Searching...
26.12.09

HUBUNGAN FILSAFAT ISLAM DENGAN FILSAFAT YUNANI

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam perkembangannya, akhir-akhir ini cakupan Filsafat Islam itu diperluas kepada segala aspek ilmu-ilmu yang terdapat dalam khasanah pemikiran keislaman, yang meliputi bukan saja diperbincangkan oleh para filusuf dalam wilayah kekuasaan Islam tentang beberapa hal, tetapi lebih luas mencakup ilmu kalam, ushul fiqih, dan tasawuf. Seperti yang dikemukakan oleh Muhammad ’Athif al-’Iraqy, filsafat Islam secara umum ialah meliputi di dalamnya ilmu kalam, ilmu ushul fiqih, ilmu tasawuf dan ilmu pengetahuan lainnya yang diciptakan oleh ahli pikir Islam. Sedangkan pengertiannya secara khusus, ialah pokok-pokok atau dasar-dasar pemikiran yang dikemukakan oleh para filusuf Islam.
Dari kenyataan yang ada, menunjukkan hubungan filsafat Islam ada semacam pertautan, dan saling mengisi, antara filsafat Islam di satu pihak dengan ilmu keislaman lainnya. Bahkan masih ada semacam paradigma hubungan dengan filsafat Yunani, kendati secara prinsipil jauh berbeda karena menyangkut masalah aspek ke-Ilahi-an. Dalam makalah ini akan digambarkan sejauhmana hubungan antara filsafat Islam dengan filsafat Yunani. Sebagai gambaran meluas atas hasil pemikiran mendalam para pakar dan ahli filsafat dalam memahami dan membaca kontes ke-alam-an yang ada (sebagai sebuah reliatas hidup dari Sang Pencipta).

BAB II
PEMBAHASAN


Pemikiran Yunani dapat dibagi menjadi kepada dua zaman :
1. Zaman Yunani atau Helenis.
Zaman ini ditandai dengan munculnya pemikir-pemikir Yunani dari abad VI SM sampai akhir abad IV SM, diantara pemikir atau aliran-aliran itu adalah filsafat alam dari Milite yang cenderung materialistis, aliran atomistis yang didukung oleh Leukippos dan Demokritos, kaum Elea yang bercorak metafisis, aliran Pythagoras yang bercorak msitis dan matematis, kaum Sofist, Socrates, Plato, Aritoteles, dan Aliran Peripatik yang menekankan pada aspek epistimologi, etika, aksiologi dan kemanusiaan.
2. Zaman Helenistis-Romawi.
Zaman ini berlangsung setelah Aristoteles (w. 322 SM). Dimulai dengan pemerintahan Alaxander the Great (356-326 SM) yang dikenal dengan Helenisme. Pada masa ini, filsafat Yunani tidak hanya di Yunani dan oleh bangsa Yunani asli, tetapi telah meluas sebagai warisan Yunani yang dikembangkan oleh orang-orang Romawi, dan oleh pemikir Mesir dan Syria, atau pemikir-pemikir yang terdapat di sekitar Laut Tengah. Zaman ini diawali pada abad IV SM sampai pertengahan abad VI M di Romawi Barat yang berpusat di Roma, dan di Byzantium (Romawi Timur) sampai pertengahan abad VII M yang berpusat di Alexandria (Iskandariah), sampai abad VIII di Syiria dan Irak pada sekolah-sekolah Edessa, Nisibis, dan Atioch. Dengan kata lain, sampai munculnya era Filsafat Islam yang ditandai dengan masa penerjemahan lewat lembaga Bait al-Hikmah di Baghdad.
Helenistis Romawi dapat dibedakan kepada tiga masa perkembangan. Pertama, dari akhir abad IV SM hingga pertengahan abad I SM. Pada zaman ini dikenal aliran Stoa, Epikurus, dan Skeptisisme. Kedua, dari hingga pertengahan abad I SM hingga pertengahan abad III M. Di zaman ini dikenal aliran Stoa-Akhir, Neo-Pythagoreainsme, Epikurus-Akhir dan Helenisme Yunani. Zaman ini bersifat ekliktik. Ketiga, dari pertengahan abad III M hingga pertengahan abad VI M di Romawi Barat hingga abad VII M di Byzantium. Di zaman ini ditandai dengan dominasi pemikiran Neo-Platonisme yang berkembang dan lahir di Iskandariah.
Dalam perkembangannya kemudian, filsafat Yunani terbelah ke dalam dua aliran besar, yang antara satu dengan yang lainnya sering dipertentangkan. Aliran dimaksud mengacu pada pemikiran Plato dan Aristoteles. Plato yang dalam kehidupannya bergaya mistis menekankan olah pikir dari pada apa yang dapat dialami atau ditangkap oleh panca indera, dengan kata lain Plato lebih berpegang pada akal dan idea, serta mengabaikan emperisme. Corak berpikir Plato ini menjadi benih rasionalisme dalam menerangkan sesuatu dan menjadi idealisme bila berkaitan dengan nilai.
Lain halnya dengan Aristoteles yang menyenangi kehidupan material, lebih menekankan pada pola berpikir realis, karena itu ia menjunjung tinggi emperisme. Boleh jadi kecenderungan ini didukung oleh keahliannya dalam bidang biologi dan kedokteran.
Pada abad VII M perluasan wilayah Islam berlangsung sedemikian dahsyat memasuki Mesir, Syria, Mesopotamia (Irak), dan Persia. Hal itu berarti dimulainya kontak antara Islam dan filsafat Yunani. (juga sains). Karena filsafat Yunani telah masuk ke daerah ini bersamaan dengan penaklukan Alexander the Great dari Macedonia ke kawasan Asia dan Afrika Utara. Keinginan Alexander untuk menguasai sekaligus menyatukan kebudayaan yang ditaklukkannya, baik di Barat maupun di Timur, maka dibukalah pusat-pusat pengkajian kebudayaan dengan menjadikan kebudayaan Yunani sebagai inti kebudayaannya, hal ini terkenal dengan Hellenisme. Dikenallah pusat kebudayaan di Athena dan Roma untuk bagian Barat, sedangkan untuk Timur dikenal Alexandria (Iskandariah) di Mesir, Anioch di Suriah, Jundisyapur di Mesopotamia, dan Bactra di Persia.
Kota iskandariah dibangun oleh Alexander Agung sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan mengingat letak geografisnya yang strategis antara Timur dan Barat, maka sebagian karya-karya ahli-ahli Yunani disusun di kota tersebut sehingga perpustakaan kota ini menghimpun ratusan ribu karya dalam berbagai bidang. Dengan demikian, banyak ahli-ahli pikir dan filusuf yang berkumpul dan lahir di kota ini. Sampai abad VII M Iskandariah merupakan pusat studi filsafat, teologi, dan sains yang sangat penting. Filsuf-filsuf yang termashur di kota ini antara lain Philo (30 SM-50 M), ia adalah seorang filusuf Yunani yang semasa dengan Nabi Isa, ia berusaha menyesuaikan agama Yahudi dengan filsafat Yunani. Filsuf lain adalah Plotinus (204-270 M) lahir di Licopolis (Asyiyuth), orang Arab menyebutnya Syekh al-Yunani. Selain itu adalah Parphyry (233-301 M). Ia adalah murid Plotinus, dan pengumpul semua karya Plotinus sebanyak 54 karangan, kemudian menyusunnya ke dalam enam bagian, setiap bagian terdiri dari sembilan risalah yang dinamakan tasu’at (enneads). Ia juga banyak memberikan komentar kepada filsafat Plato dan Aristoteles, sehingga logika Aristoteles menjadi lebih praktis dan terkenal baik di Timur maupun di Barat. Di kota Iskandariyah juga dijumpai ahli-ahli matematika pada masa itu, diantaranya Euclide, Archimedes, Heron, Claudius Ptolemy, Apollomis. Juga, ahli-ahli kedokteran, antara lain Hippokrates, Galenus, Rufus dari Aphesus, Paul dari Argina, Diascorides, Oribasius, Aron, dan lain-lain.
Setelah abad VII M di kota Iskandariyah lahir ahli pikir generasi kedua, yang mengatur, menyusun, dan mempelajari buku-buku peninggalan para ahli pikir generasi pertama. Mereka itulah orang-orang Arab yang menterjemahkan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Hal yang patut dicatat, bahwa Iskandariah pada waktu itu tidak hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan, sekaligus merupakan pertemuan berbagai budaya yang hidup pada masa itu, baik yang bersifat agama, pemikiran filsafat, maupun kesusastraan. Dampak dari kemasyhuran Iskandariah tersebut tersebar luas ke arah Timur, kemudian menjadi mantap di beberapa kota negeri Syria, seperti Antioch, Ruha, Nasibein, dan Ras’ul ’Ain. Kaum Nasrani Suryan banyak yang tertarik mempelajari filsafat Iskandariah, dan sebagian besar mereka terjemahkan ke dalam bahasa Suryani.
Adapun kota Antioch di Suriah yang juga sebagai pusat kebudayaan, terutama setelah peperangan di Laut Tengah yang membuat kota Iskandariah terisolir dan ditinggalkan banyak pemikir pindah ke Antioch. Sekolah Edessa merupakan pusat pengembangan pemikiran Yunani, dan terus berlangsung sampai abad VII. Selain itu Harran, sebelah utara Suriah dan masih tetangga kota Edessa, merupakan mata rantai penyebar ilmu-ilmu Yunani kepada orang-orang Arab. Di kota ini masih dijumpai beberapa agama Babilonia Kuno dan penyembah bintang, serta pengikut filsafat Neo-Platonisme. Setelah jatuh ke tangan Arab, kota ini menjadi lebih terbuka dan menjadi pusat studi dari berbagai mazhab keagamaan bangsa Semit. Bahkan pada awal abad IX sarjana-sarjana Harran mampu melengkapi istana Abbasiyah dengan astrologi, matematika, astronomi, dan lain-lain. Di samping itu, gereja-gereja Russaina dan Kinnesrin merupakan pusat kebudayaan aliran Monofosit (Ja’kobiyah) dan didalamnya diajarkan filsafat, kedokteran, musik, matematika, dan ilmu falak.
Sedangkan kota Jundisyapur dikembangkan oleh Kisra Anusyirwan (531-578 M) di daerah Khuzistan, Persia, semula bernama Genta Shaphirta atau ”taman yang indah”. Sejarah mencatat, telah berulangkali terjadi peperangan antara Persia dan Romawi semenjak abad V SM. Pada akhir abad III M Maharaj Romawi, Valerianus, memerintahkan anaknya, Galianus menyerang Persia. Tetapi balatentara Romawi ini dikalahkan oleh Persia di Ruha. Kemenangan Persia ini menyebabkan banyaknya tentara Persia bertebaran di bagian Utara negeri Syam, bahkan berhasil merampas kota Antioch. Syapur I, raja kedua Dinasti Sassania, memindahkan para tawanan Romawi ke sebuah tempat dekat Tustur, sebuah kota di Arabistan (Iran). Tempat ini kemudian diberi nama Jundisyapur, yang berarti Pemusatan Pasukan Syapur. Para tawanan Romawi diperlakukan dengan baik. Mereka bebas melakukan peribadatan, dan bagi yang beragama Nasrani dibuatkan gereja. Diantara para tawanan perang itu terdapat banyak insinyur, arsitektur, dan dokter. Perkembangan kota Jundisyapur sangat cepat dan semakin terkenal setelah pada tahun 259 M kaisar Byzantium, Justianus, menutup akademi filsafat di Edessa dan mengusir semua filusuf dari daerah tersebut, karena ajaran filsafat menurutnya bertentangan dengan ajaran Kristen. Pada umumnya filusuf Yunani lari ke Jundisyapur dan diterima baik oleh Maharaja Persia. Kasus ini dapat diartikan bahwa kegiatan filsafat (juga sains) sudah beralih dari Yunani (Barat) ke Jundisyapur dan daerah lainnya di Timur. Sejak itu sebagian besar filsafat dan sains Yunani dterjemahkan ke dalam bahasa Persia. Jadi, tidak heran kalau tradisi kefilsafatan telah lama berakar di kalangan orang-orang Persia, kondisi itu terlihat jelas pada kaum Syiah di Iran/ Persia dalam memahami ajaran-ajaran Islam. Sejalan dengan itu, Al-Ahwani berkomentar bahwa Jundisyapur merupakan penghubung antara filsafat Yunani dan Arab. Tetapi, karena kota Baghdad dijadikan sebagai pusat pemerintahan pada masa kejayaan Daulah Abasiyah, dan letaknya tidak jauh dari Jundisyapur, maka posisi Jundisyapur sebagai pusat ilmu pengetahuan dan filsafat beralih ke Baghdad.
Diantara bekas pengaruh hellenisme di daerah ini ialah bahasa administrasi yang dipakai adalah bahasa Yunani. Bahkan, di Mesir dan Suria bahasa ini tetap dipergunakan sesudah masuknya Islam ke daerah tersebut, dan barulah pada abad VII oleh Khalifah Abdul Malik ibn Marwan (685-705 M) diganti dengan bahasa Arab.
Di daerah yang disebutkan di atas ditemukan oleh pemikir –pemikir Islam karya-karya yang berkaitan dengan Filsafat Yunani. Namun pada masa al-Khulafa’ al-Rasyidun dan Daulah Umaiyah, Filsafat Yunani tersebut belum dikembangkan, karena pada masa ini perhatian umat Islam terfokus pada penakhlukan wilayah dan lebih menonjolkan kebudayaan Arab. Barulah pada zaman Daulah Abasiyah yang berpusat di Baghdad, mulai diperhatikan secara serius Filsafat Yunani ini, terutama pada masa Al-Ma’mun (813-833 M), putera Harun al- Rasyid, yang dikenal dengan zaman penterjemahan.
Sebenarnya penterjemahan buku-buku ke dalam bahasa Arab sudah dimulai semenjak permulaan Daulah Umaiyah. Kegiatan ini disponsori oleh Khalifah Khalid ibn Yazid, tetapi buku-buku ilmiah yang diterjemahkan pada waktu itu yang berkaitan dengan keperluan hidup praktis, seperti kimia dan kedokteran.
Pada penghujung abad pertama hijrah, Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz juga telah mensponsori penterjemahan buku-buku ilmu kedokteran, kimia dan geometri. Sedangkan dalam riwayat lain juga diinformasikan, penterjemahan sudah dimulai pada masa Khalifah ibn Hakam (64-65 H) dalam bidang kedokteran oleh dokter Masajarwaih yang menerjemahkan dari bahasa Suryani ke dalam bahasa Arab karya seorang pendeta, Abraham ibn A’yun. Kemudian buku-buku terjemahan ini disimpan di perpustakaan negara sampai naik tahta Umar ibn Abdul Aziz (99-101 H).
Kegiatan penterjemahan secara melembaga baru terdapat pada masa Abasiyah. Khalifah Al-Mansyur, disamping keberhasilannya membangun kota Baghdad, ia juga mendatangkan Jirjis ibn Bakhtaisyu’ (1148 H) dari Jundisyapur sebagai kepala team dokter istana sampai Al-Mansyur wafat (150 H). Termasuk dalam team dokter tersebut sampai zaman Khalifah Al-Ma’mun adalah Ja’far al-Barmaki (w. 213 H). Keluarga Barmaki inilah kemudian yang dekat dengan keluarga Khalifah Abasiyah, dan berhasil menumbuhkan kecintaan kepada ilmu pengetahuan. Seperti Khalifah Al-Mansyur yang menyenangi ilmu pengetahuan menugaskan Muhammad ibn Ibrahim al-Fazari (w. 777).
Untuk menerjemahkan ilmu angka dan ilmu hitung, serta ilmu astronomi India yang bernama Sindhind. Sedangkan kitab Kalilah wa Dimnah dari Persia diterjemahkan oleh Ibn Muqaffa’. Demikian pula buku-buku Yunani yang sudah dialihkan ke dalam bahasa Suryani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Usaha iniditeruskan oleh Khalifah Harun al-Rasyid yang memerintahkan untuk menterjemahkan buku-buku Ilmu ukur karya Euclides dan buku-buku Ilmu Falak Al-Magesti karya Ptolemeus.
Kegiatan penterjemahan mencapai zaman keemasannya pada masa Khalifah Al-Ma’mun. Ia termasuk salah satu intelektual yang gandrung kepada ilmu pengetahuan dan filsafat. Ia mendirikan Bait al-Hikmah dibawah pimpinan Hunain ibn Ishaq, seorang Nasrani yang ahli bahasa Yunani dibantu oleh Yahya ibn Maskawaih, Sabit ibn Qurra’, Qusta ibn Luqas al-Ba’labaki, Ishaq ibn Hunain, Hubaysh ibn al-Hasni, Abu Bishr Matta ibn Yunus, Abu Zakaria ibn ’Adi dan lainnya. Akademi ini selain wadah penerjemahan juga pusat pengembangan filsafat dan sains. Al-Ma’mun mengirimkan utusan ke seluruh Byzantium untuk mencari buku-buku Yunani. Konon setiap buku yang diterjemah ke dalam bahasa Arab berhadiah emas seberat buku itu. Maka tak jarang penerjemah menulis dengan huruf yang besar di atas kertas dan kasar supaya menambah berat.
Disamping kota Baghdad, ada kota lain yang dijadikan pusat ilmu, yaitu: Marwa, Jundisyapur, Harran. Marwa banyak diterjemahkan buku ilmiah di bidang matematika dan astronomi. Jundisyapur menerjemah bidang obat-obatan dan kedokteran. Harran meminati buku filsafat dan kedokteran.
Penerjemahan ini bukan saja buku yang berbahasa Yunani tetapi bahasa Persia dan Suryani juga diterjemah dalam bahasa Arab. Diantaranya karya Plato seperti Thaetitus, Cratylus, Parmenides, Tunaeus, Phaedo, dan Politicus. Karya Aristoteles, seperti: Categoriae, Rethorica, De Caelo, Ethica Nichomacaea, dll. Karya Neo-Platonisme, seperti Enneads, Theologia, Isagoge, Elements of Theology, dll.
Dengan adanya penerjemahan ini umat Islam mampu dalam waktu relative singkat menguasai warisan intelektual dari tiga jenis kebudayaan yang angat maju pada waktu itu, yakni Yunani, Persia, dan India. Warisan intelektual tersebut dikembangkan oleh pemikir-pemikir Islam menjadi suatu kebudayaan yang lebih maju seperti tergambar dalam berbagai bidang ilmu dan mazhab filsafat yang beraneka. Sayangnya, kejayaan ilmu dan filsafat tersebut hanya berlangsung sampai abad XIII M, kemudian orang-orang Barat memindahkan pusat ilmu pengetahuan tersebut ke negerinya. Dengan demikian, umat Islam saat ini harus bekerja ekstra keras kembali untuk meraih permatanya yang hilang, seolah-olah saat ini terjadi “Hellenisme gelombang ke - II”


BAB III
PENUTUP

Demikian sekilas hubungan antara filsafat Islam dengan filsafat Yunani. Secara hisrtoris ilmiah menunjukkan bahwa ada keterkaitan pemikiran yang berkembang antara budaya, pola pikir dan wawasan keilmuan antara Islam dengan Yunani, dibuktikan dengan beberapa bentuk pengembangan keilmuan dan penerjemahan karya seseorang.
Para filusuf Islam tercatat memberikan sumbangan pengetahuannya kepada perkembangan ilmu itu sendiri menamakannya dengan filsafat Islam. Hal ini menunjukkan Islam bukan sekedar nama agama, tetapi juga mengandung unsur kebudayaan dan peradaban yang tinggi dan layak untuk ditumbuhkembangkan kepada generasi sesudahnya.
Waalu’alamu.


DAFTAR ACUAN

al-Bahi, Muhammad, Al-Janib al-Illahi min al-Tafkir al-Islami, Kairo, Dar al-Kitab al-Arabi, 1967.
Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, JJilid II, Jakarta, UI Press), hlm. 46.
Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, Yogyakarta, Kanisius, 1983.
Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat , Yogyakarta, Kanisius, 1976.
Nasution,Harun, Falsafat dan Masticisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1973.
Daudy, Ahmad. et. Al., Filsafat Islam, Banda Aceh, Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama IAIN Ar-Raniry, 1985.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Back to top!