Searching...
26.12.09

EVALUASI PROGRAM

BAB I
PENDAHULUAN


A. Pengertian Program
Secara umum program dapat diartikan sebagai “rencana”, sedangkan pengertian khusus (berlaku dalam evaluasi program) adalah suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses berkesinambungan, terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang.
Ada tiga hal penting yang ditekankan yakni (1) realisasi atau implementasi suatu kebijakan, (2) kesinambungan, (3) terjadi dalam organisasi yang melibatkan sekelompok orang. Dengan demikian maka sebuah program bukanlah kegiatan yang sederhana tetapi kompleks, merupakan satu sistem yang memiliki banyak unsure sehingga penanganannya harus melibatkan orang banyak.
Dengan pertimbangan kekompleksan tersebut maka kegiatan program melibatkan beberapa komponen yang berpengaruh terhadap keberhasilan program yang bersangkutan.

B. Alasan Melakukan Evaluasi Program

Setiap kegiatan merupakan realisasi dari suatu kebijakan yang dirancang dengan cermat dan teliti supaya tujuan yang sudah ditetapkan dapat tercapai dengan sebaik-baiknya. Dalam hal ini evaluasi program berfungsi untuk mengetahui seberapa jauh keberhasilan dan kegagalan program. Dengan kata lain tanpa evaluasi program implementasi suatu kebijakan tidak akan dapat diketahui.
Terkait dengan organisasi pendidikan, evaluasi program dapat disamakan dengan kegiatan supervisi, yakni suatu upaya mengadakan peninjauan untuk memberikan pembinaan. Maka evaluasi program adalah langkah awal dalam supervisi, yakni mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan dengan pembinaan yang tepat pula. Dalam istilah lain evaluasi program pendidikan tidak lain adalah supervisi pendidikan dalam pengertian khusus, tertuju pada lembaga secara keseluruhan.


C. Tujuan Melakukan Evaluasi Program

Tujuan evaluasi program adalah mengukur ketercapaian program, yaitu mengukur sejauhmana sebuah kebijakan dapat terimplementasikan. Agar tujuan dapat diketahui secara cermat dan teliti dan maksimal maka perlu dirumuskan secara terperinci terhadap tujuan oleh evaluator dengan mengenali komponen-komponen program.
Komponen program adalah bagian-bagian program yang terkait dengan keberhasilan program. Karena program merupakan sebuah sistem, maka komponen program dipandang sebagai sub-sistem, dimana secara teoritis dalam sebuah sistem, sub-sistem yang ada selalu kait mengkait, saling mempengaruhi (sistem berada dalam sebuah supra-sistem senatiasa bekerjasama kait-mengkait dengan sistem lain untuk mencapai tujuan).
Contoh kaitan supra-sistem, sistem, sub-sistem dalam dunia pendidikan :

Supra-sistem :
Kanwil Depdikbud bertujuan mensukseskan pendidikan di Propinsi
Sistem :
Sekolah-sekolah yang bernaung di wilayah Propinsi bertujuan mensukseskan penyelengaraan sekolah
Sub-sistem :
Komponen-komponen yang ada di sekolah dan mendukung suksesnya penyelenggaraan sekolah, yakni : siswa, guru, sarana, pengelola, KBM, dan lingkungan.

Dari hal itu, dapat dikatakan untuk mengukur keberhasilan program secara keseluruhan perlu diukur kinerja masing-masing komponennya, yaitu hal-hal yang secara langsung terkait dengan keberhasilan dan pencapaian tujuan program secara keseluruhan. Melalui upaya pengenalan semua komponen program yang baik, evaluator program akan lebih cermat dalam melakukan evaluasi, selanjutnya hasil yang diperoleh juga akan lebih rinci. Dengan demikian maka tujuan evaluasi program harus diarahkan pada setiap komponen program.

D. Manfaat Evaluasi Program

Secara umum perbedaan menyolok antara evaluasi program dengan penelitian terletak pada tujuannya yang mengarah pada kebijakan. Evaluasi program dilakukan untuk mengukur tingkat ketercapaian program, sehingga apabila telah selesai evaluator diharapkan memiliki informasi yang lengkap tentang implementasi suatu kebijakan yang selanjutnya bermanfaat untuk pengambilan keputusan selanjutnya. Dapat disimpulkan manfaatnya untuk pengambilan keputusan, biasa disebut bersifat decision oriented , yakni berorientasi pada pengambilan keputusan atau dilakukan dalam rangka pengambilan keputusan. Sehingga wujud hasil evaluasi adalah sebuah rekomendasi dari evaluator untuk pengambilan keputusan (decision maker).
Adapun kemungkinan keputusan yang dapat diambil berdasarkan rekomendasi ada empat macam :
1. Menghentikan program.
Dilakukan apabila hasil evaluasi program atas kebijakan pengembil keputusan tidak dapat terlaksana, dan bila dilanjutkan hanya membuang tenaga, uang dan waktu dan bahkan berbahaya.
2. Merevisi atau memperbaiki program.
Dilakukan apabila hasil evaluasi diketahui bahwa kebijakan yang dikeluarkan dapat berjalan tetapi kurang sesuai dengan yang diharapkan. Sehingga perlu revisi bagian mana yang kurang layak berdasarkan saran.
3. Melanjutkan program.
Dilakukan apabila hasil evaluasi diketahui bahwa program dapat berjalan dengan baik sesuai dengan kebijakan yang sudah ditetapkan dan perlu pembatasan untuk subjek dan tempat yang sudah ditentukan.
4. Menyebarluaskan program.
Dilakukan apabila diketahui program berjalan dengan sangat baik dalam mengimplementasikan kebijakan yang dikeluarkan, dengan kata lain ada “hasil lebih”. Sehingga atas bukti kemanfaatan yang cukup tinggi itu perlu diimplementasikan pada khalayak banyak.


BAB II
HAL-HAL PENTING DALAM EVALUASI PROGRAM


A. Perbandingan antara Penelitian dengan Evaluasi Program

Tujuan evaluasi program adalah memperoleh informasi yang tepat dan rinci tentang keberhasilan implemenatsi kebijakan, di dalamnya memerlukan cara atau metode dan prosedur yang tepat, sebagaimana dalam kegiatan penelitian. Dari hal ini maka evaluasi program dapat dikatakan sebagai sebuah penelitian. Secara sistematis persamaan dan perbedaan antara evaluasi program dengan penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut :
Persamaan :
1. Langkah-langkah yang dilalui sama, mulai dari mengidentifikasi komponen (yang berfungsi sama dengan variable dalam kegiatan penelitian), menentukan wilayah studi, metode dan instrument, mengumpulkan data, menganalisi dan mengambil kesimpulan.
2. Metodologi yang digunakan sama, meliputi cara menguarai atau mengidentifikasi variable, mengambil sample, memilih metode, menyusun instrumen, dan menganalisis data.
Perbedaan :
Penelitian Evaluasi Program
Objek Kegiatan • Objek dipilih sendiri oleh peneliti
• Pelaku memiliki kebebasan • Objek sudah ditentukan oleh program yang dipilih untuk dievaluasi
• Pelaku tidak bebas
Tujuan Kegiatan • Ditentukan oleh problematika atau pertanyaan penelitian • Ditentukan oleh tujuan program/ mengacu pada tujuan program
Analisis Data • Peneliti dapat mendeskripsikan atau mengolah data yang ada tanpa mengacu pada standar, criteria atau tolok ukur • Ada criteria atau tolok ukur standar yang mutlak adanya karena bertujuan mengukur pencapaian tujuan program
Pengambilan Kesimpulan • Peneliti membuat kesimpulan dari hasil analisis mengarah pada jawaban atas pertanyaan atau rumusan problematika penelitian • Evaluataor mengacu pada criteria atau tolok ukur yang ada

Tindak Lanjut Kesimpulan • Kesimpulan ditindak lanjuti dengan saran-saran kepada berbagai pihak terkait • Kesimpulan ditindaklanjuti dengan rekomendasi yang ditujukan kepada pengambil kebijakan untuk menentukan kebijakan baru yang terevaluasi dengan kemungkinan : disebarluaskan, dilanjutkan, direvisi, atau dihentikan

B. Lima Langkah Penting dalam Evaluasi Program

Mengingat bahwa evaluasi program adalah penelitian dengan ciri khusus, maka prosedur yang digunakan dalam evaluasi program sama dengan prosedur dalam penelitian. Prosedur adalah langkah-langkah yang harus dilalui dalam melaksanakan kegiatan.

Secara garis besar ada lima langkah yang harus dilalui dalam kegiatan evaluasi program, yakni :
1. Menyusun Proposal
Pada dasarnya proposal adalah rencana kerja, di dalamnya sudah dijelaskan hal-hal pokok yang akan dilaksanakan di dalam praktik. Hal-hal penting tersebut adalah :
(a) latar belakang dilaksanakan evaluasi
(b) penjelasan singkat tentang program yang adan dievaluasi
(c) tujuan umum dan tujuan khusus
(d) sumber data yang dijelaskan dalam populasi dan sampel
(e) tehnik pengumpulan data
(f) tehnik menganalisis data
(g) cara mengambil kesimpulan.

Sedangkan yang harus menyusun proposal adalah calon evaluator dan pihak lain yang menghendaki adanya evaluasi program, dan pada gilirannya hasil dan efektivitas aplikasi proposal berbeda serta mempunyai keuntungan dan kerugian variatif.
2. Menyusun Instrumen
Dalam evaluasi proram instrumen mempunyai kedudukan penting, karena kualitas hasil evaluasi program sangat ditentukan oleh kualitas instrumennya. Instrumen digunakan untuk mengumpulkan data. Adapun jenis instrumen yang dipergunakan adalah angket, pedoman wawancara, rambu-rambu dokumentasi, dan pedoman pengamatan. Penggunaan instrumen tergantung dari data yang dikumpulkan, sumber data dan person yang menggunakannya.
3. Mengumpulkan Data
Agar pengumpulan data dapat dilakukan dengan tepat, dalam jumlah mencukupi dan tepat akan berguna, pengumpul data harus menggunakan tabel kisi-kisi yang menjelaskan hubungan antara data, sumber data, dan isntrumen yang disusun oleh evaluator waktu menyusun instrumen.
4. Menganalisis Data
Idealnya ketika data sudat dapat terkumpul, evaluator langsung melaksanakan analisis data, sedikit demi sedikit sejak pertama data diperoleh. Pada tahap awal evaluator dapat melakukan pengecekan tentang kebenara data. Sesudah itu mengklsifikasikan data, mengikuti proposal yang dimiliki.
5. Mengambil Kesimpulan dan Merumuskan Rekomendasi
Kesimpulan yang diambil evaluator program harus mengarah pada materi kebijakan yang harus diukur implementasinya. Oleh karena itu langkah terakhir dalam evaluasi program, setelah evaluator membuat kesimpulan harus segera dilanjutkan dengan merumuskan rekomendasi. Evaluator harus memberikan masukan kepada pengambil kebijakan tentang kebijakan lanjutan serta memikirkan rekomendasi dari empat kategori : dihentikan, direvisi atau disempurnakan, dilanjutkan dan kemungkinan disebarluaskan.

C. Evaluator Program

Dalam evaluasi program, pelaku evaluasi merupakan subjek yang sangat menentukan kualitas hasilnya. Semakin tinggi kualitas evaluator yang melakukan evaluasi, semakin tinggi pula kualitas hasil evaluasi.
Lazimnya pelaku evaluasi program adalah satu kelompok orang (tim evaluator), terdiri dari orang-orang yang ada dalam kelompok pengambil kebijakan, orang-orang yang terlibat dalam pelaksanaan program, dan orang-orang luar yang diminta oleh pengambil keputusan.
Secara praktis kemungkinan evaluator ada dua, yakni :
1. Evaluator dalam (internal evaluator)
Adalah orang-orang yang mengetahui dengan pasti isi kebijakan dan terlibat di dalam pelaksanaan implementasinya sehingga dapat dilaksanakan dengan tepat sasaran dan teliti. Kelemahannya adalah adanya unsur subjektivitas, dan dikhawatirkan akan bertindak dipengaruhi oleh keinginan pribadi. Seringkali evaluator justru menginginkan agar kebijakan tersebut baik dan dapat diimplementasikan dengan baik pula.
2. Evaluator luar (external evaluator)
Adalah orang-orang yang tidak terkait dengan kebijakan dan implementasinya. Dikenal dengan nama “tim bebas” atau “independent team”, karena bertindak bebas sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Kebaikannya evaluator dapat bertindak objektif selama melaksanakan evaluasi dan mengambil kesimpulan karena tidak ada keinginan untuk memperlihatkan bahwa program tersebut berhasil. Kelemahannya evaluator kurang efektif dalam memberikan kesimpulan yang tepat, dikarenakan sebagai orang baru mengenal kebijakan sehingga minim informasi dan isi kebijakan yang dievaluasi.

D. Komponen Program

Komponen program adalah bagian-bagian yang menunjukkan nafas penting dari keterlaksanaan program. Lazimnya sebagian menggunakan istilah “unsur” dan “faktor”. Jika salah satu dari komponen program tidak atau kurang berfungsi, maka pencapaian tujuan atau hasil akhir tidak atau kurang baik pula.
Banyaknya komponen dalam setiap program tidak sama, tetapi tergantung tingkat kompleksitas programnya. Adapun uraian program dibagi menjadi empat komponen :
1. Context
Adalah hal-hal yang terkait dengan proses, baik langsung maupun tidak langsung. Jika unsur-unsur penting dalam aktifnya sebuah program, maka yang dimaksud dengan konteks adalah hal-hal yang terkait dengan proses, tetapi bukan prosesnya itu sendiri.

2. Input
Adalah sesuatu yang diproses di dalam program, atau sesuatu yang menjadi objek untuk digarap atau dikembangkan oleh program. Secara umum input disamakan dengan bahan mentah yang dimasukkan ke dalam sesuatu proses.

3. Process
Adalah kegiatan yang menunjukkan upaya untuk mengubah input dalam kondisi awal dan diharapkan akan mencapai kondisi yang diharapkan dalam tujuan program. Secara umum disamakan dengan transformasi, yaitu sesuatu yang mengubah bahan mentah yang dimasukkan menjadi sesuatu yang matang dan wujudnya berubah dari wujud semula.

4. Product
Adalah hasil akhir yang merupakan dampak dari bahan mentah yang telah diproses oleh program. Apabila dalam sebuah program hasilnya tidak kentara, maka tinjauan evaluasi program juga sulit atau tidak dapat menyebutkan adanya produk. Penilaian hanya dilakukan dengan menganalisis semua komponen yang ada menggunakan ukuran yang tepat (kriteria atau standar).


BAB III
PENYUSUNAN PROPOSAL EVALUASI PROGRAM


A. Status Proposal dalam Evaluasi Program

Proposal adalah sebuah rencana kerja yang menggambarkan tentang semua kegiatan yang akan dilakukan dalam pelaksanaan evaluasi program. Ibarat melakukan perjalanan, proposal adalah peta yang menggambarkan wilayah serta jaringan jalan yang akan dilalui. Proposal merupakan sesuatu yang dapat memberikan petunjuk bagi siapa saja yang akan melaksanakan evaluasi program yang harus dievaluasi.
Mengingat evaluasi program untuk mengetahui pencapaian tujuan suatu kebijakan, maka pengambil kebijakan dapat meminta kepada orang lain untuk melaksanakan evaluasi. Efektivitas tinggi diperoleh manakala pemesan (pengambil kebijakan) membuatkan proposal sekaligus, tentu isinya lebih lengkap dan dapat tepat terarah secara langsung. Namun apabila pemesan tidak mau membuatkan proposal dengan alasan kurang menguasai cara atau pertimbangan lain (kelompok ini menganggap semua diserahkan pada tim evaluator, termasuk menyusun proposal, pemesan hanya menyerahkan dokumen saja), efektifitas relatif. Tetapi dikarenakan proposal dibuat tim evaluator, maka pelaksanaan evaluasinya tidak menyimpang banyak dari proposal sehingga dapat terarah secara tepat dan jelas. Hal ini berbeda apabila proposal sudah dibuatkan oleh pihak lain.

B. Latar Belakang diadakannya Evaluasi Program

Bagian pertama dari sebuah proposal adalah “latar belakang”, yakni hal-hal yang ada di belakang lahirnya kegiatan. Jadi latar belakang kegiatan evaluasi adalah hal-hal yang mendorong atau alasan dilaksanakannya evaluasi program, yang perlu betul-betul perlu dilaksanakan.
Cara meyakinkan pembaca dengan menunjukkan adanya “kesenjangan”. Biasanya ditunjukkan dengan penjelasan tentang kondisi yang diharapkan dan kondisi yang ada. Apabila tim penyusun proposal dapat menunjukkan bahwa kondisi yang ada masih jauh dari kondisi yang diharapkan, maka kesenjangan dimaksud semakin jelas. Dengan demikian alasan melakukan evaluasi program menjadi sangat kentara.
Kesenjangan dimaksud ditunjukkan oleh penjelasan tentang adanya implementasi kebijakan dan keinginan untuk mengetahui sejauhmana terlaksana dan mencapai tujuan. Sehingga penyusun harus :
a. Mengutip dasar hukum (surat keputusan) dikeluarkannya kebijakan
b. Surat keputusan yang mendasari keabsahan pelaksanaan kebijakan
c. Menunjukkan program belum atau sudah dievaluasi

C. Penjelasan Singkat tentang Program

Informasi dan uraian program yang akan dievaluasi merupakan hal penting yang harus diketahui pelaku evaluasi. Penjelasan harus memberikan gambaran cukup bagi evaluator tentang diadakannya program (dasar hukum), sejak kapan, di wilayah mana, siapa penyelenggara, siapa pelaksana, apa saja isi kegiatan, apa sarana prasarana pendukungnya, dan target hasil yang diharapkan.
Dengan memahami maka evaluator akan mampu menentukan sasaran evaluasi dengan tepat dan melaksanakan tugas evaluasinya dengan mantap/ berhasil baik.

D. Tujuan mengadakan Evaluasi Program

Tujuan umum evaluasi program adalah ingin mengetahui dan mengarahkan perhatiannya pada kesan umum program, sedangkan tujuan khusus evaluasi adalah ingin melihat lebih rinci tentang komponen program. Informasi yang lebih rinci tersebut akan sangat berguna bagi kelangsungan program sendiri atau memberikan masukan kepada orang lain yang akan melaksanakan program yang sama. Semakin rinci data atau informasi yang berhasil dikumpulkan oleh evaluator program dan dilaporkan kepada pengambil keputusan, akan semakin jelas dimana letak kekurangan pelaksanaan suatu program sehingga perbaikan atau penanggulangannya akan lebih terarah.
Contoh :
Program : Resepsi pernikahan
Komponen : 1. pengantin 2. tempat resepsi 3. tamu undangan
4. konsumsi 5. acara
(setiap komponen yang sudah diidentifikasi, diteliti kemantapannya)
Tujuan Umum : Mengetahui sejauhmana program ini sudah mencapai sukses
Tujuan Khusus : 1. Mengumpulkan informasi tentang seberapa tinggi kualitas penampilan
pengantin
2. Mendapatkan gambaran tentang keseuaian tempat yang sudah dipilih dan
pengaturannya dengan tujuan resepsi
3. Memperoleh informasi tentang keseuaian antara tamu yang datang dengan
yang sudah dirancang diundang
4. Mendapatkan informasi tentang seberapa tinggi kualitas konsumsi dan
kesesuaiannya dengan harapan para tamu undangan
5. Memperoleh informasi tentang keseuaian berlangsungnya acara

E. Metodologi Evaluasi Program


Metodologi adalah uraian tentang berbagai metode yang digunakan di dalam evaluasi program. Hakekatnya evaluasi program adalah penelitian, tetapi dengan karakteristik atau ciri-ciri khusus. Sehingga keduanya identik sama, termasuk dalam tiga persyaratan yang minimal harus dipenuhi agar sah dikategorikan sebagai kegiatan penelitian, yaitu :
1. Bertujuan, ada sesuatu yang ingin dicapai.
2. Dilakukan secara sistematis dengan menggunakan prosedur dan tata cara ilmiah yang baku.
3. Menggunakan metode-metode yang disepakati di dalam dunia ilmu pengetahuan.

Adapun metodologi penelitian dicantunkan dalam proposal dengan maksud :
1. Mengarahkan tim evaluator program pada langkah-langkah yang akan dilalui dan dengan metode-metode apa setiap langkah akan dilakukan.
2. Memberitahukan kepada pihak lain bahwa perencana evaluasi sudah menggunakan strategi yang cukup ilmiah, karena tidak meninggalkan syarat-syarat metodologi.

Selain itu, metodologi ini menuntun peneliti (evaluator) tentang metode yang akan digunakan. Urutan dalam metode sebaiknya mengikuti urutan kerja. Langkah pertama menyebutkan dulu komponen dan indikatornya, baru menentukan siapa sumber data. Sehingga evaluator dapat menyebutkan wilayah penelitian, populasi dan sampel, metode dan instrumen pengumpulan data. Dan sebagai penentuan gambaran cara kerja yang baik, perlu dijelaskan tehnik analisia data, bagaimana kesimpulan diambil dan bagaimana cara mengajukan rekomendasi.


BAB IV
PENYUSUNAN INSTRUMEN EVALUASI PROGRAM



Instrumen mempunyai kedudukan yang sangat penting, karena menentukan kualitas data yang dikumpulkan. Semakin tinggi kualitas instrument, semakin tinggi pula hasil evaluasinya. Persyaratan instrumen yang baik :
1. Valid atau sahih, yaitu tepat menilai apa yang akan dinilai.
2. Reliabel, dapat dipercaya, yaitu bahwa data yang dikumpulkan benar seperti apa adanya, bukan palsu.
3. Praktikabilita, yaitu instrument tersebut penggunaannya mudah, praktis, tidak rumit.
4. Ekonomis, yaitu di dalam penyusunan, perwujudan, penggunaan tidak boros dari segi uang, waktu, tenaga.

Di sisi lain prosedur yang harus dilalui dalam menyusun instrumen yang tepat mengevaluasi program yakni : (a) mengidentifikasi komponen program dan indikatornya, (b) menyusun butir-butir instrumen, (c) menyusun kriteria penilaian, (d) melengkapi instrument dengan pedoman pengisian.

A. Identifikasi Komponen Program
1. Indikator
Berasal dari bahasa Inggris “to indicate”, artinya menunjukkan. Jadi pengertian indikator menyebutkan hal-hal yang menunjuk pada atau berkaitan dengan komponen yang dijelaskan. Oleh karena itu harus dinyatakan dalam bentuk kata benda.
Petunjuk identifikasi indikator adalah :
a. Mulai dari yang sifatnya kuantitatif, baru kualitatif.
b. Mulai dari luar, baru mengarah ke dalam.
c. Mulai dari yang umum, baru ke yang khusus.
d. Jika yang diidentifikasi merupakan proses atau prosedur maka diurutkan dari pemunculannya.

2. Sumber Data
Adalah segala sesuatu yang menunjuk pada asal data diperoleh. Untuk mengklasifikasikan kita istilahkan dengan tiga P (dalam bahasa Ingggris), yakni :
a. P-Person, yaitu orang. Jika sumbernya orang, pengungkapan data dilakukan dengan wawancara atau angket.
b. P-Place, yaitu tempat. Yang dimaksud bukan hanya ruangan tetapi hal lain dalam posisi diam dan yang bergerak. Metode yang digunakan observasi atau pengamatan.
c. P-Paper, yang bukan hanya dibatasi pada kertas saja tetapi segala bentuk symbol yang berupa tulisan, gambar, tabel, denah, motif dan lainnya. Metode yang dipakai dokumentasi.

3. Metode Pengumpulan Data
Metode yang dipakai yaitu : angket, wawancara (interview), pengamatan (observasi), tes, dokumentasi dan lainnya.

4. Instrumen Pengumpul Data
Instrument menunjuk pada sesuatu yang berfungsi sebagai pembantu agar pencapain tujuan mudah. Evaluator ketika mengumpulkan data, instrumen berfungsi mempermudah, memperlancar dan membuat pekerjaan pengumpul data lebih sistematis.
Ketika pewawancara menggunakan instrumen, sebelum bertemu responden bila sudah membawa daftar pertanyaan yang mengacu data yang dikehendaki, maka pembicaraan akan terarah pada informasi yang dibutuhkan. Pembelokan situasi pembicaraan dapat dihindari. Namun sebaliknya bila tanpa persiapan instrumen, maka situasi pengalihan topik pembicaraan lazim terjadi. Itu sebabnya perlu panduan wawancara, begitupun untuk angket dan tes. Panduan tersebut diwujudkan dalam bentuk daftar hal atau tabel.
Contoh :
Jika evaluator menilai notulen rapat, yang harus digali adalah :
1. Hari/ tanggal rapat
2. Pimpinan rapat
3. Banyaknya peserta dan nama yang hadir
4. Acara atau isi pembicaraan
5. Kesimpulan atau hasil rapat
6. Rencana tindak lanjut

Adapun untuk menjamin kaitan antara komponen, indikator, sumber data, metode pengumpul data dan instrumen, sebaiknya dibuat rincian dalam dua model sebagai persiapan menyusun instrumen. Yakni model tabel dengan kisi-kisi dan model rincian ke bawah.
Contoh :
Model Kisi-kisi
Kisi-kisi Persiapan Penyusunan Instrumen

(Private) Komponen Indikator Sunber Data Metode Instrumen
Pengantin • Ketepatan pakaian pengantin pria
• Ketepatan pakaian pengantin wanita
• Keserasian pakaian pria dan wanita • Pengantin pria
• Tamu
• Pengantin wanita
• Tamu
• Kedua pengantin
• Tamu • Observasi
• Wawancara
• Observasi
• Wawancara
• Observasi
• Wawancara • Panduan observasi
• Panduan wanacara
• Panduan observasi
• Panduan wanacara
• Panduan observasi
• Panduan wanacara
Tempat resepsi • Luasnya tempat
• Pengaturan :
- pengantin
- konsumsi
- tamu
- hiburan
• Dekorasi • Tempat
• Tamu • Observasi
• Wawancara • Panduan observasi
• Panduan wanacara

Tamu undangan • Banyaknya tamu
• Ketepatan hadir
• Ketertiban
• Kepuasan dan penampilan • Penerima
• Tamu
• Wakil
• Tamu • Observasi
• Wawancara • Panduan observasi
• Panduan wanacara

Konsumsi • Banyaknya
• Kombinasi
• Penampilan
• Rasa
• Ketepatanpenyajian • Wakil tamu
• Hidangan • Observasi
• Wawancara • Panduan observasi
• Panduan wanacara

Acara • Kelengkapan
• Variasi
• Penampilan
• Efesiensi waktu • Pelaksanaan acara
• Wakil tamu • Observasi
• Wawancara • Panduan observasi
• Panduan wanacara


Model Rincian Ke Bawah

1. Komponen : Pengantin
Indikator :
a. Ketepatan pakaian pengantin pria
b. Ketepatan pakaian pengantin wanita
c. Keserasian antara pakaian pengantin pria dan wanita
2. Komponen : Tempat Resepsi
Indikator :
a. Letak tempat resepsi
b. Luas tempat
- ukuran dan bentuk
- proporsi masing-masing bagian
c. Pengaturan
- pengantin
- konsumsi
- tempat duduk atau tempat makan tamu
- tempat hiburan
d. Dekorasi-hiasan ruangan dan di belakang tempat duduk pengantin
- bentuk dan ukuran
- kombinasi warna
- keserasian dengan lingkungan, dst

B. Penyusunan Butir-Butir Instrumen

Menyusun instrumen merupakan langkah yang relatif sulit akan tetapi sangat penting. Penyusunan instrumen yang banyak dikeluhkan oleh peneliti dan evaluator program adalah cara membuat angket. Umumnya kesalahan terjadi pada penyimpangan pertanyaan dan indikator yang akan dievaluasi. Untuk menghindari hal itu, penyusun instrumen perlu mencoba menjawab sendiri. Jika jawabannya melenceng dari maksud pertanyaan, berarti butir tersebut rumusannya salah.
Contoh :
Instrumen untuk mengungkap seberapa tinggi efektivitas penggunaan laboratorium sekolah. Pengungkapannya melalui apakah lab tersebut sering digunakan untuk praktikum atau tidak. Rentangan skala bertingkat yang digunakan ada 5, dengan huruf singkatan dan artinya sebagai berikut :

No Butir pernyataan SS S AS SJ TP
1. Laboratorium di sekolah sering sekali digunakan untuk praktikum
2. Guru IPA selalu memberikan bimbingan kepada siswa ketika sedang membuat laporan praktikum

Keterangan :
SS = Sangat Sering
S = Sering
AS = Agak Sering
SJ = Sangat Jarang
TP = Tidak Pernah

Dari beberapa butir di atas bersifat menggiring responden untuk menyetujui pernyataan yang diajukan oleh penyusun, atau menjawab pertanyaan dengan jawaban yang positif.

C. Penyusunan Kriteria Evaluasi

1. Apakah kriteria penilaian ?
Kriteria sering diistilahkan “tolok ukur” atau “standar”. Secara definisi berarti sesuatu yang digunakan sebagai patokan atau batas atas untuk sesuatu yang diukur. Apabila mengenai jumlah, berarti menunjuk pada sebuah bilangan yang dikehendaki untuk diraih oleh sesuatu indikator. Apabila mengenai kualitas sesuatu berarti menunjuk pada sebuak kata sifat atau keadaan untuk sesuatu tersebut, misalnya “sangat baik”, “cukup”, atau “kurang”. Yang menjadi inti criteria evaluasi program adalah aturan tentang bagaimana menentukan peringkat-peringkat kondisi sesuatu tersebut agar data yang diperoleh dapat diandalkan.
Contoh :
Kriteria untuk menakar prestasi belajar siswa. Di dalam rapor tertera penjelasan tentang arti nilai tersebut :
Nilai 10 = Sempurna
Nilai 9 = Baik Sekali
Nilai 8 = Baik dst

2. Mengapa perlu ada kriteria ?
Kriteria dibuat oleh evaluator karena evaluator terdiri dari beberapa orang yang memerlukan kesepakatan di dalam menilai. Selain itu ada alasan lain, yakni :
a. Adanya kriteria, evaluator lebih mantab dalam melakukan penilaian karena ada patokan yang diikuti.
b. Kriteria digunakan untuk menjawab apabila ada pihak lain yang minta penjelasan mengapa hasil evaluasi seperti itu.
c. Kriteria untuk mengekang masuknya unsur subjektivitas penilai.
d. Dengan adanya kriteria atau tolok ukur hasil evaluasi terhadap sesuatu akan sama meskipun dilakukan dalam waktu yang berbeda dan dalam kondisi fisik yang berbeda pula.
e. Criteria memberikan arahan kepada evaluator apabila banyaknya evaluator lebih dari satu orang.

3. Sumber criteria
Secara runtut pengambilan sumber kriteria untuk menjadikan patokan yang harus dicapai maka haruslah “top”, yang diambil dari hasil bersama, dan seyogyanya antar orang-orang yang akan menggunakannya sendiri, yaitu calon evaluator sehingga dalam penerapan mudah dan mengetahui hal yang melatar belakanginya. Secara kronologis sumber kriteria diperoleh dari :
a. Apabila yang dievaluasi merupakan suatu implementasi kebijakan, maka yang dijadikan criteria adalah peraturan atau ketentuan yang sudah dikeluarkan berkenaan dengan kebijakan yang bersangkutan.
b. Apabila tidak ada, maka penyusun menggunakan konsep atau teori-teori yang terdapat di buku-buku ilmiah.
c. Apabila tidak ada, maka menggunakan hasil penelitian, disarankan yang sudah dipublikasikan atau diseminarkan, bahkan yang sudah ada dalam perpustakaan umum.
d. Apabila tidak ada, menggunakan bantuan pertimbangan pada orang yang dipandang mempunyai kelebihan di bidang yang sedang dievaluasi (expert judgment).
e. Apabila tidak ada, penyusun dapat menentukan kriteria secara bersama dengan anggota tim atau beberapa orang yang mempunyai wawasan tentang program yang akan dievaluasi (kesepakatan kelompok).
f. Apabila tidak ada, maka mengadakan pemikiran sendiri dengan mengandalkan akal atau nalar penyusun sendiri sebagai dasar.

4. Cara menyusun kriteria
Wujud dari kriteria adalah tingkatan atau gradiasi kondisi sesuatu yang dapat ditransfer menjadi nilai. Ada dua macam kriteria :
a. Kriteria Kuantitatif
1. Kriteria kuantitatif tanpa pertimbangan
Kriteria yang disusun hanya dengan memperhatikan rentangan bilangan tanpa mempertimbangkan apa yang dilakukan dengan membagi rentangan bilangan.
Contoh :
Kondisi maksimal yang diharapkan untuk prestasi belajar diperhitungkan dalam kondisi maksimal, 100%. Jika penyusun menggunakan lima kategori nilai, maka antara 1%-100% dibagi rata sehingga menghasilkan kategori :
- Nilai 5 (Baik Sekali), jika mencapai 81- 100%
- Nilai 4 (Baik), jika mencapai 61-80%
- Nilai 3 (Cukup), jika mencapai 41-60%
- Nilai 2 (Kurang), jika mencapai 21-40%
- Nilai 1 (Kurang Sekali), jika mencapai <21%

2. Kriteria kuantitatif dengan pertimbangan
Kriteria yang disusun dengan memperhatikan kategori dengan rentangan di dalam setiap kategori tidak sama, demikian juga antara kategori satu dengan lainnya.
Contoh :
Penentuan nilai akademik PT dengan huruf A, B, C, D dan E sesuai peraturan akademik dan besarnya prosentase pencapaian tujuan belajar mahasiswa :
- Nilai A = rentangan 80-100%
- Nilai B = rentangan 66-79%
- Nilai C = rentangan 56-65%
- Nilai D = rentangan 40-55%
- Nilai E = kurang dari 40%

b. Kriteria Kualitatif
Adalah kriteria yang dibuat tidak menggunakan angka-angka, yang menjadipertimbangan dalam menentukan criteria adalah indikator-jika yang dikenai kriteria adalah komponen. Dibagi atas :
1. Kriteria kualitatif tanpa pertimbangan
Dalam hal ini penyusun kriteria tinggal menghitung banyaknya indikator, dalam hal ini dipandang sebagai unsur pembentuk kriteria.
Contoh :
Komponen konsumsi dalam resepsi pernikahan ada 5 indikator. Maka pembuatan kriterianya tinggal menyesuaikan dengan banyaknya indikator yang memenuhi syarat penilaian.
- Nilai 5, jika kelima unsur memenuhi persyaratan
- Nilai 4, jika hanya 4 indikator yang memenuhi
- Nilai 3, jika hanya 3 indikator yang memenuhi
- Nilai 2, jika hanya 2 indikator yang memenuhi
- Nilai 1, jika hanya 1 indikator yang memenuhi

2. Kriteria kualitatif dengan pertimbangan
a. Kriteria kualitatif dengan pertimbangan indikator
Dalam menyusun kriteria, tim evaluator terlebih dulu merundingkan jenis kriteria mana yang akan digunakan dengan pertimbangan indikator mana yang akan diprioritaskan atau dianggap lebih penting dari yang lain. Nilai tiap indikator tidak sama, letak, kedudukan dan pemenuhan persyaratan dibedakan dengan menentukan urutan.
Contoh :
Indikator konsumsi ada lima, maka tim evaluator memilih (d) rasa sebagai indikator yang paling penting, dan berikutnya adalah (d) kombinasi dan seterusnya. Maka dapat dibuat kriteria :
- Nilai 5, jika mememnuhi semua indikator
- Nilai 4, jika memenuhi (d), (b) dan salah satu dari (a), (c), dan (e)
- Nilai 3, jika memenuhi (d) dan (b) saja
- Nilai 2, jika memenuhi salah satu dari (b) dan (d)
- Nilai 1, jika danya satu indikator saja yang memenuhi, atau tidak ada yang memenuhi

b. Kriteria kualitatif dengan pertimbangan pembobotan
Untuk menentukan gradiasi nilai dalam kriteria, indikator yang ada diberi nilai dengan bobot yang berbeda.
Contoh :
Sub-indikator yang ada dalam indikator kombinasi makan ada 4 buah, yaitu :
(1) Kelengkapan
(2) Bahan dasar
(3) Rasa
(4) Jenis
Misalnya diberi nilai pembobotan berikut :
1. Sub-indikator (1) diberi bobot 3, alasannya penampilan konsumsi akan menarik bila kombinasi lengkap, lebih tampak dahulu.
2. Sub-indikator (2) diberi bobot 2, alasannya setelah dimasak, bahan dasar tidak terlalu tampak karena sudah tertutup dengan bumbu.
3. Sub-indikator (3) diberi bobot 4, alasannya bagi konsumsi yang paling penting adalah rasa, tamu terkesan apabila masakan enak.
4. Sub-indikator (4) diberi bobot 1, alasannya kombinasi makanan kurang dianggap penting.

Kemudian kita pakai skala 1-10 yang lazim. Maka kita mudah menentukan nilai dengan memekai rumus berikut :

NI = (NSI x BSI)
JB

NI : Nilai Indikator
NSI : Nilai Sub Indikator
BSI : Bobot Sub Indikator
JB : Jumlah Bobot

- Nilai kelengkapan 6, bobot 3, maka NSI x BSI = 3 x 6 = 18
- Nilai bahan dasar 7, bobot 2, maka NSI x BSI = 2 x 7 = 14
- Nilai rasa 10, bobot 4, maka NSI x BSI = 4 x10 = 40
- Nilai jenis 8, bobot 1, maka NSI x BSI = 1 x 8 = 8
Jumlah NSI x BSI = 80
Jumlah bobot sub indicator = 3 + 2 + 4 + 1 = 10
Maka NI = 80 : 10 = 8
Jadi disimpulkan kombinasi makan termasuk kategori “Baik” karena mendapat nilai 8.


D. Kelengkapan Instrumen
Idealnya setiap instrumen dilengkapi dengan pedoman pengisian, meskipun yang menggunakan penyusun sendiri. Hal ini berprisnsip kemungkinan akan digunakan oleh orang lain sehingga memerlukan pedoman pengisian. Beberapa hal yang perlu dicantumkan dalam pedoman pengisian :
1. Penjelasan singkat tentang apa instrumen itu : angket, pedoman wawancara, pedoman observasi, dan lainnya.
2. Tujuan penggunaan instrumen, berkaitan dengan kegiatan, maksud pengumpulan data, hal yang digali sebagai dasar perbaikan program.
3. Siapa yang harus mengisi atau menggunakan instrumen, misalnya orang yang pada dirinya langsung menempel data, ata data harus dicari dari tempat lain.
4. Cara mengisi atau menuliskan informasi yang dibutuhkan.
5. Diusahakan tidak ada kesalahan ketik atau cetak.
6. Sebagai kelengkapan petunjuk, maka harus disajikan cara menganalisis data apabila sudah berhasil dikumpulkan.


BAB V
PENGUMPULAN DATA

Tinggi rendahnya kualitas data ditentukan oleh : (a) keterandalan instrumen, (b) kualitas petugas pengumpul data, (c) proses data dikumpulkan.

A. Rambu-Rambu untuk Pengumpulan Data

1. Menunjuk orang yang tepat
Hal-hal yang dipertimbangkan dalam pengumpulan data antara lain :
a. Responden atau objek yang akan dijadikan sumber data.
b. Metode dan instrumen yang digunakan.
c. Waktu yang disediakan oleh responden.
2. Melaksanakan pengumpulan data secara benar
a. Lakukan tugas pengumpulan data selagi kondisi fisik masih “fit”, sehat jasmani dan rohani.
b. Persiapkan segala keperluan sebelum pergi ke tempat pengumpulan data agar selama proses berlangsung tidak kecewa atas kekurangan.
c. Mengumpulkan data identik mengumpulkan informasi yang memiliki ciri khusus, yakni relevan dengan tujuan yang akan dicapai.
d. Laksanakan pengumpulan data dengan serius.

B. Penggunaan Metode Angket

Hal yang diperhatikan sebelum membagi angket :
1. Sebelum berangkat ke tempat responden, lakukan pengecekan secara seksama angket yang akan dibagikan.
a. Banyaknya angket yang dibagi, diklasifikasi dalam kelompok responden.
b. Kelengkapan komponen, banyak halaman dan keteraturan letak.
c. Jika ada kode yang diperlukan, selesaikan sejak di rumah.
2. Ketika tiba saat pengumpulan data.
a. Bila responden adalah siswa yang berada dalam satu ruang, mintalah mereka mengisi bersama-sama.
b. Jika terpaksa meninggalkan angket pada responden, buatlah catatan secara rinci berapa lembar dan kepada siapa saja.
c. Waktu menerima kembali angket, yakinkan komplit dan utuh.
3. Ketika akan meninggalkan responden.
a. Ucapkan terimakasih kepada penanggungjawab lokasi dan semua pihak yang sudah membantu atas pengumpulan data.
b. Sampaikan permohonan maaf apabila selama berkunjung ada kekeliruan pada tuan rumah.
c. Sampaikan kalimat pamit, minta izin untuk meninggalkan tempat.

C. Penggunaan Metode Wawancara


Petugas harus dapat menyaring, membedakan dan memilah isi jawaban. Ada tiga kemungkinan jawaban yang diberikan oleh responden, yaitu :
1. Jawaban benar, adalah jawaban yang memang dikehendaki oleh pewawancara. Agar responden memberikan jawaban yang benar, pewawancara perlu tahu cara bertanya, mengadakan cek-ricek jawaban, jeli menunjuk orang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap permasalahan yang diungkap datanya.
2. Jawaban bohong, adalah jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan. Hal ini disebabkan responden ingin menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh pewawancara. Hal ini mungkin juga tidak sengaja, sehingga harus diluruskan kembali pada pembicaraan yang benar dan tidak menyinggung perasaan.
3. Jawaban omong kosong, adalah jawaban yang sangat jauh dari hal yang dibicarakan (di luar konteks).

Mengingat wawancara dilakukan dengan tatap muka langsung, antara petugas dengan responden, keduanya memilikin perasaan perasaan dan pertimbangan, maka data yang terkumpul memiliki kelemahan, karena :
1. Jawaban mengenai data diberikan tanpa harus berpikir panjang karena jawaban harus segera diberikan ketika petugas wawancara mengajukan pertanyaan. Kemungkinannya data tersebut baik dan atau data kurang lengkap.
2. Isi jawaban barangkali diwarnai dengan rasa malu, enggan, hormat dan lainnya karena responden berhadapan langsung dengan petugas (kurang bebas).
3. Manusia itu memiliki sifat lupa, sehingga perlu adanya alat bantu yang cocok.
4. Karena adanya kelemahan, perlu adanya cek dan ricek sebelum proses pengolahan data dimulai.

D. Penggunaan Metode Observasi

Mengingat peristiwa yang terjadi hanya satu kali, disarankan kepada pengamat objek dinamis yakni :
1. Usahakan agar kondisi sedang dalam keadaan prima ketika melakukan pengamatan objek dinamis.
2. Hafalkan butir-butir instrumen atau panduan observasi. Berikan tanda pada titik-titik fokus yang perlu diamati, pisahkan objek menurut tingkat kepentingannya.
3. Pelajari kriteria yang dijadikan tolok ukur penilaian terhadap kondisi objek agar dapat menentukan gradiasi mana dan nilai berapa terhadap objek.
4. Setelah selesai tugas observasi, bukalah catatan dan segera susun menjadi catatan yang bersih, sambil menunggu hasil evaluasi orang lain. Jika sudah tahap pengolahan data, catatan tersebut ditindaklanjuti.

E. Penggunaan Metode Dokumentasi

Rambu-rambu petunjuk untuk petugas pengumpul data yaitu :
1. Curahkan perhatian penuh pada objek yang sedang ditelaah.
2. Hafalkan komponen-komponen yang akan dinilai sebelum membuka buku yang akan dianalisis.
3. Pelajari kriteria atau tolok ukur yang diterapkan dalam menganalisis isi buku yang sedang dihadapi.

F. Penggunaan Metode Tes dan Inventori

Menurut cara mengutarakan dan mengerjakan, tes ada dua macam yaitu tertulis dan lisan. Secara umum objek yang ingin diketahui kondisinya melalui tes dapat dikalsifikasikan menjadi :
1. Objek asli yang belum dikenai perlakuan apapun, yaitu hal-hal yang masih dalam kondisi awal belum dikenai perlakuan ataupun eksperimen. Objek dimaksud misalnya kemampuan bawaan atau potensi sejak lahir, contohnya : tes kemampuan dasar menggambar, tes kreativitas dan lainnya.
2. Objek hasil ubahan atau yang sudah dikenai perlakuan. Miasalnya prestasi belajar (sebagai perlakuan pembelajaran).

Rambu-rambu yang perlu diikuti sebelum dan selama pengumpul data melaksanakan tugas :
1. Siapkan diri dengan baik untuk melaksanakan tugas pengetesan (misal membuka teori atau petunjuk).
2. Pilih jenis tes atau inventori yang tepat dengan sasaran atau objek yang akan diukur kondisinya.
3. Apabila sudah menemukan instrument yang tepat, pelajari petunjuk penggunaannya. Apabila tidak ingin melakukan kesalahan sebaiknya belajar pada yang ahli.
4. Taati aturan atau ketentuan yang sudah dikenakan pada instrumen tersebut agar hasilnya tidak menyimpang.
5. Gunakan petunjuk untuk mengoreksi pekerjaan tes sebagaimana ditetapkan oleh penyusun tes atau inventori. Begitu juga dalam menganalisis sama.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Back to top!