Searching...
26.12.09

DINASTI FATIMIYAH DI MESIR (STUDI TENTANG PERKEMBANGAN, KEMAJUAN DAN KEHANCURANNYA)

A. PENDAHULUAN
Apabila dikaji secara mendalam tentang aliran-aliran dalam Islam, maka akan ditemukan aliran Syi’ah .) Aliran ini timbul akibat gejolak politik antar Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Dalam Syi’ah terdapat sekte Imamiyah ) yang menjadi embrio timbulnya sekte Ithna Ashar ) dan sekte Imam Sab’ah )atau yang lebih dikenal dengan sekte Isma’iliyah. )Sekte Isma’iliyah mempunyai beberapa aliran ), salah satunya adalah aliran Fatimiyah. )
Dalam perkembangan sejarahnya, aliran Syi’ah selalu menjadi golongan marginal, baik pada masa daulah Umaiyah maupun daulah Abasiyah, walaupun tatkala Daulah Abasiyah berjuang dan berhasil mengambil alih kekuasaan dari bani Umayyah mempunyai andil besar. Baru pada tahun 172 Hijriyah/ 789 Masehi berdiri Dinasti Idrisiyah yang didirikan oleh Muhammad ibn Abdullah di Maroko. Dinasti Idrisiyah berkuasa sampai tahun 314 Hijriyah/ 926 Masehi. )
Kondisi marginalistik ini membangkitkan aliran Syi’ah dari sekte Isma’iliyah. Gerakan Isma’iliyah ini dipelopori oleh Abdullah ibn Isma’il bersifat gerakan bawah tanah (rahasia). Hal ini disebabkan antara lain sikap Khalifah Harun Al-Rashid yang ingin menangkapnya karena dituduh ingin merebut kekuasaannya. ) Konon, setelah menerima kabar akan penangkapan dirinya, Abdullah meloloskan dirinya dari Madinah ke kota Rayy dalam wilayah Iran Utara. Dari sinilah Abdullah mulai melancarkan gerakan bawah tanah yang terkenal dengan gerakan Isma’iliyah. Gerakan ini dimulai dengan kegiatan dakwah (propaganda). Doktrin yang didakwahkan antara lain bahwa Abdullah yang berhak menduduki Al-Mahdi (juru selamat manusia), menebalkan seorang khalifah (imam) untuk gerakan itu, menuntut berlangsungnya suatu revolusi social, membangun suatu system filasafat yang berdasarkan sebuah agama baru. ) Penyebaran doktrin ini dilaksanakan oleh paragon (da’i) dengan jaringan yang teroganisir secara rapi, sehingga gerakan Isma’iliyah ini merasa aman dan dirasakan cukup efektif, yang pada waktu singkat (sekitar 6 tahun) sudah meliputi Yaman, Bahrain, Sind, India, Mesir dan Afrika Utara. )
Sebenarnya sasaran dakwah gerakan Isma’iliyah itu masih termasuk dalam kekuasaan Daulah Abbasiyah, yang ketika itu posisi khalifah tidak hanya sebagai simbol dan daerah-daerah itu jauh dari pusat kekuasaan. Hal-hal yang demikian ini dimanfaatkan oleh Abdullah segera mendapat dukungan di kalangan masyarakat luas, termasuk para pembesar kerajaan tidak kurang dari sepuluh orang sudah menganut faham Syi’ah. Pada saat itu Afrika Utara dikuasai oleh Dinasti Aqhlabiyah. Pada tahun 296 Hijriyah/ 909 Masehi Dinasti Aqhlabiyah diperintah oleh Emir Abu Mudhari Ziadatullah yang bersifat glamour dan berfoya-foya. Sifatnya itu sangat tidak disukai rakyatnya, sehingga kesempatan ini dipergunakan oleh Abdullah untuk menyerangnya. Dalam serangan ini Emir merasa terdesak dan melarikan diri ke pulau Sicilia. Dengan dikuasainya Afrika Utara ini kemudian diumumkan terbentuknya Dinasti Fatimiyah dan Abdullah sebagai Emirnya dengan gelar Abdullah A-Mahdi. )
Setelah menjadi Emir, Abdullah Al-Mahdi mengadakan reformasi ke dalam, yaitu merubah sistem perpajakan yang sangat memberatkan dan meresahkan orang Barbar. Hal ini dilakukan karena andil orang Barbar sangat besar. Reformasi ke luar adalah memperkuat angkatan laut untuk mengembangkan ekspedisi militer, seperti Genao, Sicilia dan Mesir. ) Berkat angkatan laut yang kuat daerah per daerah dapat ditaklukkan, termasuk Mesir. Dalam makalah ini akan dibahas tentang terbentuknya Dinasti Fatimiyah, perkembangan, kemajuan dan kehancurannya.

B. TERBENTUKNYA DINASTI FATIMIYAH DI MESIR

Mesir ketika itu dikuasai oleh Dinasti Thaluniyah. Pada saat inilah Mesir mengalami zaman keemasan. ) Ahmad ibn Thalun (pendiri dinasti ini) telah dapat mengukir prestasi yang mengagumkan. Wilayah ekspansinya cukup luas sampai Syuriah, ada peningkatan bidang ekonomi, perbaikan irigasi, mendirikan rumah sakit di Fustat dan mendirikan Masjid Ibn Thalun yang sangat megah. ) Kondisi ini membawa Mesir sebagai pusat kebudayaan yang ternama. Dinati Thaluniyah berkuasa di Mesir sampai tahun 935 Masehi dan digantikan oleh Dinasti Ikhsyid. ) Dinasti Ikhsyid berkuasa sampai tahun 358 Hijriyah/ 969 Masehi. Dan Emir yang terkenal adalah Kafur. )
Sepeninggalan Kafur diteruskan oelh Ahmad ibn Ali yang ketika menjadi emir baru berusia 11 tahun. Roda pemerintahan dikendalikan oleh walinya bernama Ubaidillah ibn Tugj. Sifat dan perangai wali ini sangat buruk, sehingga sering menjengkelkan rakyat Mesir. Tidak kuat menerima perlakuan yang demikian, akhirnya rakyat Mesir memberontak dan berhasil menyingkirkan Ubaidillah ke Syam.
Sementara itu Dinasti Fatimiyah yang berpusat di Tusinia senantiasa memperkuat dan membangun kekuatan militernya. Sepeninggal Ubaidillah Al-mahdi yang telah berkuasa selama 25 tahun (297 hijriyah/ 909 Masehi – 322 Hijriyah/ 934 Masehi) lalu digantikan oleh Al-Qa’im (322 Hijriyah/ 934 Masehi – 334 Hijriyah/ 945 Masehi). Ia meneruskan kebijaksanaan ayahnya, baik ke dalam negeri ataupun ke luar negeri. Setelah Al-Qa’im meninggal digantikan oleh putranya Al-Mansur (334 Hijriyah/ 945 Masehi – 341 Hijriyah/ 952 Masehi). Ia adalah seorang pemuda yang gagah berani, sehingga tatkala Abu Yazid memberontak dapat dikalahkan. Dan peninggalan sejarah yang termasyur adalah bangunan Splended City yang bernama Al-Mansuriyah. )
Setelah Al-Mansur meninggal, digantikan oleh Al-Mu’iz Lidini Allah (341 Hijriyah/ 945 Masehi – 365 Hijriyah/ 975 Masehi). Ia mengambil kebijaksanaan untuk meningkatkan stabilitas keamanan, di samping memperbaiki struktur pemerintahan dengan cara meningkatkan kualitas gubernurnya. Yang ia lakukan adalah memberi hadiah kepada gubernur dan para pemimpin pemerintahan lainnya yang berprestasi dan mempunyai loyalitas tinggi.
Dari gambaran kondisi Mesir dan Dinasti Fatimiyah di Tunisia di atas, dapat ditarik benang merahnya dalam hal ekspansi militer Fatimiyah di Mesir. Sebenarnya ekspansi di Mesir telah dimulai sejak Ubaidillah Al-Mahdi, yaitu tahun 303 Hijriyah – 307 Hijriyah. ) Pada saat itu Mesir dikuasai oleh Dinasti Thaluniyah dengan Emir Dukaus. Saat tentara Fatimiyah kalah dan banyak yang cedera. Kemudian mengadakan serangan berikutnya pada tahun 307 Hijriyah/ 919 Masehi dipimpin langsung oleh Al-Qasim. Dalam serangan ini dapat dikuasai Iskandariyah ), Asminin dan Fuyun.
Ekspansi ketiga dilaksanakan dalam tiga periode. Pertama pada tahun 321 Hijriyah – 324 Hijriyah. Hasil peperangan ini adalah gencatan senjata. Kedua ekspansi militer dilaksanakan pada masa pemerintahan Dinasti Ikhsyid. Ketiga ekspansi dilakukan pada masa pemerintahan Al-Qasim dan Al-Mansur. Semua ekspansi itu belum dapat menaklukkan Mesir. Baru pada tahun 358 Hijriyah/ 969 Masehi Emir Mu’is Lidin Allah mengutus panglima perangnya yang gagah perkasa, Jauhar Al-Saqly bersama dengan prajurit yang terlatih mengadakan penyerangan ke Mesir. Jauhar Al-Saqly beserta bala tentaranya tidak mengalami kesulitan sama sekali untuk memasuki Mesir dan dengan demikian Mesir dapat ditaklukkan. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa ekspansi kali ini begitu mudah? Sedangkan ekspansi sebelumnya mengalami kesulitan? Hal ini disebabkan Dinasti Ikhsyid diperintah oleh Emir Ahmad ibn Ali dalam usia 11 tahun, sehingga roda pemerintahannya dijalankan oleh walinya Ubaidillah ibn Tugj yang berperingai buruk, sehingga dalam negeri Mesir sendiri terjadi pemberontakan antara rakyat dan Emirnya. Dengan dikalahkannya Dinasti Ikhsyid, maka berdirilah Dinasti Fatimiyah di Mesir, walaupun belum secara resmi .

C. PERKEMBANGAN DINASTI FATIMIYAH DI MESIR

Masa perkembangan ini dimulai pada tahun 358 Hijriyah/ 969 Masehi sampai pada tahun 362 Hijriyah/ 973 Masehi. Perkembangan di bidang sosial, para pemimpin Fatimiyah tidak membedakan antara suku, etnis dan agama. Keadaan ini membawa ke arah kondisi yang selalu terbina, terpelihara dan tentram. Di bidang politik, mulai Al-Mu’z Lidin Allah memanggil dirinya dengan sebutan Al-Khalif, bukan lagi Emir. ) Hal ini menandakan bahwa kedudukan pemerintahan pemerintahan Dinasti Fatimiyah telah sejajar dengan kedudukan pemerintahan di Baghdad. Dan juga pada tanggal 17 Sya’ban 308 Hijriyah/ 969 Masehi telah diletakkan batu pertama oleh Jauhar Al-Saqly untuk membangun kota Kairo yang dipersiapkan sebagai ibu kota Negara. ) Dalam bidang agama atau pendidikan mulai dilaksanakan pembangunan Masjid Al-Azhar yang akan dipergunakan pusat dakwah dan sholat. Dan yang paling penting dalam perkembangan ini adalah cita-cita untuk menjadikan kota Kairo sebagai pusat-pusat kegiatan umat Islam, seperti tempat para ulama ahli sejarah, pusat kitab dan berbagai macam ilmu. )
Untuk ekspansi wilayah, setelah Mesir dikuasai, diarahkan ke wilayah timur, dari Afrika menuju Asia Barat yang meliputi Mekkah, Medinah, Damaskus, Yaman, Libanon, Palestina dan Al-Aqsa. )


D. MASA KEJAYAAN DINASTI FATIMIYAH

Setelah mengusai Mesir selama empat tahun (antara tahun 969 – 973 Masehi), Dinasti Fatimiyah telah mengalami masa kejayaan, yang ditandai dengan berpindahnya pusat pemerintahan ke Kairo pada tahun 973 Masehi/ 362 Hijriyah. ) Farhad Daftary melukiskan sebagai “The Fatimid Period is One the Documented Periods in Islamic History.” ) Zaman kejayaan ini ditandai dengan kemajuan di berbagai bidang antara lain bidang politik, ilmu pengetahuan, ekonomi, administrasi pemerintahan, militer, arsitektur, seni dan sebagainya.
Kemajuan bidang ilmu pengetahuan. Para pejabat pemerintah dan masyarakat sangat antusias terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini terbukti dengan adanya minat masyarakat yang selalu membanjiri pusat ilmu pengetahuan, sehingga membuat senang hati khalifah yang diwujudkan dengan memberi beasiswa bagi pelajar. ) Lembaga pendidikan banyak dibangun, seperti Universitas Al-Azhar ) dan Al-Hikmah ) yang dilengkapi dengan perpustakaan yang jumlah koleksi bukunya setara dengan perpustakaan Masjid Cordova di Spanyol. )
Ilmu-ilmu yang berkembang pada masa kejayaan ini dapat dikategorikan menjadi dua. Pertama, ilmu-ilmu dalam bidang agama, yang meliputi ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqh, ilmu tasawuf dan ilmu teologi. Kedua, dalam bidang aqliyah, meliputi filsafat, kedokteran, fisika, kimia, dan sejarah. Ilmu-ilmu tersebut dikembangkan oleh Dinasti Fatimiyah yang telah berhasil mencetak pakar di bidang masing-masing. Seperti Al-Kindy ahli dalam bidang sejarah, Ibnu Al-Haitham ahli dalam bidang fisika, kimia dan optik, Ali ibn Yunus ahli dalam bidang astronomi, Muhammad Al-Tamimi, Musa ibn Al-Azhar dan Ali ibn Ridwan ahli dalam bidang kedokteran, Abu Al-A’la Al-Ma’ary ahli dalam bidang filsafat. )
Perkembangan ilmu pengetahuan yang didukung oleh fasilitas dan sumber daya manusia yang memadai menjadikan kairo sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam pada saat itu, sehingga banyak peninggalan-peninggalan Mesir yang dijadikan referensi dan menjadi kajian-kajian sepanjang zaman.
Kemajuan di bidang ekonomi. Dengan daerah kekuasaan yang amat luas, Dinasti Fatimiyah sangat mudah untuk mengembangkan perekonomian. Kondisi masyarakat yang aman dan tenteram serta munculnya berbagai bangunan yang megah dapat dijadikan indikasi bahwa ekonomi di Mesir mapan. Boswoth melukiskan kemajuan di bidang ekonomi ini melebihi Irak kontemporer. )
Bukti kemapanan dan kemajuan perekonomian adalah dengan adanya bangunan-bangunan seperti masjid dan Universitas, juga rumah sakit, jalan protokoler yang dilengkapi dengan lampu gemerlapan dan dibangunnya pusat perbelanjaan (supermarket) yang jumlahnya lebih dari 20.000 buah. ) Kemajuan perekonomian juga dapat dilihat dari segi kemajuan peralatan rumah tangga dan alat dapur yang terbuat dari emas dan perak. )
Kemajuan di bidang politik. Ekspansi militer yang dikembangkan oleh Dinasti Fatimiyah telah mencakup daerah yang sangat luas meliputi Mekkah, Medinah, Damaskus, Yaman, Libanon, Palestina dan Al-Aqsa. Dengan wilayah yang luas ini berarti kekuasaan Dinasti Fatimiyah membentang dari Atlantik di Barat hingga Yaman di Timur. ) Politik luar negeri yang dijalankan adalah menjalin kerjasama dengan Negara lain seperti Bizantium, Sind dan Yaman. ) Para duta besar yang dikirim membawa misi pemerintah melalui da’i-da’i.
Kemajuan di bidang administrasi dan militer. Di bidang administrasi Negara secara umum tidak jauh berbeda dengan administrasi Negara yang telah dilaksanakan oleh Bani Abbasiyah, ) walaupun tidak persis sama sekali. Di dalam menjalankan roda pemerintahan ada system kementerian. Kementerian ini dapat dikategorikan menjadi dua kelas. Pertama, menteri peperangan (men of sword) yang terdiri dari pengawas militer, departemen pertahanan dan keamanan dan pejabat tinggi lainnya. Kedua, menteri kesekretarisan (men of the pen) yang terdiri Qoji (pemimpin percetakan), the chief preacher (pemimpin lembaga sains), the deputy chamberlain (duta besar) dan the reader (qori’). ) Dari tingkatan yang paling rendah dalam the men of the pen adalah para pembantu yang terdiri dari pegawai dan sekretaris suatu departemen.
Sedangkan di bidang militer pelaksanaannya dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tingkatan yaitu : (1) Amirs (pegawai tinggi dan pegawai khalifah) (2) officer of the guard (pegawai biasa termasuk ilmuan) dan (3) the different regiment (pegawai yang bertugas membawa nama-nama, seperti Hafiziyah, Sudaniyah dan sebagainya. )
Perkembangan di bidang arsitektur dan seni. Para khalifah Fatimiyah mengalir darah seni. Ketertarikannya terhadap bidang arsitektur dan seni terlihat dengan adanya gedung dan bangunan yang mempunyai nilai seni. Diantaranya adalah masjid-masjid seperti Al-Azhar, ) Masjid Al-Hakim ibn Amrillah, Masjid Al-Aqmar dan Masjid Al-Sholeh Thole. )
Di samping itu terdapat gedung-gedung yang terkenal, seperti gedung emas, gedung pembuat mata uang, gedung perpustakaan dan lain-lain. Bangunan itu dibuat bukan hanya sangat megah, tetapi mempunyai nilai seni dan arsitektur yang tinggi yang tidak kalah dengan nilai-nilai arsitektur Romawi maupun Bizantium. Perkembangan seni bukan terbatas kepada bangunan dan gedung, seni ukir keramik atau tembikar juga sudah dikenal pada saat itu.
Masa kemajuan yang dialami oleh Dinasti Fatimiyah adalah hasil kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Bukti kerjasama ini telah terlihat tatkala Bani Fatimiyah baru menjalankan propaganda-propaganda (dakwah) yang mendapat sambutan yang sangat simpatik dari lapisan masyarakat di mana dakwah itu dilaksanakan.

E. KEHANCURAN DINASTI FATIMIYAH

Fase kemunduran Dinasti Fatimiyah berawal dari adanya konflik dengan Yunani mengenai masalah Suriyah. Pada saat bersamaan muncul pula suatu aksi salib yang akan mengancam bahkan ingin menghancurkan Islam. Pada pertengahan abad 12 Masehi Wajir Fatimiyah menjalin kerjasama dengan Dinasti Zingiyah dan Nurudin dari Aleppo untuk melawan tentara salib akan tetapi Ascelon jatuh ke tangan Crusaders (salib). ) Sisi lain Dinasti Fatimiyah sudah terjadi perpecahan yang mengakibatkan para khalifah pada waktu itu kehilangan banyak kekuasaan, sedangkan wazirnya memegang kekuasaan eksekutif dan militer.
Kekacauan sekitar masalah suksesi menghilangkan anggapan Isma’iliyah transendensi imam, kenyataannya bahwa fungsi imam senantiasa mengalami pergeseran bertambah atau berkurang dari sifat ketuhanan. Kekacauan itu memuncak ketika terjadi keretakan antara Nizariyah dan Musta’liyah. Kondisi keretakan semacam ini berpengaruh terhadap stabilitas pemerintahan khalifah. ) Sepeninggal Al-Musta’ly digantikan oleh Amir sebagai penguasa di Mesir ketika masih berusia kanak-kanak. Sepeninggal Al-Amir Dinasti Fatimiyah di Mesir mengalami masa kehancuran pada saat itu timbul pertentangan faham keagamaan antara kalangan penguasa dengan mayoritas masyarakat yang menganut Sunni. Menurut Ahmad Amin dinasti Fatimiyah berkuasa di Mesir cukup lama tetapi belum bias men-Syi’ah-kan rakyat Mesir. )
Sementara di Aleppo Nur Al-Din mengadakan perjanjian dengan Bizantium dan ia ingin menaklukkan beberapa wilayah termasuk Mesir. Untuk itu Nur Al-Din mengirim jenderalnya ke Mesir untuk menaklukkan wilayah itu. Karena suasana anarkis telah melanda Dinasti Fatimiyah, maka akhirnya pada tahun 1171 Masehi Salahuddin dengan mudah menaklukkan dan sekaligus menghancurkan Dinasti Fatimiyah di Mesir.

F. KESIMPULAN

Dinasti Fatimiyah menganut aliran Isma’iliyah dari faham Syi’ah. Sekte Syi’ah sendiri sepanjang sejarah menjadi masyarakat marginal baik pada masa Daulah Umayyah maupun Abbasiyah. Kemarginalan ini mendorong sekte Syi’ah untuk berjuang lebih keras agar dapat memperoleh kekuasaan.
Usaha untuk memperoleh kekuasaan disponsori oleh Ubaidillah Al-Mahdi dari aliran Isma’iliyah. Perjuangan Al-mahdi yang panjang dimulai dari pengasingannya di tanah Iran Utara. Dari sana ia mulai menghimpun kekuatan di bawah tanah selama kurang lebih enam tahun. Kegiatan di bawah tanah ini dijalankan melalui propaganda-propaganda (dakwah) dengan keramah tamahan dan kebaikan hati. Propaganda ini telah menarik simpati rakyat Afrika Utara sehingga Al-Mahdi dapat mengalahkan Dinasti Aghlabiyah di daerah Tunisia.
Setelah dapat dikalahkan Al-Mahdi baru memproklamasikan Dinasti Fatimiyah yang berkuasa di sana. Dari Tunisia gerakan propaganda-propaganda dikembangkan sampai ke wilayah Mesir. Dan akhirnya wilayah Mesir dapat diduduki dan menjadikan kota Kairo sebagai ibu kota pemerintahan. Dinasti Fatimiyah mulai membangun kota Kairo sebagai pusat kebudayaan umat Islam dan peninggalan-peninggalannya dijadikan kajian-kajian di masa-masa yang akan datang.
Faham Syi’ah yang dianut oleh Dinasti Fatimiyah tidak dapat dijadikan faham rakyatnya sehingga sebagian besar rakyatnya menganut faham Sunni. Dalam perkembangannya Dinasti Fatimiyah mengalami perpecahan dalam tubuhnya sendiri sehingga tidak bias mengantisipasi ancaman yang dating dari luar. Kondisi yang lemah ini dimanfaatkan dengan baik oleh Salahuddin Al-Ayyubi untuk dapat menaklukkan Dinasti Fatimiyah di Mesir.


BIBLIOGRAFI

Abdullah Munim Hamadah, Misra wa al Fath al Islamy, t.t.p., 1970

Ahmad Amin, Zuhr al Islam, Juz IV, Beirut, t.t.p., 1969

A. Latif Usman, Ringkasan Sejarah Islam, Jakarta, Wijaya, 1976

CE. Bosworth, Dinasti-dinasti di Dalam Islam, Terj. Ilyas Hasan, Bandung, Mizan, 1993

Farhad Daftary, The Ismailis: Their History and Doctrinnis, New York, Cabrigde, University Press, 1990

Fazlur Rahman, Islam, Terj. Senoaji Sholeh, Jakarta, PT. Bumi Aksara, 1979

Fuad M. Fachruddin, Perkembangan Kebudayaan Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1985

Glasse Cyril, Ensiklopedia Islam, Terj. Ghufron al Masadi, Jakarta, PT. Rajagrafindo Persada, 1996

Harun Nasution, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta, UI Pres, 1974

Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al Daulah al Islamiyah, Mesir, Muktazam, 1958

Jurzy Zaidan, History of the Islamic Civilation, New Delhi, Kitab Bravan, 1978

K. Ali, A Study of Islamic History, India, Idarat Adaliat, 1980
Philip K. Hitti, History of the Arabs, London, Macmillan, 1968

Soekama Karya, dkk., Ensiklopedia Mini, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1998

Sayyed Hosen Nasr, Sains dan Peradaban di Dalam Islam, Terj. J. Wahyuddin, Bandung, Pustaka al Husna, 1986

Sayed Amoer Ali, A Sorth History of the Saracens, New Delhi, Kitab Bravan, 1981

Team Penyusun Ensiklopedi Islam, Ensiklopedia Islam, Jakarta, Djambaran, 1992

Joesoef Souyb, Syiah, Studi Tentang tokoh dan Alirannya, Jakarta, al Husna Dikra, 1997

2 komentar:

  1. TULISANNYA INSYA ALLAH BERMANFAAT, THANK YOU

    BalasHapus

 
Back to top!