkungan ketika siswa belajar, apakah sudah sedemikian nyaman sehingga mendukung ketenteraman dan kelancaran siswa dlaam belajar
Kalimat-kalimat pernyataan seperti disebutkan di atas hanya merupakan contoh saja. Rumusan yang lebih tepat dan memberi arah pada peneliti, sangat diharapkan.
D. Rumusan masalah
Dalam membuat rumusan masalah, peneliti perlu mencermati semua butir yang sudah dituliskan dalam identifikasi masalah (kalau peneliti memang membuat bagian itu), atau tujuan khusus penelitian. Rumusan masalah dibuat dalam kalimat pertanyaan, menanyakan apakah setiap tujuan khusus dapat dicapai, dan kalau tidak di mana letak hambatannya. berapa tinggi atau seberapa efektif apa yang tertera dalam tujuan khusus kemudian menentukan masalah-masalah inti yang bersumber dari factor-faktor pokok yang bersumber dari komponen siswa, guru (dan TU), kurikulum, sarana dan prasarana, pengelolaan, serta lingkungan.
Catatan:
Sampai saat ini masih banyak peneliti yang membuat rumusan masalah
menggunakan kalimat: “Seberapa jauh…..”
Rumusan seperti itu jelas sekali kurang pas, karena dengan kalimat pertanyaan seperti itu berarti mengharapkan jawaban:
“Sekian kilometer …. (sebagai ukuran kejauhan)
E. Manfaat Hasil Penelitian
Peneliti menjelaskan harapan tentang kemanfaatan dari hasil penelitian yang diperoleh setelah penelitian selesai. Hasil dari penelitian dapat diperkirakan bermanfaat bagi:
1. Guru yang bersangkutan karena sudah mempunyai pengalaman dan berhasil mengetahui kelemahannya, sehingga untuk kesempatan lain sudah tahu apa yang harus dilakukan.
2. Guru-guru lain yang akan melaksanakan pembelajaran IPA.
3. Jika hasil penelitian menunjukkan gambaran yang laur biasa baik, maka informasi tentang keberhasilan tersebut dapat ditulis dalam jurnal atau media massa agar dapat dilaksanakan juga oleh guru lain.

BAGIAN II KAJIAN PUSTAKA
Dalam bagian kajian pustaka ini mau tidak mau peneliti harus mengacu pada Buku Pedoman atau Buku Acuan yang dikeluarkan oleh pengambil kebijakan. Selain itu peneliti wajib mencari teori pendukung yang terkait dengan keberhasilan dan kegagalan program. Akan sangat baik jika peneliti dapat menemukan laporan hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan program yang sedang diteliti. Tentang persyaratan bagaimana mengambil atau memilih dan cara mengutip dari sumber, tidak berbeda dengan apa yang ada di penelitian lain.

BAGIAN III METODE PENELITIAN
Secara umum, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian evaluatif tidak berbeda dengan metode penelitian yang lain. Satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa data yang dikumpulkan dalam penelitian evaluatif harus betul-betul handal dan dapat dipercaya kebenarannya. Oleh karena itu mau tidak mau penelitia harus menyebutkan bagaimana proses memperoleh data yang benar dan akurat.
Untuk memperoleh data yang benar, akurat, dan cermat, peneliti perlu membuat dua macam kisi-kisi, yaitu (1) kisi-kisi umum untuk keperluan identifikasi semua metode dan instrumen, serta (2) kisi-kisi khusus yang menjelaskan kaitan antara objek yang diungkap dengan nomer butir masing-masing instrumen. Dengan adanya dua kisi-kisi tersebut diharapkan peneliti lebih mudah dan cermat ketika menuliskan butir-butir pertanyaan atau pernyataan dalam instrumen.
P. PENELITIAN EVALUATIF UNTUK PENGAWAS
Penelitian evaluatif sangat tepat dilakukan oleh pengawas, karena dengan model penelitian ini pengawas dapat menggali data secara lengkap dan rinci mengenai pekerjaan supervisi. Dari rencana yang disusun sendiri, pengawas dapat menentukan komponen, dilanjutkan dengan sub komponen dan indikator atau bukti-bukti. Dengan demikian pekerjaan mengevaluasi menjadi rinci dan runtut.
Dari kegiatan supervisi di lapangan, pengawas dapat mencermati semua keberhasilan dan kegagalannya setelah yang bersangkutan menentukan kriteria atau tolok ukurnya. Sumber data dari pelaksanaan supervisi dapat dipilih guru atau kepala sekolah yang kiranya dapat membantu memberikan data yang diperlukan. Untuk mengetahui kinerja guru dan kepala sekolah, pengawas juga dapat minta siswa sebagai responden. Sumber data berupa dokumen yang dimiliki guru, yaitu rencana mengajar dan dokumen yang dimiliki siswa berupa catatan, merupakan sumber data yang sangat dapat dipercaya akurasinya. Penelitian evaluatif yang dilakukan oleh pengawas dapat mengikuti pedoman ini sebagai acuan. Apabila ada permasalahan, pengawas dapat melakukan kolaborasi dengan pengawas-pengawas lain.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Back to top!